Bab 2 dari 2
?"Kasta itu cuma ilusi yang diciptakan oleh mereka yang takut berdiri tanpa gelar. Ketika sinyal palsu mengacaukan radar, mereka yang bertakhta menyadari betapa rapuhnya kerajaan yang hanya berdiri di atas layar lima inci."
Gerimis tipis mengguyur kawasan industri tua di bilangan Jalan Garuda. Bau oli bekas, karet terbakar, dan aspal basah menyatu, menciptakan aroma pekat yang menyambut Vony begitu ia melangkahkan kaki melewati gerbang besi berkarat.
?Di ujung gang remang-remang itu, berdiri sebuah bangunan semi-permanen dengan atap seng yang sudah bergelombang. Lampu neon yang berkedip-kedip memancarkan cahaya kekuningan, menyoroti papan nama kayu bertuliskan VIPERS yang sudah memudar. Suara deru mesin berkapasitas besar sesekali meraung dari dalam, memecah keheningan malam yang merayap.
?Vony melirik layar ponselnya. Pukul 18.45 WIB. Masih ada lima belas menit sebelum Event Red Hunt resmi dimulai. Di layar Starlight App, bilah hitung mundur berwarna merah darah terus berjalan, disertai teks berkedip yang seolah-olah mengejeknya:
TARGET: VONY (KASTA F) – STATUS: ACTIVE.
?Ia menarik napas panjang, merapatkan jaket denimnya, lalu mendorong pintu dorong besi yang berderit nyaring.
?Keributan di dalam bengkel seketika terhenti. Tiga orang cowok yang sedang mengorek mesin motor melirik ke arah pintu. Mereka mengenakan jaket kulit hitam dengan emblem tengkorak yang sama seperti yang dipakai Nicholas siang tadi. Atmosfer di dalam ruangan mendadak menjadi dingin dan penuh selidik.
?"Wah, siapa nih? Nyasar, Mbak?" tanya salah satu dari mereka, cowok berambut gondrong yang memegang kunci inggris. "Di sini bukan tempat buat anak sekolahan nongkrong, apalagi cewek."
?"Aku cari Nicholas," jawab Vony singkat. Suaranya tenang, matanya menatap lurus tanpa ada keraguan.
?"Aku rasa Nicholas lagi sibuk di belakang," sahut cowok lainnya yang bertato di lengan. "Lagian, kamu tahu kan ini bengkel Vipers? Anak Starlight biasanya tidak berani lewat sini malam-malam."
?"Dia yang menyuruh aku ke sini," potong Vony datar.
?Sebelum ketegangan meningkat, suara langkah kaki santai terdengar dari arah ruang dalam. Nicholas muncul dari balik tirai plastik tebal, membawa kaleng minuman dingin di tangan kanannya. Ia tidak lagi mengenakan seragam sekolah. Kaus hitam polos membalut tubuh tegapnya, dipadu celana kargo gelap dan sepatu bot yang sedikit kotor di ujungnya.
?"Ternyata kamu berani juga," ujar Nicholas, menghentikan langkah beberapa meter di depan Vony. Ia melempar kaleng minuman dingin itu ke arah Vony, yang langsung ditangkap cewek itu dengan sigap. "Aku pikir kamu bakal sembunyi di kamar sambil menangis saat melihat penghitung waktu di aplikasi."
?"Aku bukan tipe orang yang suka lari dari masalah," balas Vony, meletakkan kaleng minuman di atas meja kerja yang dipenuhi perkakas. "Dan aku ke sini bukan untuk mendengar sindiranmu. Pukul tujuh tinggal beberapa menit lagi. Mana janjimu soal cara lepas dari pelacak aplikasi itu?"
?Nicholas tersenyum tipis—sebuah senyuman sinis yang terukir tipis di bibirnya. Ia memutar tubuhnya, memberi isyarat dengan kepala. "Ikut aku."
?Vony mengikutinya menuju sudut ruangan yang disulap menjadi ruang kerja berteknologi tinggi. Di tengah tumpukan suku cadang motor dan peralatan mekanik, terdapat tiga unit monitor komputer berukuran besar yang menampilkan garis-garis kode dan grafik sinyal frekuensi. Seorang cowok bertubuh agak kurus dengan kacamata berbingkai tebal tampak jemarinya menari lincah di atas papan ketik.
?"Kenalkan, ini Reza. Anak IT-nya Vipers," kata Nicholas sambil bersandar pada meja di samping monitor. "Kalau soal mesin motor, dia payah. Tapi kalau soal meretas frekuensi, dia rajanya di kawasan ini."
?Reza membetulkan posisi kacamatanya tanpa menoleh. "Jangan salah, Nick. Aku cuma suka bermain-main dengan gelombang radio." Ia kemudian menatap Vony dari atas ke bawah. "Jadi ini cewek Kasta F yang bikin Valerie mengamuk di koridor tadi pagi? Cantik juga, tapi sayang... nekat sekali."
?"Bisa langsung ke intinya?" potong Vony, menatap layar monitor yang menampilkan peta digital SMA Starlight dan area sekitarnya. "Bagaimana cara kerja pelacak Red Hunt?"
?Nicholas melipat tangannya di dada. "Sederhana. Starlight App itu punya akses penuh ke fitur GPS dan network cell di ponselmu. Begitu pukul tujuh malam, aplikasi bakal memaksa modul GPS ponselmu untuk memancarkan sinyal koordinat presisi tinggi tiap sepuluh detik sekali. Sinyal itu langsung dikirim ke server sekolah, lalu disebarkan ke ponsel semua murid Kasta C ke atas."
?"Artinya, lokasiku bakal muncul seperti titik merah di peta permainan mereka," gumam Vony.
?"Persis," timpal Reza. "Dan Valerie memanfaatkan itu. Dia membuat bounty khusus malam ini. Siapa pun murid Kasta A sampai C yang berhasil mengerjaimu, bakal dapat transferan poin kasta gratis dari dia. Jadi, kamu itu sekarang ibarat barang buruan yang sedang dilepas di tengah hutan."
?Vony mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Sistem ini benar-benar menjijikkan. Bukan cuma soal perundungan biasa, tapi sudah berubah menjadi permainan perburuan manusia yang dilegalkan oleh pihak sekolah.
?"Lalu, bagaimana cara kita melawannya?" tanya Vony, menatap Nicholas. "Kalau aku mematikan ponselku, apa bedanya dengan mengaku kalah?"
?"Kalau kamu mematikan ponselmu, sistem bakal mendeteksi itu sebagai bentuk kecurangan," jelas Nicholas dingin. "Di aturan aplikasi, mematikan ponsel saat Event Red Hunt berjalan sama saja seperti otomatis kena penalti minus 500 poin. Itu artinya kamu langsung jatuh ke kasta buangan permanen, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah."
?"Lalu solusinya?"
?Nicholas melirik ke arah Reza. Reza tersenyum tipis, lalu meraih sebuah benda kecil berukuran sebesar kotak korek api dari atas meja. Benda itu terbuat dari bahan plastik hitam polos dengan sebuah sakelar kecil di sampingnya dan lampu LED mini yang berkedip merah.
?"Ini dia jawaban dari masalahmu," kata Reza sambil melempar benda itu ke arah Vony.
?Vony menangkapnya. Benda itu terasa ringan, tetapi memiliki tekstur kasar di permukaannya. "Benda apa ini?"
?"Portable GPS Jammer & Signal Spoofer," jawab Nicholas. "Reza yang membuatnya sendiri. Cara kerjanya beda dengan jammer biasa yang cuma mematikan sinyal. Kalau kamu mematikan sinyal secara total, aplikasi bakal mengeluarkan peringatan eror ke server. Tapi benda ini... bekerja lebih cerdas."
?Reza mengetuk layarnya, menayangkan skema sinyal radio yang rumit. "Benda kecil itu bakal mengintersepsi gelombang GPS dari ponselmu, lalu memancarkan sinyal gelombang palsu. Jadi, bukannya mematikan GPS milikmu, alat ini bakal membuat server Starlight App menerima koordinat acak yang terus berubah-ubah tiap detik."
?"Koordinat acak?" tanya Vony, mulai paham arah pembicaraan mereka.
?"Bukan cuma acak," sahut Nicholas dengan kilatan mata nakal. "Alat itu bakal memancarkan lokasimu seolah-olah kamu sedang bergerak dengan kecepatan 200 kilometer per jam di tempat-tempat tidak masuk akal. Satu detik kamu terbaca ada di tengah danau kota, detik berikutnya kamu terbaca ada di atap kantor polisi, dan detik berikutnya lagi kamu terbaca ada di tengah perempatan jalan tol."
?Vony menatap alat kecil di tangannya, lalu pandangannya beralih ke Nicholas. Bibirnya perlahan mengukir senyum tipis. "Bikin radar mereka berantakan."
?"Lebih dari sekadar berantakan," kata Nicholas tegas. "Kamu bakal membuat Valerie dan seluruh pengikutnya berputar-putar seperti orang bodoh di jalanan kota malam ini. Mereka bakal menduga aplikasi sekolah mereka kena eror parah atau ada peretas yang sedang mengerjai mereka dari dalam."
?"Tapi ingat," sela Reza, wajahnya berubah serius. "Alat ini punya keterbatasan. Baterainya cuma bertahan selama tiga jam. Dan radius jangkauannya cuma lima meter dari tubuhmu. Kalau kamu menjauhkan alat ini dari ponselmu lebih dari lima meter, sinyal asli ponselmu bakal bocor ke server."
?Vony mengangguk paham. Ia memasukkan alat kecil itu ke dalam saku dalam jaketnya, tepat di sebelah ponselnya. "Tiga jam sudah lebih dari cukup."
?Sementara itu, di sebuah kafe mewah bergaya Eropa yang terletak di kawasan pusat kota, Valerie duduk dengan anggun di sofa kulit berwarna krem. Di hadapannya, sebuah laptop tipis dan iPad terbaru terpajang rapi, menayangkan antarmuka Starlight App versi administrator khusus Kasta A.
?Di sekelilingnya, lima orang murid anggota geng elite termasuk Olivia yang sedang sibuk menatap ponsel masing-masing. Di luar kafe, belasan murid Kasta B dan C yang menunggangi sepeda motor dan mobil balap sudah bersiap-siap. Mereka semua menunggu satu hal: peluit awal perburuan.
?"Val, kamu yakin murid baru itu bakal berkeliaran malam ini?" tanya Olivia sambil memoles kuku jarinya. "Maksudku, kalau aku jadi dia, aku bakal mengurung diri di kamar, mengunci pintu rapat-rapat, dan menangis di bawah selimut."
?Valerie menyeruput latte hangatnya pelan, lalu meletakkan cangkir porselen itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Orang seperti Vony itu punya ego yang terlalu besar, Liv. Dia berpura-pura tangguh di sekolah tadi pagi. Orang-orang sok pemberani seperti itu biasanya bakal mencoba membuktikan kalau mereka tidak takut. Dia pasti ada di luar sana."
?Valerie melirik jam tangan mewahnya. Jarum detik melompat ke angka 12.
?Tepat pukul 19.00 WIB.
?Layar ponsel seluruh anggota geng elite itu seketika bergetar hebat. Notifikasi merah menyala muncul secara bersamaan di ribuan ponsel murid SMA Starlight yang mengunduh aplikasi tersebut.
?[EVENT RED HUNT: STARTED]
[TARGET: VONY - KASTA F]
[SEARCHING FOR TARGET GPS SIGNAL...]
?"Sistemnya mulai mencari," bisik salah seorang cowok Kasta A yang berdiri di dekat pintu. "Ayo kita lihat di mana si Kasta F ini bersembunyi."
?Valerie menatap layar iPad-nya dengan senyum penuh kemenangan. Ia sudah menyiapkan skenario penyambutan yang sempurna. Pikirnya, dalam waktu kurang dari satu jam, Vony akan berlutut memohon ampun padanya setelah dikepung oleh puluhan murid yang tergiur bonus poin.
?Namun, detik berikutnya, garis pemindai di peta digital iPad Valerie berhenti berputar. Sebuah titik merah menyala muncul di layar.
?"Dapat!" seru Olivia. "Dia ada di... tunggu, apa?"
?Olivia mengernyitkan dahi. Titik merah di layarnya tidak berada di area pemukiman atau rumah kost. Titik merah itu berada di tengah-tengah Waduk Rawa Pening yang berjarak belasan kilometer dari pusat kota.
?"Waduk?" kata cowok Kasta A bingung. "Sedang apa dia malam-malam berenang di tengah waduk?"
?Sebelum ada yang sempat menjawab, titik merah di layar itu mendadak melompat kilat. Dalam hitungan satu detik, titik itu berpindah posisi ke bagian dalam markas Kodam/Tentara yang berjarak lima kilometer dari waduk. Tak sampai dua detik kemudian, titik itu melompat lagi dan kali ini muncul tepat di tengah landasan pacu Bandara Internasional kota.
?"Apa-apaan ini?" gumam Valerie, alis mewahnya menyatu. Senyum di wajahnya memudar perlahan.
?Titik merah di layar iPad itu mulai bergerak secara kacau dan tidak masuk akal. Garis pelacakannya melompat dari satu ujung kota ke ujung kota lainnya dalam hitungan milidetik. Peta digital Starlight App mendadak dipenuhi oleh garis-garis merah acak yang membentuk pola seperti benang kusut.
?Ponsel para murid Kasta B dan C yang bertindak sebagai "pemburu" di jalanan mulai dibanjiri kebingungan. Grup obrolan aplikasi meledak oleh ratusan pesan yang masuk bersamaan.
?“Teman-teman, apa aplikasinya eror ya? Si Vony barusan terbaca di atas atap Gedung DPRD, lalu sedetik kemudian pindah ke tengah laut!”
“Aku sudah sampai di lokasi sesuai GPS, tapi di sini cuma ada lapangan kosong! Kita kena ngerjain ini!”
“Valerie, ini sistemnya kena bajak atau bagaimana? Aku habis bensin berputar-putar tidak jelas!”
?Valerie menatap layar komputer lipatnya dengan mata membelalak. Tangannya yang menekan tombol refresh bergetar pelan karena menahan amarah. "Sialan... Apa yang terjadi dengan servernya?!"
?"Val, sistemnya tidak eror," kata Olivia tiba-tiba, suaranya terdengar cemas saat menatap baris kode di layar ponselnya. "Lihat status keterhubungannya. Server sekolah kita stabil. Tapi sinyal GPS dari ponsel Vony... sinyalnya sengaja dimanipulasi!"
?Valerie menghentakkan cangkirnya ke meja hingga sisa kopi di dalamnya terpercik keluar. "Siapa... Siapa yang mengajari murid baru itu cara meretas sinyal?!"
?
?Di dalam bengkel Vipers, suasana justru berbanding terbalik.
?Reza tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk layar monitor utamanya yang memperlihatkan grup obrolan publik Starlight App. Ratusan pesan kepanikan dan kebingungan dari murid-murid Kasta A dan B terus mengalir tanpa henti.
?"Lihat ini! Anak-anak kaya itu kebingungan di jalanan!" seru Reza sambil memegangi perutnya. "Ada yang mencari Vony sampai ke dalam hutan kota, ada juga yang nyaris ditangkap satpam karena menerobos area steril bandara!"
?Beberapa anggota geng Vipers yang berkumpul di sekitar monitor ikut tertawa geli. Bagi mereka yang terbiasa hidup di jalanan dan berhadapan dengan aturan hukum, melihat anak-anak kaya bertingkah konyol karena sebuah aplikasi adalah hiburan yang sangat memuaskan.
?Vony berdiri di sebelah meja monitor, memperhatikan setiap pergerakan di layar. Meski ada rasa puas di hatinya melihat rencana ini berhasil, wajahnya tetap menunjukkan ketenangan yang disiplin.
?"Ini baru permulaan," kata Vony pelan.
?Nicholas, yang duduk di atas kap mobil tua sambil memegang botol minuman, menatap Vony dari samping. Kilatan kagum di matanya kini makin jelas, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik ekspresi dinginnya.
?"Aku harus mengakui," ujar Nicholas, memecah keheningan di antara mereka berdua. "Rencanamu berhasil membuat Valerie kelihatan seperti orang bodoh malam ini. Tapi kamu tahu kan, besok pagi di sekolah, dia bakal makin liar?"
?Vony menoleh ke arah Nicholas. "Aku tahu. Tapi malam ini aku membuktikan satu hal ke semua orang."
?"Hal apa?"
?"Bahwa sistem piramida konyol kalian itu tidak sempurna," jawab Vony tegas. "Aplikasi itu punya celah. Dan kalau aplikasi itu punya celah, artinya Valerie dan orang-orang di balik Kasta A bukan tanpa tanding."
?Nicholas terkekeh pelan. Ia melompat turun dari atas kap mobil, melangkah mendekati Vony hingga berdiri sangat dekat dengannya. Aroma rempah bercampur kayu manis memancar dari tubuh cowok itu.
?"Kamu benar-benar beda ya dengan anak-anak cewek di Starlight," kata Nicholas dengan suara serak menahan diri. "Kebanyakan dari mereka cuma sibuk memikirkan cara bagaimana mendapat poin upvote, bagaimana cara membeli baju mahal, atau bagaimana caranya agar tidak dijauhi geng elite. Tapi kamu... kamu datang ke sini cuma untuk meruntuhkan semuanya."
?"Karena aku tidak punya pilihan," balas Vony tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari mata Nicholas. "Aku tidak sudi hidup di bawah telapak kaki orang lain. Apalagi cuma karena sebuah sistem buatan anak-anak manja."
?"Bukan anak-anak manja," potong Nicholas cepat, suaranya mendadak merendah dan berubah menjadi sangat serius.
?Vony mengernyit. "Maksudmu?"
?Nicholas melirik ke arah anak-anak Vipers yang masih sibuk tertawa di depan monitor, lalu memberi isyarat kepada Vony untuk mengikutinya menuju pintu belakang bengkel yang mengarah ke area terbuka di tepi sungai.
?Angin malam yang dingin menyapa kulit mereka begitu mereka melangkah keluar. Suara gemericik air sungai dan deru kendaraan dari kejauhan menjadi latar belakang keheningan di antara mereka.
?Nicholas mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, menyalakannya dengan pemantik api besi, lalu membiarkan asap tipis membumbung ke udara sebelum ia mulai bicara.
?"Kamu tadi siang bertanya padaku, kenapa anak dari donatur terbesar sekolah seperti aku cuma diam dan membiarkan aplikasi itu merusak murid-murid," buka Nicholas, menatap lurus ke arah kegelapan air sungai.
?"Ya. Dan kamu belum menjawab pertanyaan itu," sahut Vony.
?"Aplikasi Starlight itu bukan sekadar mainan anak sekolah, Vony," kata Nicholas dingin. "Aplikasi itu adalah proyek percontohan. Pilot project yang dirancang langsung oleh ayahku dan jajaran direksi yayasan."
?Vony tertegun. "Eksperimen... sosial?"
?"Bukan cuma eksperimen sosial, tapi alat kontrol," lanjut Nicholas. Tangan kirinya mengepal erat di dalam saku celana. "Ayahku percaya kalau dunia bisnis di luar sana itu kejam. Siapa yang kuat, dia yang memangsa. Siapa yang lemah, dia yang diinjak. SMA Starlight sengaja dibuat menjadi miniatur dunia nyata versi mereka."
?Nicholas menoleh menatap Vony. "Lewat aplikasi itu, yayasan secara tidak langsung sedang menyaring murid-murid. Mereka yang ada di Kasta A dilatih untuk menjadi pembuat keputusan yang dingin, manipulatif, dan tidak punya empati. Sementara mereka yang ada di Kasta F... diposisikan sebagai 'pekerja bawah' yang harus terbiasa ditekan dan tunduk pada hierarki."
?Vony merasakan kehangatan darahnya mendadak berdesir cepat. Rasa geram menyelimuti dadanya. "Itu gila. Itu bukan pendidikan. Itu pencucian otak."
?"Tepat," bisik Nicholas. "Dan Valerie? Dia cuma alat favorit ayahku. Ayahnya Valerie itu mitra bisnis utama ayahku. Mereka berdua memanfaatkan persaingan kasta di sekolah ini untuk mempererat aliansi bisnis keluarga mereka. Makanya Valerie diberi kekuasaan mutlak di aplikasi itu."
?Vony menggertakkan giginya. Sekarang semuanya menjadi makin jelas. Kenapa para guru seolah tutup mata terhadap perundungan yang terjadi. Kenapa pihak tata usaha dengan mudahnya menempelkan stiker kasta di loker murid. Karena seluruh jajaran manajemen sekolah memang dirancang untuk mendukung kebusukan ini.
?"Kalau begitu..." Vony menatap Nicholas lurus-lurus. "Alasan kamu membuat geng Vipers dan tidak peduli dengan aturan sekolah... itu bentuk perlawananmu kepada ayahmu sendiri?"
?Nicholas mematikan puntung rokoknya di pagar pembatas besi dengan gerakan kasar. "Aku benci ayahku. Aku benci cara dia mengatur hidupku, dan aku benci fakta bahwa uang dari darah dan air mata orang lain yang dipakai untuk membiayai hidupku."
?Nicholas menghela napas panjang, menatap Vony dengan pandangan yang dalam. "Tapi aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa secara terang-terangan. Kalau aku bertindak terbuka, ayahku bakal dengan mudah menutup bengkel ini, membubarkan Vipers, dan mengirimku ke luar negeri detik itu juga. Aku butuh seseorang yang ada di dalam sistem... seseorang yang tidak punya ikatan sama sekali dengan yayasan."
?"Seseorang seperti aku," sambung Vony.
?"Ya. Seseorang yang cukup gila untuk berdiri di tengah lapangan dan menantang seluruh sistem itu." Nicholas mengulurkan tangan kanannya ke arah Vony. "Jadi, bagaimana, Murid Baru? Kamu masih mau meruntuhkan piramida itu setelah tahu siapa musuh aslimu?"
?Vony menatap tangan Nicholas yang terulur di hadapannya. Ia tahu betul apa konsekuensi dari keputusan ini. Ini bukan lagi sekadar urusan bertahan hidup dari perundungan Valerie. Ini adalah perang melawan orang-orang berkuasa yang memiliki uang, pengaruh, dan kontrol penuh atas sekolah mereka.
?Namun, rasa takut itu sama sekali tidak muncul. Yang ada hanyalah api keberanian yang makin membara di dalam dadanya.
?Vony mengulurkan tangannya, membalas genggaman tangan Nicholas dengan cengkeraman yang kuat dan tegas.
?"Aku tidak pernah mundur dari janji," kata Vony pelan namun sarat akan ketegasan. "Kita buat kerajaan kecil mereka runtuh sampai ke akar-akarnya."
?Nicholas tersenyum dan kali ini bukan senyuman sinis, melainkan senyuman penuh keyakinan. "Kesepakatan dibuat, Vony."
?Pukul 22.00 WIB. Event Red Hunt resmi berakhir.
?Di layar Starlight App milik seluruh murid, status acara berubah menjadi [COMPLETED - TARGET NOT FOUND]. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah SMA Starlight, sebuah Event Red Hunt berakhir dengan kegagalan total dari pihak pemburu.
?Di kamar mewahnya, Valerie melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur hingga memantul keras. Wajah cantiknya kini merah padam karena amarah yang tidak tertahankan. Ponselnya terus berdering menampilkan panggilan dari beberapa anggota Kasta A yang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ia mengabaikannya.
?Ia berjalan menuju kaca rias berukuran besar, menatap bayangan dirinya sendiri.
?"Vony..." desis Valerie dengan suara bergetar menahan benci. "Kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir kamu bisa main-main denganku?"
?Valerie membuka laci mejanya, mengambil sebuah simcard cadangan dan ponsel rahasia yang tidak terhubung dengan jaringan sekolah. Ia mengetik sebuah nomor dan menekan tombol panggil.
?"Halo?" suara seorang pria dewasa terdengar dari seberang telepon.
?"Pak Hendra," kata Valerie dengan nada dingin dan tanpa perasaan. "Tolong siapkan tim IT yayasan besok pagi. Saya mau ada pembaruan keamanan di Starlight App. Dan saya mau semua data pribadi milik murid pindahan bernama Vony... diperiksa sampai ke akar-akarnya."
?"Ada masalah, Nona Valerie?" tanya pria itu ramah.
?"Ada tikus kecil yang mencoba merusak sistem," jawab Valerie tajam. "Dan saya mau tikus itu dibasmi sebelum dia sempat membuat lubang yang lebih besar."
?Sementara itu, di dalam kamar kostnya yang sederhana di pinggiran kota, Vony sedang duduk di tepi tempat tidur. Di atas mejanya, laptop tua milik Vony menyala, menampilkan jendela obrolan enkripsi khusus yang baru saja dibuatkan oleh Reza untuk komunikasi rahasianya dengan Nicholas.
?Sebuah pesan masuk di layar:
?[NICHOLAS]: Valerie baru saja menelepon IT yayasan. Besok pagi sistem keamanan aplikasi bakal diperketat.
[VONY]: Bagus. Berarti rencana kita berhasil membuat mereka panik.
[NICHOLAS]: Jangan jumawa dulu. Besok di kelas 12-A bakal jadi neraka buatmu. Valerie tidak bakal tinggal diam setelah dipermalukan malam ini.
[VONY]: Aku sudah siap. Langkah kita selanjutnya apa?
[NICHOLAS]: Babak kedua. Kita mulai incar keretakan di internal Kasta A. Cari tahu siapa di antara teman Valerie yang paling rapuh.
?Vony mengusap layar ponselnya, melirik profil Starlight App miliknya sendiri.
?RANK 400 - KASTA F.
?Angka itu masih terpatri di sana, merah dan mencolok. Tapi bagi Vony, angka itu bukan lagi simbol kehinaan. Angka itu adalah lencana perang.
?Ia mematikan layar laptopnya, merapatkan selimut, dan memejamkan mata. Pagi besok, saat bel sekolah berbunyi, ia akan kembali melangkah ke dalam lorong dingin SMA Starlight bukan lagi sebagai mangsa, melainkan sebagai penantang utama sang Ratu Piramida.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya