Papan pengumuman ajaib

Bab 1 dari 7

Bab 2
100%

Bab 1: Papan pengumuman ajaib

BAB 1: KORIDOR BELAKANG YANG TERLUPAKAN*  


Hujan turun lagi, ,


Sejak hari Senin, langit di atas SMP Bakti Pertiwi sepertinya lupa cara untuk cerah. Awan kelabu itu nemplok di atas gedung tiga lantai dari jam enam pagi sampai bel pulang sekolah jam dua siang, seolah-olah dia sudah bayar kontrakan di situ. Got di depan gerbang sudah berubah fungsi menjadi kolam renang dadakan untuk sandal jepit anak-anak kelas tujuh. Airnya coklat, baunya... jangan ditanya.


Dan aku, Rian Pratama, kelas 8C, adalah salah satu korban yang setiap pagi harus menerjang genangan setinggi mata kaki sambil melontarkan sumpah serapah di dalam hati.


"Rian! Hati-hati, Nder!" teriak Dita dari balik payung transparan bermotif rumus matematika.  


Dita Maheswari, Otaknya jalan dua puluh empat jam, mulutnya tidak pernah berhenti mengomel, dan dia satu-satunya orang yang rela datang tiga puluh menit lebih awal hanya untuk mengerjakan PR orang lain. Eh, maksudnya mengerjakan PR sendiri sambil membantu orang.


Aku hanya mengangkat tangan, sepatuku sudah basah.(Kejadian seperti ini terjadi lagi). Ini hari ketiga berturut-turut, Kaos kakiku sekarang sudah punya warna sendiri; coklat lumpur edisi terbatas.


SMP Bakti Pertiwi itu sekolah biasa, Cat temboknya warna krem yang sekarang sudah berubah menjadi krem kecokelatan karena lumut. Lapangannya pun kalau hujan menjadi sawah, kalau kemarau menjadi gurun pasir. Kantinnya terkenal dengan ayam geprek level lima yang bisa membuat lidah kesemutan selama tiga hari. Toiletnya... ya, kita tidak usah membahas toilet lah.


Tapi ada satu sudut di sekolah ini yang lebih tua dari Pak Kepala Sekolah, Lebih sepi dari ruang BK saat jam istirahat, Lebih berdebu dari buku LKS yang tidak pernah dibuka. Sudut itu adalah Koridor belakang.


"Ngapain sih lo ke situ terus?" tanya Boni sambil mengunyah cilok. Dia Boni Santoso, badannya besar, nafsu makannya pun lebih besar, dan kapasitas otaknya pas-pasan untuk mengingat jadwal makan. "Itu kan tempat angker, Katanya dulu ada murid kesurupan gara-gara baca pengumuman telat bayar SPP."


"Itu hoaks," potong Dita cepat. Dia mendorong kacamatanya ke atas. "Itu hanya Pak Penjaga yang menakut-nakuti agar tidak ada yang coret-coret. Secara psikologi, itu disebut teknik pencegahan berbasis rasa takut."


Aku tidak menjawab. Mataku sudah tertuju ke ujung koridor. Di sana ada dia, sebuah papan berukuran besar yang biasa disebut MADING (MAJALAH DINDING).


Tapi kalau mading disekolah lain itu kinclong, ada hiasan pita, ada foto kegiatan pramuka, dll. Sedangkan mading ini... ya ampun, aku hanya bisa menggelengkan kepala ku. Papannya sudah berwarna coklat tua seperti kayu jati yang lupa dipelitur, Kacanya retak di pojok kanan atas, dan retakan itu membentuk pola seperti jaring laba-laba. Di dalamnya hanya ada tiga lembar kertas, seperti jadwal piket kelas delapan yang warnanya sudah pudar sampai tidak bisa dibaca, pengumuman lomba kebersihan dari dua tahun lalu, dan selembar koran bekas bungkus gorengan yang nyelip entah sejak kapan. Ada bercak minyak juga di pojoknya.


Baunya khas sekali. Bau kertas lembab, bau lem UHU yang sudah kering, bau kayu lapuk, dan bau... entahlah. Namun aku mencium Bau sesuatu, Bau rahasia. Bau yang sudah terlalu lama disembunyikan.


"Tiap hari lo liatin itu mulu," kata Boni. Remah cilok beterbangan dari mulutnya. "Lo naksir mading ini apa gimana? Mau nembak?"


"Berisik," kataku. "Gue cuma mikir saja."


"Mikir apa?" Dita langsung nyelonong maju. Matanya langsung menganalisis mading itu seperti dosen biologi melihat katak untuk dibedah. "Mikir kenapa sekolah tidak mengganti mading ini? Secara anggaran, harusnya setiap tahun ada dana perawatan sarana. Atau lo mikir tentang nilai koefisien gesek antara debu dan kaca?"


"Udah, diem," aku memotong lagi. "Gue cuma bosan saja, Tiap hari isinya itu-itu mulu, Tidak ada yang baru."


Dan itu benar. Hidup kelas delapan itu gitu-gitu saja. Masuk, upacara, tujuh jam pelajaran, PR menumpuk, pulang, tidur, begitu terus secara berulang-ulang. Hujan turun terus-menerus, PR terus, dan juga omelan dari guru BK terus. 


Aku butuh sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang... seru! Sesuatu yang membuat hari Senin tidak terasa seperti hari Senin.


Aku mendekati mading itu. Jariku mengusap kacanya yang berdebu. Debu menempel di ujung jariku, kotor sekali. Dan di balik kaca, ada paku-paku kecil yang sudah berkarat. Dan di sudut bawah, ada goresan kecil. Seperti tulisan. 


Aku merapatkan wajahku ke kaca, dan napasku membuat embun kecil.


`..rama`


Hanya itu, Empat huruf saja. Sisanya sudah terhapus oleh waktu. Tinta hitamnya pun sudah pudar, tapi goresannya dalam. Seperti digores pakai benda tajam.


"Rian, bel masuk!" teriak Dita dari jauh. Suaranya menggema di koridor kosong. "Lo mau disuruh push up lagi sama Pak BP?"


Aku mundur, Mengeluarkan napas panjang. 


"Hari ini tidak ada yang menarik di sini," gumamku. "Besok juga pasti sama."


Aku berbalik dan berlari menyusul teman-temanku. Meninggalkan mading tua itu sendirian lagi, bersama debu, retakan, dan rahasianya.


---


Jam terakhir hari itu adalah Matematika. Matematika bagiku adalah Neraka jilid dua.


Pak Wawan, guru Matematika kami, punya hobi; memberi PR dua puluh soal setiap kali bertemu. Dan hari ini dia sedang semangat empat puluh lima, Kapurnya patah tiga kali saat menulis di papan tulis.


"Anak-anak, besok kita ulangan harian ya," katanya. "Materi: Persamaan Linear Dua Variabel. Harap dipelajari di rumah."


Satu kelas langsung "huuuu" serempak. Suaranya seperti sekawanan kucing yang diinjak ekornya.


Boni langsung lemas di meja. Kepalanya menelungkup ke atas buku. "Mati gue. Gue saja tidak tahu linear itu apaan. Lurus? Berarti gambar garis doang dong?"


Dita sibuk mencatat. Tulisannya rapi seperti diketik. "Tenang. Gue ajarin nanti malam. Tapi lo traktir es teh dua. Pakai es batu yang banyak."


Lalu, Aku? Aku malah bengong melihat ke luar jendela. Hujan masih turun, Deras sekali. Airnya menetes dari talang membentuk irama yang membosankan. Tapi di kepalaku terbayang mading tua itu. Sepi, Berdebu, dan tidak ada gunanya. Sama seperti otakku saat ini yang tidak bisa memahami apa itu "linear".


"Rian!" bentak Pak Wawan. Kapur di tangannya menunjuk ke arahku. "Maju ke depan. Kerjakan soal nomor empat!"


Aku maju dengan langkah zombie. Menulis,, salah, ditertawakan, lalu aku duduk lagi dengan muka merah. Hari yang menyebalkan.


Ketika bel pulang berbunyi, semua orang berhamburan seperti kawanan semut yang sarangnya disiram air. Aku paling terakhir keluar kelas. Bukan karena rajin, Tapi karena mencari pulpen yang jatuh ke kolong meja dan nyangkut di antara tumpukan kertas bekas.


Dan saat aku lewat koridor belakang untuk jalan pintas ke gerbang, langkahku terhenti lagi. Mading itu masih di sana. Lebih gelap sekarang karena lampunya mati. Hanya diterangi cahaya sore dari luar yang tembus lewat jendela kotor, Debu-debu juga beterbangan di berkas cahaya itu.


Entah kenapa kakiku berhenti sendiri, Seperti ada magnet.


"Ngapain sih lo..?" kataku kepada mading itu. "Nggak guna banget."


Hening. Hanya ada suara hujan yang menetes dari talang. Tik. Tik. Tik. Aku mengeluarkan dompet, Isinya kosong kecuali selembar kertas robek dari buku catatan dan pulpen yang tintanya sudah mau habis. Ujungnya sudah penyok karena sering digigit saat mengerjakan ulangan.


Iseng, iya aku hanya iseng saja. Tiba-tiba tanganku menulis sesuatu di kertas robek itu. Tulisannya jelek, miring pula dan terburu-buru karena tanganku dingin.


`Besok sekolah libur karena hujan salju.`


Aku tertawa kecil sendiri. "Mana mungkin salju di Depok, Yang ada banjir setinggi atap."


Aku menempel kertas itu ke mading menggunakan solasi bekas yang sudah tidak lengket. Agak miring, bahkan tidak rapi, Ujungnya pun terlipat.


"Ya sudah. Anggap saja ini surat cinta untuk mading," kataku sambil menepuk kacanya dua kali. Bunyinya pelan. "Besok kita lihat. Paling juga tidak kejadian."


Aku pergi. Meninggalkan kertas robek itu sendirian di balik kaca yang berdebu.


Malam itu aku tidur dengan mimpi buruk tentang PR Matematika dua puluh soal dan Pak Wawan yang mengejarku sambil membawa penggaris besi.


Aku tidak tahu, bahwa di koridor belakang yang gelap, kertas robek itu... sedikit bersinar. Cahayanya redup, seperti kunang-kunang yang terjebak di dalam kaca.


---


Pagi harinya, jam lima tiga puluh menit. HP-ku berbunyi tidak berhenti, Getarannya membuat meja ikut bergetar. Grup kelas 8C meledak.


`Boni: WOY BANGUN WOY`


`Boni: LIAT KELUAR WOY`


`Dita: LIHAT JENDELA KALIAN SEKARANG JUGA`


`Teman 1: INI APAAN SIH???`


`Teman 2: SALJU??? DI DEPOK???`


`Teman 3: GUE KIRA EFEK TIKTOK`


Aku masih mengantuk, Mataku berat. Aku menggerutu lalu membuka tirai kamar. Dan aku terkejut seketika melihat apa yang baru saja mata ku lihat. Langit Depok putih, Atap rumah tetangga putih, Jalanan putih, Pohon mangga di depan rumah putih, semua putih.


Turun salju.. Benar-benar turun salju. Di Depok, Kota yang suhunya tiga puluh dua derajat setiap hari. Dan Kota yang kalau hujan saja sudah banjir, apalagi salju.


Aku mengucek mata. Mengira ini mimpi, Tapi dinginnya menusuk sampai ke tulang.


HP-ku berbunyi lagi, Notifikasi dari grup sekolah:


`[PENGUMUMAN RESMI SMP BAKTI PERTIWI]`


`Karena cuaca ekstrem berupa hujan salju, kegiatan belajar mengajar hari ini DILIBURKAN.`


`Mohon siswa tetap di rumah dan berhati-hati.`


Tanganku gemetar, HP hampir jatuh. Seketika aku teringat akan kertas robekku dan Mading tua itu.


"Kebetulan," bisikku. Suaraku serak. "Pasti kebetulan. Pasti BMKG salah prediksi."


Tapi di luar, anak-anak sudah pada keluar rumah. Mereka membuat boneka salju di lapangan, Ada yang melempar bola salju, Ada yang merekam untuk TikTok. 


Ibu dari dapur berteriak, "Rian, itu beneran salju? Kok bisa?"


Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk di tepi kasur, menatap HP. Di dalam kepalaku, ada satu pertanyaan yang lebih dingin dari salju itu sendiri.


Kalau tulisan isengku menjadi kenyataan... lalu apa yang akan terjadi kalau aku menulis lagi? Dan yang lebih menakutkan, siapa yang akan percaya padaku?..


[Bersambung ke Bab 2]


---

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 2)
Rayn Moorids · 20 Aug 2026 01:19

Menarik

Lilik dwi aryati · 20 Aug 2026 11:15

Terimakasih ka ☺

Daftar Bab