Koridor Kelas

Bab 2 dari 3

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Tugas Yang Mempertemukan

Selasa pagi datang tanpa meminta izin. Arka Elvano tiba di sekolah dua puluh menit lebih awal. Bukan karena tiba-tiba ia menjadi siswa paling rajin sedunia. Ia hanya tidak ingin mengulang kejadian kemarin ketika Pak Joko hampir menganggapnya sebagai calon penghuni tetap ruang BK.

Langit masih berwarna abu-abu ketika Arka melewati gerbang sekolah. Lapangan masih basah oleh hujan semalam. Beberapa anak sedang menyapu halaman, sementara suara bola basket terdengar dari gedung olahraga.

Sekolah pada pagi hari selalu terasa berbeda. Lebih jujur. Belum banyak suara tawa. Belum banyak kepura-puraan. Orang-orang masih menjadi dirinya sendiri sebelum keramaian membuat mereka kembali memakai wajah masing-masing.

Arka naik ke lantai dua. Kelas XI IPS 2 masih hampir kosong. Ia meletakkan tas di kursinya. Kemudian tanpa sadar matanya langsung mencari bangku di sebelah jendela. Kosong. Arka mengernyit. Kemarin Elara berkata akan duduk di sana lagi. Mungkin terlambat. Mungkin ada urusan. Mungkin—"Jangan bilang kamu kecewa."

Suara Keenan membuat Arka menoleh. Keenan berdiri di pintu kelas sambil membawa roti cokelat.

"Apa?"

"Bangkunya kosong."

"Memangnya kenapa?"

Keenan berjalan mendekat.

"Kamu lihat bangku itu sejak masuk."

"Nggak."

"Iya."

"Nggak."

"Arka."

"Apa?"

"Kalau bohong, jangan sambil melihat ke sana."

Arka mengambil buku.

"Kamu terlalu banyak memperhatikan orang."

Keenan menggigit rotinya.

"Karena hidupku tidak sesepi hidupmu."

Arka mendengus.

"Pacar saja nggak punya."

"Justru karena itu aku punya banyak waktu untuk mengamati hubungan orang lain."

"Logikamu aneh."

"Yang penting konsisten."

Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari koridor. Arka tidak menoleh. Setidaknya ia berusaha tidak menoleh. Namun suara seseorang berhenti tepat di samping mejanya.

"Maaf."

Arka mendongak.

Elara. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja terburu-buru. Ada beberapa helai rambut jatuh di dekat pipinya. Ia membawa dua buku dan sebuah map biru.

"Kenapa minta maaf?"

"Aku kira kamu sudah duduk di tempatku."

Arka menggeser kursinya sedikit.

"Ini bukan tempat siapa-siapa."

Elara duduk.

"Tapi kemarin kamu yang bilang ini bangkumu."

"Aku bilang aku biasa duduk di sini."

Elara tersenyum.

"Berarti mulai sekarang kita berbagi."

"Berbagi bangku?"

"Iya."

Keenan yang mendengar dari belakang langsung menyahut.

"Berbagi kehidupan sekalian."

Arka menoleh.

"Keenan."

"Apa?"

"Diam."

Elara tertawa kecil. Dan pagi itu dimulai dengan sesuatu yang sederhana. Dua orang duduk bersebelahan. Satu jendela. Dua buku. Dan jarak yang perlahan terasa semakin pendek.

}}}{{{

Jam kedua, Bu Rania masuk membawa beberapa lembar kertas.

"Anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, saya mau menyampaikan sesuatu."

Kelas yang tadinya ribut mulai tenang.

Bu Rania meletakkan kertas di meja.

"Seperti yang sudah diumumkan kemarin, sekolah akan mengadakan Festival Literasi dan Dokumentasi bulan depan."

Beberapa anak langsung bersorak.

"Untuk acara itu, sekolah membentuk tim media siswa."

Keenan langsung menoleh kepada Arka.

Arka pura-pura tidak melihat.

"Tim ini bertugas membuat dokumentasi kegiatan, wawancara siswa, menulis artikel, membuat video pendek, dan mengelola majalah khusus untuk festival."

Bu Rania mengangkat beberapa nama.

"Arka Elvano."

Arka mengangkat tangan.

"Elara Alesha."

Elara menoleh.

"Ya, Bu."

"Kalian berdua masuk tim inti bagian tulisan dan dokumentasi."

Keenan langsung bertepuk tangan.

"Ciyee."

Arka menendang kaki kursinya.

"Apaan sih?"

Bu Rania melanjutkan.

"Selain itu ada Keenan, Naura, Zayn, dan Celine."

Seorang siswi di depan menoleh.

"Bu, timnya langsung ditentukan?"

"Karena kalian punya pengalaman berbeda-beda."

Bu Rania melihat Arka.

"Arka sudah lama menulis untuk majalah sekolah."

Kemudian melihat Elara.

"Elara punya pengalaman membuat tulisan dan dokumentasi di sekolah sebelumnya."

Arka menoleh kepada Elara.

"Kamu pernah?"

Elara mengangguk.

"Sedikit."

"Kenapa nggak bilang?"

"Kamu nggak tanya."

Arka tersenyum.

"Benar juga."

Bu Rania membagikan lembar tugas.

"Untuk tugas pertama, kalian harus membuat satu tulisan tentang kehidupan siswa di sekolah ini."

Keenan mengangkat tangan.

"Bu, boleh tentang kantin?"

"Kalau menurutmu kehidupan siswa hanya tentang makanan, boleh."

Satu kelas tertawa. Keenan mengangguk serius.

"Menurut saya, Bu, makanan adalah bagian penting dari kehidupan."

"Silakan nanti tulis sendiri."

Kelas kembali tertawa. Arka melihat lembar tugas.

Tema: Sekolah dari Sudut Pandang Siswa.

Ia membaca kalimat itu beberapa kali. Entah kenapa, ia menyukainya. Sekolah dari sudut pandang siswa. Bukan sekolah yang dilihat kepala sekolah. Bukan sekolah yang diceritakan dalam brosur penerimaan murid. Tetapi sekolah yang benar-benar mereka jalani. Tentang kantin. Tentang tugas. Tentang persahabatan. Tentang seseorang yang menangis diam-diam di toilet. Tentang siswa yang selalu tidur di kelas karena bekerja sampai malam. Tentang anak yang setiap hari terlihat bahagia tetapi pulang ke rumah dengan masalahnya sendiri. Tentang hal-hal yang tidak pernah masuk laporan sekolah. Elara membaca lembar itu dari sampingnya.

"Bagus."

Arka menoleh.

"Kamu suka?"

"Iya."

"Kenapa?"

Elara memainkan ujung pulpennya.

"Karena biasanya orang hanya menulis tentang sesuatu yang terlihat bagus."

Ia berhenti.

"Padahal yang tidak terlihat kadang justru paling penting."

Arka menatapnya. Kalimat itu terdengar terlalu dewasa untuk seseorang yang baru beberapa hari duduk di kelasnya.

"Kamu sering berpikir begitu?"

Elara tersenyum tipis.

"Mungkin."

Kemudian ia kembali melihat buku. Arka tidak bertanya lebih jauh. Namun kalimat itu tertinggal di kepalanya.

Sepulang sekolah, tim media berkumpul di perpustakaan. Ruangan itu tidak terlalu besar. Rak-rak buku berdiri rapat di sepanjang dinding. Pendingin udara terdengar berisik. Beberapa meja panjang diletakkan di tengah.

Naura Elvienne sudah datang. Celine membawa laptop. Zayn membawa kamera. Keenan membawa—"Kenapa kamu bawa mi?" Arka menunjuk bungkus mi instan di tangan Keenan.

"Makan."

"Kita rapat."

"Rapat juga butuh energi."

Celine menggeleng.

"Kamu nggak pernah serius."

Keenan membuka bungkus mi.

"Aku serius soal makanan."

Elara duduk di samping Arka. Naura memperhatikan mereka sebentar. Kemudian tersenyum.

"Baru beberapa hari sudah duduk sebelahan terus."

Elara menoleh.

"Karena tempat duduknya memang begitu."

Keenan tertawa.

"Jawaban aman."

Arka menatapnya.

"Kalau kamu ngomong lagi, aku lempar kamera Zayn."

Zayn langsung memeluk kameranya.

"Jangan libatkan aku."

Mereka mulai membagi tugas. Celine menangani desain. Zayn dokumentasi foto dan video. Naura mengurus media sosial. Keenan bagian publikasi. Arka dan Elara menulis artikel utama.

"Berarti kita harus wawancara siswa," kata Elara.

Arka mengangguk.

"Besok mulai."

"Besok?"

"Kalau mau selesai tepat waktu."

Elara menghela napas.

"Baiklah."

"Takut?"

"Nggak."

"Kelihatannya takut."

Elara menatapnya.

"Aku cuma sedang menghitung berapa banyak energi yang harus aku habiskan untuk menghadapi kamu."

Arka tertawa kecil.

"Berarti banyak?"

"Sepertinya."

Untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada musik. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua remaja yang duduk di perpustakaan sekolah, membicarakan tugas. Tetapi terkadang perasaan memang tumbuh dari sesuatu yang tidak kita sadari.

Dari percakapan yang awalnya biasa. Dari seseorang yang perlahan menjadi orang pertama yang kita cari ketika masuk kelas. Dari kebiasaan kecil yang tiba-tiba terasa penting.

Sore mulai turun ketika rapat selesai. Satu per satu anggota tim pulang. Arka memasukkan buku ke tas. Elara masih merapikan kertas.

"Aku pulang naik bus," katanya.

"Bus?"

"Iya."

"Rumahmu jauh?"

"Lumayan."

Arka mengangguk.

"Aku juga lewat arah terminal."

Elara menatapnya.

"Kamu mau naik bus juga?"

"Iya."

"Berarti bareng?"

Arka terdiam sesaat.

"Boleh."

Mereka berjalan keluar sekolah. Koridor sudah sepi. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membentuk garis panjang di lantai. Elara berjalan sambil memeluk map birunya. Arka membawa kamera sekolah.

"Arka."

"Hm?"

"Kamu kenapa suka menulis?"

Pertanyaan itu membuat langkah Arka melambat.

"Karena aku nggak terlalu pintar bicara."

Elara tersenyum.

"Tapi kamu banyak bicara kalau sama Keenan."

"Itu pengecualian."

"Kalau sama aku?"

Arka menoleh.

"Belum tahu."

Elara tertawa kecil. Mereka terus berjalan.

"Kalau kamu?"

Arka balik bertanya.

"Kenapa suka menulis?"

Elara diam cukup lama. Kemudian menjawab,

"Karena ada hal-hal yang sulit diucapkan."

Arka menatapnya.

"Jadi ditulis?"

"Iya."

"Supaya?"

Elara memandang halaman sekolah yang mulai kosong.

"Supaya tidak hilang."

Jawaban itu membuat Arka tidak bertanya lagi. Ada sesuatu dalam cara Elara mengatakannya. Seolah tulisan bukan sekadar hobi. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pertahankan agar tetap hidup.

}}}{{{

Di depan gerbang, mereka berpisah sementara. Namun sebelum Elara berjalan menuju halte, sebuah suara terdengar.

"Elara!"

Seorang siswa laki-laki berdiri di seberang jalan. Seragamnya berbeda. Bukan dari sekolah mereka. Elara berhenti. Wajahnya langsung berubah. Arka melihat itu. Anak laki-laki itu berjalan mendekat. Namanya Rivan. Arka belum pernah melihatnya sebelumnya.

"Kamu benar-benar pindah ke sini."

Elara diam. Rivan tersenyum tipis.

"Kenapa nggak bilang?"

"Aku nggak perlu bilang ke kamu."

Arka memperhatikan dari kejauhan. Ada ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan. Rivan melihat Arka.

"Teman baru?"

Elara tidak menjawab. Rivan tertawa kecil.

"Bagus."

Ia kembali menatap Elara.

"Kamu pikir pindah sekolah bakal bikin semuanya selesai?"

Elara menggenggam map lebih erat.

"Pergi, Riv."

"Aku cuma mau bicara."

"Aku nggak mau."

Rivan menghela napas.

"Kamu tetap sama."

Elara menatapnya.

"Kamu juga."

Rivan terdiam. Kemudian ia pergi. Elara tetap berdiri di tempat. Arka tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya ia mendekat.

"Dia siapa?"

Elara tidak menjawab.

"Teman?"

"Tidak."

"Mantan?"

Elara menatap Arka.

"Kenapa kamu ingin tahu?"

Arka terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawabannya membuatnya gugup.

"Aku cuma..."

Ia menggaruk belakang kepala.

"...khawatir."

Elara tampak sedikit terkejut.

"Khawatir?"

"Iya."

"Padahal kita baru kenal."

Arka mengangguk.

"Aku tahu."

Elara menunduk. Beberapa detik berlalu. Kemudian ia tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Arka tidak tahu harus menjawab apa. Bus datang dari kejauhan. Elara melangkah menuju halte. Sebelum naik, ia menoleh.

"Besok jangan lupa tugas."

Arka tersenyum.

"Kamu juga."

Elara naik ke bus. Arka berdiri di pinggir jalan sampai kendaraan itu menghilang. Ia kemudian memasukkan tangan ke saku. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di kepalanya. Rivan. Cara Elara memandangnya. Kalimat tentang pindah sekolah. Dan perubahan wajah Elara yang begitu cepat. Arka mulai mengerti satu hal. Elara bukan sekadar siswi baru. Ia membawa cerita yang belum selesai. Dan mungkin, cepat atau lambat, cerita itu akan masuk ke kehidupan Arka.

Malamnya, Arka duduk di meja belajarnya. Laptop terbuka. Dokumen tugas sudah dibuat. Judul sementara:

"Sekolah dari Mata Mereka yang Menjalaninya."

Ia mengetik beberapa paragraf. Kemudian berhenti. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk; Elara Alesha. Arka membuka pesan itu.

Kamu sudah mulai nulis?

Arka tersenyum.

Ia mengetik.

Baru mulai.

Balasan datang cepat.

Aku juga.

Kemudian:

Besok kita wawancara siapa dulu?

Arka berpikir.

Terserah kamu.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Lalu pesan masuk.

Kalau aku bilang kamu dulu?

Arka tertawa kecil.

Aku bukan narasumber.

Kenapa?

Karena aku membosankan.

Balasan Elara datang beberapa detik kemudian.

Aku rasa nggak.

Arka berhenti mengetik.

Matanya membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan apa pun. Hanya empat kata.

Aku rasa nggak.

Arka meletakkan ponselnya di meja. Entah kenapa, malam itu ia tidak bisa langsung kembali menulis. Sementara di rumahnya, Elara duduk di depan jendela kamar. Map biru berada di atas meja. Ponselnya masih terbuka. Ia membaca percakapan mereka. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya. Tetapi senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Sampai sebuah pesan lain masuk. Bukan dari Arka. Nomornya tidak tersimpan. Namun Elara mengenal siapa pengirimnya.

Kamu boleh pindah sekolah, Elara. Tapi masalahnya belum selesai.

Jari Elara membeku. Pesan berikutnya masuk.

Ayahmu masih berutang kepadaku.

Wajah Elara seketika pucat. Ia mematikan layar ponsel. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam. Kemudian mengambil buku hitam dari laci meja. Buku yang selalu ia bawa. Ia membuka halaman kosong. Tangannya gemetar ketika menulis satu kalimat:

"Aku kira pindah sekolah berarti aku bisa mulai dari awal."

Ia berhenti. Air matanya jatuh ke atas kertas.

"Ternyata masa lalu tahu jalan pulang."

Di tempat lain, Arka masih menatap layar laptop.

Ia tidak tahu bahwa gadis yang beberapa jam lalu membuatnya tersenyum sedang menangis sendirian. Ia juga tidak tahu bahwa sejak hari itu, kehidupan sekolah mereka tidak akan lagi sesederhana tugas, kelas, kantin, dan bangku di sebelah jendela. Karena beberapa cinta tumbuh ketika dua orang sedang bahagia.

Tetapi ada juga cinta yang tumbuh justru ketika salah satunya sedang berusaha keras menyembunyikan luka. Dan Arka belum tahu... bahwa suatu hari nanti ia harus memilih; tetap menjadi orang asing yang tidak ikut campur, atau menjadi seseorang yang berdiri di samping Elara ketika seluruh masa lalunya datang untuk mengambil kembali gadis itu.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab