Bab 1 dari 2
Hujan selalu membuat rumah terasa lebih kecil.
Setidaknya, begitulah yang dirasakan Tara setiap kali duduk sendirian di teras, memandangi halaman yang perlahan berubah menjadi genangan. Bau tanah basah memenuhi udara, sementara suara air yang jatuh dari atap terdengar seperti ketukan yang tak pernah selesai.
Ia menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh lewat dua puluh. Sela belum pulang.
Tara menghela napas panjang.
“Anak itu…”
Ia mengambil ponselnya dari atas meja.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Hanya satu pesan yang ia kirim hampir tiga puluh menit lalu.
Tara: Kamu di mana?
Pesan itu sudah dibaca.
Tidak dibalas.
Tara mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
Ia tahu Sela sudah dewasa. Ia tahu adiknya bukan lagi anak kecil yang harus ditunggu-tunggu setiap kali pergi. Sela juga sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri.
Tapi bagi Utara, kalimat itu tidak pernah benar-benar berlaku.
Tiga tahun.
Hanya berbeda tiga tahun, tetapi sejak kecil ia selalu merasa punya tanggung jawab untuk memastikan Sela baik-baik saja.
Mungkin karena dulu Sela memang selalu berada di belakangnya.
Ketika mereka masih kecil, Sela akan berlari mengejarnya sambil menangis karena Utara berjalan terlalu cepat.
Ketika mereka masuk sekolah dasar, Sela selalu menunggunya di gerbang.
Ketika mereka mulai remaja, Sela menjadi orang pertama yang akan mengetuk pintu kamarnya hanya untuk bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
Dan sekarang, bahkan setelah mereka sama-sama dewasa, kebiasaan itu tidak benar-benar hilang.
Hanya bentuknya yang berubah.
Sela tidak lagi berlari mengejarnya.
Ia mengirim pesan.
Sela: Kak, jemput.
Atau
Sela: Kak, aku lapar.
Atau
Sela: Kak, jangan tidur dulu.
Sesederhana itu.
Tara tidak pernah keberatan.
Ia justru akan merasa aneh jika suatu hari Sela berhenti mencarinya.
Suara motor terdengar dari ujung jalan.
Tara langsung menoleh.
Sebuah motor berhenti di depan pagar. Sela turun dengan rambut sedikit basah dan tas yang dipeluk di depan dada. Begitu melihat Tara berdiri di teras, ia langsung mengangkat tangan.
“Jangan marah.”
Tara menatapnya datar.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Wajah Kakak sudah ngomong.”
“Jam berapa sekarang?”
Sela melirik jam dinding yang terlihat dari ruang tamu.
“Tujuh dua puluh dua.”
“Harusnya?”
“Pulang sebelum magrib.”
“Terus?”
“Hujan.”
“Alasan.”
Sela tertawa kecil sambil melepas sepatu.
“Ya memang hujan.”
Utara turun dari teras dan mengambil tas dari tangannya.
“Kenapa nggak telepon?”
“HP-ku mati.”
“Terus?”
“Terus… ya mati.”
Utara menggeleng.
“Bisa-bisanya.”
Sela berjalan di sampingnya.
“Kakak khawatir?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Siapa yang khawatir?”
“Kakak.”
“Buktinya?”
Sela tersenyum lebar.
“Ditungguin di teras.”
Utara terdiam.
Sela memang selalu begitu.
Menyebalkan.
Terlalu banyak bicara.
Dan entah bagaimana selalu tahu bagian mana yang paling mudah membuatnya kalah.
“Masuk sana,” katanya akhirnya.
Sela tertawa.
“Iya, Kak.”
Mereka masuk ke rumah bersama.
Di ruang makan, ibu mereka sedang menyiapkan makan malam. Begitu melihat keduanya, perempuan itu langsung menggeleng.
“Kalian ini. Sela, kenapa pulang kehujanan?”
“Hujannya tiba-tiba, Bu.”
“Bilang sama Kakakmu kalau pulang telat.”
“HP-ku mati.”
Utara menyahut dari belakang.
“Bilang aja malas.”
Sela langsung menoleh.
“Kak!”
Ibu mereka tertawa.
“Sudah, sudah. Sana ganti baju dulu. Nanti makan.”
Sela berlari kecil menuju kamar.
“Jangan lari!” teriak ibu.
“Sudah besar masih lari-lari,” gumam Tara.
Namun ia tersenyum.
Rumah itu selalu seperti ini.
Tidak pernah benar-benar tenang.
Selalu ada suara pintu dibuka, suara ibu memanggil, suara Sela mengeluh, atau suara Utara yang pura-pura kesal.
Dan anehnya, Utara menyukai semuanya.
Ia menyukai suara-suara itu.
Karena sejak dulu, rumah baginya bukan tentang bangunan.
Rumah adalah tempat di mana seseorang tahu bahwa ia akan selalu ditunggu.
Malam semakin larut.
Setelah makan, Sela duduk di lantai kamar Tara sambil membaca buku yang sebenarnya bukan miliknya.
Tara sedang bekerja di depan laptop ketika suara halaman dibalik terdengar berulang-ulang.
“Kamu nggak punya kamar sendiri?”
“Ada.”
“Terus kenapa di sini?”
“Sepi.”
Utara menoleh.
“Kamar kamu juga punya dinding.”
“Tapi nggak ada Kakak.”
“Memangnya aku hiburan?”
“Iya.”
“Keluar.”
Sela mengabaikannya.
Beberapa detik kemudian, ia bertanya, “Kak.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi jauh, Kakak bakal nyariin aku nggak?”
Jari Tara berhenti di atas keyboard.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Terlalu sederhana.
Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam cara Sela mengucapkannya yang membuat Utara menoleh.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Nanya aja.”
“Pergi ke mana?”
“Nggak tahu.”
“Kalau nggak tahu, kenapa ditanya?”
Sela menutup bukunya.
“Ya siapa tahu nanti aku pergi.”
Utara menyandarkan punggung ke kursi.
“Kalau kamu pergi, bilang.”
“Terus?”
“Aku antar.”
“Kalau aku pergi tanpa bilang?”
“Aku cari.”
Sela tersenyum.
“Beneran?”
“Beneran.”
“Sejauh apa?”
Utara berpikir sebentar.
“Sejauh yang diperlukan.”
Sela tertawa kecil.
“Jawaban Kakak selalu begitu.”
“Begitu bagaimana?”
“Kayak orang tua.”
“Aku memang lebih tua.”
“Tiga tahun.”
“Tiga tahun cukup.”
Sela kembali membuka bukunya.
Beberapa saat mereka diam.
Kemudian ia berkata pelan,
“Kadang aku mikir, Kak… kita bakal begini terus nggak?”
Utara mengernyit.
“Begini gimana?”
“Ya… tinggal di rumah yang sama. Ribut soal makanan. Kakak marah kalau aku pulang malam. Aku ganggu Kakak kerja.”
“Semoga nggak.”
Sela menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku berharap kamu cepat punya kehidupan sendiri.”
Senyumnya menghilang sedikit.
“Jahat.”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Tara memutar kursinya menghadap Sela.
“Maksudku, suatu hari nanti kamu harus punya rumah sendiri. Punya pekerjaan yang kamu suka. Punya teman-teman. Pergi ke tempat yang kamu mau. Jangan terus-terusan bergantung sama aku.”
Sela diam.
“Kalau aku pergi, Kakak sedih?”
“Sedih.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Sela mengangkat wajah.
Tara baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
“Ya… sedikit.”
“Sedikit?”
“Banyak.”
Sela tersenyum lagi.
“Berarti Kakak sayang aku.”
Utara mendengus.
“Jangan geer.”
“Tapi sayang, kan?”
“Tidur.”
“Jawab dulu.”
“Besok.”
“Kenapa besok?”
“Karena sekarang aku mau kerja.”
Sela tertawa pelan.
“Baiklah.”
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
“Kak.”
“Apa?”
“Terima kasih.”
Utara menatapnya.
“Untuk?”
Sela mengangkat bahu.
“Nggak tahu.”
Lalu ia pergi.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Tara kembali menatap layar laptop.
Namun pikirannya tidak lagi berada di sana.
Ia tidak tahu mengapa pertanyaan Sela malam itu terasa berbeda.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rumah yang selama ini mereka tinggali tidak akan selamanya sama.
Orang-orang akan tumbuh.
Pergi.
Kembali.
Lalu mungkin pergi lagi.
Itu bagian dari kehidupan.
Dan Utara pikir, selama mereka masih tahu jalan pulang, semuanya akan baik-baik saja.
Tiga hari kemudian, sebuah amplop cokelat tiba di rumah.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya alamat mereka yang tertulis di bagian depan.
Ibu yang menerimanya.
Awalnya tidak ada yang memperhatikan.
Sampai malam harinya, Utara melihat amplop itu tergeletak di atas meja ruang tamu.
“Bu, ini apa?”
Ibu yang sedang melipat pakaian tiba-tiba berhenti.
Tatapannya tertuju pada amplop tersebut.
“Bukan apa-apa.”
Utara mengambilnya.
“Surat?”
“Taruh saja.”
Ada sesuatu dalam suara ibunya yang membuat Tara menoleh.
Biasanya ibu tidak pernah keberatan jika ia mengambil surat.
Namun kali ini berbeda.
Tara belum sempat bertanya ketika Sela keluar dari kamar.
“Kak, itu apa?”
“Entah.”
Sela mendekat.
Ibu langsung berdiri.
“Jangan dibuka.”
Suasana ruang tamu mendadak hening.
Utara memandang ibunya.
Sela juga.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kemudian ibu mengambil amplop itu dari tangan Utara.
“Ini urusan ibu.”
Ia membawa amplop tersebut pergi.
Utara menatap punggung ibunya sampai menghilang di balik pintu.
Sela berdiri di sampingnya.
“Aneh.”
Tara mengangguk.
“Iya.”
“Apa isinya?”
“Nggak tahu.”
Sela menatap pintu tempat ibu mereka menghilang.
“Kenapa aku merasa…”
Ia berhenti.
“Merasa apa?”
Sela menggeleng.
“Nggak jadi.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah yang sama terasa sedikit asing.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah rahasia yang selama ini tertidur di antara dinding rumah itu telah mulai mengetuk dari dalam.
Pelan.
Satu kali.
Lalu dua kali.
Menunggu seseorang cukup berani untuk membuka pintunya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya