Tak Seperti Drama Korea

Bab 1 dari 3

Bab 2
100%

Bab 1: Kepada Wanita yang Tega Menikam Kekasihnya

Kepada Wanita yang tega menikam kekasihnya

====

Suara Langkah kami seperti irama orkestra

Di tanganku tergenggam koper tua tangan lainnya mengangkut tumpukan kain yang kuikat dengan sarung. Ibu berlari membawa tumpukan kain, tangan lainnya menggenggam erat tangan adikku. Jalan sepintas itu basah bekas hujan semalam, dua saluran air di kanan kiri penuh dengan sampah dan lumut. Kami berlari kecil, tergesa-gesa, napas kami tersengal seperti suara mesin kereta api yang hendak berangkat.

Tiba di ujung jalan, langkah kami makin cepat menuju motor yang kuparkir di emperan toko. Kusumpal semua barang bawaan di depan motor matic sewaan, Ibu menaikkan Danau adikku lalu duduk setelahku, kami pergi meninggalkan kontrakan yang sudah lima tahun lebih kami tempati.

“Ke mana Bu?” teriakkanku memecah keheningan fajar, memendarkan dingin yang sebelumnya nyaris melemahkan raga.

“Ke mana aja Yuna.”

“Kontrakan Bi Esih?”

“Jangan! Bapakmu pasti ke sana.”

“Ke temanmu atau ke mana saja dulu, yang penting kita aman.”

Akhirnya suara sumbang motorku terdengar begitu nyaring setelah kutarik gas, motor melaju dengan kencang, Ibukota sudah tampak ramai meski Cahaya Mentari belum sampai di bumi. Danau mengigil, bisa kurasakan lewat genggaman tangannya yang melingkar di perutku.

Danau, adalah nama yang diberikan ibu untuk adikku. Sebuah gambaran tentang keteduhan dan ketenangan. Nyaris sepanjang hidupnya, wanita berusia lima puluh tahunan lebih yang duduk di belakangku tak bisa merasakan ketenangan, dan Danau adalah sebuah harapan yang dia simpan untuk masa depan. Dia berharap, kelak setelah Danau besar. Danau akan melindungi dan menjaganya dari rasa takut dan kehampaan yang selama ini dia dapat dari Bapak.

Tak ada arah dan tujuan, motor butut itu terus kulaju sampai akhirnya kami berhenti di sebuah pangkalan gojek tempat di mana aku biasa menunggu orderan Bersama orang orang yang selalu kuanggap seperti Bapak atau kakak sendiri.

“Mau ke mana Yuna?” Suara tebal lelaki bertubuh tambun dengan rambut yang sudah sepenuhnya putih mendadak mendinginkan suasana. Kuparkirkan motor, meminta Ibu dan Danau duduk di sulaman bambu alas duduk pendopo.

“Pak Habib, Yuna mau minta tolong. Yuna butuh tempat sementara untuk Ibu dan Adik Yuna.”

Mata yang sudah dikelilingi keriput itu langsung melihat Ibu dan adikku, lelaki itu melangkah pelan menuju pendopo kemudian duduk di samping mereka.

“Kalian kenapa dan mau ke mana?”

“Ke mana saja Pak, Barang kali Bapak punya kenalan yang punya kos dan kontrakan?” tanyaku menentang keadaan isi kantongku yang tak seberapa.

“Ada, ayo saya antar,” katanya. Dia membantuku mengangkat barang bawaan kami, dia naikkan ke atas motornya sementara aku Ibu dan Danau mengikuti dari belakang. Motor kami melaju beriringan, sampai akhirnya kami tiba di kediamannya.

Rumah di dalam gang sempit yang hanya mampu dilalui dua buah motor, garis bekas ketinggian banjir menempel di dinding rumahnya, persis di atas pintu, lantai keramik berwarna merah tua pudar menunjukkan berapa lama bangunan ini berdiri, pekarangan kecil dengan dua buah kursi dan meja di depan.

Rumahnya tak besar, tak juga kecil. Tak lama pintu rumahnya terbuka, seorang Wanita tua yang rambutnya sama putihnya dengan dia menyambut kami. Senyumnya begitu hangat, mengalahkan sinar Mentari pagi. Mesin jahit tua berkarat berhadapan dengan kursi sofa kayu tua dan televisi tabung abu yang sudah tak menyala kian membuat kami terhanyut akan kehangatan hingga tak ingin keluar lagi dari kediamannya.

Mereka menyuruh kami duduk, setelahnya Wanita tua itu ke belakang, tak lama keduanya Kembali lagi dengan membawakan teh hangat dan gorengan bakwan jagung yang masih mengepulkan asap.

“Masih hangat, silakan dicoba,” katanya begitu sopan. Tapi mendadak Ibuku malah menangis, dia menunduk dengan napas tersengal.

“Loh kok malah nangis?” tanya Wanita tua itu lagi seraya mengusap punggung tangan Ibu.

“Terima kasih Buk, Pak,” rintihnya.

Aku menunduk menahan tangis, padahal kami belum memulai kisah kami. Tapi air mata Ibu sudah pecah terlebih dulu.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Pak Habib.

“Maaf Pak, saya mendadak ingat orang tua saya,” kata Ibu.

“Oalah …,”

Ibu menyapu kedua matanya kemudian melihatku dan Danau.

“Yuna putri Ibu?” tanya Pak Habib, Ibu refleks menatapku lagi, lalu dia mengangguk ragu.

“Yuna ini rajin sekali, dari pagi sampai malam cari orderan, anak muda sekarang jarang yang mau seperti dia, Hp saja dia sudah mau rusak, biasanya anak muda sekarang itu Hp harus bagus, nongkrong, lah Yuna pagi sore kejar orderan.”

“Enggak kayak cucu kita ya Pak,” sambung istri Pak Habib.

Ibuku menunduk lagi, jatuh air matanya kembali di atas punggung tangannya.

“Yuna memang anak yang baik Pak, saya banyak berhutang budi pada Yuna.”

“Ibuuu ….” Aku bergesar duduk di samping Ibu, merengkuh pundaknya, dan Ibu membalas dengan mengusap tanganku.

“Mana ada hutang budi antara anak dan Ibu,” sambung istri Pak Habib dengan begitu lembut.

“Sebenarnya ada apa, barang kali kami bisa bantu ?” tanya Pak Habib, dari raut wajahnya menunjukkan begitu banyak pertanyaan.

“Semalam saya baru dapat kabar, jika suami saya sudah bebas dari Penjara.” Kedua lansia itu langsung menatap Ibu. Seperti cerita yang sudah bisa ditebak endingnya, Pak Habib dan istrinya pasti akan segera meminta kami pergi, mengingat keluarga residivis selalu dianggap buruk. Tapi aku lupa jika dalam cerita, plot twist sering kali terjadi. Istri Pak Habib justru menunjukkan respon sebaliknya, Wanita itu mendekati Ibuku dan mengusap pundaknya.

“Kami butuh tempat yang aman Bu,” kata Ibuku dengan bibir yang gemetar.

“Kita harus tolong mereka Pak,” jawab Wanita tua yang sepertinya sudah tahu banyak dengan semua isi dunia. Tanpa bertanya banyak, menyelidik, mencurigai, Wanita itu sudah tahu betapa ketakutannya kami.

“Sementara kalian menginap di sini dulu saja, kebetulan ada kamar kosong di belakang,” tawar Pak Habib.

Beberapa detik kemudian tanpa bertanya apa apa lagi, Pak Habib dan istrinya langsung mengantar kami ke ke belakang. Pintu dengan engsel yang sudah berkarat lalu dibuka, derit suaranya mengantarkan kami pada sebuah pemandangan kamar yang begitu hangat meski tak terlalu besar, sebuah ranjang berkelambu putih dan lemari tua di samping jendela. Dinding dinding berwarna cokelat Sebagian bekas ketinggian air banjir, aroma lembab tapi tetap saja hangat, ranjangnya rapih tapi berdebu. Danau melangkah menuju ranjang, mengusap Kasur yang begitu hangat, lalu bersandar pada tiang ranjang.

“Sudah lama kamar ini kosong,” kata Wanita tua seraya membuka jendela kamar. “Sejak anak kami menikah, kamar ini tak ada yang menempati,” sambungnya.

“Ibu percaya dengan kami?” lirih Ibu.

“Setiap Wanita bisa membaca keadaan Wanita lain hanya lewat matanya,” kata Wanita itu lagi.

“Istirahatlah.” Mereka kemudian keluar, tak lama pintu tertutup aku duduk menyelorot bersandar di lemari, ibu duduk di ranjang,

Danau melanjutkan tidurnya di pangkuan. Sekejap kami hanya diam, mengatur napas seperti habis lomba lari. Setelahnya Ibu menatapku.

“Kita harus pergi sejauh mungkin Yuna. Bapakmu pasti menyimpan dendam, dia pasti mengincar kita.”

Rambut Ibu yang ikal dan basah tergerai dari angin yang masuk lewat jendela, matanya berkaca seraya menyapu rambut Danau yang basah karena keringat.

“Ke mana Bu?” Ibu menghela napas, lalu menatap jendela yang memburai wajahnya sejak tadi.

“Ungaran.”

“Bagaimana jika Bapak ke sana?”

Ibu menunduk lagi. Aku bangkit dari lantai kemudian duduk di samping Wanita yang sudah mengorbankan nyaris separuh hidupnya demi merawatku.

“Ibu rindu orang tua Ibu?” tanyaku, dia menatapku dengan lusuh. Air matanya menetes berbarengan dengan anggukkan kepala.

“Tapi bagaimana dengan keperluan Ibu hari hari?” tanyaku.

Wanita berambut ikal itu lalu tersenyum seraya mengusap kepalaku yang terbungkus hijab.

“Kita pikirkan nanti, kamu sudah susah payah bekerja untuk Ibu dan Danau.”

“Danau butuh pengobatan Bu.”

Sejak lahir, Danau sudah menderita asma kronis. Saluran napas Danau berukuran sangat kecil dan belum berkembang sempurna, sehingga sering terjadi peradangan, solusinya hanya operasi atau terapi agar tubuh Danau bisa terbiasa dengan keadaan saluran pernapasannya yang berbeda dengan orang normal. Biaya terapi tidak ditanggung Asuransi pemerintah, karenanya pagi, siang kadang sampai malam aku banting tulang agar adikku bisa benar benar sembuh.

“Yuna ….” Ibu menunduk seraya menggenggam erat tanganku, kami menangis Bersama.

“Ibu tak perlu pikirkan Yuna, sepertinya kita harus berpencar Bu.”

Wajah Ibu mendongak, dia menggeleng pelan.

“Bapak mungkin takkan mengenali Yuna, tapi tidak dengan wajah Ibu.”

“Enggak Yuna, kita enggak boleh berpisah. Ibu akan jaga kamu.”

“Demi Danau Bu. Yuna akan di Jakarta. Ibu enggak perlu khawatir.”

Wanita di hadapanku kian tersedu, dia menarik tubuhku kemudian mendekapku erat. “Terima kasih,” rintihnya.

Wanita yang kupeluk ini bukan Ibu kandungku, kisah kelam sepuluh tahun yang lalu lah yang akhirnya membuatku dengan mudah menyapanya dengan sebutan Ibu.

Lanjut Part 2.

--- Novel terbaru----

Judul : Tak Seperti Drama Korea

Penulis : Isrina Sumia

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 3)
Komentar ( 2)
Yulian Latifah · 12 Aug 2026 14:15

Pembukaannya saja udah perih begini, mudah2an selanjtnya bisa bahagia.
mbak Nina, lanjuuuuuuuuuuut

Rayn Moorids · 08 Aug 2026 11:38

Next

Daftar Bab