Customer Service

Catching Him

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Dia absen




Catching Him : 2. Dia absen



Jumat, 31 Jan' 25


Ivory melangkah masuk rumah dengan menekuk muka. Dia benci ketika bukan Kaito yang menjemput saat pulang kerja.


Tidak biasanya Kaito absen. Cukup aneh.


"Anda ingin secangkir teh hangat?" 


Ivory hanya tersenyum kaku dan menggeleng menjawab tawaran Mizushima Aoi. Satu-satunya pria dewasa yang diijinkan berada di rumah utama setelah sore hari.


Gadis itu kembali berjalan menuju belakang. "Di mana Tuan Nakano?" tanyanya kemudian. 


Rasa penasaran sedikit menggelitik angannya. Ketika rumah yang memang terbiasa lengang tapi tidak terlihat hidup. Iya, jika tanpa Kaito berada di sekitarnya.


Perlahan dadanya tercekat oleh rasa kecewa yang tidak mungkin bisa hilang jika hanya 'sibuk' menjadi alasan pria tersebut absen menjemputnya.


"Tuan ada di kamar."


Ivory berhenti untuk menatap penasaran pada bodyguard suaminya. "Tidur?" tanyanya kemudian.


Dadanya mulai terasa penuh dengan rasa rindu yang menyeruak di balik sikap acuhnya. Ivory ingin selalu terlibat untuk setiap urusan Kaito.


"Nde, Agassi."


"Ivory. Panggil aku seperti itu, Oppa!" Mata gadis itu menatap lekat menegaskan maksudnya.


Mizushima Aoi menjawab dengan menurunkan tatapan matanya dan menunduk hormat.


Ivory masih merasa kesal. "Sesuatu terjadi?" 


Gadis itu mulai berpikir jauh, mungkin pria 10 tahun lebih tua darinya tersebut telah lelah menghadapinya. Lalu sekarang mulai bersikap sok sibuk atau berpura-pura tidur hanya untuk menghindarinya.


Ivory cukup sensitif untuk hal-hal seperti ini.


"Katakan, Oppa! Apakah dia sibuk dengan hal baru lainnya?" Mata Ivory mulai terlihat nanar. 


Dia sangat tahu bahwa pernikahan mereka hanya tentang kesepakatan di atas kertas, tapi ... bukan berarti Kaito bisa berselingkuh semaunya. Bahkan untuk menatap gadis lain, pria tersebut harus melibatkannya.


Gadis itu berlalu dengan sedikit menghentakkan kaki meninggalkan Mizushima yang berdiri mematung.


Pria tampan tersebut bergumam lirih. "Sampai kapan mereka akan seperti ini?"


"Aku mendengarnya, Oppa!" Kata-kata yang terlontar dari mulut Ivory terdengar tajam.


"Nde." Mizushima Aoi kembali menunduk hormat. Lalu menggeleng sambil tersenyum ringan.


Sementara Ivory berjalan menuju dapur terbuka yang terhubung dengan ruang makan. Dia membuka lemari es untuk mengambil air minum.


Namun, seseorang menghentikannya. Ivory menatap sekilas pada pria di sampingnya. "Wae, Oppa?"


"Anda akan flu jika minum air dingin."


"Okay." Ivory menyerah dan menekuk egonya, membiarkan Mizushima Aoi melakukan maunya. 


Segelas air putih suhu normal sedikit mendinginkan kepala Ivory yang sempat hampir mendidih oleh asumsinya sendiri.


"Apakah sesuatu terjadi?" bisik Ivory kemudian menatap pria tampan yang berdiri di sampingnya.


Mata Ivory mengedar untuk menyapu ruangan. Tidak terlihat jejak tangan suaminya. Kaito bahkan tidak terlihat menyentuh dapur sejak pagi.


Ivory mencoba mengingat sesuatu. "Uhm, tadi pagi ... siapa yang memasak nasi goreng untukku?"


"Itu ...." Mizushima Aoi terlihat ragu menjawab.


"Apakah kau, Oppa?"


"Anda benar."


Ivory beranjak dari duduknya seperti terhenyak. Dia berjalan cepat menuju kamar mereka. 


Sejak awal tinggal di Indonesia dua tahun lalu, dia dan Kaito memang tidur di kasur yang sama.


Namun, jurang tak kasat mata masih membentang dengan kejam memisahkan tubuh keduanya.


Ivory selalu menahan dirinya dari menghimpit tubuh Kaito meski sekedar untuk menggali rasa. 


Dia adalah seorang gadis normal yang mungkin menggenggam rasa untuk pria yang telah menikahinya. Faktanya ... kesepakatan mereka tidak memiliki batas waktu. 


Keduanya juga tidak menuliskan batasan-batasan yang mengatur tentang setiap hal--termasuk keintiman yang mungkin mereka lakukan.


Jadi, Ivory memiliki hak untuk mengakui rasa yang dia genggam.


Namun, dia cukup sadar diri akan setiap sikap Nakano Kaito yang terlihat hanya mengiringi setiap maunya.


Mereka tidak sedekat itu untuknya menarik kesimpulan bahwa seorang Kaito berlari sejauh ini hanya untuk memastikan dirinya tetap hidup. Setelah keputusan terbodohnya tahun itu--berusaha mengakhiri semua.


Terlepas dari setiap alasan, Ivory bahkan tidak menangkap getar ketertarikan dari cara pria tersebut menatapnya.


Bagaimana jika semua yang dia rasakan hanya cara hati dan otaknya merespon sikap Kaito yang abu-abu?


Ivory butuh memastikan mau suaminya atas pernikahan mereka. Jika pria tersebut telah dan sedang menatap gadis lain, maka dia siap melepaskan diri dan menjauh.


Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar yang tertutup. Iya, dadanya berdebar berantakan karena asumsinya sendiri yang saat ini berebut meminta perhatian.


Ivory menarik napas dalam lalu mengembuskannya--berusaha tenang.


Perlahan dia membuka pintu kamar lalu melangkah masuk.


Ivory meletakkan tasnya di sofa tunggal yang berhadapan dengan kasur. Langkah kakinya menuju kasur di mana seorang pria tampan berbaring. Tubuh pria tersebut terlihat bergetar di balik selimut tebal yang membungkusnya--di jam 5 sore.


Dada Ivory berdebar semakin berantakan, matanya menatap nanar pria yang selama 3 tahun terakhir merengkuhnya dan memastikan dirinya aman.


Kaito sakit--pemikiran baru yang menghapus semua asumsi liarnya.


"Kita ke dokter!" bisik Ivory terlihat panik ketika punggung tangannya menyentuh kening suaminya.


"Tidak perlu. Hanya demam ringan."


"Sudah minum obat tadi?"


"Hem." 


Ivory berjalan ke arah sofa untuk mengambil ponselnya. Dia memanggil Mizushima Aoi.


*****


"Kita pulang saja!" Suara parau Kaito berbisik. Matanya yang memerah karena demam menatap lekat Ivory.


Sakit menjadikannya bersikap mirip seorang anak kecil.


Mereka sedang duduk di kursi tunggu ruangan dokter umum di rumah sakit swasta yang terletak di desa sebelah, tak jauh dari rumah mereka.


"Kurang lima orang lagi." Ivory mengusap lengan prianya. "Apakah Anda tidak bisa menahannya lebih lama?" 


Ivory beranjak dari duduk untuk memanggil seorang perawat. Wajahnya mulai terlihat panik.


Namun, jemari Kaito menghentikannya. Tatapan pria tersebut menegaskan maunya. "Kita pulang!" Lagi ... bisiknya parau.


Ivory hanya bisa mengalah. Satu hal baru yang dia tahu ... Kaito memiliki kesabaran setipis tisu.


Dalam perjalanan pulang Mizushima Aoi berhenti sebentar untuk membeli obat flu di apotek sekitar 200 meter setelah keluar dari rumah sakit ke arah selatan.


"Anda menginginkan sesuatu, Tuan Nakano?" bisik Ivory membangunkan suaminya. 


Padahal dia yang menginginkan jajanan di trotoar depan apotek. Mata Ivory menatap antusias pada sebuah kontainer jajan tradisional Indonesia yang mereka sebut 'putu'.


Matanya berbinar ketika melihat penjualnya mengukus dengan cetakan dari batang bambu.


"Kau mau itu?" bisik Kaito.


"Apakah Anda mau?" Ivory memang mendesak suaminya agar memiliki alasan untuk membeli.


Jemari Kaito terulur untuk mengusap pipi Ivory. "Biar Aoi yang membelinya untuk kita."


"Nde." Senyum Ivory tidak lagi menunjukkan bahwa dia memiliki trauma.


Jam bergulir dari angka 7 malam saat mereka sampai di rumah. Ivory bahkan melupakan kue putu yang dia minta karena Kaito menggigil kedinginan. Pria itu kembali demam.


"Minumlah obatnya, Tuan! Aku akan membersihkan diri, lalu mengompres Anda."


"Nde." Suara serak pria berdarah Korea dan Jepang itu terdengar meyakinkan.


Hanya membutuhkan waktu 15 menit, Ivory telah kembali berjalan ke arah kasur dengan mengenakan bathrobe. Dia menenteng handuk dan timba kecil berisi air hangat untuk mengompres dahi suaminya.


Jarum jam telah bergulir berkali-kali menuju tengah malam ketika Ivory mulai terlihat panik. Dia memaksa untuk menelepon bosnya agar mencarikan seorang dokter yang mau mendatangi rumah mereka.


Tapi, Kaito masih dengan keras kepalanya menolak.


"Kau bisa tidur di kamarmu untuk malam ini. Berada di sini hanya akan membuatmu tertular."


"Harus seperti itu? Ah-aku paham." Ivory menurunkan tatapan matanya. Lalu tiba-tiba air matanya menerobos keluar ketika beranjak dari duduknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" bisik Kaito. Dia cukup mengerti bagaimana kondisi psikis istrinya.


"Apakah Anda telah bertemu gadis lain?" tanya Ivory. Suaranya terdengar bergetar.


Langkah kakinya terhenti karena jemari Kaito menggenggam tangannya. 


"Kau berpikir seperti itu, hem?"


"Anda sakit karena memikirkan seorang gadis. Benar?" bisik Ivory lagi.


Ivory berbalik untuk meminta jawaban. Tapi, bahkan Kaito hanya mengurungkan niatnya untuk menjawab. Bibir pucat pria itu terlihat bergetar, seolah tertahan untuk melontarkan beberapa kata.


"Ah-kurasa benar." Air mata Ivory kembali jatuh.


Gadis itu menyesal telah bertanya.


tbc









Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab