Customer Service

Kepulauan Merah: Kisah Seorang Sandyakala

Bab 2 dari 5

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Chapter 2: Kehilangan Bunga Hidupnya

Chapter 2: Kehilangan Bunga Hidupnya

Seperti biasa, di pagi hari yang hangat. Sinar mentari menyinari tanpa celah. Satu bulan sudah dia tinggal di rumah sang adik, sesuai dengan perjanjian awal, sang perempuan yang menjadi ibu angkat dan merawat Wira harus meninggalkan kedai minuman memabukkan tersebut.

Dengan menggendong Wira yang masih tertidur lelap. Kain panjang berwarna abu-abu gelap yang terlihat sedikit tua menjadi alat gendongan di punggung. Langkahnya pelan, menghampiri sang adik yang tengah membuat minuman.

“Terima kasih! Karena sudah mengizinkan kami untuk tinggal di sini selama satu bulan,” ucapnya dengan pelan.

Namun, ucapan rasa terima kasih tersebut hanya dibalas dengan singkat. Tidak ada kata-kata empati yang dilontarkan, hanya suara dingin dan malas terdengar jelas.

Tidak begitu memusingkannya, dia perlahan melangkah keluar dengan membawa satu kain yang berisi beberapa pakaian. Setiap langkah melewati jalanan ramai oleh lalu-lalang orang. Pedagang di pinggir jalan ramai memadati setiap ujung kota. Bisingnya langkah kaki dan suara orang-orang sama sekali tidak mengusik mereka berdua.

Dia melangkah sedikit cepat menuju sebuah rumah berharga murah yang tidak jauh dari pusat Kota Meidangwagi. Meski rumah mereka berada di pinggiran kota, itu tidak terlihat buruk, hanya padat sekali dengan penduduk.

Baru saja dia tiba di rumah baru, di sana sudah ada sang pemilik yang menyewakan rumah—seorang laki-laki tidak lagi muda. Dengan ramah, dia menyapa, “Selamat pagi! Saya Aryhia Nirbahania, yang saat itu memesan melalui pusat sewa rumah.”

“Ah, iya … saya sudah menunggu kedatangan Anda. Silahkan masuk! Kenapa Anda berjalan kaki? Pasti lelah,” ucap sang laki-laki dengan ramah.

“Ah, iya. Jaraknya tidak begitu jauh, jadi lebih baik berjalan kaki,” jawab Aryhia, perempuan yang merupakan asisten sang peneliti dan ibu angkat Wira. Wajah oval sedikit lonjong yang manis saat tersenyum, tetapi dapat terlihat jelas memancarkan kesenduan.

Aryhia berjalan mengikuti sang laki-laki, hingga mereka sudah berada di dalam rumah, duduk di kursi kayu yang sederhana. Tidak lupa, sang pemilik rumah juga memberikannya segelas air minum dan cemilan ringan.

“Jadi, inilah rumah yang saya sewakan. Memang sederhana dan tidak banyak ruangan, hanya ada tiga kamar, dapur, tempat mandi, dan ruang tamu yang kecil ini. Bagaimana? Setelah melihat keadaan rumah ini,” tanya sang laki-laki.

“Ini sudah cukup, lagi pula kami hanya berdua. Dengan harga 20 Laks, ini sangat di bawah harga,” balas Aryhia.

Setelah percakapan yang cukup lama dan sang pemilik pergi, akhirnya Aryhia dapat beristirahat dengan tenang. Dia membawa Wira menuju salah satu kamar, menidurkannya di sana dengan pelan. Kemudian dia bergegas membereskan pakaian bawaan ke sebuah lemari berbahan kayu dengan warna cokelat muda yang memudar.

Beberapa saat kemudian, Aryhia sudah selesai merapikan pakaian yang hanya beberapa setelan saja. Dia duduk di sisi ranjang, diam termenung dengan pikirannya yang dipenuhi banyak hal: kesalahan di masa lalu, kegilaan dia terhadap Maik dan batu sihir, hingga penyesalan tentang terciptanya Wira Sandyakala.

Aryhia memandang Wira dengan sendu penuh penyesalan, “Aku harap kamu tumbuh jadi anak baik dan tidak perlu mengkhawatirkan tentang masa depan.”

“Maaf karena sekarang kamu di sini! Kamu tahu, awalnya, kamu itu hanya angka tanpa nama, tapi aku memaksa Tattwa Upadesia. Dia adalah guru yang melatihku tentang Maik dan batu sihir, dia juga seorang peneliti. Dia menciptakan kamu,” ucap Aryhia pelan dengan senyum tipis penuh perih.

“Dia yang membuatku sangat ingin tahu semua tentang Maik dan batu sihir. Saat menciptakan kamu, saat kamu mulai tumbuh, ada perasaan yang tumbuh di sini,” lirih Aryhia dengan menunjuk dada sebelah kanan, mempresentasikan sebuah hati.

“Aku … sepertinya, menganggap kamu sebagai anak sungguhan. Maka dari itu, aku bersikeras untuk memberikan kamu nama Wira Sandyakala—itu nama kakekku, dia seorang Praunamatanra yang kuat, pemberani, dan baik hati. Aku berharap kamu akan tumbuh jadi seperti Kakek.” Tanpa sadar, setetes air mata yang hangat meluncur di kedua pelupuknya.

Dengan gerakan cepat, Aryhia menghapus air mata tersebut dan melangkah keluar dari kamar. Duduk di kursi ruang tamu yang dapat digunakan untuk apa pun.

Sejak hari itu, untuk bertahan hidup, Aryhia bekerja dengan membawa Wira. Bertahun-tahun yang sulit harus dilewati, usia Wira juga sudah menginjak 9 tahun. Di usianya yang masih sangat kecil, Wira harus menggantikan posisi Aryhia—dia sekarang jatuh sakit, hanya dapat berbaring tanpa melakukan apa pun.

Tanpa mengeluh, Wira menggantikan pekerjaan sang ibu di sebuah kedai makanan, dia hanya bertugas mencuci tempat makan yang kotor. Bayarannya pun tidak besar, hanya 50 Laks sebulan. Bahkan, dia harus bekerja di kedai minuman juga sebagai pelayan untuk menambah pemasukan.

Wira melakukan pekerjaan ini selama sudah satu tahun, bahkan di tengah-tengah anak yang sebaya dengannya sudah memasuki sekolah untuk belajar tentang Maik, dia tidak melakukan hal itu. Dirinya hanya fokus pada pekerjaan dan merawat Aryhia—sang ibu.

Hari itu akhirnya tiba, Aryhia sudah mencapai batas. Terbaring di ranjang dengan raut lesu dan pucat, bahkan Wasidyas(sebutan untuk dokter/tabib) sudah mengatakan secara terang-terangan, “Ibumu tidak akan bertahan lama.”

Wira hanya diam tidak menanggapinya, bahkan setelah wasidyas pergi. Setelah menutup pintu, dia kembali ke kamar dan duduk dengan menyiapkan obat untuk diminum oleh sang ibu. Gerakannya berhenti saat Aryhia—sang ibu menyentuh tangan Wira, “Kamu harus hidup dengan bahagia! Dan ingat latihan tata krama yang ibu kasih tahu … jangan melupakannya! Kamu harus jadi orang baik, jangan berkelahi dan jadi anak nakal … lihat Ibu! Kamu itu anak pintar, ibu sangat menyayangi kamu, jadi, hiduplah dengan baik …”

Satu detik setelah Aryhia mengatakan kata-kata itu kepada Wira, tangan yang tadinya masih terasa hangat, mendadak menjadi dingin. Merasakannya dengan jelas, membuat Wira yang tadi hanya menunduk diam, mengangkat kepala dan melihat sang ibu menutup rapat mata.

Napas Wira seketika menjadi menggebu, hangatnya air mata meluncur bebas di kedua pipi. Tidak ada suara keras. Dia hanya diam tanpa berani berkata-kata. Menangis tanpa suara yang dipenuhi kepedihan di hati.


~~~


Catatan kata:


  1. Praunamatanra adalah sebutan untuk seseorang yang menguasai dan dapat menggunakan Maik dan Batu Sihir.
  2. Maik merupakan sihir alam yang berasal dari Pulau bernama Kalpali Manadala.
  3. Laks adalah sebutan untuk mata uang di Kerajaan Arnika Swarnadwipa, koin yang berwarna perak, 1 Laks itu Rp500.000,00.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab