Bab 2 dari 4
Sinar matahari pagi menyusup lewat teralis gositel yang kusam, menyengat mata Do-jin yang baru saja terbuka. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun. Ia mengerjap, mencoba mengusir sisa mimpi buruk yang pekat.
"Sial... cuma mimpi karena terlalu banyak minum soju" gumamnya serak sambil mengusap wajah yang basah oleh keringat dingin.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa kejadian dini hari tadi hanyalah halusinasi akibat kelelahan. Namun, saat berniat meregangkan tangan, rasa nyeri yang tajam terasa sangat nyata menusuk lengan kanannya.
Tenggorokannya tercekat. Matanya melebar. Itu bukan mimpi.
Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponselnya. Layar menyala, menampilkan aplikasi berikon mata merah [CONTACT.APK] yang masih terpasang sempurna. Angka timer digital berdurasi 24 jam terus berdetak mundur, menunjukkan waktu hari pertama yang terus terpangkas.
Do-jin terduduk di ranjang sempitnya, mematung di kamar yang pengap. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu bicara sendiri dengan suara bergetar
"Permainan apa ini sebenarnya? Siapa yang mempermainkan aku? Apakah anak buah Ma Dong-suk punya teknologi gila untuk meneror mentalku?"
Ia menggeleng keras. Tidak masuk akal. Ma Dong-suk hanyalah seorang bandar judi bawah tanah kelas kakap di Gangnam, bukan pesulap atau pencipta aplikasi fiksi ilmiah penembus buku alamat orang mati.
Sebagai mantan penyidik yang instingnya tergerus alkohol, kesadarannya perlahan bangkit. Ia tidak bisa hanya duduk diam menunggu lebam itu menjalar atau namanya masuk ke daftar kontak gaib. Ia menyambar jaket kulitnya, mengenakan topi kupluk kumuh, dan keluar menuju sebuah warung internet remang-remang di sudut Gangnam untuk meretas arsip kasus lama. Fokus utamanya tertuju pada nama pertama Han Min-ji (12 Oktober 2018 - Kasus Gangnam No. 4).
Menjelang sore, berbekal catatan kecil, Do-jin mendatangi sebuah gang sepi di Gangnam, titik terakhir Han Min-ji terlihat sebelum tewas enam tahun silam. Saat meraba permukaan dinding bata tua di sana, jari telunjuknya menyentuh sesuatu yang ganjil. Sebuah ukiran tertutup lumut.
Ia mengikis lumut itu dengan pisau lipatnya. Di sana, terukir simbol mata tertutup yang persis seperti logo aplikasinya. Tepat di bawahnya, terdapat deretan angka kombinasi loker dan tulisan tangan yang masih baru
“Selamat datang kembali di tim investigasi, Detektif Do-jin. Kotak penyimpanan nomor 404 di Stasiun Gangnam sedang menunggu barang bukti utamamu"
Do-jin terkesiap, napasnya tertahan. Bulu kuduknya meremang. Ukiran itu sangat baru. Bagaimana seseorang bisa tahu persis di mana ia berdiri sore ini?
Sebelum ia sempat berpikir, ponsel di saku jaketnya bergetar keras. Layar menyala otomatis, menampilkan panggilan masuk dari sebuah nomor asing dengan tulisan di layar
Han Min-ji sedang memanggil..
Ibu jari Do-jin membeku beberapa milimeter di atas layar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya memenuhi rongga telinga. Nama Han Min-ji terus berkedip berirama dengan warna merah menyala, diiringi getaran ponsel yang terasa seperti sengatan listrik di telapak tangannya.
Dengan helaan napas berat dan gigi yang bertaut, Do-jin menggeser ikon hijau. Ia mendekatkan ponsel murahan itu ke telinganya.
"Ha… halo?" suaranya pecah, tercekat di tenggorokan.
Hening. Hanya ada gesekan statis white noise yang samar. Lalu, bukannya suara jeritan seperti di rekaman dini hari tadi, sebuah suara pria yang berat dan dimodifikasi secara digital bergema dingin di balik speaker.
"Garis start sudah kau lewati, Kang Do-jin" bisik suara itu, terdengar datar tanpa emosi. "Tiga puluh menit dari sekarang, petugas kebersihan Stasiun Gangnam akan mengosongkan loker nomor 404. Kau ingin tahu apa yang ada di dalamnya, bukan?"
"Siapa kau sialan?! Apa mau!!"
Tut... tut... tut...
Sambungan terputus seketika.
Do-jin menurunkan ponselnya dengan napas terengah. Ia menatap angka timer digital yang kini menunjukkan sisa waktu kurang dari sepuluh jam. Tanpa berpikir panjang, Do-jin memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga keluar dari gang sepi itu, membelah kerumunan pejalan kaki di trotoar Gangnam yang mulai padat oleh pekerja kantoran sore hari.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya