SURJAN UNTUK LARA

Bab 2 dari 5

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: DUNIA YANG BERBEDA

Siang itu, Lara duduk sendirian di depan ruang rawat rumah sakit.


Tangannya memegang amplop berisi tagihan pengobatan ibunya.


Angkanya membuat kepalanya berdenyut.


Ia menghitung uang yang ada di dompetnya.


Kemudian menghitung lagi.


Tetap tidak cukup.


Lara menutup mata.


"Bagaimana aku harus membayarnya?"


Pintu ruang rawat terbuka.


"Ibu..."


Lara segera memasukkan amplop itu ke dalam tas.


Bu Ratih, ibunya, terbaring lemah di atas ranjang.


Wajahnya terlihat pucat.


Namun ketika melihat Lara, ia tetap berusaha tersenyum.


"Lara..."


"Iya, Bu."


"Kamu jangan terlalu memikirkan ibu."


Lara duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan ibunya.


"Jangan ngomong begitu."


"Ibu nggak mau jadi beban kamu."


Air mata Lara mulai menggenang.


"Ibu bukan beban."


Bu Ratih tersenyum.


"Hidup jangan cuma mengejar uang, Nduk."


Lara terdiam.


Bagaimana mungkin ia tidak mengejar uang?


Uang adalah satu-satunya hal yang saat ini bisa menyelamatkan ibunya.


Ketika keluar dari rumah sakit, ponselnya berdering.


Sebuah nomor tidak dikenal.


Lara mengangkatnya.


"Ya?"


Suara laki-laki di ujung telepon terdengar dingin.


"Tagihan pinjaman kamu belum dibayar."


Lara menarik napas.


"Saya akan bayar."


"Kalau hari ini tidak dibayar, kami datang ke rumah."


Telepon terputus.


Lara berdiri terpaku.


Untuk beberapa saat ia hanya menatap layar ponselnya.


Air mata akhirnya jatuh.


Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda, Raka sedang makan malam bersama ayahnya di rumah Joglo keluarga Pradana.


Rumah itu begitu luas dan megah.


Ukiran kayu memenuhi hampir seluruh bagian bangunan.


Lampu-lampu kuning memberikan suasana hangat.


Raka masih mengenakan Surjan cokelat gelap.


Pak Sastro, ayahnya, menatapnya serius.


"Hotel itu tanggung jawabmu nanti."


Raka mengangguk.


"Saya tahu, Pak."


"Jangan hanya melihat hotel sebagai sumber uang."


Raka diam.


"Itu adalah nama keluarga kita."


Pak Sastro meletakkan sendoknya.


"Kehormatan keluarga lebih penting daripada uang."


Raka menatap ayahnya.


"Saya mengerti."


Namun jauh di dalam hatinya, Raka sebenarnya mulai lelah dengan kehidupan yang selalu ditentukan oleh nama keluarga.


Ia memiliki uang.


Ia memiliki hotel.


Ia memiliki segala sesuatu yang diinginkan banyak orang.


Tetapi entah mengapa, ia merasa hidupnya kosong.


Malam semakin larut.


Di Hotel Pradana, Lara masih bekerja.


Pegawai lain mulai bergosip.


"Mas Raka itu pewaris tunggal, ya?"


"Iya."


"Katanya aset keluarganya miliaran."


Lara yang sedang membersihkan meja terdiam.


Miliaran.


Kata itu terus terngiang di kepalanya.


Tanpa sadar, pikirannya kembali kepada tagihan rumah sakit.


Jika ia memiliki uang sebanyak itu...


Mungkin ibunya tidak perlu lagi khawatir.


Mungkin hidupnya bisa berubah.


Malam itu, ketika pekerjaannya selesai, Lara duduk sendirian di parkiran hotel.


Ia membuka nasi bungkus sederhana yang dibelinya sebelum bekerja.


Belum sempat makan banyak, suara seseorang terdengar.


"Belum pulang?"


Lara menoleh.


Raka berdiri beberapa langkah darinya.


Lara langsung berdiri.


"Saya masih kerja, Mas."


Raka melihat nasi bungkus di tangan Lara.


"Kamu makan cuma itu?"


Lara tersenyum kecil.


"Yang penting kenyang."


Raka tidak menjawab.


Ia menatap Lara cukup lama.


Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang membuatnya penasaran.


Lara berbeda dengan orang-orang yang selama ini ada di sekelilingnya.


Ia tidak berusaha mendekatinya.


Tidak berpura-pura ramah.


Tidak tertarik pada kekayaannya—setidaknya begitu yang Raka pikirkan.


Beberapa detik berlalu dalam keheningan.


Lara akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Mas Raka..."


"Iya?"


"Orang kaya pasti hidupnya enak, ya?"


Raka tersenyum tipis.


Senyum yang justru terasa pahit.


"Belum tentu."


Lara menatapnya.


"Kalau saya punya uang banyak..." katanya pelan, "mungkin hidup saya berubah."


Raka memandang wajah Lara.


"Kamu yakin uang bisa mengubah semuanya?"


Lara terdiam.


Raka melanjutkan,


"Kadang uang justru bikin seseorang kehilangan dirinya sendiri."


Lara tidak menjawab.


Ia tidak sepenuhnya memahami ucapan Raka.


Baginya, uang adalah sesuatu yang sedang sangat ia butuhkan.


Sementara bagi Raka, uang justru merupakan sesuatu yang selama ini membuat hidupnya terasa tidak bebas.


Dua manusia.


Dua kehidupan.


Dua dunia yang seharusnya tidak pernah bertemu.


Namun malam itu, sesuatu mulai tumbuh di antara mereka.


Sesuatu yang belum mereka sadari.


Dari kejauhan, sepasang mata mengawasi.


Seorang perempuan berdiri dalam bayangan.


Namanya Ningrum.


Tatapannya tertuju kepada Lara dan Raka.


Wajahnya berubah sinis.


"Perempuan itu mulai mendekat..."


Tangannya mengepal.


Ningrum tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


Tetapi ia tahu satu hal.


Ia tidak akan membiarkan Lara masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan Raka.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab