Bab 2 dari 6
Sudah seminggu berlalu, sejak Alan memilih menetap di sana, sebuah unit hunian yang menjadi tempat tinggalnya. Dia bahkan menggunakan uang tabungan untuk menyewa satu unit hunian yang berada di lantai tiga. Lantai di mana unit hunian Arya berada, hanya berbeda beberapa belokan lorong saja.
Selama tujuh hari, Alan menjalani rutinitas sekolah dan harian seperti biasa. Bahkan, setiap bujukan yang dilakukan oleh sang ayah agar dia kembali ke rumah, Alan selalu menolaknya. Seperti sekarang ini, sang ayah tengah berada di unit tempat tinggalnya, duduk dengan masih berusaha membujuk.
“Ayah mohon! Pulang sekarang! Jangan seperti ini! Ayah minta maaf karena waktu itu membentak kamu!” ucap sang ayah dengan tulus, memohon sepenuh hati.
Namun, jawaban yang diterima tetap sama, “Aku tidak akan pulang! Ayah bisa pulang sekarang!”
“Hah … kakek kamu terus menelepon, beliau ingin kamu kembali ke rumah.” Ayahnya kembali membujuk.
“Kalau begitu, katakan ke kakek, aku akan tetap tinggal di sini. Jangan memintaku untuk pulang,” jawab Alan yang tetap pada keputusannya.
“Hah, baiklah! Kalau kamu tetap dengan keputusan itu,” ucap sang ayah dengan raut wajah pasrah dan menyerah, tanpa membujuk lagi. Membiarkan Alan tinggal di sana. Tidak lupa, sang ayah juga memberikan sebuah kartu tabungan yang berbentuk persegi panjang dan sangat tipis untuknya.
Namun, dengan sedikit menurunkan ego karena membutuhkan uang untuk bertahan hidup, Alan menerima kartu tabungan tersebut, lalu berkata, “Terimakasih!”
Setelah memberikan kartu tabungan yang akan digunakan Alan, sang ayah melangkah pergi dari tempat tinggalnya dengan rasa tidak rela. Meninggalkan dia sendirian di tempat tinggal yang terlihat kecil, tidak nyaman, dan sangat bising karena terlalu banyak orang. Akan tetapi, sang ayah sudah menyerah dan membiarkan anaknya dengan keputusan yang sudah tidak dapat ditawar lagi.
Tidak lama setelah sang ayah pergi, Alan menyimpan kartu tabungan yang berbentuk persegi panjang kecil dan berwarna hitam itu di dalam dompetnya. Karena malam sudah mulai larut, dia mengunci pintu, kemudian melangkah menuju kamar tidur. Menyalakan lampu sebentar, dia menyimpan dompetnya di bawah bantal. Dengan pelan, dia membersihkan tempat tidur menggunakan kain selimut.
Setelah dirasa sudah bersih, Alan mematikan lampu, berjalan mendekati kasur, dan membaringkan diri dengan menyelimuti setengah badan. Sepasang matanya menatap lekat dinding langit, membuat dia melamun dengan memfokuskan diri ke satu titik, hingga semakin lama melihatnya, rasa kantuk datang menghampiri. Seiring waktu berjalan, kantuk itu membuat kelopak matanya berat dan tidak kuat untuk terbuka. Detik berikutnya, Alan sudah memejamkan mata, napas yang keluar dari hidung terdengar halus dengan sedikit dengkuran ringan.
~~~••••~~~
Hari pun sudah berganti, setengah hari penuh, Alan sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Saat bel pulang sekolah terdengar, seluruh murid bergembira dan berhamburan keluar. Alan baru saja melangkahkan kaki di luar gerbang sekolah, bersama dengan Arya, sahabat karibnya. Mereka menyusuri jalanan sore yang ramai, hingga tiba di papan pemberhentian bus. Mereka berdiri bersama dengan beberapa anak sekolah, menunggu sampai bus pun tiba.
Sebuah bus yang sudah terlihat tua karena warna cat mulai usang dan memudar. Mereka melangkah masuk dan berebut tempat duduk dengan anak yang lain. Berdesak-desakan dan saling mendorong, sudah berusaha keras pun, Mereka tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri sepanjang jalan, hingga bus pun berhenti.
Mereka baru saja melangkah keluar dari dalam bus, kemudian memberikan beberapa lembar uang kertas. Detik berikutnya, pergi melewati gang-gang kecil yang setiap sisi kiri dan kanan terdapat dinding menjulang tinggi. Suasana gang terasa sedikit gelap, tidak ada suara yang ramai, hanya bisikan angin, membuat Alan dan Arya hanya diam sepanjang jalan.
Ketika mereka akan melewati belokan terakhir, terlihat beberapa orang yang berusia beragam. Ada yang sekitar sebelas tahun, dua belas, hingga dua puluh tahun. Orang-orang itu terlihat sibuk menghisap rokok di tangan dengan sambil bercengkrama. Saat mereka berdua semakin dekat dengan gerombolan tersebut, aura mengancam terasa sedikit lebih berat.
Alan yang memang masih belum mengerti keadaan saat ini, dia berjalan dengan santai dan tenang. Berbeda dengan Arya yang sejak awal melihat gerombolan tersebut terus memegang erat tangannya. Mereka berjalan dalam diam, melewati gerombolan para orang yang tengah sibuk merokok sambil bercengkrama.
Tanpa sengaja, saat mereka berjalan melewati gerombolan itu, mata Alan bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang tampak tidak jauh berbeda secara usia dengannya. Ada sesuatu di dalam tatapan , mungkin sebuah peringatan samar atau sekadar kehati-hatian. Saat sudah melewatinya, Arya menarik tangan Alan dan mendesak untuk berjalan cepat.
“Jalannya yang cepat, Alan,” bisik Arya mendesak, nada suaranya sarat akan peringatan yang membuat Alan keheranan.
Alan yang merasa keheranan meski sudah memiliki sebuah insting tentang sang laki-laki, dia bertanya kepada Arya karena penasaran, “Memang, mereka siapa?
Namun, Alan sedikit mengerti saat Arya berkata, “Mereka orang berbahaya!”
Setelah mendengar jawaban Arya, seketika ada ketegangan yang tidak dapat terucap. Kemudian, mereka serentak berjalan cepat.
Mereka segera menyusuri jalan menuju gedung unit hunian, meninggalkan gang kecil yang terasa sedikit mencekam. Langkah cepat mereka membuat waktu terasa sedikit lebih cepat untuk mencapai gedung tempat tinggalnya. Sebuah gedung hunian yang memiliki dua belas lantai dengan harga murah. Warna dindingnya pun terlihat lusuh, terdapat retakan dan tambalan di mana-mana, tidak lupa jamur-jamur hijau tumbuh subur di beberapa bagian yang lembab.
Mereka merasa lebih nyaman dan lega karena sudah berada di depan gedung hunian. Dengan menyapa penjaga gerbang masuk, mereka berjalan pelan, melewati beberapa anak tangga, hingga sudah berada di depan pintu bernomor 132 yang memiliki warna cokelat gelap. Bahkan dinding putihnya sudah memudar, di beberapa bagian pewarna juga terkelupas.
Tanpa berlama-lama, mereka segera masuk dan menutup pintu, keheningan sesaat pun seketika pecah oleh rasa penasaran Alan yang tidak tertahankan lagi.
“Siapa mereka tadi?” tanya Alan masih berdiri, kerutan di dahi yang menandakan kebingungan dan rasa ingin tahunya.
Arya yang juga masih berdiri, mengambil duduk dengan mencoba menenangkan diri. Dengan suara tenang dan serius, Arya menyuruhnya untuk ikut duduk, “Aku akan menceritakan rahasia keluargaku ...”
Dengan suka rela, Alan duduk setelah mendengar perkataan serius yang keluar dari mulut Arya. Saat dia sudah duduk tenang dan memasang raut serius, menunggu dengan penuh sabar. Beberapa detik berlalu, Arya mulai menceritakan tentang rahasia keluarganya yang sang sahabat karib tidak ketahui.
Tarikan napas panjang sekaligus kasar, mengawali cerita Arya, “Jadi, aku kerja kepada gerombolan mereka … aku jual rempah niori, ayahku seorang pecandu judi, alkohol, dan rempah niori, dia juga suka melakukan tindak kekerasan terhadap adik dan ibuku. Dia juga punya hutang sangat banyak ke para gerombolan tersebut, aku kerja di mereka untuk membayar semua utang … hah, aku ha
rus melakukannya untuk membantu Ibu yang bekerja sendiri.”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya