Customer Service

The Life I Aksed For

Bab 2 dari 10

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Bab 1 - Hari Terakhir Bekerja

Pukul 06.30 Nadira berlari kecil dengan sebuah payung di tangan kanannya menuju halte bus Trans Jakarta. Pagi itu hujan gerimis membuat udara terasa dingin sekali. Sepatu kets putihnya kotor terkena cipratan genangan air akibat hujan deras semalam. Baru sampai di gerbang halte, Trans Jakarta rute tujuannya ke kantor sampai dan beberapa penumpang berdesakkan untuk segera masuk bus. Nadira mempercepat larinya agar tidak tertinggal.


Tap!


Nadira menempelkan e-money pada reader pembayaran.


Sial. Saldonya habis, sementara bus sudah mau berangkat lagi. 


Nadira menghentakkan kakinya kasar. Kesal sekali tertinggal bus pertama yang ia lihat hari ini. 


Bus selanjutnya datang. Nadira buru-buru masuk tanpa permisi, mencari posisi paling nyaman menurutnya. Namun namanya bus Trans Jakarta di rush hour, senyaman-nyamannya posisi, berdiri terhimpit sampai tujuan bukan hal yang bisa dihindari. Tangan Nadira menggenggam erat pegangan besi di atas kepala. Ia memasukkan e-money-nya ke dalam card holder yang menggantung di lehernya. Terlihat foto perempuan cantik dengan blazer hitam dan rambut hitam terjuntai bertuliskan Nadira - Digital Marketing Specialist.


Hari itu hari pemilihan Team Lead di kantornya. Ia terpilih menjadi salah satu kandidat potensial yang harus presentasi hari ini. Sementara itu, mood-nya sudah tidak baik sejak pagi. Nadira menggembungkan pipinya, menghembuskan napas perlahan untuk membuat moodnya kembali demi kelancaran presentasi hari ini. 


Pukul 08.29 Nadira sampai di kantor. Satu menit sebelum jam masuk kantornya. Untung tidak benar-benar

terlambat hari itu. 


Nadira buru-buru menuju mejanya, mengganti sepatu kets putihnya yang sudah kotor dengan pantofel hitamnya. Ia merapikan berkas-berkas, mengecek salindia yang sudah disiapkan semalam. Tiba-tiba Nadira menyadari suasana kantor pagi itu berbeda dari biasanya. Sejak ia datang, rekan kerjanya selalu memperhatikannya sembari bisik-bisik. 


"Nadira dipanggil Pak Beni sekarang di ruangannya," ucap Sita--salah satu kandidat calon team lead juga, yang bicara dengan menghindari kontak mata dengannya.


"Oh iya, ini aku lagi siap-siap kok buat presentasi," jawab Nadira.


"Bukan itu, pokoknya kamu ke sana aja dulu." 


Nadira menuju ruangan Pak Beni. Ia memasuki ruangan itu setelah mengetuk pintu dua kali. 


"Silakan duduk," ujar Pak Beni tanpa mengangkat kepala. Tatapannya masih tertuju pada layar laptop.

Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Pak Beni memutar layar laptop ke arah Nadira.


"Nadira, saya mau tanya, kamu benar melakukan ini semua?"


Pak Beni memperlihatkan data-data berisi data transaksi biaya iklan.


Nadira membacanya dengan seksama. Ia mengernyitkan dahinya.


"Kamu lihat transaksi yang diberi tanda merah. Selisih anggaran hampir seratus juta."


Nadira membaca cepat transaksi itu. 


"I.. Ini bukan transaksi yang saya buat, Pak.."


"Saya juga tidak percaya, tapi.."


Klik. Pak Beni menampilkan isi dari sebuah emailnya. Terlihat riwayat login akun iklan perusahaan menggunakan akun kerja atas nama Nadira.


"Dilakukan tengah malam, beberapa kali."


Nadira menggeleng cepat.


"Saya tidak pernah login malam-malam, Pak. Akun saya mungkin dipakai orang lain."


"Pak, sumpah saya tidak menyalahgunakan dana iklan! Saya bisa buktikan," jawab Nadira.


"Masalahnya, saya juga dapat laporan kalau kamu menjual data klien ke kompetitor. Saya punya bukti percakapan salah satu pembelinya dan setelah saya cek memang benar itu semua data klien kita," tambah Pak Beni.


Nadira terdiam. Mulutnya menganga. Ia bingung harus menjelaskan dari mana. Ia tidak tahu dari mana semua kesalahpahaman ini terjadi. 


"Ini tidak mungkin.."


"Maaf ya, Nadira. Berita ini sudah tersebar di kantor. Demi meredam krisis kepercayaan mereka terhadap perusahaan ini, kamu saya nonaktifkan. Kamu boleh beres-beres mejamu sekarang. Saya mau mulai jadwal presentasi calon team lead hari ini. Untuk proses exit cleareance silakan langsung hubungi HRD," jelas Pak Beni.


Nadira pergi meninggalkan ruangan Pak Beni tanpa sepatah katapun. Bahunya membungkuk lemas. Tatapan matanya kosong. Ia menuju mejanya dan membereskan semua barang pribadinya di meja itu, salah satunya adalah sebuah foto Nadira kecil bersama kedua orang tuanya saat liburan ke Bali waktu itu. Namun, bagian foto ayahnya terlipat dan tidak terlihat.


Setelah Nadira membereskan meja. Ia melihat presentasi Team Lead dimulai melalui layar TV kantor. Namanya masih muncul sebagai kandidat.


Ia tersenyum pahit. Lalu HR datang.


"Nadira, sebelum pulang, kami harus mengambil laptop kantor." Laptop dibuka. HR tiba-tiba terdiam.


"Pak..." HR memanggil Pak Beni yang saat itu kebetulan keluar dari ruangannya.


Pak Beni mendekat. Wajahnya berubah. Di layar muncul log aktivitas.


Semua transaksi ilegal dilakukan...

dengan akun Nadira.

Padahal Nadira tidak pernah melakukannya.

 

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab