IKRAR TANPA CINTA

Bab 1 dari 2

Bab 2
100%

Bab 1: Ikrar Tanpa Cinta

 BAB?1

 

“Siapa namamu, Nak?” tanya Ustadz?Mahmud dengan ramah.

 

“Aurellio?Kaelan,” jawabnya pelan. “Semua orang memanggilku?Key.”

 

“Baik, Aurellio?Kaelan. Sekarang katakan padaku: berapa nominal mahar yang akan kau berikan?”

 

Key tidak langsung menjawab. Tangan kanannya merogoh saku jas, mengambil dompetnya—di sana hanya ada beberapa lembar uang. Lalu diambilnya semuanya dan diserahkan kepada Ustadz?Mahmud.

 

“Hanya ada ini,” ucapnya jujur.

 

Ustadz?Mahmud menghitung perlahan, lalu menatap ke arah pemuda itu. Terlihat sedikit rasa terkejut, hampir samar terasa seperti kecewa, namun segera ia tersenyum ke arah Key sambil menyelesaikan pengisian data di atas meja.

 

“Tidak apa?apa, Nak. Yang paling penting kamu ikhlas. Besar atau kecil nominal mahar itu bukan masalah; insya?Allah semua akan berkah ketika kita sebagai laki?laki memberikan mahar dengan rasa ikhlas dan tulus hati.”

 

Wanita di sebelahnya—Rania—menoleh mendengar tutur kata Ustadz?Mahmud itu. Sementara itu, Ustadz?Mahmud mencatat nama, jumlah mahar, serta alamat yang tertera di KTP Aurellio?Kaelan. Semua dilengkapi agar memudahkan urusan mendaftarkan pernikahan ini secara resmi nanti. Nama pria asing ini saja baru ia ketahui—bagaimana mungkin seseorang bisa menikah tanpa saling mengenal terlebih dahulu? Mungkin persis seperti itulah yang sedang dipikirkan hatinya saat ini.

 

Setelah semua data yang diperlukan dirasa cukup lengkap, acara sakral yang sama sekali tanpa rencana ini pun segera akan dimulai. Di dunia ini, banyak wanita memimpikan pernikahan indah bersama pria yang dicintainya, disiapkan jauh hari, penuh hiasan dan sukacita. Berbeda nasib dengan Rania—dia harus menikah karena digerebek warga, situasi yang tiba?tiba, tak terduga, dan penuh tekanan yang belum sepenuhnya ia pahami.

 

Tak ada gaun mewah, tak ada penata rias, tak ada pelaminan megah. Hanya baju muslim sederhana berwarna putih yang dikenakan gadis itu. Wajahnya polos tanpa riasan sedikit pun, namun justru itulah yang membuatnya terlihat manis, bersih, dan cantik—cahaya alami dari dalam hatinya bersinar keluar. Ada rasa kagum yang samar di mata orang yang melihatnya; walaupun segala sesuatunya begitu sederhana, auranya tetap memancarkan keanggunan yang tulus dan lembut.

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Rania Armellita binti Abraham?Danzell dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucap lantang Key—pria yang sama sekali belum dikenal Rania, yang berdiri tegak di hadapan Ustadz?Mahmud, suaranya tenang namun penuh ketegasan.

 

“Sah!” sahut warga yang hadir serempak, suara itu bergema pelan di ruangan sederhana itu.

 

Buliran bening jatuh tak tertahankan lagi dari mata Rania. Entah permainan takdir seperti apa yang sedang dihadapi gadis muda ini saat ini. Kesedihan itu pasti ada—terasa nyata di dadanya—namun ia sendiri tak bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang ia rasakan. Hanya menunduk diam tanpa satu kata pun terucap, pikirannya kosong melayang ke mana?mana, namun air matanya terus mengalir turun membasahi pipi.

 

“Baik, Nak. Kalian sekarang sudah sah secara agama. Kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian nanti, akan dibantu oleh perangkat desa setempat,” ujar Ustadz?Mahmud lembut, menatap mereka berdua dengan pandangan yang penuh kebijaksanaan.

 

Pria yang baru saja mengucapkan ijab kabul itu—Key—mengangguk paham mendengar arahan tersebut. Namun tak ada jawaban dari gadis yang baru saja menyandang status istri dalam sekejap mata ini. Rania masih tak bergeming, diam mematung seolah belum percaya semua ini sungguh terjadi. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini, pikirannya masih jauh entah ke mana.

 

“Karena kau berani mendekati Alden… ini baru permulaan.” Sebuah senyum tipis tersungging samar, tak ada satu pun orang yang hadir menyadarinya atau melihatnya di tengah keramaian warga yang memandang mereka berdua.

 

“Nak… Nak Rania,” panggil Ustadz?Mahmud pelan, melihat tak ada tanggapan dari gadis itu.

 

Masih tetap diam tanpa jawaban. “Sayang, kau baik?baik saja?” tanya ibu yang berdiri di sampingnya dengan suara lembut. Pertanyaan yang terasa sederhana, padahal jelas sekali perasaan Rania pasti sedang kacau balau, tak tenang sama sekali. Ibu itu pun tahu hal itu, namun ia hanya ingin berusaha menyadarkan Rania, membawanya kembali ke kenyataan. Tangannya bergerak mengusap lembut punggung gadis itu, penuh kasih sayang.

 

Akhirnya Rania merespons, perlahan menoleh dan memandangi perempuan paruh baya yang berdiri di sebelahnya itu. Tanpa berkata apa?apa, ia langsung memeluk perempuan itu sangat erat, menenggelamkan wajahnya di bahu ibu itu dan terisak pelan dalam dekapan—suara tangis yang hampir tak terdengar, namun penuh dengan segala kesedihan, ketakutan, dan kebingungan yang selama ini ia tahan seorang diri. Bagaimanapun juga, seorang ibu pasti tahu betapa perihnya perasaan yang sedang dirasakan Rania saat ini.

 

Laki?laki di hadapan Ustadz beralih menatap seseorang di antara kerumunan dengan tatapan tajam yang maknanya tak bisa ditebak siapa pun. Hampir satu jam berlalu, warga dan ibu itu berusaha menenangkan Rania, dan perlahan?lahan gadis itu mulai tenang kembali, air matanya sudah berhenti mengalir. Setelah merasa cukup tenang, semua warga pun perlahan bubar meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah masing?masing, meninggalkan mereka berempat dalam keheningan yang masih terasa berat.

 


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab