Customer Service

Kepulauan Merah: Kisah Seorang Sandyakala

Bab 1 dari 5

Bab 2
100%

Bab 1: Chapter 1: Ruang Eksperimen

Chapter 1: Ruang Eksperimen


Sebuah eksperimen dilakukan oleh seorang laki-laki yang tergila-gila dengan batu sihir. Sebuah batu dengan berbagai jenis warna dan kegunaan berbeda-beda. Sang laki-laki yang sudah tidak muda, masih memiliki keingintahuan tentang sebuah batu dengan warna jernih dan di dalamnya terdapat sebuah lambang berbentuk abstrak putih cerah.

Sang laki-laki melakukan eksperimen tersebut karena batu yang ditemukannya tidak tercatat di sebuah buku bernama ‘Buku Mantra Batu Sihir’—Mantra Garaintha Maiuya Asmian. Sebuah buku kuno berisi tentang berbagai jenis batu yang sudah ditemukan. Akan tetapi, tidak ada catatan tentang mantra dan kegunaan batu jernih dengan bentuk abstrak putih cerah di dalamnya.

Namun, sang laki-laki tidak menyerah, dia merombak dan menciptakan mantra batu. Melewati waktu yang lama, dia menemukan kegunaan batu tersebut. Sebuah buku yang lebih kuno dari Mantra Garaintha Maiuya Asmian dia temukan karena bantuan dari seorang pemagang di laboratoriumnya.

Nama batu tersebut adalah Atmanasila, sebuah batu jiwa. Setelah menemukan buku yang di sampul depannya bertuliskan ‘Buku Mantra Jiwa’—Mantra Garaintha Atmanasila. Dia melakukan banyak penelitian dan eksperimen, hingga suatu hari, sebuah tawaran dari seseorang mendatanginya.

Dengan senang, dia menerima tawaran tersebut: menjadikan seorang anak yang berusia satu tahun menjadi bahan eksperimen Atmanasila setelah beberapa kali percobaan terhadap hewan.

Membutuhkan waktu lama, hingga satu bayi tercipta hanya dengan tetesan darah, Atmanasila, dan mantra. Akan tetapi, Kailaola—harus berada di dalam tabung lingkaran kecil yang tinggi untuk bertahan hidup, dengan dikelilingi sebuah lambang mantra terukir jelas di setiap sudutnya.


~~~••••~~~


Tahun 487, di ruang eksperimen.

Seorang laki-laki berdiri diam di depan sebuah tabung transparan, berisi air dengan seorang bayi yang berada di dalamnya. Sebuah lambang mantra terbaca dengan jelas di setiap sudut tabung, seakan memberikan sang bayi kehidupan dan napas.

Ketika dia tengah memandangi dengan serius, seorang perempuan bersama beberapa orang pelayan masuk menghampirinya. Di tangan salah satu pelayan membawa seorang anak yang setidaknya sudah berusia satu tahun.

“Apa sudah ada kemajuan? Mulai kapan dia bisa keluar dari tabung?” tanya seorang perempuan yang mengenakan pakaian mewah dan rapi.

“Kita hanya perlu menunggu beberapa menit lagi, hingga dia bisa keluar dan memulai hidupnya di luar tabung.” Sang laki-laki menjawab pertanyaan dengan jelas.

“Itu bagus,” balas sang perempuan.

Mereka berdiri diam dengan terus memandangi tabung berisi bayi, hingga beberapa menit berlalu cepat. Sang laki-laki yang merupakan seorang peneliti gila tentang batu sihir, berjalan mendekat menuju meja kecil penuh berbagai macam tombol. Dia hanya menekan sebuah tombol berwarna hijau dan seketika air di tabung menghilang perlahan.

Sang bayi juga turun mengikuti air yang menyusut. Saat sudah berada di dasar tabung, seorang perempuan yang sudah bersiap, mendekat dan mengambil sang bayi, menggendongnya erat dengan kain melapisi seluruh tubuh.

Perempuan itu membawa sang bayi menuju ruangan yang sudah dibuat khusus. Yang di mana, ruangan tersebut dipenuhi dengan boneka, mainan, ranjang berbahan kayu, bahkan dindingnya diwarnai secerah pelangi. Dia menaruh menaruh sang bayi di ranjang, setelah membersihkannya terlebih dahulu, kemudian baru memakaikan sebuah setelan pakaian yang masih baru, berwarna biru muda mendekati putih, berbahan lembut, dan hangat.

Setelah selesai, saat sang perempuan memberikan selimut, bayi tersebut menangis mendadak, membuatnya terkejut dan dengan gerakan cepat dia menggendong. Dengan usaha keras, dia mencoba untuk membuatnya tidak menangis. Bahkan sampai mengambil sebuah susu di dalam lemari pendingin, kehangatannya dan membiarkan sang bayi minum, hingga tidak tersisa setetes pun.

Sejak hari itu, sang perempuan menjadi ibu sambung bayi dengan jenis kelamin laki-laki. Merawat selayaknya ibu kandung, mengajari duduk, berdiri, berjalan, hingga berbicara. Hari-hari yang menyenangkan, membuat dia larut dalam diri. Menganggap bahwa dia memang ibu dari sang anak, hati yang hanya bersikap profesional dalam bekerja, sekarang sudah berubah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berjalan lama. Sebuah tragedi besar terjadi disaat mereka tengah tenang. Anak laki-laki itu bahkan sudah memiliki nama—Wira Sandyakala.


~~~••••~~~


Tahun 488.

Tahun di mana tragedi itu terjadi. Di sebuah ruangan bawah tanah yang menjadi tempat pertemuan dan persembunyian. Ruangan tersebut tentunya penuh dengan mainan dan boneka. Udara di ruangan bawah tanah tidak begitu berbau besi, meski uap lembap masih sedikit terasa.

Wira, bayi hasil eksperimen, tengah bermain dengan seorang anak laki-laki yang memiliki wajah mirip seperti dia. Di antara mereka berdua yang sibuk dengan mainan, terdapat dua orang perempuan memantau dan mengamati.

Namun, di saat mereka terlalu fokus, mendadak terjadi pengepungan di laboratorium tersebut. Sebuah hewan kecil menjadi perantara informasi dan menyampaikan kepada mereka agar pergi dari sama dengan cepat.

Tanpa berlama-lama, dengan menggendong Wira dan seorang anak laki-laki, mereka melangkah pergi melalui sebuah jalan rahasia yang diperuntukan untuk keadaan darurat. Mereka berlari dengan cepat tanpa menoleh sama sekali. Bahkan, di lorong yang minim pencahayaan, tidak membuat langkah mereka menjadi pelan, hingga beberapa menit berlalu, dan langkah terhenti saat tiba di depan pintu keluar.

Mereka berpisah, berjalan menuju tujuan masing-masing, agar tidak ketahuan. Sang perempuan yang merupakan asisten peneliti dan ibu sambung Wira. Dia menggendong Wira, memutuskan menuju sebuah kota kelahirannya—Kota Meidangwagi. Dia terus berjalan cepat, melewati hutan untuk menghindari para prajurit yang melakukan pengepungan.

Cukup lama berjalan, hingga beberapa jam kemudian, dia sudah tiba di depan gerbang masuk Kota Meidangwagi. Dia berjalan pelan memasuki area kota yang sunyi tanpa adanya keramaian orang-orang. Meski terdapat hiburan malam yang masih buka, tetapi tidak seramai siang hari.

Dengan keadaan yang lelah, dia segera melangkah menuju sebuah kedai minuman memabukkan—tempat tinggalnya sejak kecil. Saat tiba di kedai minuman, dia memohon kepada pemilik yang merupakan adiknya, agar memberikan mereka tempat tinggal.

“Aku mohon!” ucap sang perempuan dengan tetap menggendong Wira.

“Ah, baiklah, tapi aku hanya bisa memberikan waktu satu bulan. Setelah itu, aku tidak akan menerimamu lagi,” jawab sang adik.

Sejak hari itu, mereka tinggal di kedai minuman tersebut. Bahkan dia harus bekerja di sana setiap siang sampai malam agar tetap dapat tinggal di sana. Tidak hanya itu, dia harus mencari pekerjaan tambahan agar dapat pergi dan memiliki tempat tinggal sendiri.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab