Customer Service

Kemala

Bab 1 dari 15

Bab 2
100%
Memeriksa iklan...

Bab 1: Anak Bodoh itu Aku

Menjadi bodoh sungguh sebuah kesalahan karena Tuhan menciptakan manusia dengan kepala. Dan hanya orang orang yang mau berpikir saja yang tak bisa dibodohi.

Aku sempat marah dengan alasan Tuhan menciptakan sabar, aku marah karena hanya aku yang barang kali tak mampu menanggungnya. Air mataku tumpah setiap kali memikirkan kesialan yang kudapatkan karena kebodohanku. 

Akulah Kemala, si bodoh itu. 

 

Sepuluh tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus SMP. Orang tuaku mengatakan jika mereka tiada daya upaya untuk meneruskan sekolahku. Gagal panen yang dialami Bapak, kerugiannya hingga membuat sawah Bapak satu satunya hilang demi membayar hutang membuatku akhirnya mengalah dengan keadaan. 

“Anaknya Bu Srie katanya kerja di Taiwan,” kata Mamak padaku sambil merapikan rambut Dewi adikku yang masih duduk di kelas satu SMP. 

“Kemala mau sekolah Mak.”

“Teu boga uang!” katanya dengan nada sedikit ketus. 

“Bantulah kolot maneh! Kalo usia Mamak masih muda, Mamak yang keluar cari kerja bantu Bapakmu!” tandasnya sampai terpencar air liurnya. 

“Kerja di luar negeri tuh enak! Gajinya lobaa! Buat apa sekolah tinggi tinggi!”

“Atos Mamak!” Suara Bapak tiba tiba menyambar, lelaki tua yang setengah sakit sakitan karena gula itu baru saja kembali dari kebun jagung milik Pak Lurah. Dia letakkan topi caping di meja, menuang air dari ceret kemudian menegaknya. 

“Teu aya dadaharen Mak?”

“Teu aya! Mau makan apa! Bisa makan nasi sama garam saja syukur! Si Kemala udah disekolahkan susah payah, cari kerja tidak mau! Manee neangan gawe deei!” teriak Mamak kasar. Aku tersindir ingin menangis, sementara Dewi diam saja sambil mengerjakan PR-nya. 

“Ya nanti Bapak cari kerja lagi!” balas Bapak.

“Kerja apa? Jalan aja udah pincang!” teriak Mamak lagi di dapur. 

“Nih makan! Adanya cuma ini!” Aku nyaris menangis saat Mamak meletakkan gatot di meja untuk Bapak. 

“Alhamdulillah,” kata Bapak sambil tersenyum ke arahku. 

Pertengkaran Mamak dan Bapak tak terjadi dalam semalam, tapi berhari hari. Kesulitan ekonomi juga membuat Bapak akhirnya harus bekerja keras siang dan malam. Aku merenung di tengah malam, selembar formulir SMK kejuruan masih dalam genggaman, selalu kusimpan rapih di antara selipan buku. Kutarik napas dalam, dan menangis. Pasrah, ketika nasibku hanya berakhir di sini. 

“Abdi teh teu lanjut sekolah,” kataku pada Erhan. Lelaki yang menyatakan cintanya padaku saat aku kelas 2 SMP. Cinta anak muda, cinta pertama yang masih ranum-ranumnya.

“Loh aya naon!”

“Teu boga uang!” balasku, sambil melempar batu ke kali. “Abdi teh mau kerja ke luar negeri aja jadi TKW,” tambahku Erhan langsung berdiri dari tanah pinggiran kali dan berdiri di hadapanku. 

“Masa depanmu masih cerah Kemala, kamu pintar di sekolah. Katanya mau masuk SMK jurusan Tata busana, mau jadi designer!”

Aku menggeleng, menyeringai. Aku bangkit, meraih batu kerikil dan melemparnya sekali lagi. 

“Keluargaku butuh aku, Kaki Bapak udah sakit sakitan, kasihan kalo terus nguli. Mamak ribut setiap hari, Dewi butuh biaya!” kataku miris. 

Erhan diam saja mendengarnya. 

“Nasib keluargamu seharusnya bukan menjadi tanggungjawabmu! Kita ini tugasnya sekolah!”

“Ya kalo keluarganya kayak kamu. Apa apa serba ada, keluargaku? Makan aja susah,” balasku. 

“Memangnya maneh rek gawe di mana?” tanya Erhan. 

“Teu terang, Mamak katanya punya temen yang bisa bantu aku buat jadi TKW.”

“Kamu serius enggak sih?”

“Ya serius lah, semua dokumen sudah Mamak urus. Aku tinggal ke kantor imigrasi aja buat passpor.”

“Kemala!” seru Erhan. Tubuhku masih membelakanginya, saat pemuda itu maju aku membuang wajah.

“Jangan lihat!” lirihku tersedu. Erhan langsung diam. “Aku enggak mau kamu lihat aku nangis,” lirihku. Suara tarikan napasnya terdengar sangat berat. 

“Kamu harus sukses ya Han, kamu pasti bisa jadi PNS seperti harapan orang tuamu."

Seperti air sungai, air mataku mengalir juga akhirnya. Kuusap dengan lembut kemudian menatap pemuda yang teramat kucintai itu. 

“Kalo aku jadi TKW, kamu masih mau kan sama aku.”

Erhan mengangguk. Dia mendekat, kemudian memelukku erat. Kudorong tubuhnya dan berpaling lalu berlari meninggalkannya. 

Menghadapi Mamak yang keras kepala hanya membuatku lelah, satu satunya cara yang bisa membuatku tenang hanyalah pasrah. Mengikuti semua keinginannya. Siapapun pasti pernah berada di tahap ini, menjadi tumpuan untuk dikorbankan adalah sebuah pengorbanan. Begitu aku mengatakan setuju, Mamak langsung lompat kegirangan dan membawaku ke tempat temannya di kota. 

“Bisa! Asal syarat syaratnya dipenuhi!” kata Bibi Tuti teman Mamak, penyalur tenaga kerja. 

“Naon wae?” tanya Mamak antusias. 

“7 juta!” tandasnya seraya memainkan ibu jari dan telunjuknya.

“Awis pisan!” 

"Yo mahallah, anakmu itu baru mau 16 tahun usianya. Mana boleh kerja. Pekerja informal syaratnya minimal 18 - 21 tahun, itu juga kebanyakan yang dapet yang usianya 20 tahun ke atas. Kalo kamu mau, aku bantu surat suratnya, aku ubah usia anakmu."

“Serius bisa?” tanya Mamak antusias.

“Bisa! Coba berdiri!” perintahnya padaku.

Dia melihat tubuhku dari atas sampai bawah,”syukur tinggi kamu," katanya. 

“Bisa bahasa inggris, teu?”tanyanya. 

“Bisa, sedikit.”

“Sedikitnya kayak apa?”

“Tahu arti tapi masih gagap,” jawabku. 

Wanita itu mengangguk-angguk.

“Bisa! Nanti diakalin dokumennya,” katanya lagi. 

“Harganya enggak kurang?”

“Enggak! Udah murah segitu! Nanti masuknya ke PT Mutiara, banyak temennya nanti.”

Mamak bergairah, dia tersenyum saat pulang kala itu, setiba di rumah dia berteriak teriak di depan wajah Bapak, memaksa lelaki itu menjual sapi bandot yang sudah tua usianya. 

“Itu satu satunya harta kita Loh Mak.”

“Halah keburu mati, Kemala butuh uang buat kerja di luar negeri!” bantahnya, membungkam argumen Bapak. 

Bapak kemudian duduk di sampingku, dari sorot matanya aku bisa menebak jika batinnya tersiksa. Dia menatap wajahku lamat lamat, lalu memburai rambutku dengan jemarinya. 

“Bener anak Bapak mau kerja?” tanyanya. Aku mengangguk. Air mataku menetes lagi. Bapak juga. Dia tarik tubuhku, lalu mendekapnya erat-erat.

“Maafin Bapak ya Mala, maaf …,” lirihnya. 

Maka pahamilah, ada hal yang tak bisa kita tolak dan harus merasa tak tega melihat apa yang ada di hadapan. Maka perlu sesekali manusia untuk tidak egois mementingkan diri sendiri, karena hal terbaik datang dari yang baik. Kukira pengorbanan akan menjadi upahku di masa depan. Begitu juga perasaan, untuk beberapa hal yang dinggap baik hari ini, bisa saja tak baik untuk kita. Air mataku pecah di hadapan Erhan saat kami bertemu untuk merayakan sebuah perpisahan. 

Pemuda yang mengenakan jaket basket itu menahanku dengan sejuta alasan. 

“Aku sudah minta Bapakku buat carikan kamu beasiswa loh, Kemala,” katanya dengan kedua tangan dia letakkan di bahuku.  Tapi aku tetap memilih menunduk. 

“Jadi TKW itu berat kata Ibuku,” lanjutnya lagi. Aku hanya bisa tersedu. 

“Kamu pikirkan lagi,” tambahnya. Aku semakin diam. 

“Aku akan bantu kamu carikan beasiswa agar kamu bisa lanjut sekolahnya.” Aku tersenyum lalu menggeleng, sepasang mataku sudah basah sampai ke pipi. 

“Terima kasih Han, percuma. Menjadi TKW memang berat, tapi itu bukan pekerjaan yang memalukan. Jika pada akhirnya orang pintar dan bodoh sama sama mencari uang, lantas buat apa sekolah tinggi tinggi?” tanyaku padanya. Erhan diam tak mampu menjawab. 

“Nanti setelah aku jadi TKW, kamu masih mau enggak Han temenan sama aku.”

“Kamu pacar aku, bukan temen aku kok,” jawabnya.

“Kamu enggak malu punya pacar kayak aku?”

“Teu, aku bangga.”

“Yakin kamu Han?”

“Yakin.” Dia mengangguk yakin. “Ada email, kita kan baru belajar bikin email di sekolah. Kamu kirim aku email ya.”

“InsyaAllah Han, enggak janji.”

“Ini,” katanya seraya melepas topi baseball bertuliskan New York kesayangannya dan memasangkannya di kepalaku. 

“Buat kenang-kenangan, kamu bawa ya,” katanya aku mengangguk. Pemuda berkulit sawo matang itu ikut berkaca kaca memandangku. Kukeluarkan kotak yang sudah lama kusiapkan untuknya kemudian menyodorkan ke arahnya. 

“Bukanya nanti aja,” balasku. 

Kutinggalkan Erhan di tempat kami biasa bertemu, di pinggiran sungai yang masih jernih airnya, yang pinggirannya terdapat bebatuan kerikil dan tanah juga pepohonan pinus yang melingkari. Aku berlari sambil menangis tersedu. Tak ada orang yang benar benar jatuh cinta, sebelum dia menerima keadaan kita yang sesungguhnya. Meski hari ini aku meninggalkannya. Meski kelak dia menyakiti. Meski kami tak bersipandang. Cinta pasti akan tetap bersikeras menunggu. 

Aku memang buta dengan perasaanku terhadap Erhan. 2010 kami berpisah kala itu, usiaku masih belia 16 tahun tepatnya. Dokumen palsu yang kubawa begitu mudahnya lolos begitu saja. Kami melewati perjalanan darat menuju Malaysia melalui Sarawak Kuching. Kata petugas yang membawaku beserta puluhan pekerja lainnya, untuk sementara aku ditempatkan di Malaysia. Mereka mengatakan, sudah bisa bekerja menjadi TKW di Negeri Jiran saja sudah syukur, nanti setelah tiga tahun katanya kami bisa dipindahkan ke Taiwan atau Hongkong, di sana gajinya lebih besar lagi. 

Setelah menempuh perjalanan darat, seperti jual beli ilegal, aku diserahterimakan kepada majikanku diam diam, saat malam menjelang pagi. Gaji yang ditawarkan saat itu 350 ringgit atau setara dengan Satu juta rupiah. Cukup lumayan untuk lulusan SMP sepertiku. Passporku ditahan, aku bekerja siang dan malam, membersihkan rumah, mulai dari lantai dua, sampai garasi, wc juga menyiapkan sarapan untuk lima anggota keluarga.

Kamarku berada di bawah tangga, ukurannya hanya satu kali panjang tubuhku. Setiap ada yang melangkah di atas tangga akan terdengar bising begitu nyaring, tak ada lemari, atau pendingin, pengap, hanya lubang angin yang sedikitnya memberi rongga napas buatku. Syukurnya ada begitu banyak buku bekas di dalamnya,buku buku yang akhirnya menjadi sahabatku hari hari. Dari Satu juta gajiku, 750 ribunya kukirimkan ke Indonesia, sisanya untuk bekalku di Malaysia. 

Inilah usahaku yang sepenuh hati, setengah mati, menempuh banyak jalan agar keluargaku bisa berada di atas awan, meski letakku hanya di dasar tanah, jauh sekali di bawah. Inilah nasibku, Kemala Sari Putri. 

 

 

-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 1)
Ayu septia · 07 Oct 2026 12:11

Akhirnya tayang di sini.
Terima kasih, Bu Is.

Daftar Bab