Ikhlas Tersakiti Karena Menyakiti
Bab 1 dari 8
Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita datang dengan niat untuk tinggal.
Sebagian datang untuk menemani perjalanan yang panjang. Sebagian hanya berjalan bersama kita untuk beberapa waktu, lalu memilih arah yang berbeda. Ada pula yang kehadirannya begitu singkat, tetapi meninggalkan sesuatu yang bertahan jauh lebih lama daripada keberadaannya.
Mungkin kita sering mengira bahwa sebuah pertemuan hanya tentang menemukan seseorang.
Padahal, terkadang sebuah pertemuan adalah tentang menemukan bagian dari diri kita sendiri.
Kita menemukan bagaimana rasanya dipercaya. Bagaimana rasanya kehilangan. Bagaimana rasanya dipahami, atau justru tidak dimengerti sama sekali. Kita belajar tentang batasan dari seseorang yang melanggarnya, belajar tentang ketulusan dari seseorang yang memberikannya, dan belajar tentang diri sendiri dari hal-hal yang tidak pernah kita sangka akan kita rasakan.
Setiap orang membawa sesuatu ketika datang ke dalam hidup kita.
Ada yang membawa tawa.
Ada yang membawa pelajaran.
Ada yang membawa luka.
Dan ada yang membawa semuanya sekaligus.
Kita tidak pernah benar-benar tahu akan menjadi apa sebuah pertemuan ketika pertama kali terjadi. Seseorang yang awalnya hanya kita anggap sebagai orang biasa, bisa menjadi begitu berarti. Sebaliknya, seseorang yang pernah kita pikir akan selalu ada, bisa menjadi seseorang yang akhirnya hanya tinggal sebagai cerita.
Begitulah hidup berjalan.
Tidak semua yang kita sayangi akan menetap. Tidak semua yang kita kehilangan berarti gagal kita pertahankan. Dan tidak semua yang menyakiti kita datang untuk menghancurkan.
Ada luka yang justru membuat kita mengenal batas diri.
Ada kehilangan yang mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada sesuatu di luar diri kita.
Ada kekecewaan yang membuat kita belajar bahwa ekspektasi tidak selalu berjalan searah dengan kenyataan.
Dan ada perpisahan yang akhirnya membuat kita mengerti bahwa melepaskan bukan selalu berarti kalah.
Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan:
Dalam setiap hubungan, kita tidak hanya berperan sebagai seseorang yang menerima.
Kita juga memberi.
Kita juga memengaruhi.
Kita juga mungkin meninggalkan luka.
Terkadang kita terlalu sibuk mengingat bagaimana seseorang menyakiti kita, sampai lupa bahwa mungkin pernah ada seseorang yang merasakan hal yang sama karena kita.
Bukan berarti semua luka harus dipertukarkan.
Bukan berarti kesalahan harus dibalas dengan kesalahan.
Hanya saja, mungkin sesekali kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
“Selama ini, aku hadir sebagai apa dalam hidup orang lain?”
Apakah sebagai seseorang yang membuat mereka merasa aman?
Atau justru sebagai seseorang yang membuat mereka belajar bertahan?
Pertanyaan itu tidak selalu nyaman.
Karena mungkin jawabannya tidak selalu sesuai dengan versi diri yang ingin kita percaya.
Kita ingin melihat diri kita sebagai orang baik. Dan mungkin memang kita berusaha menjadi baik. Tetapi menjadi baik tidak berarti kita tidak pernah salah.
Kita bisa mencintai seseorang dan tetap menyakitinya.
Kita bisa menyayangi keluarga dan tetap membuat mereka kecewa.
Kita bisa menghargai seorang teman dan tetap mengatakan sesuatu yang membekas di hatinya.
Kita bisa memiliki niat yang baik, tetapi tetap menghasilkan sesuatu yang buruk.
Karena niat dan dampak tidak selalu berjalan beriringan.
Mungkin di situlah proses bertumbuh sebenarnya dimulai.
Bukan ketika kita menyadari bahwa orang lain pernah menyakiti kita.
Tetapi ketika kita berani menyadari bahwa kita pun pernah menjadi seseorang yang menyakiti.
Dan mungkin, tidak ada yang benar-benar siap untuk menerima kenyataan itu.
Sebab jauh lebih mudah menjadi korban daripada mengakui bahwa kita pernah menjadi penyebab.
Namun hidup bukan tentang memilih satu peran dan menetap di dalamnya.
Hari ini kita mungkin sedang terluka.
Besok, mungkin kita yang harus meminta maaf.
Hari ini kita mungkin merasa tidak dimengerti.
Besok, mungkin kita yang perlu belajar memahami.
Hari ini kita mungkin sedang berusaha memaafkan seseorang.
Dan suatu hari nanti, mungkin ada seseorang yang sedang berusaha memaafkan kita.
Kita semua pernah berada di kedua sisi.
Hanya saja, tidak selalu pada waktu yang sama.
Maka mungkin, setiap pertemuan memang membawa luka dan pelajaran dengan caranya masing-masing.
Bukan untuk membuat kita takut bertemu lagi.
Bukan pula untuk membuat kita berhenti percaya kepada orang lain.
Melainkan untuk mengajarkan satu hal sederhana:
Bahwa setiap kali seseorang hadir dalam hidup kita, ada hati yang ikut terlibat.
Dan hati, bagaimanapun bentuknya, selalu layak untuk diperlakukan dengan hati-hati.
Sebab kita tidak pernah tahu seberapa jauh sebuah perkataan akan tinggal di dalam ingatan seseorang.
Kita tidak pernah tahu seberapa lama sebuah sikap akan membekas.
Dan kita tidak pernah tahu, mungkin saja, seseorang sedang berusaha sembuh dari sesuatu yang bahkan sudah lama kita lupakan.
Jadi sebelum kita bertanya mengapa seseorang meninggalkan luka dalam hidup kita, mungkin sesekali kita juga perlu bertanya—
Luka seperti apa yang pernah kita tinggalkan dalam hidup orang lain?
Mungkin jawabannya akan menyakitkan.
Tapi mungkin, dari sanalah perjalanan untuk menjadi lebih baik benar-benar dimulai.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya