Customer Service

Arsyila, Aku Menemukanmu

Bab 1 dari 1

100%

Bab 1: Hari Ketika Perpisahan

Bab 1 -- Hari Ketika Perpisahan



"Rumah tak lagi sama sejak hari itu. Aku baru mengerti, ternyata sebuah keluarga bisa diuji tepat pada bagian yang paling kita takuti yaitu perpisahan."

---


Aku masih ingat jelas hari ketika Abi dan Kak Fariz pergi.


Hari itu seharusnya menjadi Sabtu yang biasa.


Aku baru saja pulang sekolah dengan seragam putih-merah yang masih melekat di badan. Tas sekolah dan kerudung ku lempar begitu saja ke sofa ruang tamu sebelum berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


"Kak!" panggilku.


Tidak ada jawaban.


Aku memanggilnya lagi dengan suara lebih nyaring, "Kak Fariz!"


Dari lantai atas terdengar langkah kaki. Tak lama, Kak Fariz muncul di ambang tangga membawa tumpukan buku. Dia masih mengenakan seragam putih abu-abu, rambutnya sedikit berantakan.


"Assalamu’alaikum, Adek," sapanya pelan.


"Hehe... Wa’alaikumussalam. Maira lapar, Kak," ucapku sambil tertawa kecil, menepuk perutku.


"Kalau lapar ya makan," jawabnya datar.


Aku cemberut. "Kan ada Kakak, ayo makan bareng!"


Dia menghela napas panjang. "Kamu bisa makan sendiri, Maira."


"Tapi aku mau makan sama Kakak."


Kak Fariz terdiam sejenak. Ditatapnya aku sebentar, lalu meletakkan buku-bukunya di atas meja. "Ya udah. Ayo."


Aku tersenyum puas. Hari itu, aku tidak pernah menyangka bahwa makan siang sederhana di meja kayu itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling sering kuingat.


Kami makan berdua. Abi belum pulang, Umi juga belum kelihatan. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku sibuk menceritakan teman sekelasku yang jatuh saat bermain kejar-kejaran, sementara Kak Fariz sesekali terkekeh mendengarnya.


---


Sore harinya, setelah salat Ashar berjamaah di ruang tengah, kami lanjut mengaji dan muraja’ah hafalan bersama. Suasana terasa sangat damai sampai derit dan hentakan agak keras pintu depan memecah keheningan.


Aku terhenti. Kak Fariz ikut menoleh.


Abi masuk dengan raut wajah tak biasa--tegang, dingin, dan lelah. Beberapa detik kemudian, Umi menyusul di belakangnya. Mereka tidak saling memandang. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka.


Aku menatap keduanya bergantian. "Kok Abi sudah pulang?"


Abi tidak menjawab. Umi hanya memaksakan senyum tipis yang tampak patah, lalu berkata pelan, "Maira, Fariz... kalian sudah makan?"


"Sudah, Mi," jawab Kak Fariz mewakili.


Setelah itu, udara di dalam rumah mendadak terasa berat. Kak Fariz yang biasanya tenang menjadi lebih banyak diam. Aku yang masih kecil tidak begitu mengerti. Yang kutahu, malamnya, suara Abi dan Umi samar-samar terdengar dari ruang keluarga. Suara mereka tidak keras, justru terlalu pelan—seolah mereka sengaja menyembunyikan badai dari kami.


---


Malam semakin larut. Abi dan Kak Fariz yang biasanya pergi ke masjid bersama sejak Maghrib hingga Isya, malam ini bertingkah beda.


Setelah selesai salat Isya ditemani Umi, aku duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lutut. Umi mengusap kepalaku sebentar sebelum keluar kamar tanpa banyak bicara.


Tak lama, pintu kamarku terbuka pelan. Kak Fariz masuk.


"Kak?" panggilku.


"Kenapa belum tidur?" tanya Kak Fariz lembut.


"Abi sama Umi kenapa, Kak?"


Dia terdiam. Ditatapnya mataku di balik temaram lampu kamar.


"Kak?"


"Enggak apa-apa," jawabnya halus.


"Bohong."


Kak Fariz akhirnya duduk di tepi tempat tidurku. Untuk beberapa saat, jemarinya yang hangat hanya mengusap lembut kepalaku tanpa bersuara.


"Maira."


"Hm?"


"Kalau nanti ada apa-apa, kamu enggak usah sedih, apalagi takut. Allah selalu ada bersama kita," ucapnya pelan.


Aku mengerutkan kening. "Kenapa memangnya, Kak?"


Kak Fariz hanya menggeleng.


"Kakak aneh."


Dia tersenyum. Namun, senyum itu terlihat begitu dipaksakan. Aku yang polos tidak mengerti, bahwa malam itu adalah malam terakhir kami tidur di bawah atap rumah yang sama.


---


Keesokan paginya, suasana rumah terasa sangat asing. Dua koper besar berwarna hitam sudah berjejer di ruang tengah.


Di dekat meja makan, Umi berdiri mematung. Wajahnya pucat dengan mata sembap yang memerah. Tangan Umi yang biasanya hangat, pagi itu gemetar hebat saat mengancingkan kerah baju Kak Fariz.


"Hati-hati di sana ya, Kak..." bisik Umi dengan suara serak yang hampir pecah.


Kak Fariz hanya mengangguk pelan, menunduk dalam-dalam.


Aku berdiri di ambang pintu kamar sambil mengernyit heran. Abi sudah mengenakan kemeja rapi dengan tas punggung besar. Ketika aku mendekat, Abi berjongkok dan memelukku erat sekali—begitu erat sampai dadaku terasa sesak.


"Putrinya Abi... maafkan Abi ya, Nak," bisiknya dengan suara bergetar.



------

[ Catatan Penulis ]

Halo pembaca! Sekadar catatan kecil untuk beberapa istilah di atas ya:

• Abi: Panggilan untuk Ayah

• Umi: Panggilan untuk Ibu

• Muraja'ah: Kegiatan mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an agar hafalan tetap terjaga.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab