Jiwa yang terluka

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Mulai dari awal

Tok..tok..tok.. Terdengar bunyi ketukan di pintu kamarku.

"Aya, udah bangun belum? Kakak mau berangkat kerja nih. Kamu hati-hati di rumah yah. Kalau ada apa-apa hubungi kakak." Kata kak Vita terdengar sedikit terburu-buru.

Aku membuka mataku dengan malas, rasanya agak sedikit bengkak. Mungkin karena menangis kemarin.

Ku liat jam dinding masih menunjukkan pukul 06.00 pagi.

" Kenapa kak Vita berangkatnya pagi banget hari ini? Mungkin karena baru hari pertama kerja." Gumanku.

Setelah berdoa, aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Lalu aku pergi kedapur untuk meminum secangkir air hangat.

Sepertinya hari ini adalah milikku. Kira-kira hal menyenangkan apa yang dapat aku lakukan di rumah hari ini.

Setelah mandi, aku memutuskan untuk mencari sarapan. Sebenarnya aku ingin pesan secara online agar lebih simple. Tapi aku memutuskan untuk mencoba mencari sarapan pagi di daerah sekitar rumah.

Supaya aku bisa lebih kenal dan tahu dengan daerah tempat kami tinggal.

Ku lihat di ujung jalan ada penjual nasi uduk. Aku sangat senang makan nasi uduk. Menu sederhana namun nikmat.

" Mau makan di sini atau di bungkus kak?" Tanya penjual nasi uduk.

" Nasi uduknya 1 di bungkus aja kak". Jawabku sambil melihat-lihat masakan apa saja yang di jual di sana.

Penjualnya terlihat ramah, usianya mungkin sama denganku. Aku bangga melihatnya karena tidak merasa malu untuk berjualan.

" Kakak orang baru di sini yah?" Tanyanya sambil menyerahkan sebungkus plastik nasi uduk padaku.

" iya ka, saya tinggal di seberang jalan sana". Kataku sambil menunjuk ke arah rumah tempat tinggalku.

"Oh, iya ka. Itu rumahnya Pak Tama. Orangnya baik dan ramah kok kak. Perkenalkan nama saya Rara. " katanya sambil menyodorkan tanganya dengan senyuman.

" Nama saya Aya." Jawabku sambil menjabat tangannya.

" Nanti sering main ke sini ya kak. Ga apa-apa kok." Jawab Rara.

Aku hanya mengangguk pelan. Setelah percakapan singkat itu, aku berjalan kembali menuju ke rumah.

Bukan maksudku untuk bersikap kurang ramah kepada orang lain. Hanya saja aku adalah tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain terlebih yang baru ku kenal.

Seperti ada rasa trauma yang aku rasakan mengenai sebuah hubungan. Aku tidak ingin menjalin hubungam yang terlalu dekat dengan orang lain. Aku takut merasakan sakit itu lagi.

Tak terasa aku telah tiba di rumah, segera aku menyantap nasi uduk yang baru ku beli tadi.

"wah, rasanya enak banget. Beda sama yang sering aku beli di kota sebelumnya aku tinggal." Kataku sambil terus menikmati sarapan.

Setelah sarapan aku kembali melanjutkan pekerjaan membereskan barang-barangku. Satu persatu barang dari koper aku keluarkan. Ku susun dan ku tata dengan rapi di kamarku.

Sampai tanganku terhenti, saat melihat sebuah foto. Rasa sedih itu muncul lagi. Ah, jujur aku benci rasa ini. Ku usap hangat foto itu, foto keluarga kecilku.

Teringat kembali bagaimana dulu Aya kecil sangat bahagia berkumpul bersama Papa, mama dan juga kakak. Tidak banyak yang bisa ku ingat karena waktu itu usiaku baru 5 tahun. Jarak usiaku dengan Kak Vita cukup jauh sekitar 6 tahun.

Keluarga kami dapat di katakan berkecukupan, setidaknya pada saat itu yang aku ingat keluarga kami adalah yang paling baik dari segi ekonomi di bandingkan dengan keluarga Papa yang lain. Papaku punya 5 saudara, terdiri dari 2 laki-laki (termasuk papaku) dan 3 saudara perempuan. Sedangkan ibuku adalah seorang anak tunggal.

Walaupun dulu aku belum terlalu memahami urusan orang dewasa tapi aku bisa merasakan kalau saudara dan saudari Papa kurang menyukai keluarga kami. Seringkali Papa dan mama jadi ribut karena membahas saudara dan saudari Papa.

Aku teringat dulu, mama pernah cerita sambil mengeluh kalau tante Gita mau meminjam uang lagi padahal utang yang sebelumnya belum ia lunasi. Aku tahu saat itu mama pasti sedang bingung dan tak tahu harus cerita kepada siapa, walaupun aku tidak memahami tapi aku coba untuk jadi pendengar yang baik untuk mama.

Singkat cerita, waktu itu bisnis Papa makin maju dan kondisi ekonomi keluarga kami pun semakin baik.

Tapi seiring dengan kondisi itu saudara dan saudari Papa juga semakin menjadi-jadi untuk terus datang meminta bantuan.

Kadang datang minta di bantu membeli kendaraan, kadang datang minta di bantu membeli tanah, bahkan yang lebih parah minta di bantu untuk membayarkan uang sekolah anaknya.

Menurutku jika memang kondisi keuangan tidak memungkinkan kenapa harus memaksakan anak sekolah dengan biaya yang tinggi. Jadinya malah menyusahkan orang lain.

Karena Papa adalah anak pertama, seringkali ia tak dapat menolak permintaan adik-adiknya.

Sampai ketika hari kelam itu pun tiba, saat Papa sedang berkendara dengan motornya, papa mengalami kecelakaan tunggal. Entah apa yang sedang Papa pikirkan waktu itu, mungkin ada begitu banyak beban yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya membuat Papa kehilangan fokus saat berkendara.

Sepulang sekolah aku dan kak Vita langsung dijemput dan diantar menuju ke rumah sakit. Jujur waktu itu aku bingung tapi ku lihat wajah Kak Vita sangat ketakutan dan tak henti-hentinya menangis.

Ku coba bertanya, tapi bibirnya hanya bergetar tak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Saat tiba di rumah sakit, ku lihat mama menangis sambil meraung-raung rasanya seperti sakit sekali.

Aku dan dan kak Vita berlari memeluk erat mama.

Dengan bibir yang bergetar dan pelukan yang sangat erat, mama berkata kalau Papa sudah tiada.

Rasanya saat itu jantungku terasa sakit sekali, aku dan kak Vita menangis sejadi-jadinya.

Rasanya seperti mimpi. Kenapa hidup begitu kejam terhadap kami.

Ternyata duka tak hanya sampai di situ. Karena rasa sakit yang teramat sangat mama pun terkena serangan jantung tepat setelah memeluk erat aku dan Kak Vita.

Aku tidak dapat mencerna semua kejadian itu. Semua terjadi begitu cepat. Kondisi keluarga yang bahagia kini berganti menjadi duka yang teramat dalam. Hanya seperti kedipan mata kondisi keluarga kami berubah 180 derajat.

Setelah pemakaman Papa dan mama. Rumah menjadi sepi. Kini hanya tinggal aku dan Kak Vita.

Tak ada lagi kasih sayang dan cinta dari Papa dan mama. Aku menangis di pelukan kak Vita. Ada rasa takut , rasa sedih, rasa khawatir dan marah bercampur menjadi satu. Bagaimana mungkin kami yang masih kecil ini akan sanggup menghadapi dunia.

Belum kering air mata kami, tiba-tiba saudara dan saudari Papa datang ke rumah. Kami mengira mereka akan membawa kabar baik untuk kami. Tapi ternyata kepahitan hidup kami baru saja di mulai.

Mereka menyuruh aku dan kak Vita duduk berhadapan dengan mereka di sofa ruang keluarga. Tak ada pelukan tak ada kata-kata penghiburan yang ada hanya tuntutan dan perampasan aset keluarga kami. Entah bagaimana caranya mereka dengan cepat mengurus dan memasulkan surat-surat kepemilikan rumah dan usaha kami.

" Jadi gimana nih anak berdua?" Tanya om Gio membuka pembicaraan.

" Saya sudah hubungi nenek Asih. Kita akan kirim mereka ke sana saja". Jawab tante Ana.

"Oke, kalian cepat bereskan barang-barang kalian. Karena kalian akan punya rumah dan keluarga yang baru" tambah tante Gita.

"Kenapa tante? Om? Ini rumah Vita dan Aya. Kenapa kami harus pindah?" Tanya kak Vita dengan suara bergetar.

" pake nanya lagi. Ya jelas karena rumah ini bukan milik kalian lagi" jawab tante Zara ketus.

Saat itu aku tak paham apa yang sedang mereka bahas, tapi yang aku tahu mereka sedang menyakiti kak Vita.

"Om, tante kenapa sih jahatin kita?!" kataku.

"Ih, anak kecil. Kamu tahu apa sih? Udah ah ikutin aja apa kata tante sama om" tambah tante Zara.

Setelah mereka pulang dari rumah, ku lihat kak Vita menangis di sudut kamarnya sambil memegang foto Papa dan mama. Suara tangisan itu terasa sangat menyakitkan tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata.

Aku pun menangis di kamarku. Kami tak punya siapapun untuk tempat mengadu. Bagaimana anak kecil seperti kami dapat memahami keadaan ini.

Tak menunggu lama, aku dan kak Vita di jemput paksa dan di bawa menuju ke kota lain di kota itulah kami tinggal bersama dengan nenek Asih.

Sampai akhirnya aku tamat SMP dan kak Vita sudah bekerja sebagai perawat di puskesmas.

"Aya..ayo bangun...aya" kata kak Vita sambil mencoba membangunkanku dengan lembut.

"Eh, Kak Vita sudah pulang?" Kataku sambil bangun dari tidurku.

Tanpa aku sadari ternyata aku tertidur disamping tempat tidurku sambil memeluk foto keluarga kami dan mengenang masa lalu yang kelam itu.

" kamu kok bisa ketiduran sih? Udah makan belum?" Tanya kak Vita

" tadi sarapan aja sih ka. Aya ngelewatin makan siang." Kataku sambil mengusap air mataku.

Kak Vita melihat foto di tanganku dan ia langsung memahami apa yang terjadi.

" Aya... kamu yang kuat yah. Kakak yakin kita bisa melalui ini semua. Walapun papa dan mama ga sama-sama kita lagi tapi kakak percaya mereka melihat kita dari sana. Jadi kita harus buat mereka bangga." Kata kak Vita sambil memegang erat tanganku.

Aku mengangguk pelan dan mencoba tersenyum.

Kata-kata Kak Vita membuat aku kembali mengingat janjiku dulu. Bahwa aku harus jadi pribadi yang kuat, ga boleh mengeluh, ga boleh cengeng. Bagaimana pun aku ga mau jadi beban buat kak Vita. Selama ini kakak sudah banyak berkorban untukku.

Walaupun saat ini kami berada di tempat dimana rasa sakit itu muncul tapi kami tidak boleh menyerah dengan rasa sakit itu. Justru rasa sakit itulah yang membuat kami menjadi pribadi yang kuat.

"Ayo Aya kita mulai lagi. Jangan terikat dengan masa lalu. Karena masa lalu tidak dapat di ubah tapi masa depan dapat di jalani dengan lebih baik." bisikku dalam hati.

"Nih, kamu lihat deh. Kakak dapat brosur sekolah SMA yang bagus di daerah sini." Kata kak Vita sambil menyodorkan selembar kertas kepadaku.

" SMA Tunas bangsa". Kataku sambil membaca setiap detail yang tertulis pada brosur itu.

"Iya, kata teman kerja kakak sekolah SMA itu bagus. Bahkan jadi SMA favorit di daerah sini. Bulan depan pendaftarannya di buka. Kamu siapin berkas-berkasnya yah." Kata kak Vita.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum pada Kak Vita. Bagaimanapun selama ini aku berusaha menjadi adik yang penurut, apapun yang menurut kak Vita baik akan aku lakukan.

"Hei, SMA Tunas bangsa tunggu kedatanganku yah." Bisikku pelan.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab