Bab 1 dari 2
Sensor di belakang telinga Sarah-7 bergetar halus. Sebuah notifikasi dingin berwarna biru muda muncul di retina kirinya, melayang di atas pandangan kabur menuju langit-langit kamar yang tinggi.
Sarah tidak berkedip. Di dalam kepalanya, tidak ada degup jantung yang memacu adrenalin, tidak ada rasa malu, dan tentu saja, tidak ada gairah. Hanya ada keheningan steril, seperti ruang server yang dingin. Dengan perintah pikiran yang sederhana, dia "menekan tombol" virtual di otaknya. Seketika, aliran kimia sintetis dilepaskan oleh chip neuro-link yang tertanam di dasar tengkoraknya. Otot-otot wajahnya melunak, pupil matanya melebar sedikit untuk menciptakan ilusi ketertarikan, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang telah dikalibrasi secara matematis sebagai "paling menggoda bagi pria berusia 60-an dengan ego tinggi"
"Kau diam saja, Sayang?" suara berat Senator Oldman memecah kesunyian ruangan mewah itu.
Pria tua itu bertumpu di atasnya, napasnya berbau wiski mahal dan tembakau sintetis. Kamar ini berada di lantai 40 Menara Obsidian, suite paling eksklusif di sektor elit. Dindingnya terbuat dari kaca pintar yang menampilkan hujan asam di luar—garis-garis neon hijau dan ungu dari iklan holografik kota yang memantul di air, menciptakan suasana suram namun artistik. Di dalam, semuanya hangat, beraroma vanila buatan, dan dipenuhi perabotan kulit putih yang kontras dengan tubuh gemuk dan berkeringat sang Senator.
"Tunggu apa lagi?" geram Oldman, tangannya mencengkeram pinggang Sarah terlalu keras, meninggalkan memar yang besok akan hilang berkat suntikan regenerasi cepat asrama.
Sarah menarik napas palsu. Paru-parunya mengembang, meniru ritme orang yang sedang bergairah. "Saya hanya kehilangan diri saya dalam tatapan Tuan, Senator," bisiknya. Suaranya serak, rendah, persis seperti yang diminta algoritma E-Match. "Anda terlihat... sangat berkuasa malam ini."
Oldman mendengus puas. Egonya tersentuh. Cengkeramannya melonggor sedikit, berubah menjadi belaian yang mencoba terasa lembut namun tetap canggung. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, Sarah-7. Itulah sebabnya kau yang termahal."
Klik.
Di dalam benak Sarah, sebuah log data tercatat: Klien merespons positif terhadap validasi kekuasaan. Meningkatkan dosis oksitosin sintetis sebesar 5%
Dia membiarkan tangannya merambat naik di punggung basah sang Senator. Sentuhan kulit ke kulit itu seharusnya menghantarkan listrik, atau setidaknya rasa jijik.
Tapi bagi Sarah, itu hanyalah input sensorik. Suhu kulit: 38 derajat Celsius. Tekstur: Berminyak, lembap. Tekanan: 4 Newton. Dia menganalisis data itu seperti seorang mekanik memeriksa mesin yang rusak, bukan seperti seorang wanita yang sedang dicintai.
Dia mengingat masa lalu, atau setidaknya, serpihan memori yang belum dihapus sistem. Nama aslinya Elena. Ibu yang menangis. Rasa lapar yang melilit perut. Lalu, tanda tangan kontrak. Gelap. Dan kemudian cahaya terang saat chip pertama kali ditanam. Itu sudah lima tahun lalu. Elena mati malam itu. Yang tersisa hanyalah Sarah-7, aset Diamond Tier dengan rating kepuasan 99,8%.
"Lebih cepat," desah Oldman, mulai kehilangan kesabaran. Gairah pria tua itu rapuh, butuh stimulasi konstan.
Sarah menyesuaikan gerakannya. Tubuhnya bergerak otomatis, mengikuti ribuan skenario yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun. Dia mengangkat pinggulnya, mendesah di waktu yang tepat, menatap mata Oldman dengan intensitas yang dibuat-buat seolah-olah pria tua keriput ini adalah satu-satunya pria di alam semesta. Di luar, dia adalah mahakarya hasrat. Di dalam, dia adalah lubang hitam yang kosong.
Hujan di luar semakin deras, mengetuk kaca dengan irama monoton yang hampir hipnotis. Cahaya neon dari iklan Human Catalog berkedip-kedip, menerangi sesaat profil wajah Sarah yang sempurna. Tidak ada keringat di dahinya, tidak ada rona merah di pipinya kecuali yang diciptakan oleh mikropigmen sementara. Dia sempurna. Terlalu sempurna.
Oldman mencapai klimaksnya dengan erangan kasar, lalu rubuh di samping Sarah, napasnya tersengal-sengal. "Luar biasa," gumamnya, matanya setengah tertutup, sudah mulai melupakan keberadaan wanita di sebelahnya bahkan sebelum napasnya teratur. "Kau... kau benar-benar manusia terbaik yang pernah kubeli."
Kata-kata itu seharusnya menyakitkan. Manusia terbaik yang pernah kubeli. Ironi yang pahit. Tapi Sarah tidak merasakan apa-apa. Chip-nya mendeteksi penurunan aktivitas fisik klien dan secara otomatis mengalihkan mode Sarah ke Aftercare Protocol.
Dia meraih handuk sutra, membersihkan tubuh Oldman dengan gerakan efisien dan lembut, lalu menuangkan segelas air dari meja samping. "Minumlah, Senator. Anda butuh hidrasi."
Oldman menerima gelas itu tanpa menatapnya, pikirannya sudah beralih ke laporan anggaran besok pagi. "Besok aku akan pesan lagi. Mungkin malam Jumat. Kau kosong kan?"
"Jadwal saya terbuka untuk Anda, Senator," jawab Sarah, suaranya datar namun terdengar manis di telinga pria itu.
Oldman tertidur dalam hitungan menit, mendengkur pelan. Sarah duduk diam di tepi ranjang besar itu, membiarkan selimut sutra meluncur turun dari bahunya yang telanjang. Ruangan itu kembali sunyi, hanya diisi oleh suara dengungan halus sistem pendingin udara dan dengkuran sang Senator.
Dia mengangkat tangannya, menyentuh belakang lehernya. Di sana, di bawah rambut hitam lurusnya, terdapat tonjolan kecil seukuran koin. Chip itu terasa hangat, berdenyut sinkron dengan lampu indikator kecil di sudut pandangannya yang kini berubah merah muda: SESI SELESAI. PEMBAYARAN DITERIMA. RATING SEMENTARA: 5 BINTANG.
Sarah-7 berdiri, berjalan telanjang kaki menuju jendela raksasa. Di bawah sana, kota terbentang seperti lautan sirkuit yang sakit. Jutaan orang hidup, mati, mencintai, dan membenci. Atau setidaknya, mereka berpikir begitu. Sementara di sini, di menara gading ini, cinta hanyalah kode biner. 0 dan 1. Beli dan jual.
Dia meletakkan telapak tangannya di kaca dingin itu. Bayangannya sendiri menatap balik. Mata yang indah, bibir yang penuh, tubuh yang diinginkan setiap pria berkuasa di benua ini. Tapi siapa yang melihat dia? Tidak ada. Bahkan Sensor Pusat pun hanya melihat kumpulan data biometrik.
Ting.
Notifikasi baru muncul di retinanya, memutus lamunan kosongnya. Bukan dari sistem pembayaran, tapi dari antrean pesanan pribadi. Biasanya, pesanan masuk melalui algoritma pencocokan acak yang diatur oleh Admin. Tapi ini berbeda. Ikonnya berwarna emas, tanda prioritas tertinggi yang jarang sekali muncul.
Sarah menyipitkan mata, membaca teks yang berkedip pelan di udara.
Jantung Sarah, jantung daging asli yang masih tersisa di balik rusuknya, tiba-tiba berdetak satu kali. Keras. Tidak wajar.
Chip di lehernya langsung bereaksi.
Rasa sakit yang tajam, seperti sengatan listrik kecil, menyambar saraf di tengkuknya. Sarah meringis, tangannya refleks memegang leher. Itu bukan bagian dari skrip. Itu nyata. Rasa sakit itu membuatnya tersentak keluar dari keadaan mati rasanya.
Dia menatap notifikasi itu lagi. Julian Thorne. Nama yang sering dibisikkan di antara para pendamping dengan nada takut dan hormat. Pria yang menolak semua protokol standar. Pria yang dikenal bisa membuat aset Diamond Tier menangis bukan karena senang, tapi karena hancur.
Mengapa dia? Mengapa sekarang? Dan bagaimana dia tahu tentang "rasa sakit".
Sensor di lehernya berdenyut lagi, lebih kuat kali ini, memaksanya untuk tenang, memaksanya kembali menjadi boneka. Tapi getaran sisa sengatan itu masih tertinggal di kulitnya, sebuah peringatan aneh bahwa malam ini, sesuatu akan berubah.
Sarah menarik napas dalam-dalam, udara dingin AC mengisi paru-parunya. Dia menoleh ke arah Senator Vane yang masih tidur pulas, lalu kembali menatap hujan di luar jendela.
"Aku datang," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri, suaranya kali ini tidak mengandung simulasi apapun. Hanya ada nada penasaran yang berbahaya.
Dia berbalik, mulai mengenakan gaun hitam sederhana yang disediakan sistem untuk perpindahan antar klien. Saat resleting gaun itu tertutup rapat, menyembunyikan tubuhnya yang baru saja "dijual", sebuah pesan baru masuk dari sistem pusat, berwarna merah darah.
Sarah membeku. Mereka sudah melihatnya? Baru satu kali detak jantung yang tidak wajar?
Dia menelan ludah, rasa takut yang asli mulai merayapi tenggorokannya, bercampur dengan adrenalin yang tiba-tiba membanjiri darahnya. Malam ini bukan akan menjadi malam biasa. Ini adalah awal dari sesuatu. Sesuatu yang bisa menghancurkannya, atau membebaskannya.
Sarah-7 melangkah keluar dari kamar suite mewah itu, meninggalkan Senator Oldman bersama mimpi-mimpinya yang dibeli, menuju lift yang akan membawanya ke pertemuan dengan takdirnya.
Dan di sudut gel
ap lorong, kamera pengawas berkedip merah, merekam setiap langkahnya, menunggu dia melakukan kesalahan berikutnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya
Sarah-7 gimana ya bacanya. Sarah Tujuh? Sarah Seven? 🗿