Customer Service

Kemala

Bab 2 dari 15

Bab 1 Bab 3
100%
Memeriksa iklan...

Bab 2: Kisah Sedih di Hari Itu

Jutaan detik kulalui di kediaman keluarga berkebangsaan Cina yang menetap di Malaysia. Kehidupanku nyaris terampas oleh waktu, aku seperti kendaraan yang melewati jalan yang sama, kejadiannya selalu itu itu lagi.

Bangun pagi, membersihkan rumah, masak, istirahat, dan bangun pagi lagi begitu seterusnya tanpa libur. Tiga tahun aku bertahan di kediaman mereka, tanpa tahu bagaimana cara menghubungi keluarga. Majikan hanya membantu mengirimkan uang selebihnya aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi mereka kecuali dengan telepati.

Napasku sering kali ingin terhenti karena sesak yang terlalu dalam di dada. Buku buku tua yang menjadi temanku, sudah habis semua kubaca, kadang merenung tidak menjadi jalan keluar. Renungan kerap kali membuatku gila dan ingin berteriak. Renungan semakin membuatku gagal untuk mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Air mataku sudah tertampung cukup lama, jika diluapkan jutaan liter barang kali akan tumpah. 

Suatu malam, Majikan lelaki memintaku membuatkan Mie Instant, ketika itu pukul dua malam. Aku dengan perasaan berat, mengikat rambutku kemudian keluar kamar lalu menuju dapur, saat hendak menyalakan kompor aku tersentak, mataku mendelik saat merasakan tangan Tuan masuk ke sela sela ketiakku. Tak ingin dilecehkan aku berteriak, lelaki itu berusaha membekap tapi syukurnya Majikan wanita segera datang. 

“Dia goda I!” teriak Majikan laki laki. 

“Tidak Nyonya! Saya bersumpah! Tuan yang berusaha melecehkan saya!”

Wanita itu diam, dengan wajah pucat dia memandang suaminya juga aku yang ketakutan di sudut dapurnya. Air mataku meluap, tanganku erat menyilang di depan dada. 

“Mala kamu jujur saja!”

“Saya jujur Puan,” lirihku.

“Kau apakan anak ini!” teriaknya pada suaminya seraya memukulinya sementara aku menangis sendirian. Pagi itu juga aku hengkang, tepat sepuluh hari sebelum tiga tahun aku bekerja dengannya. Di Negeri orang, hanya berbekal satu koper tengteng bawaanku dari kampung. Aku meminta Puan untuk menghubungi Agen, tapi dia menolak dengan sejuta alasan. 

Tulang tulang tubuhku serasa remuk, aku melangkah dengan pasrah. Syukurnya, aku kenal dengan beberapa pembantu di sekitar perumahan. Ada Mbak Tinah yang mau menampungku di kamarnya. 

“Ya Allah Kemala, tega sekali majikan kamu.”

Aku menunduk.

“Terus rencana kamu apa?”

Aku menggeleng. 

“Mbak bantu hubungi Agen ya. Atau keluargamu?"

Kepalaku refleks terangkat, buru buru aku mencari buku di dalam tas dan menunjukkan nomor Mamak. 

“Saya mau bicara sama Mamak saya Mbak. Sudah tiga tahun …,” rintihku. 

Mbak Tinah mengangguk-angguk. Dia mengambil ponsel nokia miliknya, menekan angkanya lalu menghubungi nomor yang kuberikan. 

“Saya mau bicara sama Bu Tutik ada?” tanyanya. Tak lama dia tutup sejenak. 

“Mau dipanggilkan dulu,” katanya. 

“Kamu minum dulu ya,” tawarnya. Kuraih segelas air putih dari tangannya dengan gemetar aku menghabiskan airnya. 

“Assalamualaikum Ibu Bu Tutik? Iya anaknya mau bicara Bu!”

“Mamak!” Air mataku tumpah saat itu, saking banjirnya tak ada satu pun kata yang mampu kubahasakan. 

“Mala, kumaha kaayan maneh?” lirih Mamak.

“Mamak … Mala mau pulang.”

“Ulah Nak! Bapakmu sakit!” katanya dengan nada ketus. “Uangmu dipake buat pengobatan Bapak, buat bangun rumah rumah dikit dikit, Dewi juga sekolah biaya dari mana, kalo bukan dari kamu. Maneh, kudu sabar nyak. Kuat, Mamak doakan di sini.”

Kalimat itu langsung membungkamku. Perlahan jemariku lemas untuk menggenggam ponsel milik Mbak Tinah. Suara Mamak memanggil-manggil namaku terdengar begitu nyaring tapi kubiarkan. 

Mbak Tinah menghela napas, dia tutup teleponnya dan langsung memelukku. 

“Sabar ya Mala,” lirihnya. Aku histeris di dekapan Mbak Tinah. Dia mengusap peluh juga air mataku. 

“Hidup memang sekeras ini, kita pejuang keluarga Mala. Tuhan selalu bersama kita.”

Aku menggeleng.

“Tuhan enggak ada buat kita.”

“Ada! Ada! Kamu enggak boleh nyerah sama Tuhan. Kamu harus yakin, Tuhan sayang sama kamu.”

Aku menarik napas lagi, dan Mbak Tinah sekali lagi mendekapku. Kisah cinta, kisah hidupku berakhir di Negeri Jiran. Sejak bekerja aku sama sekali tak bisa menikmati keduanya. Selama mencari pekerjaan baru, Mbak Tinah memberiku tempat di kamarnya, dengan catatan, aku tak boleh keluar kamar. Takut Majikannya tahu. 

Selama itu, aku memerhatikan Mbak Tinah. Salat lima waktunya, salat tahajudnya, bacaan Quran yang begitu merdu hingga menyentuk relung batinku. 

“Salat Mala?” tanyanya. Aku menggeleng. 

Dia tidak memaksa. Sehabis salat, dia lipat mukenanya lalu kembali bekerja, ketika majikannya berangkat aku mulai membantunya. Sampai suatu hari dia memberikan kabar, jika ada pekerjaan untukku. 

“Tapi Majikannya mau cari yang berhijab dan salat.”

Aku diam. 

“Kamu mau?”

Aku mengangguk. “Asal kerja Mbak.”

“Yo Wis!” Dia mengeluarkan hijab miliknya di lemari. Setelahnya memakaikannya di kepalaku. 

“Kamu cantik Mala,” katanya. 

“Cantik sekali,” tambahnya aku berkaca. 

“Kamu tahu enggak alasan Allah meminta wanita untuk menutup auratnya?'

Aku menggeleng.

“Bukan karena Allah egois, tapi justru Allah karena mencintai kita. Hijab adalah perintah sebagai bentuk perlindungannya. Lelaki seperti majikanmu itu banyak Nak,” katanya. 

“Terima kasih Mbak." 

“Hijabnya kamu pakai. Nanti Mbak antar ke sana,” katanya lagi. 

Selayaknya orang tuaku, Mbak Tinah menyiapkan segalanya. Siangnya setelah merapikan rumah Majikan. Dia mengantarku menuju orang yang akan mempekerjakanku. Kali ini kediamannya begitu megah, lima kali lebih megah dari rumah Majikanku yang dulu. Mbak Tinah hanya mengantarku sampai pintu, setelah mendapat bekal darinya, dia sangat yakin aku akan diterima. Karenanya dia pamit, khawatir majikannya kembali dia tidak ada. 

Aku memeluk Mbak Tinah begitu erat. 

“Terima kasih ya Mbak.”

“Sama sama Mala, kamu anak hebat. Percayalah Majikan di sini lebih baik dari majikanmu yang dulu.”

Aku mengangguk-angguk.

“Masuklah.”

Kami berpisah, setelah dia melambaikan tangan dan pergi dengan motor majikannya.

Aku diizinkan masuk ke dalam setelah berbicara dengan security. Setelahnya menunggu di ruang tunggu dekat dengan dapur.

Tak lama, seorang wanita tua paruh baya mengenakan gaun sutra, berhijab datang menyambut kami. Terlihat warga melayu asli, muslim. 

“Jom!” ajaknya ke dalam. Dari setiap ukiran di rumahnya, terlihat keluarga yang taat.

Aku dibawanya menuju sebuah ruangan, ruang tamu dengan sofa kulit beralaskan karpet merah yang menutupi granit putihnya. Sebuah foto keluarga terpampang di hadapanku. Dia dengan suaminya berpakaian melayu dan keempat anaknya, tiga perempuan dan satu lelaki. 

“Awak bisa asuh anak ke?” tanyanya padaku. 

“Bi-bisa Puan,” kataku. 

“Usia berapa awak?”

“19 Puan.”

“Hmmp.”

“Bisa Masak ke?”

“Bisa Puan.”

“Oke, di sini wajib salat, wajib hijab, boleh lepas hijab hanya di kamar awak.”

Aku mengangguk-angguk. 

“Salary awak, 1500 ringgit. Minat ke?”

“Minat Puan.”

“Awak lagi menstruasi ke?”

“Ti-tidak puan,” kataku gugup tak mengerti.

“Jom ambil,” katanya lagi seraya menyodorkan Quran.

“Bacakan surat,” pintanya.

“Baca?”'

“Ya, read!” serunya. 

Aku tenggelam dalam lautan ketakutan, ketika diminta untuk membaca mushaf. Kuku jemariku gemetar, mata wanita tua itu telah menghadap Quran sementara aku tak tahu harus membaca apa.

“Bacakan surat.”

“Surat apa Puan?” Napasku berjejak. 

“Apapun, kecuali alfatihah.”

“Kulhu ---.”

“Janganlah kul kul terus, itu mesti awak ingat. Yang lain," katanya ketus memotong. 

Kubaca Taawudz dengan gugup kemudian sesuai perintahnya kubaca surat Al baqoroh."

“Stop Stop! Macam mana kau salat, jika bacaan kacau macam tuh!” katanya ketus.

“Maaf Puan.”

Dia mendengus. 

“Aku nih cari yang bisa jaga cucu ku! Akhlak diutamakan! Macam mana orang bisa berakhlak baik jika tak mampu baca Mushaf!” serunya dengan mata mendelik. 

“Saya mohon izinkan saya Puan, saya akan belajar Puan, saya janji!”

“Tak usah berjanji! Usiamu sudah Nineteen tapi belum sampai kau bagus baca Quran. Waktumu kaupakai untuk apa?” tandasnya. “Sudahlah maap, I tak bisa pekerjakan awak.”

Aku menyelorot di atas lantai, kedua lututku menyatu dan mengemis padanya.

“Saya mohon Puan, Bapak saya sedang sakit di kampung. Saya butuh pekerjaan ini,” rintihku, berderai air mataku. 

Dia memerhatikanku dari atas sampai bawah. Sesenggukan aku di hadapannya, karena alasan sebenarnya adalah, aku tak tahu lagi harus ke mana.

“Bangkit,” pintanya. 

“Satu bulan kau boleh kerja, jika cocok kita lanjut. Deal!” 

“Ya Puan.”

"Alhamdulillah. Jom, I bawa ke kamar awak,” katanya lagi. 

Syukurnya, dia mau mengerti. Dia mengantarku menuju kamar yang letaknya berada dekat dapur dekat pekarangan belakang dan kolam renang. Keluarga ini lebih memanusiakan manusia. Dia menunjukkan sebuah kamar, di dalamnya terdapat beberapa ranjang dan lemari dengan AC, meski digabung dengan beberapa pembantu lainnya, setidaknya ini lebih baik dari tempat tinggalku sebelumnya. Wanita itu juga memberiku pakaian bekas miliknya yang masih layak pakai, agar aku bisa menutup auratku dengan sempurna. 

“Kau istirahat, habis tuh bantu bantu di dapur.”

“Ya Puan.”

Tak membuang waktu, aku bergegas merapikan pakaian ke lemari, setelahnya kukenakan pakaian kurung pemberiannya lalu keluar. Di dapur ada pembantu lain asal Indonesia, Mbok Lastri namanya. 

“Dari Tinah ya?” tanyanya. Aku mengangguk. 

“Saya Lastri, teman kamu di sini,” katanya. 

Wanita itu usianya sudah cukup tua, aku dengan cekatan langsung membantunya memasak. Setelahnya terdengar suara tangisan bayi dari lantai dua, Puan kemudian memanggilku dan memintaku untuk ikut dengannya. Aku diajak bersamanya menuju kamar cucunya di lantai dua, saat dibuka nuansa pink abu abu langsung menghibur mataku. 

“Cucu Opaaah!” kata Majikanku sambil meraih bayi dalam box yang terbuat dari kayu. 

“Siapkan perlengkapan babynya,” perintahnya. 

“Apa saja Puan.”

“Kau tak pernah asuh bayi?” tanyanya aku menggeleng.

Dia menghela napas. 

“Shirt, powder, minyak, warm water, blanket!”

“Siap!” seruku. 

Aku bergegas menyiapkan perlengkapan mandi untuk bayi. Kubentangkan handuk di atas ranjang, meletakkan pakaian di sisi-sisinya, bedak juga minyak hangat, syukurnya dulu aku pernah melihat majikanku saat memandikan anaknya. Setelahnya Puan menggulung pucuk pakaiannya sampai siku. 

“Awak simak baik baik!" serunya. 

Dia meletakkan kepala bayi di lengannya, membasuh dengan lembut wajah dan badan bayi lalu membalikkan badannya dengan hati hati mengusap punggungnya. 

"Ingat bersihkan tubuhnya, jangan dengan tisu basah, gunakan air hangat!

“Siap!” seruku. 

“Sudah cantik cucuk Opah!” serunya.

“Jom! Gendong,” katanya. Dia meletakkan bayinya di tanganku. Setelahnya mengembuskan napas kelelahan. Kemudian dia ajarkanku membuat susu, memakaikan popok, dan semua hal. 

“Kau jaga Mahira! Awas sampai terluka.”

“Iya Puan.”

“Mahira punya alergi laktosa, jangan berikan dia susu sembarang! Paham tak.”

“Ya Puan.”

Mahira nama bayinya, baru dua bulan usianya, terlihat begitu mungil dan cantik. Aku menggendongnya seraya meninabobokan di teras kamarnya. Mahira tak menangis, aku lega. Kutarik napas dalam dalam, berusaha mengambil hikmah dari segalanya, dan mulai mensyukuri kejadian pelecehan yang menimpaku di rumah majikan yang lama. Air mataku mengalir begitu saja, menetes di lengan Mahira. Kupandangi langit langit dan mulai merasakan cinta Tuhan yang baru saja datang sejak hari itu. Setelah Mahira terlelap, kutidurkan dia di boxnya. 

“Mbak turun dulu ya,” lirihku. 

Sejak itu tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, aku mulai mengingat Allah. Suara merdu bacaan Quran riang terdengar setiap hari. Kebiasaan salat lima waktu membuat waktu dan hidupku mulai tertata. Aku mulai ikut kajian yang biasa Puan adakan di kediamannya. Sejak itu aku merasa hidupku mulai baik baik saja.

Setahun berlalu, Mahira sudah bisa berjalan. Anak itu sudah menunjukkan ketertarikannya padaku. Aku benar benar bahagia. Tapi, tak ada kebahagiaan yang paling indah selain pulang dan menciptakan keluargaku sendiri bersama Erhan. 

Di hari libur, aku meminta izin pada Puan. Aku cari warnet, lalu mengirimkan email pada Erhan. Kucari Erhan di Facebook dan terlihat wajahnya yang sudah mulai dewasa. Lelaki pujaanku itu berdiri dengan tegak mengenakan seragam toganya. Dia baru saja lulus dari Universitas Muhamadiyah. Wajah manisnya masih tersimpan rapih di hati. Tapi melihat statusnya, membuatku ketakutan setengah mati. 

“Erhan pasti sudah lupa denganku,” gumamku. 

Saat hendak menutup layar, balasan darinya kudapat. Erhan membalasnya dengan sejuta kalimat rindu yang mengguncang jiwa dan nalar hingga meruntuhkan air mataku. 

“Mala! Kemala! Apa kabar? Aku rindu sekali! Kamu di mana sekarang? Kenapa tidak pernah menghubungiku?”

 

 

-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab