Bab 1 dari 6
Gyalus
Dunia yang sejak pertama kali diciptakan memiliki sihir dengan dua entitas: makhluk hidup—hewan dan tumbuhan—serta roh. Kehidupan yang dijalankan oleh para entitas roh sangat penuh ketenangan tanpa suara bising. Akan tetapi, terkadang terasa sangat berisik dengan berbagai sorak sunyi di dalam lorong gelap, menginginkan diperhatikan dan mendapatkan hal yang lebih besar lagi.
Mereka—para roh menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai warna sebagai teman, berdampingan bersama hewan dan tumbuhan. Bahkan, energi yang terus berkembang di dunia Gyalus bercampur dan menghasilkan berbagai macam tumbuhan serta hewan.
Namun, pada suatu hari, para manusia pertama datang dan membangun kehidupan dengan bantuan dari entitas roh yang lebih dulu datang ke dunia Gyalus. Para manusia yang datang pun membuat kehidupan di dunia ini semakin berwarna. Hidup berdampingan dengan para manusia, membuat kehidupan mereka harmonis dan mencapai kejayaan.
Di mana, bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu dan bahan tumbuhan lainnya semakin masif. Membuka perkebunan untuk bertahan hidup dan sekolah sihir yang di mana para entitas roh menjadi pengajar. Akan tetapi, semua hal baik itu tidak bertahan lama. Dari para manusia juga memiliki hal buruk yang terus terbuka hari demi hari.
Pada akhirnya, tiba saat di mana para manusia semakin termakan oleh keserakahan yang merajalela. Membuat mereka buta dalam menjalankan kehidupan, menebang dan membabat tumbuhan tanpa kenal henti. Bahkan, mereka memburu hewan-hewan yang berevolusi karena sihir untuk diperjualbelikan dengan kejam. Mengambil batu sihir untuk dipergunakan dalam jumlah banyak, hingga mengikis energi sihir dunia Gyalus yang tidak memiliki waktu untuk memperbaiki diri.
Tindakan merajalela para manusia tidak lagi dapat ditolerir. Meski sudah diperingatkan dan diberi waktu untuk memperbaiki diri, tetapi mereka sama sekali tidak melakukan apa pun. Membuat para roh geram, menyerah tanpa membuat kompromi lagi dan memutuskan untuk memisahkan diri, membatasi kehidupan, bersembunyi dalam diam nan sunyi. Menciptakan dinding yang membuat para manusia tidak dapat melihat mereka.
Namun, beratus-ratus tahun kemudian setelah pembuatan dinding pemisah. Lahirlah seorang anak laki-laki dengan kemampuan cahaya dan kegelapan. Kemampuan ini membuat mereka dapat melihat para roh dan saling terhubung dengan cara saling terikat dalam sebuah kontrak. Membuat manusia dapat menggunakan sihir dengan roh kontrak sebagai perantara. Akan tetapi, kelahiran dan kehadiran anak ini membuat para manusia di sekelilingnya merasa takut.
Nama anak laki-laki yang mendapatkan kekuatan tidak lazim tersebut adalah Reu. Sangat singkat, tidak memiliki nama keluarga seperti para adik-adiknya yang lain. Bahkan, mereka dapat belajar menulis serta membaca dengan bebas, bermain bersama anak-anak yang memiliki usia sama. Mereka juga mendapatkan asupan makanan yang lezat dan sangat diistimewakan.
Namun, berbeda dengan Reu, dia tidak mendapatkan semua itu secara layak. Tubuh Reu terlihat begitu kurus dengan tulang yang terlukis sangat jelas. Wajah ovalnya terlihat kecil dan pucat putih. Rambut hitam sedikit keriting dibiarkan memanjang sebahu tanpa diikat. Kulit kuning langsatnya terlihat kering tanpa perawatan. Begitu juga dengan mata cokelat kehitaman begitu mendalam tanpa jiwa. Kelelahan, tetapi tidak ada yang menarik tangannya. Hanya membantu saja tidak ada keinginan yang berbisik di raut wajah para manusia di desa dia tinggal.
Dengan semua perlakuan yang disematkan oleh kedua orang tua dan para penduduk di desa, lantas tidak membuat Reu membenci mereka meski ada satu titik gelap di dalam diri: amarah terpendam penuh kepedihan tertidur sangat lama. Selama bertahun-tahun, Reu diasingkan seperti sampah oleh keluarganya, tetapi dia tidak menunjukkan emosi yang dimiliki. Reu hanya terus berjuang agar tidak diasingkan, hingga suatu hari, saat berusia lima belas tahun dia sadar, bahwa dirinya tidak harus dilahirkan.
Dengan tubuh yang memanas, napas begitu menggebu-gebu seakan memaksa untuk keluar. Sepasang tangan tanpa sadar mengepal sangat kuat, tatapan tajam penuh getaran amarah yang selama ini dikubur sangat dalam di hati, meluap seketika di depan seluruh keluarga saat dia mendengar perbincangan mereka. Rencana yang didengar dengan sangat jelas, di mana orang tuanya memiliki pilihan: mengirim Reu ke panti asuhan atau hilangkan dia tanpa meninggalkan jejak apa pun.
“Apa aku tidak berharga? Kalian adalah orang tuaku! Apa kalian benar-benar menyesal telah melahirkan aku? Anak yang berbeda, tidak sama seperti anak-anak lainnya … apa menjadi berbeda adalah dosaku? Bahkan, kalian berdua terpikir untuk menghilangkan aku dari dunia … aku minta maaf jika membuat kalian malu dan merasa tertekan,” ucap Reu dengan suara yang bergetar, bahkan dari pelupuk matanya setetes air bening hangat menghujani pipi sangat cepat. Kebencian yang selama ini bersembunyi di tempat terdalam, mencuat tanpa memberikan aba-aba.
Setelah mengeluarkan semua isi hati, dengan napas menggebu dia berlari ke arah hutan terlarang yang amat sangat lebat. Menyusuri jalan di hutan yang belum terbentuk, ranting kecil dan daun kering berserakan di sepanjang langkah. Tanaman rambat berwarna hijau segar banyak menghalangi jalan yang diambilnya. Dengan masih berlari tanpa menoleh, dia menyingkirkan tanaman rambat yang menghalangi jalannya secara kasar.
Langkah kecil yang memaksa untuk berlari, hingga memasuki hutan semakin dalam dan jauh dari desa. Semakin jauh, langkah cepat Reu memberat. Reu berhenti berlari saat sepasang matanya menangkap sebuah batu berwarna abu-abu gelap yang cukup besar di depan sana.
Dengan napas yang terdengar jelas penuh kelelahan, dia menduduki batu besar begitu saja. Pelan penuh kelelahan, dia mengatur napas yang tersengal karena berlari cepat. Tangan kanannya menyeka bulir-bulir keringat yang berjatuhan dengan cukup deras. Setelah merasa lebih tenang, tidak lagi tersengal oleh napas, wajahnya seketika berubah menjadi sedikit lebih baik. Akan tetapi, raut tenangnya tidak bertahan lama. Kekesalan dan amarah datang lagi tanpa berbisik untuk bersiap diri.
“Dewa, kenapa aku hidup? Apa aku hidup hanya untuk dihina dan direndahkan seperti ini?” tanya Reu dengan semua emosi yang mendatanginya bertubi-tubi.
Reu diam sejenak, kemudian melanjutkan apa yang ingin dikeluarkan oleh isi hatinya. Dengan bulir bening yang meluncur bebas melalui pelupuk mata, dia berucap penuh isakan, “Menjadi orang … yang mendapatkan kekuatan yang tidak pernah dimiliki orang lain … kenapa harus aku? Para manusia itu bahkan menyuruhku mati, kenapa engkau tega sekali melakukan ini? Seharusnya, aku tidak dilahirkan!”
Namun, tangisnya terhenti saat mendengar suara ranting kering terinjak. Reu melihat sosok laki-laki dewasa dengan rambut putih pendek berjalan ke arahnya. Dengan sigap, dia mengambil pedang kecil yang berada di saku celana sebelah kanan, mengarahkannya menuju sang laki-laki dewasa. Akan tetapi, sang laki-laki dengan santai menanyakan namanya, “Siapa nama Anda?”
“Nama saya Reu, Anda sendiri siapa?” jawab Reu dengan kembali bertanya.
“Saya yang melindungi hutan ini dari para manusia serakah itu, lalu, Anda sendiri kenapa di sini?” tanyanya kembali.
“Itu bukan urusan Anda,” ucap Reu yang berjalan pergi, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar perkataan sang laki-laki.
“Apa manusia itu ingin memusnahkan Anda? Seperti itulah manusia. Mereka … sejak dulu, memang seperti itu.” Sang laki-laki kembali bertanya dengan mengatakan beberapa kata terkait sifat manusia. Seakan dia tahu segala sesuatu yang menimpa Reu.
“Saya tidak memaksa Anda untuk percaya, jika masih mempercayai manusia, pergilah!” ucap sang laki-laki, kemudian pergi menjauh dengan cepat dan menghilang dari pandangan Reu.
Dengan masih menyimpan rasa percaya kepada para penduduk di desa. Reu melangkah cepat meninggalkan hutan terlarang.
Penuh keyakinan, dia akhirnya berlari cepat untuk kembali ke desa. Berlari tanpa menggunakan alas kaki, menginjak tanah kering yang berdebu. Melewati Jalanan tanah kecil, sisi kanan serta kiri dipenuhi pohon. Tanaman rambat yang dirusak Reu juga masih hidup di sepanjang jalan setapak.
Seiring detik jarum bergerak, langkah berlari Reu yang di awal kencang, sekarang mulai melambat saat dia melihat gerbang masuk menuju desa. Saat sampai di depan pintu gerbang desa, dengan butiran kecil keringat yang mulai berjatuhan, napas Reu sudah mulai terasa begitu berat, lalu dia berjalan memasuki desa. Akan tetapi, dalam hitungan detik, wajah yang penuh rasa percaya dan harapan hilang begitu saja.
Dengan berjalan lambat, Reu menatap setiap orang yang tengah berdiri dan saling berbisik. Ternyata, dia tidak disambut dengan hangat, tatapan orang-orang di desa terlihat penuh harap dan menginginkannya hilang. Di tengah pikiran yang sudah kalut, dia berlari kencang saat mengingat sang ibu. Kepanikan menyerang tanpa ampun, seakan tidak memberi izin dia untuk bersantai ria.
Dengan perasaan tidak jelas, sepasang tangan mulai gemetar takut, panas penuh amarah merambat dari ujung kaki ke kepala, dan sakit kepedihan mulai merayap ke dalam dirinya. Reu baru saja menginjak satu langkah kaki terakhir di depan rumah dengan raut yang sudah tidak karuan.
Napasnya tersengal-sengal dengan begitu keras, perlahan Reu mencoba untuk menenangkan diri. Setelah merasa lebih tenang dan dapat bernapas normal, dia melangkahkan kaki masuk, melewati pintu cokelat yang mulai bercampur dengan warna hitam di beberapa bagian. Bahkan, beberapa ujung pintu terdapat rongga tanpa isi.
Ketika sudah berada di dalam rumah, Reu tidak dapat lagi menahan seluruh sensasi panas yang menjalar cepat. Napas sesak menyerang tanpa kejutan, pemandangan di depan sana bukanlah hal yang terjadi tanpa prediksi. Reu tahu, dari tatapan penduduk di desa kepadanya.
Tanpa menunggu aba-aba, segala rasa sesak semakin masif membuat dada terasa tertusuk, darah panas memuncak, perih di hati sangat menusuk, dan butiran bening yang menunggu untuk gilirannya. Raut di wajah memperlihatkan ketidakpercayaan, kekecewaan mendalam mendatanginya cepat. Ingin menyesal, tetapi sudah tidak ada waktu untuk melakukannya.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, wajah memerah kepanasan, Reu melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya tergeletak di lantai dengan berlumuran darah. Dia menghampiri tubuh ayah dan ibunya, terduduk dengan buliran bening yang tumpah. Akan tetapi, tidak ada suara kesakitan atau perih keluar dari mulut. Dia hanya diam, tetapi menangis.
Ketika Reu menyentuh wajah sang ibu yang sudah dingin membiru dengan tangan gemetar, seperti reka ulang adegan, setiap ingatan muncul di pandangannya. Seperti sebuah film yang diputar tanpa jeda, dia melihat setiap adegan dengan begitu rinci. Tanpa ada satu pun yang tidak terlihat dan ini merupakan kali pertama bagi dia. Kalut dalam ingatan yang dilihat, dia merasakan amarah, panas merambat ke setiap inci tubuhnya.
Dari pelupuk matanya, butiran bening hangat nan kecil turun dengan semakin deras, seakan tidak akan dapat berhenti. Isakan penuh luka dan sakit, tidak dapat dibendung. Dia mengeluarkan semua rasa sesak tanpa ada yang tertinggal. Tangisnya diiringi teriakan kesakitan, penyesalan tanpa memandang hari, amarah yang menumpahkan segala rasa cinta, dan kesedihan membakar dirinya, semua keluar tanpa menunggu.
Sepuluh menit, dia hanya butuh selama itu untuk mengeluarkan semua hal di dalam diri. Saat sudah puas mengeluarkan semua duka. Dia menghentikan isak tangisnya, berkata dengan raut dingin dan lelah serta lesu, “Aku akan membunuh kalian semua!”
Setelah mengatakan hal yang sejak dulu selalu tersimpan di dalam hati serta pikiran. Dengan tenaga yang tersisa dan penuh rasa lelah, Reu membenarkan posisi ayah, ibu, dan adik-adiknya, menutupi mereka dengan kain di lemari. Dengan suara lirih, Reu berkata, “Maaf, aku tidak bisa menguburkan kalian! Maaf, ini semua salahku! Andai … andai aku tidak lahir … ini semua tidak harus terjadi. Maafkan aku!”
Secara mendadak, Reu terduduk diam dengan tatapan kosong. Dia memandangi tubuh keluarganya yang sudah tertutupi oleh kain. Diam tanpa bersuara atau menangis.
Berjam-jam dia sudah menatap lekat tubuh dari seluruh keluarga yang berbaring diam dengan kain penutup. Jam masih terus berdetak, hingga malam semakin menjadi. Reu masih duduk diam untuk beberapa detik, sesaat kemudian dia berdiri perlahan, melangkah menuju ruang penyimpanan barang.
Langkahnya berhenti di depan pintu, berpikir sejenak tentang hal yang akan dilakukannya. Meski Reu sudah berkata akan menghabisi mereka semua—para penduduk, di dalam diri masih terdapat keraguan akan tindakan yang akan dilakukannya. Cukup lama Reu berpikir keras mengenai apa yang akan dilakukannya, antara yakin atau tidak. Kemudian dia melangkah masuk dengan keputusan matang, mengambil beberapa barang yang dibutuhkan: minyak untuk memasak dan pemantik api.
Dengan susah payah, Reu membawa sepuluh tongie(semacam kendi) berukuran sedang yang berisi minyak untuk memasak. Dia membawanya menuju ruang tamu satu per satu dan diletakan di samping pintu keluar rumah. Dia duduk menunggu, hingga sore berubah menjadi malam gelap dengan bintang bersinar menjadi dekorasi langit. Orang-orang desa pun sudah tertidur lelap.
Dalam diam tanpa bersuara, Reu melangkah keluar dengan membawa sepuluh tongie berisi minyak masak satu per satu dan menyiramkan sedikit ke setiap rumah di desa tanpa ada yang terlewat sama sekali. Setelah minyak di tongie habis, dia menggunakan pemantik api yang dibawanya. Menyalakan dalam satu kali coba. Lalu, dia menyalakan satu oboreis(sejenis obor) dan mulai memancing api di setiap rumah.
Tidak lupa, setelah semua rumah sudah mendapatkan api penyulut, Reu juga melakukan hal yang sama ke rumahnya dan membakar tanpa tertinggal satu pun. Saat api di rumah mulai menyala, Reu sedikit menjauh dan berdiri diam menatapnya.
Beberapa menit kemudian, api semakin merambat dan membesar. Tanpa rasa bersalah atau kasihan, dia melangkah pergi meninggalkan desa saat semua warga terbangun untuk memadamkan api yang sudah mulai membesar. Entah ke mana dia harus pergi, melangkahkan kaki tanpa tujuan dan rumah.
~~~••••~~~
Kamus Kata:
1. Tongie (Semacam kendi)
2. Oboreis (sebuah tongkat bambu dengan bahan mudah terbakar di salah satu ujungnya, dinyalakan menggunakan api dan digunakan sebagai sumber cahaya)
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya