Bab 2 dari 2
Hujan asam masih mengetuk kaca jendela asrama, tapi suaranya berbeda sekarang. Tidak lagi terdengar puitis atau artistik seperti di Menara Obsidian. Di sini, di Lantai Bawah Asrama Unit Pendamping, suara hujan itu terdengar seperti gerusan logam berkarat, kasar, monoton, dan mengancam.
Sarah-7 duduk di tepi ranjang sempurnya, menatap layar holografik kecil yang melayang di depan mata. Cahaya biru pucat dari layar itu menerangi wajahnya yang kini bebas dari riasan simulasi. Tanpa filter digital, kulitnya terlihat pucat, hampir transparan, dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan oleh algoritma kecantikan.
Angka-angka itu berkedip hijau. Aman. Untuk hari ini, dia aman.
Di sebelah kanannya, di ranjang identik yang dipisahkan oleh tirai plastik tipis, Mia, atau Unit 404, sedang menangis. Suaranya ditahan, berubah menjadi isakan pelan yang menyakitkan telinga. Sarah tidak menoleh. Protokol Asrama melarang interaksi emosional yang "tidak produktif" setelah jam kerja, tapi Sarah tahu Mia sedang melihat laporannya sendiri. Dan laporan Mia pasti berwarna merah.
"Nilaimu turun lagi, Mi?" tanya Sarah. Suaranya datar, tanpa nada simpati yang diprogram. Ini adalah suara asli Elena, suara yang jarang didengar siapa pun kecuali dinding kamar mandi saat dia mandi sendirian.
Mia mengangguk, meski Sarah tidak melihatnya. Tirai plastik bergetar saat bahu gadis itu berguncang. "Klien... Klien dari Sektor Industri. Dia bilang aku terlalu kaku. Bilang senyumku palsu." Mia terkekeh pahit, suara yang pecah oleh air mata. "Padahal aku sudah menjalankan Protocol Charm Level 3. Aku sudah tersenyum sampai rahangku sakit, Sar. Tapi dia tetap memberi rating dua bintang."
Sarah menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dipotong pendek dan bersih sesuai standar kebersihan aset. "Dua bintang berarti pemotongan gaji 30%. Dan peringatan pertama."
"Aku tahu," bisik Mia. "Jika aku dapat tiga peringatan dalam sebulan... mereka akan membawa saya ke Ruang Kalibrasi Ulang."
Hening. Kata-kata itu menggantung di udara lembap asrama seperti racun. Ruang Kalibrasi Ulang. Di antara para pendamping, itu bukan istilah teknis. Itu adalah eufemisme untuk penyiksaan mental. Mereka akan membongkar chip-mu, menghapus memori jangka pendekmu, dan memaksamu menonton rekaman kegagalanmu berulang-ulang sambil disetrum hingga kamu lupa cara merasa takut. Banyak yang keluar dari ruangan itu sebagai zombie. Beberapa tidak keluar sama sekali.
"Sudah malam, Mi," kata Sarah, mematikan layar holografiknya. Cahaya biru padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu darurat merah redup di langit-langit. "Tidurlah. Besok kita punya jadwal pagi."
"Bagaimana kalau besok aku gagal lagi?" tanya Mia, suaranya kecil, seperti anak kecil yang tersesat.
Sarah diam sejenak. Chip di lehernya berdenyut halus, mengingatkan dia untuk memberikan jawaban yang menenangkan, jawaban yang sesuai dengan protokol solidaritas semu antar-aset. Katakan padanya bahwa sistem adil. Katakan bahwa usaha akan dihargai.
Tapi Sarah tidak mengatakannya. Karena dia tahu itu bohong. Sistem tidak adil. Sistem itu lapar.
"Kalau besok kau gagal," kata Sarah pelan, matanya menatap kosong ke arah tirai plastik yang memisahkan mereka, "berhenti mencoba menyenangkan mereka. Mulai coba membuat mereka takut. Atau setidaknya, buat mereka bingung. Kebingungan sering kali lebih berharga daripada kepuasan bagi pria-pria bosan itu."
Ada jeda panjang. Lalu, suara isakan Mia perlahan mereda. "Membuat mereka takut? Tapi itu melanggar Protokol Kepatuhan..."
"Protokol tidak membayar tagihan medis jika paru-parumu rusak karena klien yang kasar," potong Sarah dingin. Dia berbaring telentang, menatap langit-langit beton yang retak-retak. "Tidurlah, Mi. Mimpi indah. Atau jangan bermimpi sama sekali. Mimpi juga memakan memori penyimpanan chip-mu."
Mia tidak menjawab lagi. Hanya ada suara napasnya yang mulai teratur, tertidur karena kelelahan fisik dan mental.
Sarah menutup matanya, tapi dia tidak tidur. Dia mendengarkan.
Di lorong luar asrama, terdengar suara langkah kaki berat. Bukan langkah petugas kebersihan robotik yang sunyi. Ini adalah langkah kaki manusia, dilengkapi dengan sepatu bot militer yang menghantam lantai metal dengan irama mengintimidasi.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu asrama mereka.
Sarah menahan napas. Chip-nya mendeteksi lonjakan kortisol.
Pintu asrama yang terkunci secara magnetik terbuka dengan desisan hidrolik yang keras. Cahaya putih menyilaukan dari koridor menyerbu masuk, menerangi debu-debu yang melayang di udara.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan seragam hitam ketat dengan emblem perak berbentuk mata terbuka di dada,lambang Keamanan Internal Katalog. Di pinggangnya tergantung tongkat listrik yang masih mengeluarkan percikan api biru kecil.
Commander Kael.
Wajahnya separuh tertutup bayangan helm yang dia pegang di ketiak, tapi mata kirinya yang asli menatap tajam ke dalam kegelapan asrama. Mata kanannya adalah implan siberetik berwarna merah menyala, berputar-putar saat memindai ruangan, memindai setiap aset yang ada di dalamnya.
"Pemeriksaan rutin," suara Kael berat, seperti kerikil yang digiling. "Ada laporan anomali detak jantung dari Aset Sarah-7 selama sesi terakhir dengan Senator Oldman. Keluar. Sekarang."
Jantung Sarah seolah berhenti. Anomali? Mereka tahu? Dari satu kali detak jantung yang tidak wajar tadi malam?
Mia terbangun dengan terkejut, menarik selimut tipis hingga dagu, matanya membelalak ketakutan melihat sosok raksasa di pintu itu.
Sarah duduk perlahan. Tubuhnya tegang, setiap otot bersiap untuk lari, meski dia tahu itu mustahil. Chip di lehernya mulai terasa panas, sebuah ancaman diam-diam bahwa jika dia melawan, rasa sakit yang akan datang jauh lebih buruk daripada sengatan listrik kecil tadi malam.
Dia melangkah keluar dari balik tirai, berjalan menuju Kael dengan kepala tegak, menyembunyikan gemetar di lututnya di balik lapisan kesombongan buatan.
"Ada masalah, Komandan?" tanya Sarah, suaranya stabil, meski di dalam dadanya badai panik sedang berkecamuk.
Kael tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tongkat listriknya, menunjukkannya ke arah leher Sarah. "Ikut saya. Director Vane ingin berbicara pribadi tentang 'glitch' kecil Anda."
Nama itu. Director Vane. Pria yang menciptakan neraka ini. Pria yang belum pernah bertemu dengan aset rendahan seperti Sarah secara langsung.
Mengapa Direktur Utama memanggil seorang pelacur kelas atas hanya karena satu anomali detak jantung?
Saat Sarah melangkah melewati ambang pintu, meninggalkan Mia yang menatapnya dengan horor, dia menyadari sesuatu yang membuatnya darah membeku. Di pergelangan tangan Kael, terdapat tablet data yang menampilkan profil Sarah. Dan di samping foto wajah Sarah, ada tulisan besar berwarna merah darah:
Sarah bukan sekadar dipanggil untuk dimarahi. Dia dipilih.
Dan saat pintu asrama tertutup kembali di belakangnya, mengurung Mia dalam kegelapan, Sarah tahu hidupnya yang "aman" sebagai boneka sempurna baru saja berakhir.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya