Bab 2 dari 6
Suatu hari, di malam yang dingin. Di bawah hujan yang deras, seorang perempuan dewasa berambut panjang hitam terurai, mengenakan kaos biru dan celana hitam panjang, berlari terburu-buru dengan menggendong anak laki-laki di punggung. Dinginnya hujan tidak membuat sang perempuan berhenti berlari. Melewati jalanan kecil dengan tanah yang mulai melunak, di kanan dan kiri—pepohonan rindang nan tinggi menari saat angin mengeluarkan musiknya.
Bisikan yang keras terus menusuk telinga, degup jantung terasa tidak karuan. Panas menjalar ke seluruh tubuh meski terguyur butiran hujan dari langit. Getaran di bibir tidak terelakkan, setiap langkah kaki yang tegas, sekarang mulai menjadi pelan secara perlahan. Dia berlari pelan dengan deru napas lelah begitu jelas dirasakan sang perempuan di tengah ketakutan yang enggan untuk pergi.
Sesekali sang perempuan menengok ke belakang, memastikan bahwa sosok laki-laki dewasa yang mengejarnya tidak terlihat. Bahkan, saat berlari pelan, dia terkadang menginjak ranting kering kecil yang basah karena hujan deras. Akan tetapi, dia tetap memaksakan diri untuk berlari meski pelan: kakinya terluka dan berdarah. Dia terlihat begitu berantakan dengan napas tersengal-sengal, rasa lelah membuat langkahnya menjadi semakin tidak benar dan terseok-seok, membuat sang anak laki-laki sedikit bergerak karena merasa sedikit terganggu.
“Tenanglah! Semua akan baik-baik saja!” Dia berkata dengan menepuk punggung sang anak laki-laki pelan.
Dengan begitu samar, suara laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun terdengar memanggilnya. Sang perempuan kembali harus berlari sekuat tenaga. Dia hanya fokus pada setiap langkah penuh ketegangan, hingga mata cokelat sedikit terangnya melihat jalanan aspal di depan sana. Dia menghentikan langkah sejenak saat menginjak jalanan aspal yang basah. Mengembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan langkahnya.
Setelah degupan jantung sedikit mereda, napas yang tersengal sangat parah sudah sedikit membaik, sang perempuan kembali berlari menuju sisi kanan dari posisi berdiri tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Dia terus berlari di jalanan aspal yang sangat mulus.
Setiap sisi kanan dan kiri terdapat begitu banyak pepohonan berdiri kokoh. Angin berembus cukup kencang, membuat para pohon bersuara di tengah hujan yang semakin membesar. Entah sudah berapa menit lamanya, dia masih berlari tanpa lelah atau niatan untuk berhenti, hingga menangkap sebuah tiang papan nama yang tinggi nan besar.
Di tiang papan nama tersebut juga terdapat banyak lampu kecil bercahaya putih sedikit kekuning-kuningan, membentuk sebuah persegi panjang. Akan tetapi, tidak ada nama atau lambang apa pun di tiang papan yang dilihat sang perempuan. Kosong, hanya lampu kecil yang meneranginya.
Dengan tujuan agar tiba di tempat papan nama kosong secepat mungkin, sang perempuan berlari lebih cepat dari sebelumnya. Melawan rintik deras yang jatuh dari langit, meski terasa berat kaki untuk berlari, dia tetap memaksa tanpa peduli kesakitan mendatangi diri secara perlahan. Menumpuk, terus menjatuhkan beban lebih berat, mata cokelat yang bahkan tanpa lelah melawan perihnya air bening berjatuhan, hingga sebuah rumah besar terlihat begitu samar di depan sana, serta sebuah gerbang besi berdiri kokoh di sana. Besi tua melengkung terpasang, dengan papan kayu yang bertuliskan ‘Panti Asuhan Maraiw’.
Perlahan, saat dia sudah tiba tepat di depan gerbang besi tua, diturunkannya anak laki-laki dari gendongan dan mulai mengubah posisi berdiri, membuat kedua lutut sebagai tumpuan. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh kepala anak laki-laki, merapikan dan berusaha membuang air berjatuhan, membasahi wajah mungil. Senyum penuh kesedihan dan rasa bersalah terlukis di wajah, saat dia menatap anak laki-laki yang tengah mengucek mata.
“Lihat Ibu! Astan harus masuk ke rumah besar itu! Nanti … Ibu akan menyusul. Astan mengerti?” Dia memegang wajah Astan—nama sang anak laki-laki. Astan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
Perempuan yang merupakan ibu Astan berdiri dari duduk bersimpuh. Menatap dengan lembut sepasang mata kecokelatan sang anak. Dengan erat dia menggenggam tangan Astan yang kecil nan lembut. Berjalan mendekati gerbang besi, dia perlahan membuka gerbang besi yang tidak terkunci. Derit nyaring terdengar di tengah rintikan ringan hujan yang sudah tidak sederas sebelumnya.
Dengan napas yang tersengal, dia menyuruh sang anak untuk masuk. Lalu, menutup rapat gerbang besi dengan terus memintanya untuk menjauh. Dia yang melihat Astan mulai menangis, membuatnya duduk bersimpuh di depan gerbang. Memasukkan tangan melewati celah di gerbang. Untuk kedua dan terakhir kali, dia mengusap kepala Astan lembut.
“Astan harus berhenti menangis! Ibu janji, Ibu akan kembali,” katanya pelan dengan senyum kecil di wajah.
“Ibu janji?” Astan bertanya dengan menghapus air mata menggunakan kedua tangan.
“Ya, Ibu janji!” Setelah mengucapkannya, dia berdiri dan menjauh dari gerbang besi. Akan tetapi, dia menyadari bahwa sosok laki-laki yang mengejar sudah berdiri di belakang dirinya.
Dalam satu detik, sebuah benda tajam dapat dirasakannya, menembus kulit perut belakang, hingga bagian depan. Cairan merah nan segar keluar begitu deras dari perut dan mulut. Dengan perasaan terkejut dan takut, Astan masih berdiri dengan tubuh bergetarnya, keringat dingin mulai bermunculan.
Butiran bening kembali keluar dari pelupuk mata tanpa menimbulkan suara. Astan dapat melihat dengan begitu jelas, garis melengkung di wajah sang perempuan, seperti sebuah retakan. Bibirnya juga dipenuhi oleh cairan merah yang keluar dari dalam mulut.
“Kamu harus lari,” ucapnya dengan suara lemah.
Cairan merah kembali keluar saat benda tajam di perut ditarik begitu saja. Tanpa memiliki tenaga lagi, tubuhnya terjatuh begitu saja dengan senyum di wajah. Astan hanya dapat terdiam dalam tangis tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Derasnya butiran bening hangat yang keluar dari pelupuk mata tidak dapat dibendung lagi. Menangis dalam diam nan kesunyian yang menipu, dia tetap berdiri, menatap sang ibu tanpa mengalihkan perhatian menuju hal lain.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya