Bab 1 dari 36
Rohaniah Ridawati namaku. Orang-orang biasa memanggilku Wati atau Rida. Kampung Kayu Jati yang terletak di pelosok timur, Lombok, merupakan tempatku tinggal bersama sang bapak. Ibuku sudah lama meninggalkanku ke hadapan Ilahi dan sang bapak lebih dulu. Kata orang-orang, ibuku semasa hidup sering kemasukan jin jahat yang berdomisili di kampung kami sendiri, lalu mati terbunuh saat melompat dari atas bukit tinggi yang menjulang di utara Lapangan Kayu Jati. Menurut seorang belian (dukun) sakti yang sering menjadi andalan orang-orang sekampung untuk berobat—khusus masalah atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dokter umum—ibuku mampus bukan karena kehendak diri sendiri. Melainkan jin jahat yang sering memasuki tubuhnya tanpa izin itulah yang menggerakkan tubuhnya.
Walau demikian, aku juga sadar bahwa kematian hanya kehendak Tuhan. Sungguh malang nasib ibuku. Betapa malang bapakku yang begitu sedih atas kematian istrinya. Mana kala kehilangan membuat kami larut dalam kesedihan, sebagian orang menyebarkan rumor aneh mengenai kematian ibuku. Beberapa orang berkata keluarga kami dikutuk. Lainnya mencela bahwa ini hukuman Tuhan karena Bapak pernah memiliki utang pada iblis jahat.
Kami bukan orang kaya, juga tidak terlalu miskin. Setidaknya untuk makan sehari-hari, kami tak pernah merasa kekurangan. Bapak bekerja di kebun dan sawah milik orang. Ia bercocok tanam saat ada yang meminta, lalu membagi hasilnya dengan pemilik sawah ketika musim panen tiba.
Aku, seorang gadis belia yang baru memasuki usia 18 tahun. Di usia semuda itu, aku telah ratusan kali mendengar gosip tentang keluarga kami dari mulut-mulut orang kampung yang merasa paling memiliki kebenaran. Ah, kupikir aku tak berhak ikut campur, apalagi membantah sebab aku hanya gadis ingusan yang lahir kemarin sore. Namun, terlalu lama gosip-gosip keparat itu dibiarkan menyebar layaknya virus yang berkembang biak, kedua telingaku ternyata bisa panas juga. Darahku mendidih, menjadikanku orang yang paling membenci kampungku sendiri. Kebencian itu melahirkan dendam di dalam benakku yang terus dibesarkan sikap angkuh dan sifat peduli setan.
“Lihat, tuh, si Wati. Makin hari makin cantik aja dia. Tapi malang juga nasibnya. Dia harus menanggung dosa orang tuanya sendiri. Semoga saja dia tidak jadi seperti ibunya dulu yang suka kesurupan.”
“Buah tidak jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Entah dia bakal mengikuti jejak ibunya atau justru ayahnya. Biasalah. Ayahnya, kan, suka minta-minta mantra yang mujarab ke dukun-dukun. Dan lagi pula, lahirnya si Wati itu, kan, karena dia punya perjanjian sama salah satu jin penunggu kampung ini.”
Obrolan demikian terus berulang setiap hari. Selalu terjadi pada saat aku ke warung Bu Hikmah demi membeli kebutuhan dapur dan memasak. Betapa heran aku pada mereka yang tak malu membicarakan orang lain pada saat orang yang mereka bicarakan bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Mereka bukan pemuda atau pemudi. Kebanyakan dari mereka yang membicarakanku adalah pria dan wanita separuh baya. Sambil mengudut dan mengopi, tampaknya hanya keluargaku yang menjadi perbincangan paling hangat yang membuat pagi mereka berwarna. Padahal masih banyak topik yang bisa dibicarakan selain aku dan sang bapak. Membicarakan harga tanah yang makin naik di kampung kami, bicara tentang lapangan pekerjaan yang makin sedikit, tentang hama yang menyerang sawah-sawah, atau mungkin selebriti Sandiwara Radio yang sedang naik daun. Akan tetapi, semua topik tersebut sepertinya kalah menarik dibandingkan rumor tentang keluargaku yang terlanjur merebak.
Walaupun rumor-rumor tentang keluargaku tak pernah absen kudengar tiap pagi dan sore, tapi aku tak pernah sedikit pun bertanya pada Bapak perihal kebenarannya. Sungguh tak tega aku karena begitu mengerti kesedihan serta hancur hatinya. Jangan tanya padaku apakah benar Bapak memiliki perjanjian dengan iblis hanya untuk melahirkanku ke dunia. Juga jangan tanya padaku apakah almarhumah Ibu benar-benar mati terbunuh jin jahat itu.
Sungguh aku tak tahu, terlebih tak peduli pada semua hal yang aku dengar dari tetangga-tetanggaku yang mulutnya tak pernah berhenti mencerocos membicarakan keburukan orang lain. Betul-betul aku menjadi apatis terhadap setiap gosip buruk mengenai keluargaku. Lagi pula, aku tak percaya dengan hal-hal mistis. Meskipun orang-orang kampung pasti sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Namun, bagiku yang tak pernah melihat dengan mata dan kepala sendiri, semua itu hanya bualan dan omong kosong. Ya, paling-paling gosip itu disebarkan oleh orang tak bertanggung jawab yang sedari dulu membenci keluargaku. Atau paling-paling juga disebarkan oleh pesaing bisnis bapakku atas motif kecemburuan sosial.
Begitu aku selesai dilayani Bu Hikmah, aku pergi dengan emosi tertahan. Tak satu pun dari para penggosip itu menyapa atau sekadar berbasa-basi padaku. Yang mereka tinggalkan hanya kemarahan dan kebencian di dada, yang kemudian terpupuk dan disirami keinginan kuat untuk membalas dendam. Namun, aku berusaha keras menahan setiap aliran keinginan itu. Aku tak ingin membalas setiap keburukan mereka pada keluargaku dengan keburukan pula. Meskipun aku bukan gadis soleha, setidaknya aku mengerti dendam tak begitu baik bagi kesehatan mental dan jantungku.
Telah aku berkata tak peduli dan tidak percaya pada semua hal mistis yang biasa dipercaya orang-orang di kampung. Akan tetapi, satu ketika aku terjebak dalam dilema yang memuncak. Otak selalu menolak kepercayaan primitif tersebut, tetapi hati berkata sebaliknya.
Tepat setelah pulang berbelanja, Bapak menemuiku di dapur ketika baru saja selesai menyiapkan makan siang.
“Wati,” panggil bapakku.
“Iya, Pak? Bapak mau makan sekarang?” tanyaku sambil menatap beliau yang berdiri di depanku sambil membawa tas keresek hitam yang aku tak tahu isinya.
“Tidak, Nak,” jawab bapakku. “Ini, bapak mau minta tolong sama Wati. Tolong, antarkan pesanan jagung Bu Hamidah dari kampung sebelah. Wati tahu, kan, Bu Hamidah?”
Aku mengangguk dengan cepat, lalu mengambil sekantong keresek jagung dari tangan sang bapak. “Bu Hamidah yang suka datang pagi-pagi untuk pesan jagung dan rempah-rempah sama Bapak?”
“Iya, dia Bu Hamidah. Dia salah satu langganan bapak. Tolong, ya. Soalnya pinggang dan kaki bapak lagi kumat. Tidak bisa berjalan jauh. Kamu mau, ya?”
Aku menatap wajah bapakku yang kulitnya berkeriput, terutama di bagian kantung matanya. Bapakku mungkin terlalu banyak bergadang. Meskipun aku sudah sering kali memperingatkan untuk tidak tidur terlalu larut, Bapak selalu menjawab bahwa dia sangat sulit bisa tidur. Memaklumi diriku karena mungkin Bapak sangat kesepian setelah kehilangan sang istri. Aku tak sanggup memaksakan kehendak karena setiap kali kulihat ia terjaga hingga dini hari, foto Ibu selalu berada dalam genggamannya.
Setelah sedikit mempertimbangkan permintaan Bapak, aku manggut-manggut. “Baik, Pak. Wati bakal antar jagungnya. Wati bilang dari Bapak, ya. Kalau begitu, mungkin Wati pulangnya bakalan agak sore. Bapak jangan kerja terlalu capai, ya. Bapak juga harus istirahat.”
“Iya. Bapak mengerti. Bapak akan istirahat. Sebelum berangkat, kita makan saja dulu, ya. Ayo, kita makan.”
Untuk pergi ke kampung sebelah yang jaraknya cukup jauh dari Kampung Kayu Jati, aku harus mencari delman di pasar. Letak pasar tak terlalu jauh dari rumah. Namun, jalannya tidak begitu bagus. Aku harus melewati jalan penuh bebatuan, juga menanjak di bukit yang tak terlalu tinggi. Jangan tanya soal aspal. Kampungku saja letaknya amat pelosok, belum ada aspal halus seperti yang ada di kota-kota besar.
Beruntungnya aku masih sangat muda sehingga untuk berjalan ke pasar bukan hal yang melelahkan. Jika bapakku yang melakukannya, pinggang dan kakinya bakalan makin kumat dan akhirnya bisa sakit berhari-hari. Kalau Bapak sakit, kami tak akan bisa makan. Untuk itulah, aku sangat menghomatinya. Apa pun yang Bapak perintahkan, pasti aku lakukan.
Setelah puluhan menit berjalan kaki dengan bintik-bintik keringat yang bertengger di leher dan wajahku, akhirnya tiba juga aku di pasar. Kedua kakiku menapak di tanah kering nan berdebu Pasar Kayu Jati. Gemuruh serta riuh rendah suara dari mulut-mulut pedagang dan pembeli menghunjam telinga. Pasar memang sudah pasti ramai. Jika tak ramai, mungkin namanya bukan pasar. Atau justru pasar yang menyalahi kodratnya sebagai pasar.
Yang jauh lebih penting, aku harus menemukan delman. Tak sulit mencari delman di pasar, tentu saja. Akan tetapi, yang sulit adalah mencari tukang delman yang mau mengantar hingga Kampung Kayu Manis. Karena akses jalan menuju kampung tersebut sangat tak bagus, tukang delman jarang ada yang mau mengantar sampai ke pintu masuk perkampungan. Para tukang delman di Pasar Kayu Jati pun kebanyakan berasal dari Kampung Kayu Jati sendiri. Paling tidak, aku punya langganan tetap, yang biasanya berbaik hati mengantarku ke Kampung Kayu Manis. Namanya Pak Sukar.
Begitu aku melihat batang hidung pria separuh baya yang selalu mengenakan ikat kepala cokelat bermotif bunga itu, gegas aku berjalan menemuinya yang tengah duduk santai sambil mengudut di atas delman kesayangannya.
“Pak Sukar!” panggilku penuh semangat, dengan harapan ia mengerti kebutuhanku.
“Dik Wati. Tumben ke pasar lagi. Udah lama tidak ketemu. Bapakmu sehat?”
Pak Sukar memang ramah orangnya. Tak seperti kebanyakan orang di Kampung Kayu Jati yang tidak senang terhadap bapakku, dia justru sebaliknya.
“Alhamdulillah sehat, Pak. Sebetulnya saya bukan mau ke pasar, Pak,” balasku. Agak sungkan memang mau meminta bantuan pada pria itu. Kasihan karena sudah tua. Dia bahkan jauh lebih tua dari bapakku. Jika boleh memperkirakan, setidaknya Pak Sukar berusia sekitar 60 tahunan. Sementara bapakku baru menginjak 55 tahun.
“Loh, lalu? Dik Wati ada keperluan dengan saya?”
Aku mengangguk pelan sambil menyengir. “Iya, Pak.” Kuangkat tas keresek besar berisi jagung yang aku bawa dari rumah. “Ini, Pak. Saya diminta Bapak mengantar jagung ke Kampung Kayu Manis. Dan—” lanjutku yang kemudian dipotong Pak Sukar.
“Ayo, naik! Tak perlu sungkan begitu. Saya dan bapakmu itu sudah kenal sangat lama. Bahkan sebelum kamu lahir. Jangan sungkan-sungkan sama saya. Ayo, saya antar sampai ke pintu masuk Kayu Manis.”
Aku semringah dan antusias. Untungnya aku sangat percaya Pak Sukar adalah orang baik. Gegas aku naik ke delman. Pak Sukar langsung memerintahkan kudanya berjalan. Tak ada kendala dalam perjalanan menuju Kampung Kayu Manis. Pak Sukar bahkan berbaik hati menungguku hingga usai menemui Bu Hamidah. Pada saat kami pulang dari Kayu Manis, ketinggian matahari tinggal sejengkal lagi dari cakrawala. Sekian menit lagi ia akan tenggelam. Ternyata kami harus melalui jalan yang amat gelap gulita untuk tiba di Kayu Jati.
“Semoga tidak ada apa-apa dalam perjalanan pulang. Kamu berdoa saja,” ucap Pak Sukar sebab mengetahui bahwa aku amat gelisah.
“Iya, Pak. Semoga tidak ada apa-apa.”
Sungguh wajar aku gelisah. Bahkan jika ketakutan melanda, itu adalah hal yang manusiawi. Meskipun aku tak percaya sebuah rumor, tapi makin gelap membungkus bumi, membuatku tak punya pilihan untuk percaya. Burung-burung gagak dan hantu mulai terdengar di seluruh area yang kami lewati. Pernah kudengar beberapa orang berkata, hutan yang kami lewati menuju jalan pulang ditinggali berbagai makhluk yang bukan dari golongan manusia. Bahkan beberapa orang ada yang mengatakan, ada pula makhluk yang setengah manusia.
“Astagfirullah!” jerit Pak Sukar tiba-tiba yang seketika itu membuat jantungku nyaris mencelos, dan bola mataku membelalak. Benak makin sering memohon doa untuk keselamatan kami.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya