Bab 2 dari 42
Pagi di Kementerian Sejarah Nasional selalu diawali oleh bunyi yang nyaris tak pernah dianggap penting oleh siapa pun selain Elian Arka: suara halus pintu-pintu ruang arsip yang terbuka secara otomatis tepat pukul tujuh. Bukan denting logam, bukan pula derak engsel yang menua dimakan waktu, tapi desis pelan yang terdengar seperti embusan napas seseorang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Setiap kali suara itu terdengar, Elian selalu memiliki perasaan yang sama, seolah ribuan kisah masa lalu sedang membuka mata dan menunggu seseorang menyapanya.
Sebagian orang menganggap sejarah hanyalah kumpulan tanggal, nama, dan peristiwa yang tak lagi punya urusan dengan kehidupan hari ini. Mereka membacanya untuk lulus ujian, menghafalnya untuk mendapatkan nilai baik, lalu melupakannya begitu lembar jawaban dikumpulkan. Namun Aisenodni tidak pernah memperlakukan sejarah seperti barang usang yang disimpan di gudang. Di negeri ini, sejarah adalah fondasi agar masa depan tidak kehilangan pijakan.
Gedung Kementerian Sejarah Nasional berdiri di sisi timur ibu kota, menghadap sebuah danau buatan yang airnya begitu jernih hingga bayangan bangunan itu tampak lebih nyata daripada bentuk aslinya. Dari luar, bangunan tersebut tidak terlihat megah sebagaimana kementerian-kementerian lain. Arsiteknya memilih garis-garis sederhana dengan dinding batu terang dan kaca lebar yang membiarkan cahaya matahari masuk hampir ke setiap ruangan.
"Selamat pagi, Elian." Suara itu datang dari seorang petugas kebersihan yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.
"Pagi, Pak Roven."
"Luar negeri menyenangkan?"
Elian tersenyum kecil. "Menyenangkan untuk dikunjungi."
"Lalu?"
"Terlalu melelahkan untuk ditinggali."
Pak Roven tertawa lirih sebelum kembali mengarahkan selang air ke rumpun bunga yang baru mulai mekar. Percakapan mereka selesai begitu saja, ringan dan tanpa basa-basi berlebihan, tetapi cukup untuk menghangatkan pagi yang masih diselimuti udara sejuk. Sesampainya di lobi utama, Elian meletakkan telapak tangannya di panel identifikasi. Dalam hitungan detik, layar tipis di depannya memunculkan nama lengkap, jabatan, dan daftar pekerjaan yang telah menunggunya sejak semalam.
ELIAN ARKA
Arsiparis Tingkat II
Divisi Preservasi Sejarah Nasional
Di bawahnya terdapat tiga puluh dua berkas yang harus diperiksa hari itu. Tidak ada keluhan. Justru angka sebanyak itu membuat Elian merasa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
Banyak orang menganggap pekerjaannya membosankan. Menghabiskan waktu di antara dokumen-dokumen tua, memindai arsip yang mulai rapuh, mencocokkan data digital dengan naskah asli, memastikan setiap catatan sejarah tersimpan dalam lebih dari satu media penyimpanan, terdengar seperti pekerjaan yang hanya cocok dilakukan oleh orang-orang yang takut berhadapan dengan dunia luar. Padahal bagi Elian, setiap dokumen punya kehidupan. Selembar surat yang ditulis lima puluh tahun lalu masih menyimpan napas orang yang menuliskannya. Sebuah foto yang mulai memudar tetap mampu memelihara tawa seseorang yang mungkin telah lama meninggal. Bahkan tanda tangan di sudut kertas adalah bukti bahwa pernah ada tangan manusia yang gemetar, terburu-buru, atau penuh keyakinan ketika menggoreskannya.
Menyelamatkan arsip bukan sekadar menyimpan kertas. Ia sedang menyelamatkan ingatan. Dan sebuah bangsa tanpa ingatan tak ubahnya seseorang yang bangun setiap pagi tanpa pernah tahu siapa dirinya.
Ruang kerja Divisi Preservasi berada di lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, aroma khas kertas tua bercampur pendingin ruangan langsung menyambutnya. Di sepanjang koridor berjajar rak-rak kaca yang memamerkan salinan beberapa dokumen penting nasional. Bukan untuk dipuja, lebih sebagai pengingat bahwa perjalanan sebuah bangsa selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana, sebuah tulisan, sebuah keputusan, atau bahkan secarik catatan yang nyaris dibuang.
"Selamat pagi!"
Suara ceria itu berasal dari Liora, rekan satu timnya yang sudah lebih dulu duduk di depan meja kerja sambil memegang secangkir kopi.
"Kau kembali lebih cepat."
"Konferensinya selesai kemarin."
"Lalu? Dunia di luar masih sama berisiknya?"
Elian terkekeh. "Kurang lebih."
"Syukurlah. Berarti kita masih tinggal di tempat yang benar."
Percakapan itu mengundang tawa kecil dari beberapa pegawai lain yang sedang menyalakan komputer masing-masing. Tak ada yang merasa perlu mencari siapa yang paling lucu atau paling pintar. Candaan-candaan semacam itu muncul begitu saja, lalu menguap bersama kesibukan pagi. Di banyak tempat kerja yang pernah ia dengar dari cerita para akademisi asing, kantor adalah arena pertarungan yang lebih sunyi daripada medan perang. Orang-orang tersenyum ketika berpapasan, tetapi saling menjatuhkan di ruang rapat. Mereka mengucapkan selamat atas keberhasilan rekannya, sementara diam-diam berharap keberhasilan itu tidak berlangsung lama.
Elian tak pernah benar-benar memahami mengapa seseorang harus membenci orang yang bekerja di meja sebelahnya. Di kementerian ini, jika seseorang menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, ia akan membantu meja lain yang masih kewalahan. Jika ada pegawai yang sakit, pekerjaan mereka dibagi rata tanpa perlu diperintah atasan. Bahkan promosi jabatan sering kali dirayakan bersama, bukan dipandang sebagai kekalahan bagi yang lain. Barangkali terdengar terlalu ideal. Namun begitulah kehidupan yang selama ini ia kenal.
Ia menyalakan terminal kerjanya. Dalam hitungan detik, ribuan katalog digital memenuhi layar transparan di hadapannya. Setiap arsip memiliki kode unik, lokasi penyimpanan fisik, hasil pemindaian beresolusi tinggi, riwayat restorasi, hingga daftar siapa saja yang pernah mengaksesnya dalam puluhan tahun terakhir. Sistem Arsip Nasional Aisenodni sering disebut sebagai salah satu yang paling lengkap di dunia. Tidak ada dokumen yang benar-benar hilang. Tidak ada catatan yang tercecer. Setiap lembar sejarah punya tempatnya sendiri. Dan setiap tempat punya sejarahnya sendiri.
Elian selalu menyukai kenyataan itu. Karena baginya, keteraturan tidak berarti membatasi kehidupan. Keteraturan adalah cara manusia menunjukkan rasa hormat kepada waktu yang telah berlalu. Ia meraih berkas pertama dari troli arsip yang baru saja diantarkan petugas logistik. Jemarinya bergerak hati-hati membuka map pelindung, memeriksa kondisi kertas, mencocokkan nomor registrasi dengan data digital, lalu menuliskan beberapa catatan kecil mengenai tingkat kelembapan dan kualitas tinta yang mulai memudar.
Gerakannya tenang, terukur, dan nyaris tanpa kesalahan.
Bagi sebagian orang, ketelitian adalah bakat. Bagi Elian, ketelitian adalah bentuk penghormatan. Sebab ia percaya, sejarah tidak pernah berubah karena peristiwa-peristiwa besar saja. Kadang-kadang, sejarah berubah hanya karena seseorang lalai menjaga satu lembar kertas.
Menjelang siang, cahaya matahari yang masuk melalui dinding-dinding kaca mulai bergeser perlahan, merayap di atas lantai kayu hingga menyentuh kaki-kaki rak arsip yang berjajar rapi seperti barisan prajurit tua yang sudah lama pensiun dari medan perang, tetapi masih setia menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan. Elian baru saja menyelesaikan pemeriksaan belasan dokumen ketika sebuah notifikasi muncul di sudut layar kerjanya.
Sinkronisasi Nasional Selesai.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi kebanyakan pegawai, tetapi setiap kali membacanya, Elian selalu merasakan kepuasan kecil yang sulit dijelaskan. Artinya, seluruh perubahan data yang ia lakukan pagi itu telah tersalin secara otomatis ke pusat data nasional, kemudian dikirim lagi ke beberapa pusat cadangan yang tersebar di berbagai wilayah Aisenodni. Jika suatu hari nanti gedung kementerian ini musnah karena bencana alam sekalipun, sejarah bangsanya tidak akan ikut lenyap. Negara ini begitu serius menjaga masa lalu. Sebab mereka percaya bahwa lupa adalah awal dari pengulangan.
"Elian."
Ia mendongak. Di hadapannya berdiri Kepala Divisi Preservasi, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun bernama Mira Solenne. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, tetapi sorot matanya tetap setajam seseorang yang telah menghabiskan separuh hidupnya membaca ribuan kisah manusia.
"Ada yang perlu saya revisi, Bu?"
Mira menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat."
"Selamat?"
"Kau kembali mendapat tingkat akurasi seratus persen untuk audit triwulan."
Elian tersenyum tipis. "Itu hanya kebetulan."
"Bukan." Mira ikut tersenyum. "Sudah tiga tahun berturut-turut tidak bisa lagi disebut kebetulan."
Beberapa rekan kerja yang mendengar percakapan itu spontan menoleh.
"Selamat, Elian."
"Hebat juga kau."
"Nanti siang makan bersama, ya."
Tak ada nada iri dalam ucapan mereka. Tak ada senyum yang dipaksakan. Bahkan Liora langsung berdiri sambil bertepuk tangan kecil, membuat beberapa pegawai lain ikut melakukannya hanya untuk menggoda Elian yang mulai salah tingkah.
"Sudah, sudah," gumamnya sambil tertawa kecil. "Aku hanya memeriksa dokumen."
"Justru itu." Liora mengangkat bahu. "Semua orang bisa memeriksa dokumen. Tidak semua orang bisa melakukannya tanpa melewatkan satu titik pun."
Elian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pujian selalu membuatnya tidak nyaman. Baginya, pekerjaan yang dilakukan dengan baik bukanlah sesuatu yang layak dirayakan. Itu hanyalah bentuk tanggung jawab.
Mira kemudian meletakkan sebuah map tipis di atas meja Elian.
"Besok kau akan mulai membantu penyusunan ulang arsip periode awal pembentukan republik."
"Yang koleksi fisiknya belum seluruhnya didigitalisasi?"
"Ya."
Elian mengangguk pelan. Ia pernah membaca proyek itu dalam agenda kementerian. Sebagian besar arsip telah dipindai sejak puluhan tahun lalu, tetapi masih ada sejumlah dokumen yang memerlukan pemeriksaan ulang karena kualitas hasil digitalisasi generasi pertama dianggap belum memenuhi standar terbaru.
"Banyak sekali, ya."
"Memang." Mira memandang rak-rak tinggi yang memenuhi ruangan. "Sejarah selalu lebih banyak daripada waktu yang kita miliki untuk merawatnya."
Kalimat itu membuat Elian terdiam beberapa saat. Ia menyukai cara atasannya memandang pekerjaan mereka. Tidak pernah berlebihan, tetapi selalu menyisakan ruang untuk direnungkan.
Jam istirahat tiba. Alih-alih memenuhi kantin, sebagian pegawai memilih makan siang di taman belakang kementerian yang menghadap danau. Elian ikut duduk di sana bersama Liora dan beberapa rekan lain. Tak ada pembicaraan tentang politik kantor, promosi jabatan, atau gosip mengenai atasan. Topik mereka berpindah-pindah dari pertandingan olahraga antarkementerian, konser musik yang akan digelar akhir pekan, hingga seorang pegawai yang sebentar lagi akan menjadi ayah.
"Tebak." Liora menyikut pelan lengan Elian.
"Apa?"
"Kalau nanti kau punya anak, kau bakal jadi ayah yang seperti apa?"
Elian tertawa. "Aku bahkan belum punya pasangan."
"Itu bukan jawaban."
"Hm …." Ia berpikir sejenak. "Mungkin aku akan sering mengajak anakku ke museum."
Semua orang tertawa.
"Benar-benar jawaban seorang arsiparis."
"Tidak mengajaknya ke taman bermain?"
"Aku bisa mengajaknya ke museum, lalu ke taman bermain."
"Kalau begitu masih bisa ditoleransi."
Gelak tawa kembali pecah, mengalir ringan bersama desir angin yang menggoyangkan dedaunan di tepi danau. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa percakapan-percakapan sederhana semacam itulah yang kelak akan paling dirindukan ketika keraguan mulai merayapi kehidupan Elian.
Sore hari, sebelum pulang, ia berjalan menyusuri lorong penyimpanan utama seperti kebiasaannya setiap selesai bekerja. Rak-rak arsip berdiri menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Masing-masing diberi kode yang presisi, disusun berdasarkan tahun, wilayah, kategori, hingga tingkat prioritas pelestarian. Begitu rapi, lengkap, sempurna.
Elian berhenti di tengah lorong, memandang ribuan map yang tersusun tanpa cela. Kadang ia membayangkan, jika suatu hari seluruh umat manusia lenyap dan hanya gedung ini yang tersisa, mungkin generasi baru masih mampu menyusun kembali sejarah Aisenodni hanya dari apa yang tersimpan di dalamnya. Tak ada yang hilang, tercecer, ataupun terlupakan. Setidaknya, begitulah yang selalu ia yakini.
Ia mematikan terminal kerjanya, merapikan meja, lalu mengambil tas yang sedari pagi tergeletak di samping kursi. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah ruang arsip yang mulai lengang. Ada sesuatu yang selalu menenangkan ketika melihat ribuan catatan masa lalu terbaring diam dalam keteraturannya masing-masing. Seolah waktu sendiri telah sepakat untuk beristirahat di ruangan itu. Elian tidak pernah tahu bahwa keyakinan terbesar dalam hidupnya sedang berdiri di hadapan sebuah ironi. Sebab beberapa hari lagi, ia akan menemukan satu kenyataan yang perlahan meruntuhkan seluruh kepercayaannya, bahwa tidak semua sejarah disimpan. Dan tidak semua yang hilang pernah benar-benar hilang.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya