Oleh Tedi Cahyono
Jadi affiliator, dapat komisi tiap ada yang checkout lewat link Anda.
Ketika mendapat tugas mendata ulang situs-situs peninggalan Islam di Bengkulu, Aya, seorang arkeolog muda dari Balai Arkeologi Palembang, mengira ia hanya akan menjalankan pekerjaan rutin: memotret nisan, mencatat koordinat, dan mewawancarai para penjaga makam.
Namun anggapan itu berubah sejak pertemuannya dengan Ibu Aswaida di Pondok Kelapa, yang menceritakan bagaimana ratusan nisan Batu Aceh satu demi satu hilang dicuri sejak dekade 1980-an. Saat itulah Aya menyadari bahwa yang sedang ia telusuri bukan sekadar situs bersejarah, melainkan ingatan sebuah peradaban yang perlahan dilupakan.
Perjalanannya membawanya menyusuri pesisir, lembah, hingga pedalaman Bengkulu. Di setiap tempat, ia menemukan kisah yang nyaris tenggelam oleh waktu.
Legenda tujuh tukang Cina yang dikorbankan demi kejayaan istana, makam seorang ulama di gumuk pasir yang terus diterpa angin Samudra Hindia, jejak pendiri kerajaan yang selama berabad-abad hanya hidup dalam cerita tutur, hingga kompleks pemakaman kuno yang kini berubah menjadi taman kota dan kawasan permukiman.
Semakin jauh pencariannya, semakin jelas bahwa ancaman terbesar bukanlah usia makam-makam itu. Tapi hilangnya ingatan manusia.
Banyak situs telah rusak, tertutup semak, bahkan lenyap di bawah pembangunan. Generasi muda tak lagi mengenal nama para tokoh yang dahulu membangun kerajaan dan membawa Islam ke Tanah Lada.
Di antara nisan-nisan yang aus dimakan waktu, Aya menemukan sebuah makam dengan inskripsi Arab yang nyaris tak terbaca dan sepotong nama yang terputus: Maryam binti...
Penemuan kecil itu berubah menjadi obsesi yang menuntunnya pada rangkaian pertanyaan tentang sejarah yang sengaja atau tidak sengaja dibiarkan menghilang.
Melalui penelusuran itu, Aya perlahan merangkai kembali kisah masuknya Islam ke Bengkulu. Bukan melalui penaklukan, melainkan lewat pelayaran para pedagang, perkawinan lintas budaya, dakwah yang penuh kebijaksanaan, serta hubungan erat antara para ulama dengan kerajaan-kerajaan lokal. Namun ia juga menyaksikan bagaimana kejayaan itu memudar, meninggalkan makam-makam tanpa nama dan jejak-jejak sejarah yang nyaris lenyap dari ingatan masyarakat.
Di hadapan azan magrib yang berkumandang dari sebuah masjid tua yang telah berwajah baru, Aya akhirnya memahami bahwa sejarah bukan hanya tentang menemukan apa yang hilang. Melainkan tentang memastikan apa yang masih tersisa tetap memiliki suara. Sebab selama masih ada yang mau mendengar dan menceritakannya kembali, jejak itu tidak akan pernah benar-benar mati.
Jejak Azan di Tanah Lada adalah novel sejarah yang diangkat dari penelitian arkeologi dan tradisi lisan masyarakat Bengkulu. Memadukan fakta sejarah dengan fiksi, novel ini menghidupkan kembali jejak awal Islam di pesisir barat Sumatra. Sebuah kisah tentang pencarian, kehilangan, dan ikhtiar menjaga ingatan sebelum semuanya benar-benar hilang.
Fisik
Rp 110.000
Bisa Dipesan (Pre-Order)Belum ada ulasan untuk buku ini.