Seratus Alasan untuk Bangun Besok
Bab 2 dari 13
Pagi itu langit masih diselimuti awan tipis, tetapi hujan tidak turun. Sena berjalan menuju sekolah sambil menggenggam payung hitam yang dipinjamkannya kemarin. Sebelum berangkat, ia sengaja mengeringkan payung itu, melipatnya serapi mungkin, lalu membungkusnya dengan kantong plastik bening agar tidak terkena embun atau kotoran selama perjalanan. Ia sendiri merasa tindakannya sedikit berlebihan. Toh, itu hanya payung. Namun entah mengapa, mengembalikan barang milik Ratri dalam keadaan baik terasa penting. Mungkin karena sudah lama tidak ada orang asing yang memperlakukannya dengan kebaikan tanpa meminta imbalan apa pun.
Ratri sudah berdiri di dekat gerbang sekolah ketika Sena tiba. Seperti biasa, tasnya tampak penuh dengan gantungan kunci berwarna-warni yang bergoyang setiap kali ia bergerak. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru saja berlari mengejar waktu, tetapi wajahnya tetap cerah. Begitu melihat Sena menghampiri, ia melambaikan tangan dengan santai, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Ini payungmu," kata Sena sambil menyerahkan bungkusan plastik itu.
Ratri menerimanya lalu tertawa kecil saat melihat payung tersebut dibungkus begitu rapi. "Serius dibungkus segala?"
"Biar nggak basah."
"Padahal payung memang tugasnya basah."
Sena tidak bisa membantah. Untuk sesaat ia hanya menggaruk tengkuknya sendiri, sedikit malu karena merasa tindakannya terdengar konyol setelah diucapkan keras-keras.
"Nggak perlu buru-buru balikin, kok," lanjut Ratri. "Di rumah masih ada banyak payung."
"Memangnya ada berapa?"
"Rahasia."
"Kenapa dirahasiain?"
"Soalnya nanti kalau aku bilang jumlahnya, orang-orang malah kepikiran minjem semuanya."
Sena menghela napas pelan. "Nggak masuk akal."
"Emang aku sering nggak masuk akal."
Jawaban itu disampaikan begitu ringan hingga Sena tidak sadar sudut bibirnya ikut terangkat. Sudah lama sekali ia tidak tersenyum karena percakapan sesederhana ini.
Ratri mulai berjalan memasuki halaman sekolah, lalu tiba-tiba berhenti. "Eh, kamu kelas berapa sih?"
"XI IPA 2."
"Oh, deket dong. Aku XI IPS 1." Ratri mengangguk puas seolah baru saja menemukan fakta penting. "Berarti peluang ketemu di kantin lumayan besar."
"Belum tentu."
"Kalau nggak di kantin, ya di koridor. Kalau nggak di koridor, ya pas upacara. Dunia ini kecil."
Sena hanya menggeleng pelan. Gadis itu selalu punya cara aneh untuk mengakhiri percakapan. Mereka berpisah di depan gedung kelas masing-masing, tetapi sepanjang pelajaran berlangsung, ucapan-ucapan Ratri yang terdengar asal justru beberapa kali muncul kembali di kepala Sena.
Hari sekolah berjalan seperti biasanya. Guru menjelaskan materi yang terasa terlalu panjang, beberapa teman mengobrol diam-diam saat guru membelakangi kelas, sementara Sena lebih banyak menatap keluar jendela. Pohon ketapang di halaman sekolah bergoyang perlahan diterpa angin. Di kejauhan, awan mulai menumpuk lagi, pertanda hujan mungkin akan datang sore nanti. Dulu, pemandangan seperti ini tidak pernah menarik perhatiannya. Kini, setelah membaca buku peninggalan Aji, ia mulai bertanya-tanya berapa banyak hal kecil yang selama ini ia lewatkan begitu saja.
Sepulang sekolah, Sena langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak menuju kamar Aji lagi. Rasanya belum sanggup. Buku biru itu kini ia simpan di laci meja belajarnya sendiri, seolah ingin menjaga sesuatu yang belum siap dibagikan kepada siapa pun.
Ia mengeluarkan buku tersebut dengan hati-hati.
Halaman pertama masih sama.
100 Alasan untuk Bangun Besok
Di bawahnya, daftar yang ditulis Aji menunggu untuk dibaca lagi.
Nomor satu sudah ia alami kemarin, meski ia masih belum benar-benar mengerti apa yang dimaksud kakaknya dengan "rasa hujan pertama di bulan Oktober."
Kini matanya berhenti pada nomor berikutnya.
2. Suara kucing tetangga yang ngambek kalau nggak dikasih ikan tepat waktu.
Sena tersenyum tipis.
Ia tahu persis siapa yang dimaksud.
Oyen.
Kucing oranye gemuk milik Bu Darmi yang hidupnya tampak sangat sederhana. Bangun, tidur, mencari tempat yang hangat untuk bermalas-malasan, lalu menunggu jam makan. Namun soal jam makan, Oyen tidak pernah bisa diajak bercanda. Terlambat lima menit saja, seluruh kompleks akan mendengar suara protesnya yang nyaring.
Tiba-tiba sebuah kenangan muncul begitu jelas.
Dua tahun lalu, Sena dan Aji pernah duduk di teras rumah sambil makan gorengan. Saat itu Bu Darmi terlambat pulang dari pasar sehingga Oyen terus mengeong tanpa henti di depan pagar.
"Dengerin deh," kata Aji sambil menahan tawa.
"Apa?"
"Dia lagi pidato."
"Pidato?"
"Iya. Lagi demo. Isinya paling, 'Mana ikan saya? Hak saya dilanggar!'"
Sena yang waktu itu masih SMP langsung tertawa sampai tersedak teh hangat. Aji bahkan berdiri sambil berpura-pura menjadi penerjemah bahasa kucing.
«"Saudara-saudara sekalian, saya menuntut keadilan! Ikan saya belum datang!"»
Saat mengingatnya sekarang, tawa itu tidak lagi terdengar lucu. Yang tersisa hanyalah keheningan panjang di dalam kamar.
Sena menutup buku itu perlahan, lalu melihat jam dinding.
Pukul empat lewat lima puluh lima menit.
Kalau tidak salah ingat, Oyen biasanya mulai protes tepat pukul lima sore.
Tanpa banyak berpikir, Sena mengenakan sandal dan keluar rumah.
Udara sore terasa lebih sejuk setelah hujan semalam. Aroma tanah basah masih tertinggal di antara pepohonan. Beberapa anak kecil bermain sepeda di ujung gang, sementara suara penjual bakso terdengar samar dari jalan utama.
Ketika Sena sampai di depan rumah Bu Darmi, dugaannya benar.
Oyen sudah duduk tegak di depan pagar.
Ekor gemuknya bergerak-gerak cepat ke kanan dan kiri. Matanya menatap pintu rumah dengan penuh harap, lalu setiap beberapa detik ia mengeong panjang seolah sedang menyampaikan keluhan paling penting di dunia.
"Miaaaawww..."
Lima detik kemudian.
"Miaaaawww..."
Sena tidak bisa menahan senyum.
Benar juga kata Aji.
Kalau didengarkan baik-baik, nada suara Oyen memang terdengar seperti sedang mengomel.
Ia berjongkok di depan pagar, memperhatikan tingkah kucing itu. Oyen bahkan sempat meliriknya sekilas sebelum kembali mengeong ke arah rumah, seolah berkata bahwa urusan manusia tidak sepenting makan malamnya.
"Aneh ya," gumam Sena pelan.
Makhluk kecil itu sama sekali tidak memikirkan masa depan.
Tidak memikirkan nilai ujian.
Tidak memikirkan kehilangan.
Tidak memikirkan apakah besok hidupnya akan lebih baik.
Ia hanya tahu satu hal.
Perutnya lapar.
Dan itu sudah cukup untuk membuatnya memperjuangkan sesuatu.
Sena mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya benar-benar kosong. Tidak dipenuhi rasa bersalah, tidak dipenuhi pertanyaan yang tak pernah terjawab. Hanya suara seekor kucing yang sedang kesal karena makan malamnya terlambat.
"Ngapain?"
Suara itu membuat Sena menoleh cepat.
Ratri berdiri di trotoar sambil membawa kantong plastik berisi beberapa bungkus jajanan dan minuman botol. Rambutnya sedikit berantakan lagi, dan kali ini ia mengenakan sandal rumah, seolah hanya sedang mampir ke warung.
"Kamu?" tanya Sena.
"Iya, aku."
"Kok di sini?"
"Rumah nenekku dua gang dari sini." Ratri mengangkat kantong belanjaannya. "Baru pulang beli gorengan."
"Oh."
"Terus kamu?"
Sena menggaruk pipinya pelan. "Lagi... lihat kucing."
Ratri mengikuti arah pandang Sena.
Beberapa detik kemudian ia ikut berjongkok di sampingnya.
"Oalah... Oyen."
"Kamu kenal?"
"Satu kompleks sama nenek. Mana mungkin nggak kenal." Ratri menahan tawa saat Oyen kembali mengeong keras. "Ya ampun... dramatis banget."
"Iya."
"Dia kalau jadi manusia pasti hobi bikin status galau."
Sena tertawa kecil.
Benar-benar tertawa.
Suara itu keluar begitu saja tanpa dipikirkan. Bahkan dirinya sendiri sedikit terkejut karena masih bisa tertawa selepas itu.
Ratri menoleh ke arahnya.
"Nah, gitu."
"Hah?"
"Kamu lebih cocok ketawa daripada masang muka kayak mau ujian nasional setiap hari."
Ucapan itu membuat Sena kembali diam.
Belum pernah ada orang yang mengatakannya secara langsung.
Selama ini semua orang hanya berkata agar ia lebih semangat, lebih kuat, atau lebih sabar. Tidak ada yang pernah bilang kalau wajahnya memang terlihat begitu muram.
Beberapa saat kemudian Bu Darmi akhirnya keluar membawa mangkuk berisi ikan rebus.
Begitu makanan diletakkan di depan pagar, Oyen langsung berhenti mengeong. Ia menunduk lahap, seolah lima menit sebelumnya tidak pernah melakukan demonstrasi apa pun.
"Lihat," kata Ratri sambil terkekeh. "Drama selesai."
"Cepat banget lupanya."
"Iya. Enak juga ya hidup kayak gitu."
Sena memandangi Oyen yang kini makan dengan damai.
"Alasannya memang konyol," gumamnya tanpa sadar.
"Alasan apa?"
Sena refleks memegang tas selempang yang dibawanya. Di dalam tas itu tersimpan buku biru peninggalan Aji.
Ia belum siap menceritakannya.
Belum sekarang.
"Bukan apa-apa," jawabnya pelan.
Ratri tidak terlihat kecewa ataupun penasaran berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil, berdiri sambil menepuk-nepuk rok sekolahnya yang sedikit kotor karena duduk di trotoar.
"Ya udah, aku pulang dulu."
"Oke."
"Besok ketemu lagi."
Ratri melangkah pergi dengan santai. Baru beberapa meter berjalan, ia tiba-tiba berbalik.
"Oh iya."
"Apa?"
"Kalau besok hujan lagi..."
Sena menghela napas lebih dulu.
"...aku masih bawa payung cadangan."
Ratri tertawa puas melihat ekspresi pasrah Sena, lalu berlari kecil menyusuri gang hingga menghilang di tikungan.
Sore mulai berganti menjadi malam.
Sena masih berdiri beberapa saat di depan rumah Bu Darmi. Angin membawa aroma masakan dari rumah-rumah sekitar, diselingi suara televisi dan tawa anak-anak yang belum selesai bermain.
Ia membuka buku biru itu sekali lagi.
Dengan pulpen miliknya sendiri, untuk pertama kalinya Sena membuat tanda kecil di samping nomor dua.
?
Tidak ada alasan khusus.
Ia hanya merasa... alasan itu sudah selesai dicoba.
Dua alasan.
Dua hari.
Belum ada keajaiban yang mengubah hidupnya.
Namun entah kenapa, malam itu ia tidak lagi memandang hari esok sebagai sesuatu yang harus dilewati.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, ia benar-benar penasaran ingin membuka halaman berikutnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya