Wanita Simpanan Milik Bodyguard Polos

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Suami ganteng anunya gede

?"Cepat balik badan!" pekik Maharani. Ia melempar bantal kursi, boneka beruang, hingga vas bunga plastik, apa saja yang terjangkau tangannya, tepat ke arah dada pria di hadapannya.

?"Baik, Nona! Maafkan saya!" Semesta memutar tubuhnya secepat kilat. Posturnya langsung tegak lurus bagai tiang listrik, membelakangi Maharani dengan kesiapsiagaan penuh.

?"Sambil merem!" tumpah perintah berikutnya, bernada mutlak.

?"Siap, Nona."

?"Awas kalau melirik lagi!" ancam Maharani, melangkah dengan menghentakkan kaki menuju lemari pakaian. Ia menggeledah bagian terbawah, mencari setelan pakaian seadanya.

?Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kaget. Di saat ia sedang sibuk memakai pakaian dalam yang baru saja ditarik dari tumpukan baju, tatapannya menyipit curiga ke arah punggung tegap itu.

?"Kamu sempat lihat, kan?" tanya Maharani.

?"Lihat apa, Nona?" suara Semesta terdengar polos, datar tanpa intonasi.

?"Lihat tubuhku lah! Masa lihat hiasan dinding!"

?Semesta membisu. Pria itu berdiri kaku bagai patung kayu, tidak berani bergeser satu sentimeter pun.

?"Lihat nggak?!" desak Maharani, mendekat dua langkah sambil membetulkan tali bra-nya.

?"Iya, Nona! Maafkan saya!"

?"Sialan!" umpat Maharani, antara kesal dan kegirangan karena berhasil menjebak pria itu. "Kamu lihat bagian mana saja?"

?"Semuanya, Nona."

?"Semuanya itu apa?" Maharani memiringkan kepala, memancing dengan senyum tipis di bibirnya.

?Semesta kembali ragu, namun tugas profesionalismenya seolah menuntut kejujuran mutlak. "Bahu Nona, perut Nona, lengan, kaki, payudara, lalu..."

?"Cukup! Stop!" potong Maharani cepat sebelum daftar itu makin terperinci. "Sekarang, keluar dari kamarku!"

?"Baik, Nona."

?Maharani menaikkan sebelah alisnya. Tumben kali ini dia penurut banget, batinnya heran. Padahal semalam pria ini seperti tembok cina yang keras kepala dan dingin.

?"Apakah saya harus berjalan keluar sambil memejamkan mata juga, Nona?" tanya Semesta. Posisinya masih membelakangi Maharani.

?Maharani melotot, lalu tawa kecil hampir menyembur dari mulutnya. Pria ini benar-benar mengira dirinya masih polos tanpa busana seperti beberapa menit lalu.

?"Iya! Keluar sambil merem!" seru Maharani menjahili.

?"Dimengerti, Nona."

?Semesta mulai melangkah perlahan. Pria berbadan tegap itu mengendap-endap seperti penyusup amatir, tangannya terulur ke depan menepuk-nepuk udara kosong sementara kelopak matanya terpejam rapat.

?Dukkk!

?"Aaaaghh!" Semesta memekik pelan ketika dahi kokohnya menghantam bingkai pintu kayu dengan telak.

?Maharani meremas perutnya, menahan tawa membuncah melihat bodyguard pribadinya yang perkasa itu kini meringis sambil memegangi jidatnya yang memerah.

***

?Langkah kaki Maharani bergema di koridor lantai apartemen kelas atas tersebut. Ia mengenakan gaun malam yang cukup memamerkan lekuk tubuhnya. Namun, baru dua langkah keluar dari pintu, langkahnya terhalang oleh bayangan tinggi yang melangkah keluar dari sudut gelap.

?"Nona mau ke mana?" tanya Semesta. Wajahnya kembali netral, lengkap dengan setelan jas hitam yang rapi dan earpiece menempel di telinga kian mempertegas kesan agen rahasia.

?"Bukan urusanmu. Aku mau ke acara reuni," sahut Maharani dingin, terus melangkah menuju lift di ujung koridor.

?"Saya akan mengawal Nona dari jarak dekat." Semesta menyelaraskan langkah, mengambil posisi tepat satu langkah di belakang bahu kiri Maharani. Matanya bergerak cepat menyapu setiap sudut lorong, seperti radar aktif yang mencari ancaman bergerak.

?Saat pintu lift terbuka dan Maharani hendak melangkah masuk, sebuah tangan kekar menjulur menahan pintu.

?"Tunggu!" tegas Semesta.

?"Apa lagi?"

?"Saya sterilkan dulu." Semesta menerobos masuk lebih dulu. Ia mengeluarkan sebuah alat pemindai sinyal berukuran kecil dari saku jasnya, menyapu setiap sudut piting lampu dan panel tombol lift untuk memastikan tidak ada kamera tersembunyi atau sadapan sinyal.

?"Aman. Silakan masuk, Nona," ujar Semesta formal, berdiri membelakangi dinding lift dengan posisi siap siaga. Maharani hanya memutar matanya malas, melangkah masuk seraya menyilangkan dada.

?Skenario serupa terulang di area parkir bawah tanah yang remang dan dingin. Saat Maharani baru saja hendak membuka pintu pengemudi sedan sport miliknya, Semesta kembali menghadang.

?"Ada apa lagi, Semesta?" desah Maharani gusar.

?"Saya harus memeriksa unit kendaraan Nona."

?"Huuuh..." Maharani menyandarkan punggungnya ke kap mobil, mengawasi Semesta yang merangkak memeriksa bagian kolong kendaraan, kap mesin, hingga menyisir interior mobil. Lima menit berharga terbuang begitu saja.

?"Sudah?" tanyanya retoris saat Semesta keluar.

?"Sudah, Nona. Area aman," kata Semesta seraya membukakan pintu belakang, pintu khusus penumpang.

?"Loh? Kenapa aku harus duduk di belakang? Ini mobilku!" Maharani melotot.

?Tanpa menjawab protes tersebut, Semesta justru menutup pintu belakang setelah Maharani masuk dengan dongkol, lalu pria itu mengambil posisi di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin V6 mobil tersebut hingga menderu halus.

?"Saya yang mengemudikan kendaraan ini. Itu protokol standar keamanan Nona."

?"Enggak! Aku bisa menyetir sendiri! Turun kamu!" perintah Maharani.

?Namun, Semesta seolah mendadak tuli. Tangannya yang berurat memegang kendali kemudi dengan mantap, memindahkan tuas transmisi, dan meluncurkan mobil keluar dari basement menuju jalan raya.

?"Woy! Kamu dengar aku nggak sih?!" cercah Maharani dari kursi belakang.

?Semesta tetap bungkam. Pandangannya lurus menyapu lalu lintas, fokus total seolah sedang mengawal kepala negara.

?"Dasar bodyguard gila! Gemblung!" maki Maharani, menghempaskan punggungnya ke jok kulit. Namun selang beberapa menit, sebuah ide licik terlintas di benaknya.

?"Aww! Sakit!" jerit Maharani dramatis, memegangi pergelangan kakinya.

?Mobil mendadak berhenti di bahu jalan dengan mulus namun cekatan. Mata Semesta berkilat panik di kaca spion tengah. "Ada apa, Nona? Apakah ada indikasi serangan balik?"

?"Kaki aku sakit banget!" keluh Maharani, mengangkat sedikit kakinya untuk memperlihatkan tumitnya. "Ini, lecet gara-gara sepatu high heels ini. Sakit banget, nggak kuat."

?"Lepaskan sepatunya sekarang, Nona."

?"Iya, udah tak lepas. Tapi perih banget. Kamu bisa tolong belikan plester nggak?" Maharani menunjuk ke arah minimarket kecil di seberang jalan raya.

?"Plester luka?"

?"Iya! Itu di toko sana. Cepatlah, sakit nih!" desak Maharani dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat.

?"Baik, Nona. Mohon tetap di dalam kendaraan dan kunci pintu dari dalam." Semesta bergegas keluar dari mobil, melangkah cepat menyeberangi jalan.

?Begitu sosok Semesta menjauh, raut sakit di wajah Maharani lenyap seketika, berganti senyum kemenangan. "Dasar polos!" kekehnya.

?Ia dengan cepat berpindah ke kursi pengemudi untuk langsung tancap gas. Namun, senyumnya mendadak beku. Slot kunci dan tombol start-engine mati total. Remote pintar dan kunci kontak mobil ternyata sudah diamankan Semesta di dalam sakunya.

?"Sialan! Dia bawa kuncinya!" serapah Maharani.

?Tak ada pilihan lain. Maharani melompat keluar dari mobil. Ia harus naik taksi. Namun saat kakinya menyentuh aspal jalanan yang kasar, ia baru sadar bahwa sepatu heels-nya masih tertinggal di jok belakang. Ia berbalik hendak mengambilnya, tapi suara tegas bergema dari jarak lima puluh meter.

?"Nona Maharani! Mau ke mana?!"

?Terlihat Semesta menyadari pergerakannya dan mulai berlari cepat memotong jalan raya menuju ke arahnya.

?"Aduh, mampus!" Maharani panik setengah mati. Tanpa memedulikan kakinya yang telanjang, ia berlari secepat mungkin menelusuri trotoar. Kebetulan, sebuah taksi berwarna kuning melintas slow-motion di depannya. Maharani melambaikan tangan dengan histeris, melompat masuk ke kabin penumpang tepat saat taksi itu berhenti, dan berteriak, "Pak, jalan! Cepat jalan!"

?Taksi itu melesat tepat ketika Semesta hampir menggapai gagang pintu luar. Dari kaca belakang, Maharani tertawa puas melihat Semesta yang berdiri mematung di pinggir jalan, memegangi satu kotak plester obat dengan napas terengah-engah.

***

?Mobil taksi berhenti di pelataran sebuah kafe bernuansa industrial-modern. Suasana di dalam kafe tampak meriah dengan lampu-lampu gantung yang hangat. Acara reuni alumni SMA Maharani sedang berlangsung di sana.

?"Pak, boleh saya sewa sandal jepit Bapak?" tanya Maharani panik pada pengemudi taksi. Ia tidak mungkin masuk ke dalam reuni bergengsi tanpa alas kaki, apalagi menyusuri jalanan kota untuk mencari toko sepatu bisa membuat lokasinya terlacak oleh Semesta.

?"Sandal jepit saya, Mbak?" tanya pengemudi heran, menunjuk sandal karet berwarna hijau yang kusam di bawah pedal.

?Maharani merogoh tas tangannya, menarik beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan melemparkannya ke pangkuan sang sopir. "Ini seratus lima puluh ribu. Cukup kan buat beli sandal baru? Tolong, Pak!"

?Dengan mata berbinar, sang sopir menyerahkan sandalnya tanpa berpikir dua kali. Maharani menyelipkan kakinya yang mungil ke dalam sandal jepit pria yang ukurannya kebesaran tiga nomor itu. Buru-buru ia melangkah keluar menuju pintu masuk kafe, berusaha berjalan seanggun mungkin meski penampilannya sangat kontras: gaun malam glamor dipadu sandal jepit kusam.

?Begitu pintu kaca kafe terdorong, riuh percakapan mendadak surut. Puluhan pasang mata tertuju pada Maharani. Tatapan mereka tidak ramah; sarat akan kebencian dan penghinaan yang sudah tertimbun bertahun-tahun.

?Sejak SMA, Maharani memang dikenal sebagai ratu manipulatif. Cantik, gila, liar, dan tidak ragu merebut apa saja yang ia inginkan, termasuk kekasih teman-temannya sendiri. Dan reputasi buruk itu tidak pernah meredup. Bahkan saat ini pun, ia memang sedang terlibat dalam skandal rumit sebagai wanita simpanan dari seorang pengusaha bernama Toni, suami dari wanita bernama Rani.

?"Wah, lihat siapa yang datang. Si Ratu Pelakor akhirnya menunjukkan batang hidungnya," celetuk sebuah suara nyaring dari sudut meja utama.

?Tawa sinis membahana di seluruh ruangan.

?"Berani juga dia muncul. Kirain sibuk jadi simpanan om-om," timpal alumnus wanita lainnya. "Eh Maharani! Sekarang statusmu apa? Istri simpanan nomor berapa? Atau cuma piaraan mingguan?"

?Dada Maharani berdesir hangat oleh kepulan amarah. Kata-kata mereka menusuk tepat di bagian terlarang, karena semua tuduhan itu memang benar adanya.

?"Jangan hiraukan mereka, Ran," bisik Sandra, satu-satunya teman yang menghampiri Maharani dan menarik lengannya lembut. Sandra adalah satu-satunya orang yang tahu sisi kelam kehidupan Maharani di balik topeng liarnya.

?"Ayo dong, Maharani! Naik ke panggung! Bagikan tips dan trik bagaimana cara menggaet pria beristri sampai kaya raya begitu!" teriak Peti, musuh bebuyutannya sejak era putih-abu-abu.

?"Betul! Naik! Cerita dong!"

?"Maju! Maju! Maju!" sorak barisan alumni itu serempak, terdengar seperti kepungan hyena yang siap mengoyak mangsanya.

?Kepalan tangan Maharani mengencang. Sensasi panas membakar dadanya. Daripada melarikan diri, naluri liarnya justru mengambil alih. Dengan dagu terangkat dan langkah mantap, meski bunyi sandal jepitnya menepuk lantai kayu dengan sumbang, ia naik ke atas panggung kecil di ujung ruangan. Ia menarik mik dari tiangnya.

?"Kalian semua salah besar!" suara Maharani menggelegar melalui pengeras suara, memotong riuh cemoohan.

?Ruangan mendadak hening.

?"Aku memang sudah menikah. Tapi aku tidak menikah dengan pria tua beristri seperti yang otak dangkal kalian bayangkan!" tegas Maharani, mengarang kebohongan terbesar dalam hidupnya demi menyelamatkan harga diri. "Suamiku pria biasa. Tampan, muda, dan dia sangat mencintaiku!"

?Peti tertawa keras dari kursinya. "Bohong! Mana ada pria muda dan tampan yang mau sama cewek racun kayak kamu?! Mana buktinya? Mana suamimu?!"

?"Iya! Dasar pembohong!"

?"Palingan suaminya cuma imajinasi!"

?Serangan verbal kembali bertubi-tubi menyudutkan Maharani. Bintik-bintik peluh mulai membasahi pelipisnya. Ia kehilangan arah, tidak tahu harus menyajikan bukti apa lagi untuk menyumbat mulut-mulut beracun di depannya.

?Tiba-tiba, pintu kaca kafe terdorong keras.

?Seorang pria bertubuh tegap, berwajah keturunan dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam bagai elang, melangkah masuk. Jas hitamnya terpasang sempurna, memancarkan aura dominan yang langsung membungkam seluruh isi kafe.

?"Nona Maharani."

?Maharani terperanjat. "Semesta...?" gumamnya tak percaya. Bisa-bisanya dia melacakku sampai ke sini?!

?Semesta berjalan membelah kerumunan orang-orang yang terpana. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu. Pria itu mengabaikan semua tatapan terpana dari para alumnus wanita yang mendadak menahan napas.

?Di tangannya, Semesta membawa sepasang sepatu high heels berwarna hitam metalik milik Maharani.

?Pria itu berhenti tepat di depan panggung rendah tempat Maharani berdiri. Tanpa ragu sedikit pun, Semesta bertekuk lutut dengan satu kaki di hadapan Maharani. Jemari tangannya yang kekar dan terlatih dengan lembut melepas sandal jepit murahan dari kaki Maharani, lalu perlahan memakaikan sepatu high heels tersebut ke kaki mulus sang Nona.

?Tindakannya begitu presisi, anggun, dan penuh penghormatan yang mutlak.

?Kasak-kusuk langsung pecah di antara kerumunan.

?"Anjay... itu suaminya?"

?"Gila, ganteng banget kayak agen rahasia!"

?"Ganteng parah, keren banget perlakuan ksatria begitu!"

?"Rupanya Maharani nggak bohong. Suaminya bukan om-om!"

?Mendengar bisik-bisik yang berbalik 180 derajat itu, otak cerdik dan liar Maharani langsung bekerja kilat. Kesempatan emas tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.

?Dengan senyum paling menawan dan gerakan yang sangat agresif, Maharani menyambar lengan Semesta yang baru saja berdiri tegak, lalu melingkarkan tangannya erat-erat di lengan berotot pria itu. Ia merapatkan tubuhnya, bersandar manja di bahu tegap sang bodyguard.

?"Perkenalkan semuanya!" seru Maharani penuh kemenangan melalui mikrofon, matanya berbinar licik. "Ini dialah suamiku yang aku ceritakan tadi! Pria tampan yang sangat memanjakanku, dan tentu saja, kami berdua saling mencintai setengah mati!"

?Semesta membeku seketika. Alis tebalnya bertaut tipis, bingung dengan perubahan status mendadak yang diberikan oleh kliennya tersebut di depan umum. Namun sebelum ia sempat membuka mulut untuk mengoreksi, Maharani makin mempererat pelukannya dan mencubit pinggang pria itu secara sembunyi-sembunyi sebagai sinyal mutlak: Diam dan ikuti permainanku!

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab