Bab 2 dari 4
Pukul enam lewat tiga puluh menit.
Elsa berdiri di depan cermin kamar.
Gaun hitam sederhana membalut tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kegelisahan yang sejak pagi tidak mau pergi.
Di atas meja, ponselnya masih menampilkan pesan anonim.
Kalau ingin hidup, jangan pergi ke mana pun bersama Adrian malam ini.
Elsa sudah membaca pesan itu berkali-kali.
Ia bahkan mencoba menelepon nomor tersebut.
Ternyata tidak aktif.
"Siapa kamu?" gumamnya.
Sebuah suara klakson terdengar dari luar.
Adrian sudah datang.
Elsa menarik napas panjang.
Ia memasukkan ponsel ke dalam tas.
Sebelum keluar kamar, pandangannya tertuju pada foto pernikahan yang tergantung di dinding.
Foto dirinya dan Adrian.
Mereka tersenyum bahagia.
Betapa ironisnya.
Lima tahun lalu, Elsa tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan memandang foto itu seperti melihat kehidupan orang lain.
"Maaf menunggu."
Adrian berdiri di samping mobil.
Ia tersenyum.
Senyum yang dulu membuat Elsa merasa aman.
Kini senyum itu justru membuat bulu kuduknya meremang.
"Kamu cantik."
"Terima kasih."
Adrian membuka pintu mobil untuknya.
Elsa masuk.
Begitu pintu tertutup, Adrian berjalan ke sisi pengemudi.
Mobil bergerak meninggalkan rumah.
Sepuluh menit pertama mereka hanya diam.
"Kenapa diam?" tanya Adrian.
Elsa menoleh.
"Aku sedang berpikir."
"Memikirkan apa?"
"Memikirkan kita."
Tangan Adrian yang memegang kemudi sedikit menegang.
"Kenapa?"
Elsa menatap wajah suaminya.
"Menurutmu, apakah pernikahan kita masih bisa diselamatkan?"
Adrian terdiam.
Hanya suara hujan yang mulai mengetuk kaca mobil.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya bertanya."
"Kita baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
Adrian menoleh sekilas.
"Tentu."
Elsa tersenyum tipis.
"Bagus."
Namun di dalam hati, ia tahu Adrian sedang berbohong.
Mobil terus melaju keluar dari pusat kota.
Elsa mulai memperhatikan jalan yang mereka lewati.
Ini bukan jalan menuju restoran.
"Adrian."
"Hm?"
"Restorannya masih jauh?"
"Sedikit lagi."
"Kita lewat jalan berbeda."
"Aku ingin melewati jalan ini."
Elsa menatap keluar jendela.
Pepohonan semakin rapat.
Rumah-rumah mulai jarang terlihat.
Sinyal ponselnya menghilang.
Firasat buruk kembali muncul.
"Adrian."
"Ya?"
"Kenapa kita ke sini?"
Adrian tidak menjawab.
Wajahnya berubah.
Tidak ada lagi senyum.
Tidak ada lagi kelembutan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Elsa melihat sesuatu di mata suaminya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kebencian.
Atau mungkin...
ketakutan.
"Adrian, hentikan mobil."
Tidak ada jawaban.
"Adrian!"
Elsa meraih sabuk pengaman.
"Kita mau ke mana?"
Adrian menginjak pedal gas lebih dalam.
Mobil melaju semakin cepat.
Elsa panik.
"Kamu membuatku takut."
Adrian tetap diam.
Kemudian ia berkata pelan,
"Maaf."
Satu kata.
Hanya satu kata.
Namun kata itu membuat darah Elsa terasa berhenti mengalir.
"Maaf untuk apa?"
Adrian tidak menjawab.
Elsa segera meraih gagang pintu.
Terkunci.
"Adrian!"
Ia mencoba membuka pintu sekali lagi.
Tetap terkunci.
"Biarkan aku turun!"
Adrian menatap lurus ke depan.
"Aku benar-benar minta maaf."
Elsa menangis.
"Kamu mau melakukan apa?"
Di depan mereka terlihat sebuah tikungan tajam.
Di sebelah kanan adalah jurang yang dalam.
Adrian justru mengarahkan mobil menuju sisi jalan tersebut.
Elsa menjerit.
"ADRIAN!"
Kemudi berbelok tajam.
Mobil menghantam pembatas jalan.
Suara benturan terdengar sangat keras.
Kaca pecah.
Tubuh Elsa terlempar.
Mobil berputar beberapa kali sebelum akhirnya menembus pembatas dan jatuh ke jurang.
Dalam hitungan detik, dunia Elsa berubah menjadi gelap.
Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri.
Ketika membuka mata, Elsa hanya melihat kegelapan.
Napasnya terasa berat.
Tubuhnya tidak bisa bergerak bebas.
Ada darah mengalir dari dahinya.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi.
Adrian.
Mobil.
Jurang.
Kecelakaan.
"Adrian..."
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba menoleh.
Kursi pengemudi kosong.
Pintu mobil di sisi Adrian terbuka.
Namun Elsa tidak sempat berpikir panjang.
Tangannya bergerak mencari sabuk pengaman.
Tiba-tiba...
BRAK!
Ledakan kecil terdengar dari bagian depan mobil.
Api mulai menjalar.
Elsa panik.
Ia menarik sabuk pengaman sekuat tenaga.
Tidak terlepas.
"Asap..."
Asap memenuhi kabin.
Elsa batuk keras.
Tangannya terus mencoba membuka sabuk.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Akhirnya pengunci sabuk terbuka.
Elsa jatuh ke bawah.
Dengan sisa tenaga, ia merangkak menuju pintu.
Namun rasa sakit luar biasa menghantam kakinya.
Ia menjerit.
Kakinya terjepit.
Api semakin dekat.
Elsa menangis.
"Tolong..."
Tidak ada siapa-siapa.
"Tolong!"
Matanya mulai kabur.
Di tengah kepanikan, ia melihat sesuatu melalui kaca yang pecah.
Seseorang berdiri di atas tebing.
Elsa menyipitkan mata.
Sosok itu hanya terlihat sebagai bayangan.
Namun ia mengenali bentuk tubuhnya.
Adrian.
Suaminya.
Adrian berdiri di sana.
Menatap mobil yang terbakar.
Elsa mencoba berteriak.
"ADRIAN!"
Sosok itu tidak bergerak.
Kemudian...
ia berbalik dan pergi.
Air mata Elsa mengalir.
Bukan karena rasa sakit.
Melainkan karena akhirnya ia memahami semuanya.
Kecelakaan ini bukan kecelakaan.
Adrian memang ingin membunuhnya.
Di atas tebing, Adrian berjalan menuju mobil yang telah ia sembunyikan beberapa puluh meter dari lokasi.
Tangannya gemetar.
Ia menatap jurang untuk terakhir kalinya.
Api masih terlihat dari bawah.
"Sudah selesai."
Seseorang berdiri di dekat mobil.
Vania.
Perempuan itu memeluk tubuhnya sendiri.
"Dia benar-benar mati?"
Adrian mengangguk.
"Aku sudah memastikan."
Vania terlihat lega.
"Kalau begitu kita aman."
Adrian menatapnya.
"Mulai malam ini, Elsa tidak pernah ada lagi."
Vania tersenyum.
Namun tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa di dasar jurang...
Elsa masih bernapas.
Sementara itu, sebuah mobil berhenti di jalan kecil dekat lokasi kecelakaan.
Seorang pria turun.
Namanya Raka.
Ia baru saja menerima telepon dari seseorang yang memintanya datang ke tempat itu.
Raka melihat jejak ban dan pembatas jalan yang rusak.
Ia menyalakan senter.
Kemudian mendengar suara.
Sangat lemah.
"Tolong..."
Raka membeku.
Ia mendekati tepi jurang.
Di bawah sana, mobil terbakar.
Dan di dalamnya...
seorang perempuan masih hidup.
"Ya Tuhan!"
Raka segera turun mencari jalan menuju dasar jurang.
Sementara Elsa mulai kehilangan kesadaran.
Dalam pandangan yang semakin kabur, ia mendengar suara seorang pria.
"Jangan tutup mata! Bertahan!"
Elsa ingin menjawab.
Namun tubuhnya sudah tidak mampu bergerak.
Sebelum semuanya menjadi gelap, satu pikiran terakhir memenuhi kepalanya.
Aku tidak akan mati.
Dan jika ia selamat...
Adrian akan menyesal pernah membuatnya menjadi korban.
Karena malam itu bukan akhir kehidupan Elsa.
Malam itu adalah kelahiran seorang perempuan baru.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya