Bab 2 dari 15
Lantai lima puluh gedung pusat ER Fashion tidak dirancang untuk manusia biasa. Di balik dinding kaca tebal yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, seluruh kota membentang bagaikan hamparan miniatur yang tak berdaya di bawah ketinggian. Udara di dalam ruangan luas bernuansa abu-abu karkas dan pualam hitam itu terasa begitu tipis, dingin, dan sarat akan sunyi yang menekan.
Hari pertama magang. Dan bukannya ditempatkan di lantai bawah bersama puluhan mahasiswa pilihan lainnya di divisi kreatif umum, Bella justru mendapati dirinya terisolasi di puncak tertinggi kekuasaan Richard Vance.
Sebuah meja kayu ebony minimalis dipasang hanya beberapa meter dari meja kerja utama sang CEO. Tidak ada pembatas. Tidak ada sekat. Hanya ada keheningan mencekam yang diinterupsi oleh gesekan halus ujung pensil Bella di atas kertas gambar.
Bella mencoba menundukkan kepala, memfokuskan seluruh perhatiannya pada draf gaun haute couture yang sedang ia selesaikan. Namun, kehadiran pria di sudut ruangan itu bagaikan medan magnet raksasa yang menyedot seluruh udara dari paru-parunya.
Dari balik meja megahnya, Richard tidak sedang menandatangani dokumen atau melihat layar komputer. Pria itu hanya duduk bersandar kaku, menopang dagunya dengan jemari bertaut, memosisikan iris mata cokelat tegangnya sepenuhnya pada leher mulus Bella yang terabaikan oleh tatanan rambut sang gadis.
"Garis bahunya terlalu kaku, Isabella," suara Richard memecah keheningan. Tonanya rendah, lambat, merayap di sepanjang permukaan kulit Bella bagaikan usapan beludru yang memabukkan.
Bella menghentikan gerakan pensilnya. Ia menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Saya merancangnya agar memberikan kesan struktur yang tegas pada gaun ini, Mr. Vance."
"Struktur yang tegas tidak harus mengorbankan lekuk alami tubuh wanita," sahut Richard.
Suara langkah kakinya tidak terdengar sama sekali saat pria itu bangkit dari kursinya. Di atas lantai pualam yang mengilap, Richard melangkah tanpa bobot, bagaikan bayangan hitam yang merayap perlahan mendekati mangsanya. Sebelum Bella sempat mengantisipasi keberadaannya, bayangan tegap pria itu sudah membendung pendar cahaya matahari sore dari luar jendela.
Richard berdiri tepat di belakang kursi kerja Bella. Kehadirannya melingkupi atmosfer ruangan seketika.
"Biar kutunjukkan," bisik Richard.
Pria itu merendahkan tubuhnya, menumpukan kedua telapak tangannya yang lebar di atas sandaran tangan kursi tempat Bella duduk. Dalam satu gerakan dominan yang terencana, Richard mengurung Bella sepenuhnya dari belakang.
Bella membeku di tempatnya. Jarak di antara mereka musnah.
Wajah Richard bersandar begitu dekat di samping kepala Bella—hanya berjarak sehelai benang. Setiap kali pria itu menghembuskan napas, kehangatan udaranya yang bertolak belakang dengan hawa dingin ruangan menyapu lembut daun telinga dan garis rahang Bella. Aroma kayu cendana, rempah mahal, dan jejak hawa tanah yang dalam memenuhi seluruh indra penciuman Bella, mengacaukan kemampuan otaknya untuk berpikir jernih.
"Pegang pensilmu," perintah Richard pelan.
Tangan kanan Richard yang tegap dan hangat turun merayap, menangkup tangan Bella dari atas. Jemari tebalnya yang perkasa menyusup di antara selah jemari Bella yang halus, memaksa gadis itu memegang kembali pensil grafirnya. Sementara itu, tangan kiri Richard bergerak menyusuri tepi meja kerja, menekan kayu ebony kaku tersebut untuk menahan tubuhnya agar tetap menempel kencang di punggung Bella.
Dada tegap Richard menekan kencang kain gaun bagian belakang Bella. Di sana, di antara lipatan kain tipis dan kontak kulit yang kaku, Bella merasakan sesuatu yang asing—sebuah getaran lambat, berat, dan bertempo tidak wajar dari balik dada pria itu. Sebuah detak jantung yang anehnya begitu lambat, namun memancarkan kehangatan masif yang meresap langsung ke tulang belakang Bella.
"Lihat draf ini," gumam Richard tepat di daun telinga Bella. Ujung bibirnya yang basah dan hangat nyaris menyapu kulit sensitif di belakang telinganya setiap kali ia mengeja kata-katanya. "Kau memotong garis pinggangnya terlalu tinggi. Sentuhan seorang desainer seharusnya menelusuri bagaimana gaun ini jatuh menempel di kulit... seperti ini."
Richard menggerakkan tangan Bella yang berada di bawah genggamannya. Ia memandu pensil itu menarik garis melengkung yang mulus menelusuri pinggul gambar di atas kertas. Namun, gerakan itu dilakukan dengan tempo yang sangat lambat—sebuah manipulasi fisik yang disengaja.
Setiap inci pergerakan tangan mereka diiringi oleh gesekan ketat antara dada tegap Richard dan punggung halus Bella. Gesekan jas berpotongan kaku pria itu memicu sengatan erotis yang menjalar cepat ke perut bawah Bella. Hawa panas merayap naik, mewarnai pipi Bella dengan rona merah yang pekat.
Napas Bella mulai memburu. Dada gadis itu kembang-kempis dalam irama yang pendek dan tidak beraturan.
"Mr. Vance... saya..." Bella terengah, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia merasakan cengkeraman jemari Richard pada tangannya bertambah erat, penuh dengan kepemilikan yang tersembunyi.
"Ssshh," bisik Richard lembut, namun nada dominannya yang matang tidak memberikan ruang untuk bantahan. Pria itu makin memiringkan wajahnya, menyembunyikan hidungnya di lipatan leher belakang Bella, menghirup dalam-dalam aroma manis Darah Suci yang berdenyut kencang di bawah kulit tipis gadis itu.
Siksaan nikmat itu membakar ketahanan fisik Bella. Kontak tubuh yang begitu terbuka ini terlalu intens untuk sebuah ruang kerja. Setiap embusan napas Richard di kulit lehernya mengirimkan getaran hebat yang membuat persendian Bella meloloskan daya tahan.
"Kau kehilangan fokusmu, Isabella," goda Richard dengan nada cair yang teramat provokatif. Bibirnya menggeser perlahan dari daun telinga menyusuri garis tengkuk Bella yang terbuka. "Fokus pada kertas itu, Bella. Kalau kau terus bernapas seberat ini, aku akan berpikir kau sedang membayangkan hal lain di atas mejaku."
Kalimat itu menelanjangi kepasrahan fisik Bella secara eksplisit. Sensasi panas yang teramat meluap menjalar ke seluruh saraf tubuh Bella. Gadis itu memejamkan mata erat-erat, meremas pensil di tangannya saat merasakan cengkeraman tangan kiri Richard di sisi mejanya mengeras hingga kayu mahal itu berderit halus.
"Anda... Anda sengaja melakukan ini," bisik Bella pasrah, kepalanya terkulai sedikit ke belakang, bersandar secara tidak sadar pada bahu kokoh Richard.
"Aku hanya sedang mengoreksi posisimu, Birdie," balasan Richard bergema rendah di dalam dadanya yang menempel rapat di punggung Bella. "Tapi jika tubuhmu merespons sentuhanku seperti ini... bagaimana bisa aku berhenti?"
Pria itu merapatkan tubuhnya lebih dalam lagi, mengunci posisi Bella di antara meja dan lekuk tubuh tegapnya. Penguasaan fisik yang mutlak itu mencapai puncaknya ketika bibir Richard benar-benar menempel pada kulit tengkuk Bella, memberikan satu kecupan hangat yang basah dan teramat dalam—sebuah klaim tak kasat mata yang meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan Bella.
Sensasi erotis dari penyatuan emosional dan fisik itu menggantung pekat di udara, menyisakan desah halus dari bibir Bella yang merekah.
Bzzzz... Bzzzz...
Getaran kencang dari ponsel di atas meja jati raksasa mendadak memecah gelembung keintiman yang membakar itu.
Pola getaran itu tidak biasa—sebuah nada khusus yang terenkripsi.
Dua detik setelah getaran itu terdengar, suhu di ruangan lantai lima puluh meluncur drastis hingga ke titik beku. Kehangatan masif yang tadi memancar dari tubuh Richard menguap seketika, berganti dengan hawa dingin yang kaku dan mengintimidasi.
Richard perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Bella. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali.
Bella berbalik dengan napas tertahan dan mata yang masih berkaca-kaca oleh luapan gairah yang belum usai. Namun, pria yang berdiri di depannya kini bukan lagi sosok CEO penuh pesona yang baru saja memagut lehernya dengan kelembutan yang membakar.
Richard berdiri menjulang kaku. Wajah tampannya membeku bagaikan pahatan batu pualam yang tanpa emosi. Di layar ponselnya, sebuah nama tertera tanpa angka—panggilan dari kegelapan, Raja Efrain.
Mata cokelat tegang Richard perlahan bergulir menatap Bella. Di balik pupil matanya yang melebar, pendar warna merah gelap melintas cepat bagaikan kobaran api yang tertutup kabut—sebuah tatapan predator yang teramat dingin, berbahaya, dan belum pernah Bella lihat sebelumnya. Tatapan dari sosok yang siap mengorbankan apa pun demi sebuah takhta dan dahaga abadi.
"Kembali ke mejamu, Isabella," perintah Richard. Suaranya tidak lagi halus atau menggoda. Suara itu begitu dingin, tajam, dan memotong udara bagaikan bilah belati yang siap merobek keheningan.
BERSAMBUNG ....
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya