Omnipotent Amidst the Apocalypse

Bab 1 dari 11

Bab 2
100%

Bab 1: Satu Jam di Atas Kehancuran

Napas Noah berburu, putus-putus dan terasa membakar tenggorokannya. Ia terus berlari membelah keheningan kota yang mati, mengabaikan anyir darah yang merembes dari robekan celana jeans di pergelangan kaki kanannya. Rasa takut adalah anestesi terbaik; rasa sakit itu kalah telak oleh teror yang merayap di belakang punggungnya.


?Dunia telah gila. Tepatnya sejak tiga hari lalu, saat tatanan hukum alam runtuh dan menyisakan matahari yang hanya sudi menampakkan diri selama satu jam dalam sehari. Satu jam. Hanya itu waktu yang dimiliki umat manusia untuk bernapas sebelum kegelapan pekat kembali menelan bumi dan mengubah sesama mereka menjadi makhluk aneh yang saling mengoyak.


?Noah menerobos pintu sebuah gedung perkantoran tinggi menjulang. Dadanya naik turun drastis. Ia harus bersembunyi. Sekarang.


?Matahari di luar sana sudah mulai mengorbankan warna emasnya, perlahan meredup. Waktunya hampir habis.


?Sambil bersandar di dinding lobi yang berantakan, Noah merobek paksa gorden meja resepsionis, melilitkannya kuat-kuat pada luka di kakinya. Detik saat kain itu menekan daging yang terkoyak, ia meringis tertahan. Rasa sakitnya luar biasa, akan tetapi matanya justru tertuju pada jendela kaca besar di ujung lobi.


?Di kejauhan, berdiri dengan megah sekaligus mengerikan: sebatang pohon raksasa yang muncul hanya dalam waktu semalam sebelum kehancuran ini dimulai. Pohon itu memancarkan pendar hijau yang luar biasa indah, memabukkan siapapun yang melihatnya. Noah mengingat dengan jelas bagaimana orang-orang di sekitarnya mendadak tumbang, pingsan massal setelah menatap pendar itu dengan ekspresi takjub.


?Noah adalah satu-satunya yang bertahan tegak hari itu. Saat semua orang tak sadarkan diri, ia justru merasakan hantaman energi luar biasa yang merayap di bawah kulitnya. Ketika ia melihat telapak tangannya malam itu, terdapat cahaya hijau—persis dengan warna pohon kutukan tersebut—menyala di sana.


?Namun sekarang, pendar di tangannya telah padam. Mati total.


Noah menyeret kakinya yang pincang melewati lorong kantor yang sunyi. Lift di ujung lorong mendadak berdenting. Lampu indikatornya menyala, menampilkan angka 4 yang berkedip statis. Jantung Noah berdegup kencang. Seseorang baru saja naik ke atas. Di dunia yang hancur ini, manusia yang hidup bisa jauh lebih berbahaya daripada kegelapan itu sendiri.


?Didorong oleh insting bertahan hidup dan rasa penasaran yang mendesak, Noah memilih menaiki tangga darurat menuju lantai empat.


?Lantai empat dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang tergeletak pasrah di lantai—orang-orang yang tertidur pasca-kemunculan pohon, menanti malam untuk terbangun sebagai makhluk aneh. Noah melanjutkan langkah, hingga telinganya menangkap sesuatu.


?Akh...


?Sebuah ringisan kesakitan. Suara berat seorang pria dari balik pintu ruangan yang tertutup rapat.


?Ada kilat harapan di hati Noah. Masih ada manusia yang selamat dan sadar. tanpa pikir panjang, ia menggedor pintu itu. "Hei! Apa ada orang di dalam? Buka pintunya!"


?Seketika, suara ringisan itu lenyap. Keheningan yang mencekam kembali menyergap. Noah menahan napas. Apakah ia mulai berhalusinasi karena kehilangan banyak darah? Tidak. Dia yakin dengan apa yang didengarnya.


?BRAK!


?Noah menghantamkan bahunya ke pintu kayu tersebut hingga slot kuncinya jebol. Pintu terbuka, dan hal pertama yang menyambutnya adalah ujung pipa besi tajam yang diarahkan tepat ke tenggorokannya.


?"Jangan bergerak!"


?Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya berantakan, napasnya memburu, dan matanya menyiratkan kombinasi antara ketakutan yang akut dan keputusasaan yang mematikan.


?Noah langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Tenang, tenang.... Namaku Noah. Tadi aku mendengar suara pria kesakitan di dalam sini. Aku kemari untuk membantu."


?Wanita itu melirik cemas ke arah sudut ruangan—tepatnya ke sebuah lemari arsip besar dari besi—sebelum kembali menatap Noah dengan tatapan nanar. "Ka-kamu salah dengar. Tidak ada pria di sini. Itu suaraku!"


?Noah menyipitkan mata. Suara bariton tadi jelas bukan suara wanita di depannya ini. Jelas wanita itu berbohong. "Dengar, matahari akan tenggelam dalam hitungan menit. Kita harus pergi dan mencari tempat berlindung yang lebih aman. Ayo ikut aku."


"Tidak! Aku tidak akan pergi!" seru wanita itu. 


?DUM! BRUK!


?Pintu lemari besi di sudut ruangan mendadak bergetar hebat dari dalam. Sesuatu sedang menghantamnya. Noah secara refleks menurunkan tangannya dan melangkah waspada mendekati lemari tersebut.


?"Kubilang menjauh darinya!" Wanita itu merentangkan kedua tangannya di depan Noah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kumohon... jangan mendekat."


?Melihat gurat kehancuran di wajah wanita itu, langkah Noah tertahan. "Siapa yang ada di dalam sana?"


?"Pacarku... Rowan," bisik wanita itu akhirnya, suaranya bergetar hebat saat ia terduduk lemas di lantai. "Namaku Sarah. Dia... dia terluka parah."


?Noah berlutut di hadapan Sarah yang tampak kehilangan seluruh kekuatannya. "Jika dia terluka, kita harus membawanya. Tapi kenapa kamu menyembunyikannya di dalam sana?"


?DUM! 


Lemari itu kembali bergetar, kali ini diiringi suara napas berat yang terlalu kasar untuk ukuran manusia.


?"Dia terkontaminasi, Noah," tangis Sarah pecah. "Dia menunjukkan gejala yang sama dengan ayahku sebelum... sebelum ayah berubah menjadi monster. Tapi ada yang aneh. Aku... aku bisa bertahan karena ini."


?Sarah membuka telapak tangan kanannya. Di sana, pendar cahaya hijau terang tiba-tiba menyala, menerangi wajah mereka yang kuyu.


?Noah terenyak. "Kamu... punya cahaya itu juga?"


?"Cahaya ini muncul setiap kali aku merasakan emosi atau kesedihan yang mendalam," ujar Sarah sambil menatap telapak tangannya sendiri dengan getir.


Dia kemudian meraih tangan Noah, memeriksa telapak tangannya yang kosong. "Kenapa tanganmu tidak menyala? Apa kamu tidak memilikinya?"


?"Aku memilikinya saat pohon itu muncul, tapi setelah itu... padam. Aku tidak tahu cara menyalakannya lagi," jawab Noah jujur.


?Sarah menatap luka di pergelangan kaki Noah dengan dahi berkerut. "Bagaimana bisa kamu terluka? Waktu aku pingsan dua hari lalu, tanganku robek parah. Tapi begitu aku bangun dan cahaya ini muncul, lukaku hilang tanpa bekas. Kenapa cahayamu tidak menyembuhkanmu?"


?Pertanyaan Sarah membuat Noah terpaku. Jadi, cahaya hijau ini adalah obat? Ataukah sebuah kutukan terikat?


Sebelum Noah sempat merangkai jawaban, Sarah kembali melirik lemari besi itu dengan tatapan kosong. Ada sesuatu yang disembunyikannya, sebuah kepingan teka-teki yang membuat wanita itu ketakutan setengah mati.


?"Sarah," panggil Noah tegas. "Apa lagi yang kamu ketahui? Katakan padaku."


?"Rowan... sebelum dia kehilangan kesadarannya di dalam lemari itu, dia sempat berbisik padaku," suara Sarah nyaris tak terdengar. "Dia memintaku pergi. Dia bilang... dia bukan Rowan lagi. Tapi... ini masih siang, Noah! Matahari belum sepenuhnya tenggelam. Mengapa dia sudah berubah?"


?Benar. Manusia hanya akan berubah menjadi buas saat malam tiba dan kegelapan berkuasa. Jika Rowan berubah di siang hari—meski matahari hanya sisa beberapa menit—artinya ada anomali yang jauh lebih mengerikan sedang terjadi.


?KRAAAKK!


?Pintu lemari besi itu mulai melengkung dari dalam. Kaki runcing tajam terdengar menggores permukaan logam dengan suara yang memilukan telinga.


?"Sarah, menjauh!" Noah menarik paksa lengan Sarah untuk mundur saat engsel lemari itu jebol.


?Pintu lemari besi itu terlempar menghantam meja kerja hingga hancur berkeping-keping. Dari dalam kegelapan lemari, sesuatu merangkak keluar.

?Noah membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak.


?Makhluk yang merangkak keluar itu memiliki tinggi sebesar manusia dewasa, namun kulitnya telah mengelupas dengan rambut yang botak karena rontok dan rahang besar yang dipenuhi gigi-gigi runcing yang meneteskan cairan pekat.

?Itu bukan manusia yang berubah menjadi makhluk aneh yang ganas seperti yang dilihat Noah di jalanan. Itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. 


?"Rowan...?" bisik Sarah dengan bibir yang memutih, menolak mempercayai apa yang tersaji di depan matanya.


?Makhluk itu mendongak, mengeluarkan raungan melengking yang menggetarkan seluruh isi gedung. 


?BERSAMBUNG. 



Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 2)
RaynRyan · 29 Aug 2026 13:57

Cerita kayak gini yg kucaricari

Secret Shiren · 29 Aug 2026 20:15

Makasih karena telah suka Kak. Silakan baca juga karyaku yang lain. Judul : Timestorm : The Rise of Apocalypse

Daftar Bab