Alchemist's World Of The Soul

Bab 1 dari 1

100%

Bab 1: prolog

ALCHEMIST’S WORLD OF SOUL

Prolog — Api yang Tidak Seharusnya Terlahir

Langit malam di atas Kota Elaris berwarna merah. 

Bukan karena cahaya matahari.

Bukan pula karena bulan.

Warna merah itu berasal dari kobaran api yang membakar seluruh kota.

Bangunan runtuh satu demi satu. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi pedagang dan penduduk kini berubah menjadi lautan darah. Jeritan manusia bercampur dengan suara ledakan energi spiritual.

BOOM!

Sebuah rumah besar hancur.

Gelombang energi menyapu jalanan.

Di antara asap dan reruntuhan, seorang pemuda berusia enam belas tahun berlari sekuat tenaga.

Namanya—

Alden Rael.

Napasnya tersengal.

Darah mengalir dari pelipisnya dan membasahi pipi.

Pakaian yang dikenakannya telah robek. Kedua tangannya dipenuhi luka.

Namun ia tidak peduli.

Ia terus berlari.

Karena jika ia berhenti—

ia akan mati.

Di belakangnya terdengar langkah kaki.

Tap...

Tap...

Tap...

Beberapa sosok berjubah hitam berjalan melewati kobaran api.

Mereka tidak terburu-buru.

Mereka tahu mangsanya tidak memiliki tempat untuk melarikan diri.

"Dia menuju tebing."

"Jangan biarkan dia lolos."

Suara dingin terdengar dari balik topeng.

Alden menggertakkan giginya.

Ia tahu dirinya tidak mungkin menang.

Kultivasinya baru berada pada tahap Jiwa Terbangun tingkat tiga.

Sedangkan para pengejarnya—

sebagian besar berada di Ranah Roh.

Jarak kekuatan tersebut terlalu jauh.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah ketakutan terhadap kematian.

Melainkan ingatan tentang beberapa jam sebelumnya.

Ayahnya.

Ibunya.

Kakaknya.

Semua telah mati.

Semuanya dibunuh oleh orang-orang yang sama.

Alden mengepalkan tangan.

"Ayah..."

Air mata mengalir tanpa bisa ditahannya.

Ia masih mengingat kata-kata terakhir ayahnya.

"Lari, Alden."

"Apa pun yang terjadi, jangan biarkan mereka mendapatkan jiwamu."

"Suatu hari nanti kau akan mengerti."

Saat itu Alden tidak memahami maksudnya.

Sekarang—

ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertanya.

Ia berlari semakin cepat.

Namun beberapa detik kemudian, langkahnya terhenti.

Di depannya terdapat jurang.

Ratusan meter di bawahnya adalah hutan gelap.

Di belakangnya—

para pemburu telah tiba.

Seorang pria berjubah hitam melangkah maju.

Topeng putih menutupi wajahnya.

Di tangannya terdapat pedang hitam yang memancarkan tekanan mengerikan.

"Alden Rael."

Pria itu menyebut namanya.

Alden menatapnya.

"Siapa kalian?"

"Kau tidak perlu mengetahuinya."

"Kenapa membunuh keluargaku?"

Pria itu terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab:

"Karena keluargamu menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dilahirkan."

Alden mengerutkan kening.

"Apa?"

Pria itu menunjuk dada Alden.

"Api Jiwa."

Jantung Alden berdegup.

"Aku tidak memilikinya."

"Justru itu yang membuatmu berbahaya."

Pria tersebut mengangkat pedangnya.

"Serahkan Jiwa Asalmu."

Alden tertawa getir.

"Kalian membunuh keluargaku..."

Tangannya mengepal.

"...dan sekarang ingin mengambil jiwaku?"

"Jangan membuat keadaan lebih sulit."

Alden menatap langit.

Kemudian ia melihat jurang di belakangnya.

Jika mati—

setidaknya mereka tidak akan mendapatkan dirinya.

Ia mengambil satu langkah mundur.

Pria bertopeng itu langsung menyadarinya.

"Jangan!"

Alden tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

Satu langkah lagi.

"...kalian tidak akan mendapatkan apa pun."

Tubuh Alden jatuh ke jurang.

"KEJAR!"

Beberapa kultivator melompat.

Namun pada saat itulah—

DUM!

Jantung Alden berdetak.

Sangat keras.

Kemudian—

DUM!

Dunia berhenti.

Angin membeku.

Debu berhenti bergerak.

Api di kejauhan seolah berubah menjadi lukisan.

Tubuh Alden yang jatuh tiba-tiba berhenti di udara.

Kesadarannya memasuki sebuah ruang yang sepenuhnya gelap.

Tidak ada langit.

Tidak ada tanah.

Tidak ada suara.

Hanya kegelapan.

Alden berdiri sendirian.

"Apa ini?"

Kemudian ia melihat cahaya.

Jauh di depan.

Sebuah nyala api kecil melayang dalam kegelapan.

Api itu berwarna hitam.

Namun di tengahnya terdapat cahaya emas yang berputar perlahan.

Alden menatapnya.

Entah mengapa—

jiwanya bergetar.

"Apa kau... Api Jiwa?"

Api tersebut bergerak.

Kemudian sebuah suara kuno terdengar.

"Aku bukan sekadar Api Jiwa."

Alden membeku.

Suara itu tidak berasal dari luar.

Suara tersebut bergema langsung dari dalam jiwanya.

"Aku adalah api yang lahir sebelum hukum dunia terbentuk."

Api hitam-keemasan mulai membesar.

"Aku telah menunggu selama sepuluh ribu tahun."

"Apa maksudmu?"

"Menunggu pewaris terakhir kembali."

Alden menatap api tersebut.

"Pewaris?"

Tidak ada jawaban.

Api itu tiba-tiba melesat.

BOOM!

Cahaya hitam-keemasan memenuhi ruang kesadaran.

Rasa sakit luar biasa menghantam tubuh Alden.

"AAARRRGHH!"

Ribuan gambar muncul dalam pikirannya.

Monster Jiwa raksasa bertarung di bawah langit.

Kultivator menghancurkan gunung.

Alchemist kuno berdiri di depan tungku raksasa.

Cincin Roh berwarna merah darah melayang di tangan seorang manusia.

Kemudian—

sembilan api berbeda mengelilingi sebuah dunia.

Satu demi satu gambar itu menghilang.

Alden jatuh berlutut.

"Apa... semua itu?"

Suara kuno kembali terdengar.

"Masa lalu."

"Siapa aku sebenarnya?"

"Itu adalah pertanyaan yang harus kau jawab sendiri."

Api tersebut perlahan masuk ke dalam tubuh Alden.

"Namun jika kau ingin mengetahui kebenaran..."

Api hitam-keemasan membakar seluruh ruang kesadaran.

"Menjadi kuatlah."

"Bunuh Monster Jiwa."

"Raih Cincin Roh."

"Murnikan kekuatannya."

"Tempa jiwamu."

"Dan kuasai Alkimia."

Sebuah simbol kuno muncul di telapak tangan Alden.

"Karena suatu hari nanti..."

"seluruh Dunia Jiwa akan memburumu."

Cahaya menghilang.


Alden membuka mata.

Tubuhnya masih berada di udara.

Namun sesuatu telah berubah.

Matanya memancarkan cahaya emas.

Sebuah api kecil berwarna hitam-keemasan menyala di telapak tangannya.

Para kultivator yang mengejarnya berhenti.

Salah satu dari mereka berteriak:

"APA ITU?!"

Pria bertopeng putih menatap api tersebut.

Tubuhnya bergetar.

"Mustahil..."

Ia mundur satu langkah.

"Itu bukan Api Jiwa biasa."

Alden perlahan melayang kembali ke atas tebing.

Kakinya menyentuh tanah.

Api hitam-keemasan berputar di sekeliling tubuhnya.

Kemudian sebuah suara mekanis terdengar di dalam pikirannya.

[Jiwa Asal sedang berevolusi.]

[Jiwa Alkimia Primordial terbangun.]

[Api Jiwa terdeteksi.]

[Nama: Eternal Black-Gold Flame.]

[Kemampuan pertama terbuka.]

[Soul Refinement.]

Alden menatap tangannya.

Ia belum memahami kekuatan tersebut.

Namun satu hal telah berubah.

Ketakutan di matanya menghilang.

Yang tersisa hanyalah tekad.

"Aku tidak tahu siapa kalian."

Api hitam-keemasan menyala lebih terang.

"Tapi kalian telah menghancurkan keluargaku."

Energi spiritual memenuhi udara.

"Aku akan menemukan kalian."

Alden mengangkat tangan.

"Dan suatu hari nanti..."

Tatapannya menjadi dingin.

"...aku akan membuat kalian membayar semuanya."

Pria bertopeng putih mengangkat pedangnya.

"Bunuh dia!"

Puluhan kultivator menyerang.

Alden tidak bergerak.

Ia hanya mengulurkan satu tangan.

Api hitam-keemasan menyebar.

BOOOOM!

Kobaran api memenuhi tebing.

Namun api tersebut tidak membakar daging.

Ia membakar—

jiwa.

Para kultivator berteriak.

Cincin Roh yang mereka miliki mulai bergetar.

Cincin putih.

Cincin kuning.

Cincin ungu.

Bahkan sebuah Cincin Roh hitam.

Semuanya retak.

Pria bertopeng putih menatap pemandangan tersebut dengan ketakutan.

"Api yang membakar Cincin Roh..."

"Api yang memurnikan jiwa..."

"Jangan-jangan..."

Ia menatap Alden.

"Eternal Black-Gold Flame?!"

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun—

Api yang seharusnya hanya menjadi legenda kembali muncul.


Jauh dari Kota Elaris, di sebuah hutan yang belum pernah ditaklukkan manusia, seekor Monster Jiwa membuka matanya.

Sepasang mata merah menatap langit.

Raungannya mengguncang pegunungan.

ROOOOOAAAR!

Di sekitar tubuhnya muncul energi spiritual yang sangat padat.

Sebuah Cincin Roh merah darah perlahan terbentuk di dalam tubuhnya.

Monster itu menatap ke arah Kota Elaris.

Seolah-olah—

ia merasakan sesuatu.

Sesuatu yang telah lama hilang dari dunia.


Malam itu menjadi awal dari sebuah legenda.

Seorang pemuda kehilangan keluarganya.

Seorang Alchemist mendapatkan Api Jiwa yang seharusnya tidak ada.

Dan dunia yang selama ribuan tahun berada dalam keseimbangan—

mulai bergerak.

Alden Rael belum mengetahui bahwa setiap Monster Jiwa yang kelak dibunuhnya akan meninggalkan Cincin Roh.

Cincin yang akan muncul di tangannya.

Cincin yang harus ia murnikan dengan Api Jiwa sebelum dapat dilebur ke dalam tubuh.

Cincin yang akan memberinya kemampuan baru.

Dan semakin kuat Monster Jiwa yang ia bunuh—

semakin besar pula kekuatan yang akan diperolehnya.

Namun ia juga belum mengetahui satu hal.

Setiap kali ia mendapatkan Cincin Roh yang lebih tinggi...

sesuatu di dalam jiwanya akan ikut terbangun.

Dan ketika seluruh cincin itu akhirnya terkumpul—

rahasia terbesar tentang kelahiran Dunia Jiwa akan terungkap.

Karena Alden Rael bukan sekadar seorang Alchemist.

Ia adalah—

kunci menuju dunia yang seharusnya tidak pernah terbuka.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:

Suka ( 2)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab