Bab 2 dari 2
Rania Armellita—nama itu kini sudah terikat kuat, menyandang status istri seseorang yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu. Malam itu ia berdiri menatap langit yang gelap gulita tanpa bintang dan tanpa bulan, hanya ditemani suara rintik hujan yang membasahi tanah desa. Pikirannya menerawang jauh, entah ke mana, tak tentu arah—seperti kehidupannya yang tiba?tiba berubah total tanpa ia sempat bersiap.
“Ehem,” terdengar deheman lembut membuyarkan lamunan Key.
“Ada apa?” tanyanya singkat, suaranya tetap tenang namun tegas, menoleh perlahan ke arah gadis di sampingnya.
“Ti… tidak. I… itu,” gugup Rania, hatinya berdebar takut seolah tatapan tajam Key ingin memangsanya hidup?hidup. Dia membuang muka, tak berani menatap lurus ke arah Key, tangannya meremas ujung bajunya pelan karena cemas dan canggung.
“Katakan?” satu kata saja, namun terdengar sangat tegas dan menuntut jawaban yang jelas.
Rania menunduk sedikit karena takut, juga bingung harus memulai dari mana dengan sopan. “Em… itu… apakah luka itu sudah baik?baik saja?” tanyanya pelan, menunjuk ke arah lengan Key yang dibalut perban—terlihat jelas bekas merah basah merembes keluar kain putih itu, pertanda darah segar masih mengalir di bawahnya.
“Hem,” jawab Key singkat saja, seolah hal itu bukan urusan besar.
Bagi Rania, jawaban itu terasa sangat tidak memuaskan. Tadi jelas sekali ia melihat perban di lengan Key ternyata merah basah karena darah segar yang merembes keluar, namun laki?laki itu malah bersikap sangat santai seolah tak terjadi apa?apa padanya. Ada rasa khawatir yang tulus muncul di hati Rania—bukan karena perasaan suka atau karena status barunya, melainkan karena selayaknya manusia memperlakukan sesama manusia yang sedang terluka, itu wajar dan manusiawi.
“Nan… nanti… Anda bisa tidur di kamarku. Biar aku tidur bersama kedua adikku saja. Jika memerlukan sesuatu, panggil saja kami,” ucap Rania pelan, berusaha sopan meski hatinya masih canggung sekali menyapa pria asing yang kini suaminya itu.
“Hem,” jawab Key lagi begitu saja.
Key menghela napas panjang mendengar ucapan gadis yang baru saja mengubah statusnya beberapa jam yang lalu itu. Rania memberanikan diri sedikit, melirik lewat sudut matanya menatap Key. Menunggu beberapa saat, namun tak ada jawaban lain, tak ada ucapan terima kasih atau penolakan—hanya keheningan.
Dari tempat agak jauh, Dion memperhatikan semuanya diam?diam—setiap gerak, setiap nada bicara, bagaimana Rania berusaha ramah dan Key menjawab singkat begitu saja. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum sinis sambil bergumam pelan tak terdengar orang lain:
“Huh dasar… sudah numpang tapi songong lagi.”
“Kamu sedang apa, Dek?” tanya Rania melihat adiknya yang berdiri diam menatap langit juga.
“Itu, Kak,” tunjuk adiknya ke arah langit yang gelap.
“Andai saja Ibu sama Bapak masih ada ya, Kak. Mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini,” ucap adiknya pelan, suaranya terdengar sedih dan lemah.
Perkataan itu seakan meremas jantung Rania. Ia sendiri berpikir persis sama. Semua kata “andai” itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan bagi mereka. Namun kenyataan pahit ini tetap ada, dan ini semua sungguh nyata terjadi. Rania menyeka sedikit genangan air mata yang mulai muncul di matanya dengan cepat, tak ingin adiknya melihat ia menangis lagi.
“Sudah, ayo kita masuk,” ajaknya sedikit buru?buru, membawa adiknya masuk ke dalam rumah sebelum Key melihat mereka.
“Kak, kenapa buru?buru sekali sih?” tanya adiknya bingung.
“Ssttt… berisik,” bisik Rania pelan sambil tersenyum tipis agar adiknya tenang.
Di tempat lain, jauh dari rumah itu, terdengar suara benturan keras!
“Bug!”
“Bangsat!” bentak seseorang dengan marah sekali.
“Auw!” teriak yang lain kesakitan.
“Bug!” pukulan lagi mendarat keras.
“Anjing lo!” makinya penuh amarah.
Terjadi perkelahian antara sahabat sendiri—karena kesal semua rencana yang sudah disusun lama akhirnya gagal. Bukan karena mereka saling benci, tapi rasa kecewa begitu besar sampai ia tega memukul laki?laki yang sering membantunya saat ia sedang kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Sungguh, saat ini ia terlihat benar?benar egois, memikirkan kemarahannya sendiri tanpa peduli orang lain.
“Sudah! Apa?apaan kalian ini, hah!” bentak seseorang yang datang melerai mereka.
“Jangan ikut campur! Dia lolos karena kecerobohannya!” jawab pemuda itu masih emosi.
“Sudah, cukup!” bentaknya lagi tegas, akhirnya berhasil melerai perkelahian mereka, membawa salah satu pihak yang terluka menjauh dari sana.
“Brengsek! Ini semua gara?gara kalian!” umpatnya penuh kemarahan.
“Jangan hanya salahkan mereka. Kamu juga salah,” jawab orang itu tenang namun tegas.
“Coba tadi kau datang tepat waktu, pasti semua ini tidak akan terjadi!”
“Ah… sial!” umpatnya kesal sendiri.
Mereka sedikit takut melihat kemarahan sahabatnya yang begitu besar. Namun apa yang dikatakan orang itu memang ada benarnya juga. Mereka tidak sepenuhnya salah; andai saja tadi ia datang tepat waktu, pasti semua ini tidak akan berantakan seperti sekarang.
“Aurellio?Kaelan… mari kita lihat berapa lama kau masih bisa tetap berdiri di sana,” ucapnya pelan, matanya menatap kejauhan seolah bisa melihat sosok itu dari tempat mereka berdiri.
Sementara itu, mengenalkan lebih jauh tentang dirinya: Rania Armellita, gadis yang baru genap berusia tujuh belas tahun beberapa hari yang lalu. Ia berasal dari keluarga sederhana, setiap hari sepulang sekolah ia selalu bekerja membantu kebutuhan rumah tangga dan keluarganya. Sejak ditinggal kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu—meninggal dunia akibat kecelakaan yang menimpa mereka—dunia Rania seakan berubah menjadi begitu berat dan gelap.
Sejak saat itu ia harus tetap kuat dan baik?baik saja, karena ada kedua adiknya yang harus dijaga, dilindungi, dan dibesarkannya. Bahkan pernah ia ingin berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya yang cukup. Namun pihak sekolah justru menyemangatinya, memberikan bantuan agar ia tetap bisa melanjutkan sekolah seperti teman?temannya yang lain. Dunia mungkin terasa kejam terhadapnya, tapi kita sebagai manusia tidak pernah tahu seindah apa hal baik yang sedang menanti kita di depan sana. Ia masih memiliki saudara, meski kondisinya juga sama beratnya seperti mereka. Budhenya sedikit kasar dan pelit, namun pamanya sering membantu secara diam?diam karena tidak tega melihat mereka susah, dan menganggap Rania serta adik?adiknya persis seperti anak sendiri.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya