Bab 1 dari 1
Di sebuah kamar entah di mana.
Johan mengerang kesakitan. Kedua tangannya refleks menyentuh bagian bawah perut yang baru saja menerima hu jaman keras dari lutut kanan Rayya.
Bagai singa betina, Rayya bangkit dan menghadiahkan ten dangan lagi tepat ke aset Johan. Sekali lagi lelaki brengsek itu berteriak kesakitan.
Gadis berseragam abu putih itu berlari menuju pintu, berusaha memutar anak kunci dengan tangan terikat. Sulit tapi berhasil.
Tunggu! Dia mengambil kunci mobil di atas meja dengan mulut lalu berlari ke luar.
“Aku akan membalasmu, Rayya!”
Dia tidak peduli teriakan dari dalam sana. Tujuannya hanya satu, segera pergi dari tempat sialan itu.
Ini semua gara-gara sopirnya telat menjemput karena mobil mogok. Tak ingin berlama-lama sendirian di halte dengan tubuh kedinginan karena cuaca mendung dan berangin, terpaksa gadis yang nyaris celaka itu memesan taksi online.
Lima menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaca pintu depan bergerak turun, seorang pria dengan masker biru menoleh. Lelah, Rayya memejamkan mata sesaat setelah mobil melaju. Dia baru membuka mata saat menyadari mobil berhenti.
Belum sepenuhnya menyadari situasi, pintu terbuka. Kedua tangannya ditarik ke luar, langsung diikat dengan tali. Tubuh mungil itu meronta, tapi hanya membuat kehabisan tenaga. Lelaki dengan masker biru itu membopongnya, mengabaikan teriakan dan gigitan di punggung.
Sopir misterius itu membawanya ke sebuah rumah kosong dan melemparkan tubuh Rayya ke atas kasur.
“Siapa kamu? Apa maumu?” Suara Rayya bergetar, tak dapat menyembunyikan rasa takut.
Lelaki itu melepas maskernya lalu menyeringai.
“Jo—Johan?” Rayya panik.
Johan, mantan kakak kelas yang pernah ditolaknya mentah-mentah kini tertawa jahat di depannya.
“Wow, kau mengingatku. Aku tersanjung.”
Rayya panik. Dia tak bisa melakukan perlawanan dengan tangan terikat. Satu-satunya cara adalah lari. Tapi kedua tangan Johan menekan pundaknya, mepet ke tembok.
“Jangan coba-coba menyentuhku sedikit pun!” ancamnya sok berani.
“Cuma orang bodoh yang akan menyentuhmu sedikit, aku mau ...,”Johan menatap tubuh Rayya seperti singa lapar, “semuanya,” sambungnya dengan penuh nafsu.
Rayya meronta, tapi cengkeraman di pundaknya semakin kuat. Kesempatan datang ketika Johan memajukan wajah. Dia menyemburkan ludah, membuat lelaki itu terkejut dan melepaskan tangan kanan untuk menyeka air ludah di kelopak matanya. Itulah saat ketika bajingan itu menerima serangan pertama Rayya.
Air matanya terus mengucur kala mengingat kejadian barusan. Rayya mengemudi dengan tangan terikat dan gemetar. Haruskah dia langsung pulang? Kedua orang tuanya masih di Saudi untuk ibadah umroh, kakak laki-lakinya sedang berada di Singapura, kakak pertamanya terpisah oleh samudra.
Kantor polisi! Dia harus melaporkan kejadian itu, untuk memastikan Johan tidak menjadi ancaman.
Usai menceritakan peristiwa, para polisi akan menangkap Johan, tapi Rayya harus ikut untuk menunjukkan jalan.
Mereka tiba. Pintu rumah itu masih terbuka, persis ketika Rayya tinggalkan tadi. Dua orang polisi masuk, lalu keluar dengan tawanan yang tak berdaya.
Rayya melihatnya, jaket yang tadi dilepas kini terpasang kembali di badan Jo ... Tunggu, lelaki itu mengangkat kepalanya. Itu bukan Johan. Apa yang terjadi?
***
Dua tahun kemudian.
Rayya menatap malas TV lebar yang menayangkan berita yang sama sejak seminggu lalu. Satu lagi mahasiswi cantik dinyatakan hilang. Berita ini pasti akan membuat orang tuanya makin getol mendesaknya segera menikah.
Sebelum orang tuanya menyadari kehadirannya, Rayya memutar langkah kembali ke kamar. Dia tidak mau topik perjodohan kembali diungkit. Celaka! Dia bertabrakan dengan Haikal yang juga menuruni anak tangga. Dan suara gaduh membuat Mama Mira menoleh.
Haikal yang menyadari maksud adiknya itu malah menyeringai jahil. Dia menarik tangan Rayya untuk bergabung ke ruang keluarga.
“Anak gadis Mama mau kabur,” kata Haikal. Dia melepaskan tangan adiknya dan duduk di sofa, sengaja mengambil remot kontrol dan membesarkan suara TV.
Rayya makin tak berkutik ketika papanya bergabung. Genap tiga orang menatapnya dalam diam, membiarkan suara pembaca berita menjadi latar, seolah menegaskan bahwa dia tak punya pilihan lain.
“Oke, Ayy setuju. Tapi Ayy yang tentukan orangnya.”
“Memang kamu punya?”
Lagi-lagi Haikal. Sementara mamanya hanya menyimak. Dia senang anak lelakinya kali ini bersikap benar.
“Yaa punyalah,” jawab Rayya dengan keraguan yang dia sembunyikan.
Satu nama telah terukir di hatinya selama dua tahun terakhir. Namun, jarak mereka terlalu jauh. Jangankan menjalin hubungan, berdiri berdekatan dalam waktu lebih dari lima menit saja lelaki itu sungkan. Belum lagi soal status sosial, jauh bedanya.
“Kapan dia bisa datang ketemu Papa?”
Pertanyaan papanya membuat Rayya makin ragu. Kalimat itu terdengar amat mendesak, tapi dia bahkan tak punya nyali untuk sekedar bertanya apakah lelaki itu punya perasaan yang sama dengannya.
“Nggak jawab berarti nggak ada orangnya, Pa.”
Rayya mencubit pinggang kakaknya dengan jengkel. Dan kekesalannya pun makin jadi saat papanya mengambil keputusan sepihak, akan mengenalkannya dengan seorang lelaki besok. Hal itu membuat Rayya tak dapat tidur nyenyak.
Dia berharap papanya mengurungkan niat. Tapi dia sadar itu mustahil saat ART mereka memanggilnya untuk bergabung ke ruang tamu.
“Ini putri bungsu kami.” Papa Rizal mengenalkan Rayya yang menunduk malas.
Gadis itu hanya menatap tepi meja, sama sekali tak tertarik dengan pria yang entah siapa.
“Sayang, kenalan dulu sama teman Papa.”
Mau tak mau Rayya mengangkat kepalanya.
“Johan?”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya