Koridor Kelas

Bab 1 dari 2

Bab 2
100%

Bab 1: Bangku Kosong di Sebelah Jendela

Arka Elvano tidak pernah menyukai hari Senin. Bukan karena pelajaran yang lebih banyak. Bukan pula karena guru-guru biasanya memberikan tugas baru setelah dua hari libur. Ia hanya tidak suka perasaan ketika harus kembali menjadi seseorang yang terlihat baik-baik saja.

Setiap Senin pagi, gerbang sekolah seperti tempat yang memaksa semua orang mengenakan wajah masing-masing. Ada yang datang dengan tawa keras, ada yang sibuk bercerita tentang akhir pekan, ada yang berjalan sambil menggenggam tangan pacarnya, dan ada pula yang datang dengan mata sembap tetapi tetap menjawab, "Nggak apa-apa," ketika ditanya.

Arka termasuk golongan terakhir. Pukul 06.17. Ia baru sadar kalau lima belas menit lagi bel masuk.

"Astaga."

Arka mempercepat langkahnya sambil membenarkan tali ransel yang hampir lepas dari bahunya.

Seragam putih abu-abunya belum benar-benar rapi. Kemejanya sedikit kusut. Rambutnya masih berantakan karena ia bangun terlambat setelah semalam terlalu lama menyelesaikan tulisan untuk majalah sekolah.

Di depan gerbang, seorang satpam tua menatapnya sambil menggeleng.

"Arka."

Arka berhenti.

"Kenapa, Pak Joko?"

"Jam berapa sekarang?"

Arka melihat jam tangannya.

"Enam lewat tujuh belas."

"Terus kenapa jalannya seperti orang mau mengejar kereta?"

"Karena saya memang sedang mengejar masa depan, Pak."

Pak Joko tertawa kecil.

"Masa depan nggak akan lari."

"Kalau masa depan saya ada di ruang BK, Pak?"

"Kalau itu namanya masalah."

Arka tersenyum.

Ia sudah hampir melewati gerbang ketika Pak Joko kembali memanggil.

"Ka."

Arka menoleh.

"Besok jangan telat lagi."

"Siap."

"Janji?"

Arka mengangkat dua jari.

"Janji."

Pak Joko mengangguk puas.

Arka berjalan cepat menuju gedung utama.

Di lantai dua, suara murid-murid sudah memenuhi koridor. Beberapa berdiri di depan kelas, sebagian masih membeli makanan dari kantin kecil di ujung gedung. Ada yang sibuk menyalin pekerjaan rumah lima menit sebelum dikumpulkan.

Sekolah selalu punya cara untuk membuat pagi terasa terlalu ramai. Arka masuk ke kelas XI IPS 2 tepat ketika Keenan Arvian sedang berdiri di atas kursi.

"Turun."

Keenan menoleh.

"Kenapa?"

"Guru sebentar lagi masuk."

"Justru itu. Aku sedang menyelamatkan harga diri kelas."

"Dari?"

Keenan menunjuk papan tulis.

Di sana tertulis dengan spidol besar :

SELAMAT DATANG, SISWA BARU. SEMOGA BETAH DAN TIDAK MENYESAL.

Arka menghela napas.

"Siapa yang suruh?"

"Aku."

"Kenapa?"

"Karena aku peduli."

"Peduli apa?"

"Peduli terhadap masa depan kelas ini."

Arka menarik kursi Keenan hingga hampir kehilangan keseimbangan.

"Turun."

"Brengsek."

Keenan turun sambil tertawa.

Lalu ia mendekatkan wajahnya ke Arka.

"Eh."

"Apa?"

"Katanya hari ini ada anak baru."

Arka meletakkan tas di kursinya.

"Terus?"

"Cewek."

Arka berhenti.

Hanya sebentar.

Kemudian ia duduk.

"Terus?"

Keenan ikut duduk di meja sebelahnya.

"Katanya cantik."

"Semua anak baru katanya cantik."

"Ini beda."

"Kamu sudah lihat?"

"Belum."

Arka menatapnya datar.

"Terus dari mana kamu tahu?"

"Informasi."

"Informasi dari siapa?"

"Rahasia."

"Keenan."

"Apa?"

"Kalau kamu mau jadi wartawan, jangan pernah menulis berita tanpa sumber."

Keenan tertawa.

"Kamu itu terlalu serius."

Arka mengeluarkan buku tulis.

"Aku serius karena kamu terlalu banyak bicara."

Keenan baru hendak menjawab ketika suara langkah terdengar dari koridor. Guru mereka muncul. Bu Rania. Di belakangnya berjalan seorang perempuan. Kelas yang tadinya ribut perlahan menjadi lebih tenang. Arka awalnya tidak terlalu memperhatikan. Sampai perempuan itu berdiri di depan kelas.

Rambut hitamnya sebahu, sedikit bergelombang di ujung. Seragamnya rapi tanpa terlihat berlebihan. Ia membawa sebuah tas hitam sederhana dan sebuah buku yang dipeluk di depan dada. Tidak ada aksesori mencolok. Tidak ada usaha untuk menarik perhatian. Tetapi entah kenapa, hampir seluruh kelas memperhatikannya.

"Anak-anak," kata Bu Rania, "hari ini kita kedatangan teman baru."

Perempuan itu menarik napas kecil.

"Silakan perkenalkan diri."

Ia mengangguk.

"Halo."

Suaranya lembut.

"Nama saya Elara Alesha."

Beberapa anak mulai berbisik.

Elara melanjutkan.

"Saya pindahan dari SMA Harapan Utama."

Ia tersenyum kecil.

"Semoga saya bisa berteman baik dengan kalian."

Sederhana. Tidak lebih dari itu. Tetapi Arka memperhatikan sesuatu. Ketika Elara selesai bicara, matanya sempat bergerak ke arah jendela. Hanya sepersekian detik. Seperti seseorang yang mencari jalan keluar. Arka tidak tahu kenapa ia memperhatikan hal kecil itu. Mungkin karena ia memang terlalu sering memperhatikan hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain. Bu Rania melihat sekeliling kelas.

"Elara, kamu duduk di..."

Matanya mencari kursi kosong. Lalu berhenti. Di sebelah Arka.

"Di sana saja."

Keenan langsung menoleh kepada Arka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Arka hanya mengangkat alis. Elara berjalan menuju bangku kosong di sebelahnya.

Bangku itu sudah kosong hampir satu semester. Tidak ada alasan khusus kenapa Arka selalu memilih duduk di dekat jendela. Ia hanya menyukai tempat yang membuatnya bisa melihat halaman sekolah ketika pelajaran terasa terlalu panjang. Elara meletakkan tas.

"Permisi."

Arka bergeser sedikit.

"Iya."

Elara duduk. Jarak mereka tidak lebih dari beberapa sentimeter. Arka tiba-tiba menjadi sadar bahwa ia tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana. Ia membuka buku. Menutupnya lagi. Membuka pulpen. Kemudian sadar bahwa pulpen itu tidak ada tintanya.

Keenan yang duduk di belakang mereka melihat semuanya. Ia menahan tawa. Arka melirik tajam. Keenan langsung pura-pura membaca buku. Elara menoleh.

"Kamu Arka, kan?"

Arka sedikit terkejut.

"Iya."

"Aku tadi dengar Bu Rania panggil namamu."

"Oh."

Hening sebentar.

"Kamu sering duduk di sini?"

Arka mengangguk.

"Sejak kelas sepuluh."

"Berarti aku mengambil tempat favoritmu."

Arka menoleh ke jendela.

"Bukan masalah."

Elara tersenyum.

"Terima kasih."

Arka tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya selama beberapa bulan terakhir, bangku di sebelah jendela itu terasa berbeda. Pelajaran pertama berlangsung seperti biasa. Matematika. Pelajaran yang membuat setengah kelas kehilangan semangat hidup sebelum pukul delapan pagi.

Arka mencatat. Elara juga mencatat. Sesekali Elara bertanya tentang halaman buku atau tugas yang tertinggal.

Arka menjawab seperlunya.

"Halaman berapa?"

"Seratus dua belas."

"Yang ini?"

"Iya."

"Terima kasih."

Tetapi semakin lama, Arka mulai menyadari bahwa Elara memiliki kebiasaan kecil. Setiap kali berpikir, ia mengetuk ujung pulpennya tiga kali ke meja.

Tok.

Tok.

Tok.

Kemudian menulis. Saat membaca sesuatu yang tidak ia pahami, ia akan sedikit mengernyitkan dahi. Dan ketika akhirnya mengerti, sudut bibirnya akan naik sedikit. Arka memperhatikan tanpa sengaja. Atau mungkin sengaja, tetapi ia belum mau mengakuinya. Ketika bel istirahat berbunyi, kelas langsung berubah. Keenan berdiri.

"Makan."

Arka tetap duduk.

"Nanti."

"Kamu selalu bilang nanti."

"Aku nggak lapar."

"Kamu miskin vitamin, Ka."

Arka menatapnya.

"Vitamin apa?"

"Vitamin keluar kelas."

Keenan menarik tangannya.

Arka menepis.

"Tunggu."

Keenan melihat Elara.

"Oh."

Arka mengerutkan dahi.

"Oh apa?"

Keenan tersenyum.

"Aku baru sadar."

"Sadar apa?"

"Bangku kosong itu ternyata memang menunggu seseorang."

Arka mengambil penghapus dan melemparkannya. Keenan tertawa sambil berlari keluar. Elara yang melihat kejadian itu menutup mulut, menahan tawa.

"Temanmu lucu."

"Berisik."

"Namanya Keenan?"

"Iya."

"Kelihatannya kalian dekat."

"Sayangnya."

Elara tertawa. Tawa itu tidak keras. Tetapi cukup membuat Arka diam beberapa detik. Ada sesuatu dari tawa itu yang terasa ringan. Seperti suara yang tidak memaksa siapa pun untuk ikut bahagia.

"Kenapa?" tanya Elara.

Arka tersadar.

"Nggak."

"Kamu tadi lihat aku."

"Nggak."

Elara tersenyum.

"Kalau mau lihat, lihat saja."

Arka terdiam. Wajahnya terasa sedikit panas. Elara mengambil botol minumnya dan berdiri.

"Aku ke kantin dulu."

"Oh."

"Kamu nggak ikut?"

Arka menggeleng.

"Sebentar lagi."

Elara mengangguk.

"Oke."

Ia berjalan keluar.

Arka memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Kemudian ia menghela napas.

"Kenapa gue begini?"

"Karena kamu suka."

Arka hampir terlonjak.

Keenan sudah berdiri di samping mejanya sambil membawa dua gelas es teh.

"Kapan kamu balik?"

"Tadi."

"Kok nggak kelihatan?"

"Karena kamu sibuk melihat orang."

Arka mengambil salah satu es teh.

"Berisik."

Keenan duduk.

"Serius."

"Apa?"

"Kamu suka?"

Arka membuka sedotan.

"Baru kenal."

"Terus?"

"Ya baru kenal."

"Berarti belum suka?"

"Belum."

Keenan mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

Ia menunjuk Elara yang baru saja kembali ke kelas.

"...kenapa kamu senyum waktu dia datang?"

Arka refleks menghapus senyum dari wajahnya. Elara berhenti di samping meja.

"Kalian ngomongin aku?"

Keenan langsung menjawab.

"Iya."

Arka menatapnya tajam.

Keenan melanjutkan santai.

"Kami sedang membicarakan tugas sejarah."

Elara menatap mereka bergantian.

"Oh."

Ia duduk. Arka diam. Keenan tersenyum puas. Tetapi suasana berubah ketika seorang siswi dari kelas sebelah muncul di pintu.

"Elara?"

Elara menoleh. Wajahnya berubah. Senyum yang tadi ada perlahan hilang.

"Kenapa?"

Siswi itu berdiri di depan pintu.

"Bu Rania nyari kamu."

"Untuk apa?"

"Nggak tahu."

Elara bangkit.

"Terima kasih."

Ketika siswi itu pergi, Arka melihat ekspresi Elara. Ada sesuatu yang berbeda. Seperti seseorang yang tiba-tiba diingatkan bahwa ia tidak benar-benar bisa bersembunyi. Arka tidak bertanya. Ia tidak mengenalnya cukup lama untuk bertanya. Namun beberapa menit kemudian, ketika Elara kembali, ia terlihat lebih pucat.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arka.

Elara menoleh.

"Iya."

Jawabannya terlalu cepat.

Arka tahu. Itu jawaban yang sering diberikan orang ketika sebenarnya mereka tidak baik-baik saja. Tetapi ia memilih diam. Karena ia juga tahu satu hal; Tidak semua orang siap menceritakan masalahnya kepada orang yang baru dikenal beberapa jam.

}}}{{{

Sepulang sekolah, hujan turun. Bukan hujan deras. Hanya gerimis yang cukup membuat halaman sekolah basah dan udara menjadi dingin. Satu per satu siswa meninggalkan kelas. Arka masih duduk di tempatnya. Ia menulis sesuatu di buku kecil berwarna cokelat.

Keenan sudah pulang lebih dulu karena latihan basket. Arka sebenarnya bisa langsung pulang. Tetapi ia sedang menunggu hujan sedikit reda. Ketika menutup bukunya, ia menyadari Elara masih berada di sana. Perempuan itu berdiri di depan papan pengumuman sambil membaca sesuatu. Arka tidak bermaksud memperhatikan. Tetapi ia melihat mata Elara berhenti pada satu pengumuman. Elara mengambil foto pengumuman itu dengan ponselnya. Arka berdiri.

"Kamu tertarik?"

Elara menoleh.

"Sedikit."

"Aku ikut."

"Tim media?"

Arka mengangguk.

"Aku juga anggota majalah sekolah."

Elara tersenyum.

"Berarti kamu suka menulis?"

"Iya."

"Aku juga."

Arka menatapnya.

"Kamu menulis apa?"

Elara terdiam sebentar.

"Cerita."

"Fiksi?"

"Kadang."

"Kadang apa?"

Elara menatap hujan di halaman.

"Kadang sesuatu yang sebenarnya terjadi."

Arka tidak langsung menjawab. Elara memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Kalau kita ikut program itu, mungkin kita bisa satu tim."

"Mungkin."

"Kamu nggak keberatan?"

Arka menggeleng.

"Nggak."

Elara tersenyum.

"Oke."

Mereka berjalan keluar kelas bersama. Koridor sudah hampir kosong. Suara hujan terdengar dari atap gedung. Di tangga, Elara berjalan sedikit lebih lambat. Arka menyesuaikan langkahnya. Sampai akhirnya mereka tiba di teras depan sekolah. Hujan masih turun. Elara membuka payung kecil dari tasnya. Arka melihat payung itu.

"Kecil."

Elara tertawa.

"Memang."

"Kalau berdua?"

"Kamu mau ikut?"

Arka terdiam. Elara baru sadar kalimatnya mungkin terdengar berbeda. Ia buru-buru menambahkan,

"Maksudku, kalau kamu nggak bawa payung."

Arka tersenyum kecil.

"Aku tunggu saja."

Elara mengangguk.

"Ya sudah."

Ia melangkah pergi. Baru beberapa langkah, ia berhenti. Menoleh.

"Arka."

"Iya?"

"Besok..."

Ia tampak berpikir sebentar.

"...boleh duduk di sini lagi?"

Arka menatap bangku kosong yang selama ini menjadi miliknya. Kemudian menatap Elara.

"Bangkunya memang bukan punya aku."

Elara tersenyum.

"Berarti boleh?"

"Boleh."

Elara mengangguk.

"Besok ketemu."

"Besok."

Ia pergi menembus gerimis. Arka tetap berdiri di teras. Entah kenapa, ia merasa hari Senin yang biasanya ia benci tidak terasa seburuk biasanya. Namun Arka belum tahu bahwa kedatangan Elara bukan sekadar tentang seorang siswi baru yang akan duduk di sebelahnya. Ada sesuatu yang dibawa perempuan itu dari sekolah lamanya.

Sesuatu yang membuatnya pindah. Sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan. Dan beberapa minggu kemudian, Arka akan mengetahui bahwa Elara tidak datang ke sekolah baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Ia datang karena ingin melupakan kehidupan yang lama. Masalahnya, beberapa hal tidak pernah benar-benar bisa dilupakan. Terutama ketika seseorang yang baru saja kita kenal mulai menjadi alasan kita ingin tetap tinggal. Dan tanpa Arka sadari, bangku kosong di sebelah jendela itu perlahan menjadi awal dari sesuatu yang akan mengubah masa SMA mereka berdua. Sesuatu yang mungkin bernama cinta. Atau mungkin luka yang datang terlalu dini.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab