Perfect Holidays

Bab 1 dari 10

Bab 2
100%

Bab 1: Awal yang Baru

**Bab 1: Awal yang Baru**


Kiyonna berdiri di ujung dermaga, menikmati pemandangan menakjubkan di depannya.


Ombak lembut laut berwarna biru kehijauan menerpa pasir putih yang bersih, sementara pohon-pohon palem yang menjulang bergoyang pelan ditiup angin tropis.


Resor yang tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan hijau tampak seperti surga yang tak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia luar. Ini adalah pelarian yang sempurna, tempat di mana dia akhirnya bisa melepaskan masa lalu dan memulai hidup baru.


Kapal yang membawanya melintasi air jernih itu perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan Kiyonna sendirian di dermaga dengan hanya koper dan suara jangkrik yang samar-samar terdengar di udara.


Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara hangat yang terasa asin. Ini adalah pertama kalinya Kiyona berada di sini, tetapi entah kenapa keindahan pulau ini sudah terasa familier.


Seolah-olah dia telah mencari ketenangan seperti ini sepanjang hidupnya.


‘Inilah saatnya…'' pikirnya dengan tatapan menerawang jauh. ‘Awal dari babak yang baru.'


Hanya beberapa bulan yang lalu, dunianya telah terbalik. Dia menemukan perselingkuhan Michael suaminya, pengkhianatan kejam yang telah menghancurkan fondasi pernikahan mereka.


Perceraian itu memang menyakitkan, tetapi itu adalah pilihan yang perlu diambil. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan diri sendiri dan juga kewarasannya.


Dan sekarang saat ia berdiri di pulau yang indah ini, Kiyonna pun tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat. Perjalanan ini adalah hadiah untuk dirinya sendiri, sebuah perayaan untuk kebebasannya.


Angin hangat menyapu lembut kulitnya, dan Kiyonna tersenyum untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.


Dia menyibakkan rambut panjang bergelombangnya dengan jari-jari, membiarkannya jatuh alami di bahunya. Gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya yang ramping tampak berkibar ditiup angin, membuat perasaan Kiyonna terasa ringan.


Seolah-olah beban masa lalu telah ditinggalkan di daratan nun jauh di sana.


Dengan koper di tangan, dia melangkah menyusuri jalan setapak berpasir menuju bangunan utama resor.


Tempat ini persis seperti yang dia bayangkan. Perpaduan antara kemewahan dan pesona alami, dengan bungalow beratap jerami yang tersembunyi di antara pohon palem dan paviliun terbuka yang menghadap ke laut.


Kiyonna memilih pulau ini karena eksklusivitasnya. Jauh dari keramaian turis dan sepertinya ini adalah tempat yang sempurna untuk menghabiskan beberapa minggu merefleksikan diri.


Saat dia mendekati area resepsionis, seorang staf menyambutnya dengan senyum hangat.


“Selamat datang di Tranquil Cove, Nona Kiyonna. Kami harap Anda menikmati masa tinggal Anda. Izinkan saya mengantakan ke vila Anda.”


Kiyonna mengikuti staf tersebut menyusuri jalan berliku, suara ombak semakin menjauh saat mereka masuk lebih dalam ke dalam pepohonan lebat.


Vilanya yang terletak di tebing kecil menghadap teluk tersembunyi, sebuah ruang dengan konsep terbuka dan jendela besar yang menawarkan pemandangan laut yang memukau.


Di dek kayu di luar, terdapat kolam renang pribadi tanpa batas, di mana dia sudah bisa membayangkan dirinya terapung di bawah bintang-bintang.


“Silakan hubungi kami jika Anda memerlukan sesuatu,” kata staf tersebut, menyerahkan kunci vila dan memberikan sedikit anggukan kepala sebelum pergi, meninggalkan Kiyonna sendirian untuk beristirahat.


Kiyonna berdiri di ambang pintu untuk sejenak menikmati setiap detil di sekelilingnya. Vila ini seperti tempat perlindungan yang tenang, damai, dan benar-benar terisolasi.


Dia meletakkan kopernya di dekat pintu dan berjalan ke luar, merasakan hangatnya kayu di bawah telapak kakinya. Saat dia memandang ke cakrawala yang tak berujung, rasa tenang pun serta merta menyelimuti dirinya.


‘Mungkin di sinilah aku akan sembuh, dan menemukan diriku kembali,’ pikirnya dengan keyakinan yang muncul dengan sangat tiba-tiba, seperti sebuah intuisi yang terbersit di dalam benaknya.


Suara ombak yang menerjang bebatuan begitu menenangkan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… Kiyonna pun merasa damai.


Kehidupan barunya sebagai seorang janda yang bebas dari penjara emosional yang Michael ciptakan, akan dimulai di sini.


Dia membayangkan hari-harinya dihabiskan dengan berlatih yoga, bermeditasi di tepi pantai, dan membiarkan dirinya benar-benar bersantai. Sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan.


Saat matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, mewarnai langit dengan semburat oranye dan merah muda, Kiyonna pun memutuskan untuk menjelajahi pulau.


Dia mengenakan pakaian yang ringan dan sandal yang nyaman, lalu berjalan kembali menyusuri jalan menuju area utama resor.


Tempat itu tidak ramai, beberapa pasangan bersantai di dekat kolam dan beberapa tamu sedang makan di restoran terbuka di tepi pantai.


Kiyonna berjalan menuju bar, suasana hatinya pun telah terangkat naik oleh keindahan alami pulau itu.


Dia memesan koktail yaitu mojito dengan mint segar dan jeruk nipis dan menyesapnya perlahan, menikmati rasanya yang menyegarkan. Pikirannya melayang saat dia memandangi lautan, suara ombak yang berirama membuatnya merasa nyaman.


Namun saat dia bersiap untuk kembali ke vilanya, sebuah suara yang sangat familiar mengusik ketenangannya. Suara yang sudah bertahun-tahun tidak dia dengar.


“Kiyonna?”


Jantungnya pun berdegup kencang. Kiyonna berbalik perlahan, dan pikirannya seketika berputar cepat. Suara itu… tidak mungkin.


Dia sudah menguburnya dalam-dalam di ingatan masa lalunya untuk dilupakan begitu saja. Namun saat pandngan matanya bertemu dengan sosok pria itu, sebuah kenyataan menghantamnya seperti ombak besar yang bergulung memecah pantai.


Itu Ethan. Pacar masa SMA-nya. Pria yang dulu sangat dia cintai, sebelum segalanya menjadi rumit, sebelum hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.


Dia berdiri hanya beberapa meter darinya, menatapnya dengan mata biru yang sama tajam seperti yang dia ingat.


Ethan memang telah berubah. Wajahnya yang dulu kekanak-kanakan kini terlihat lebih dewasa dan semakin tampan, tubuhnya lebih kokoh, posturnya lebih percaya diri, tetapi tak ada yang bisa menyangkal bahwa itu memang dia.


"Ethan?" akhirnya Kiyonna berhasil berkata dengan suaranya yang hampir berbisik.


Ethan tersenyum, senyum yang dulu selalu membuat hatinya berdebar. “Aku tidak percaya saat tadi melihat kamu ada di sini.”


Jantung Kiyonna berdebar lebih cepat. Ethan?! Really?! Aargh… kenapa harus bertemu dengan pria ini sih??


Sial. Ini adalah hal terakhir yang dia harapkan. Bertemu Ethan lagi di Pulau ini setelah bertahun-tahun dan setelah semua yang terjadi… rasanya seperti sebuah mimpi yang aneh dan absurd!


Kenangan tentang hubungan mereka di masa lalu, tawa, janji-janji yang mereka buat sebagai remaja, semua itu tiba-tiba saja kembali menghampiri benaknya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kiyonna dengan ekspresi yang masih belum pulih dari keterkejutan.


Ethan mengangkat bahunya yang kekar, lalu mengayunkan kakinya untuk melangkah lebih dekat. “Sama seperti kamu, aku kira. Mencari sedikit pelarian dan… by the way, Resort dan Pulau ini adalah properti milikku,” sahutnya dengan ringannya, seolah mengatakan bahwa hari ini sudah sore.


Kiyonna hanya bisa menatung tak percaya, pun tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya apakah ini takdir ataukah hanya lelucon kejam dari alam semesta.


Bagaimanapun, orang yang tidak pernah dia harapkan untuk bertemu lagi baru saja muncul kembali dalam hidupnya.


Terlebih lagi… Ethan ternyata adalah pemilik dari Pulau ini?!


***

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab