Timestorm : The Rise of Apocalypse
Bab 2 dari 14
Gedung teater tua itu adalah sebuah sarkofagus kejayaan masa lalu yang megah, namun kini membusuk dalam diam. Langit-langit kubahnya yang tinggi dihiasi sisa-sisa lukisan dinding era Renaisans yang telah mengelupas, digantikan oleh jaring laba-laba raksasa dan noda rembesan air hujan yang menyerupai air mata hitam. Di tengah keheningan yang mencekam, hanya ada gema langkah kaki Aaron yang berat, kontras dengan langkah Devan yang terseret, dipenuhi kecemasan yang menggantung di udara.
Aaron membimbing—atau lebih tepatnya, menyeret—Devan melintasi deretan kursi penonton berlapis beludru merah yang telah memudar dan berjamur. Mereka berhenti di area belakang panggung, sebuah labirin lorong sempit yang pengap, bersembunyi di balik tirai panggung beludru hitam yang menjuntai layaknya sayap kelelawar raksasa.
"Duduk," perintah Aaron dingin, suaranya nyaris berbisik namun tajam. Ia mengempaskan Devan ke atas sebuah kursi rias kayu yang sudah reyot.
Devan menuruti perintah itu tanpa bersuara. Napasnya masih memburu. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini ternoda oleh cipratan darah hitam pekat dari gang tadi. Di bawah sorotan cahaya senter kuning redup milik Aaron, setelan biosuit putih milik Devan tampak seperti anomali yang mengerikan—sebuah simbol kesucian masa depan yang dipaksa bersentuhan dengan kebusukan masa lalu.
"Siapa... siapa sebenarnya mereka?" tanya Devan akhirnya, memecah kesunyian. Suaranya bergetar, beradu dengan gemertak giginya yang kedinginan. "Secara medis, manusia yang mati tidak mungkin memiliki aktivitas motorik seaktif itu. Itu melanggar hukum biologi dasar."
Aaron tidak langsung menjawab. Ia sibuk membersihkan laras senapannya dengan secarik kain dekil. Gerakannya sangat lambat, metodis, seolah ia sedang melakukan ritual suci.
"Di dunia ini, Devan," ujar Aaron tanpa menatapnya, "hukum biologimu sudah mati bersama miliaran orang yang dikubur tanpa nama. Mereka yang mengejarmu tadi hanyalah cangkang kosong yang digerakkan oleh rasa lapar yang abadi. Jangan sebut mereka manusia."
Aaron menegakkan tubuhnya, menatap Devan dengan sepasang mata yang sedingin es di kutub. "Sekarang, giliranmu berbicara. Pakaian aneh ini. Jam tangan retak yang memancarkan listrik aneh itu. Kamu bukan orang biasa. Kamu dari mana?"
Devan menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun abu. Ia tidak mungkin menceritakan tentang lompatan kuantum, tentang Neo-Berlin tahun 2150, atau tentang mesin waktu portabelnya yang kini mati total di pergelangan tangannya. Mereka akan menganggapnya gila, atau lebih buruk, menganggapnya ancaman.
"Saya... saya ilmuwan dari fasilitas penelitian rahasia pemerintah," Devan berbohong, suaranya diusahakan setenang mungkin meski jantungnya berdentum keras. "Kami mengisolasi diri di bawah tanah sejak awal wabah. Saya terpaksa keluar karena tempat kami hancur."
Aaron menyipitkan mata, mengamati setiap jengkal ekspresi wajah Devan. Detik-detik berlalu seperti jam dinding yang berjalan lambat, mencekam dan penuh ketegangan. Sebelum Aaron sempat menggali lebih dalam, udara di sekitar mereka mendadak berubah.
Kreeek...
Suara pintu kayu di bagian depan teater yang dipaksa terbuka terdengar lamat-lamat. Bukan seretan langkah tanpa arah milik mayat hidup, melainkan langkah kaki yang ringan, cepat, dan penuh perhitungan.
Manusia.
"Penjarah," bisik Aaron. Matanya yang semula dingin langsung berkilat penuh amarah dan insting membunuh yang liar. Ia mematikan senternya seketika, menenggelamkan mereka dalam kegelapan yang pekat.
"Tetap di sini dan jangan bersuara jika kamu masih ingin bernapas," desis Aaron di dekat telinga Devan, sebelum sosoknya melebur ke dalam bayang-bayang kegelapan panggung.
Devan meringkuk di sudut meja rias, tangannya membekap mulutnya sendiri. Dari balik tirai hitam yang robek, ia bisa mendengar percakapan berbisik dari arah lobi teater. Suara-suara kasar yang dipenuhi ketamakan.
"Periksa tempat ini. Cari obat-obatan atau makanan kaleng. Jika ada yang menghalang-halangi... habisi."
Tiga bayangan manusia dengan senter yang bergoyang-goyang masuk ke dalam ruang pertunjukan. Mereka membawa parang dan senjata api rakitan. Suasana teater yang sunyi kini berubah menjadi arena perburuan yang mencekam. Langkah kaki mereka semakin mendekat ke arah belakang panggung, memecah kesunyian dengan suara tawa kecil yang keji.
KRETAK!
Salah satu penjarah secara tidak sengaja menginjak botol kaca di dekat tirai panggung.
"Ada orang di sini!" teriak salah satu penjarah berambut gondrong saat cahaya senternya menyapu setelan putih Devan yang memantulkan cahaya.
"Sial!" Devan memekik, mencoba mundur, namun pria gondrong itu sudah melompat ke atas panggung dengan parang terhunus.
Tepat sebelum bilah tajam itu merobek wajah Devan, sebuah bayangan hitam menyergap dari kegelapan atas panggung. Aaron turun bagaikan predator malam, mendaratkan lututnya tepat di dada pria gondrong itu hingga terdengar suara rusuk yang patah.
BANG!
Tembakan dari penjarah kedua menyalak, memercikkan api yang menerangi ruangan sesaat. Peluru itu meleset, menghantam cermin rias di belakang Devan hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kaca menghujani tubuh Devan yang tiarap di lantai dengan histeris.
Aaron berguling di atas lantai kayu yang berdebu, melepaskan tembakan balasan dengan senapan laras panjangnya.
Penjarah kedua tumbang dengan dada berlubang. Namun, penjarah ketiga—seorang pria bertubuh kekar dengan tato penuh di lengannya—berhasil menyergap Aaron dari belakang, mencekik leher Aaron dengan rantai besi.
"Devan! Ambil senjatanya!" teriak Aaron dengan suara parau yang tercekat.
Devan melihat pistol rakitan yang terjatuh dari tangan penjarah kedua yang tewas, terletak hanya beberapa jengkal dari jemarinya. Tangannya gemetar hebat. Paranoia higienisnya berbenturan dengan naluri bertahan hidup yang paling primitif. Untuk pertama kalinya, ia harus memilih: mengotori tangannya dengan darah manusia, atau mati.
Dengan jeritan frustrasi, Devan menyambar pistol itu, mengarahkannya dengan kedua tangan yang bergetar ke arah pria kekar yang sedang mencekik Aaron.
DOR!
Tembakan Devan meleset, namun suara ledakannya yang memekakkan telinga membuat pria kekar itu terkejut dan melonggarkan cengkeramannya. Aaron memanfaatkan detik yang berharga itu untuk menarik pisau taktis dari pinggangnya dan menghujamkannya tepat ke leher pria kekar tersebut.
Darah segar yang hangat menyembur, menodai wajah Aaron yang tanpa ekspresi dan mengalir membasahi lantai panggung teater yang berdebu. Pria kekar itu ambruk, napasnya bergelembung dalam darah sebelum akhirnya meregang nyawa.
Suasana kembali sunyi, menyisakan deru napas Devan yang tersengal-sengal dan bau amis darah yang menguasai udara steril yang selalu ia dambakan.
Devan terduduk lemas di atas lantai yang basah oleh darah. Kepalanya berputar hebat. Aaron bangkit berdiri perlahan, mengusap darah di wajahnya dengan punggung tangan tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Kamu tidak terlalu berguna," ujar Aaron dingin, sambil memeriksa jasad pria kekar di bawah kakinya untuk mencari barang berharga. "Tapi setidaknya tembakan melesetmu membuat bajingan ini lengah."
Aaron menarik kerah jaket penjarah yang tewas itu untuk mencari pasokan di saku dalamnya. Namun, gerakan Aaron mendadak terhenti. Matanya menyipit menatap pangkal leher dan dada bagian atas mayat penjarah tersebut.
Devan, yang perlahan mendekat untuk menenangkan sarafnya, melirik ke arah yang sama. Jantungnya yang baru saja mulai tenang seketika berhenti berdetak. Rasa dingin yang lebih pekat dari kabut kuning di luar sana menjalar dari ujung kakinya langsung ke otaknya.
Di kulit leher penjarah yang kotor itu, di bawah lapisan daki dan darah, terdapat sebuah tato tanda pengenal geometris berwarna biru berpendar redup. Itu bukan tato biasa; itu adalah tato tinta kuantum sub-epidermal yang hanya bisa dibuat dengan teknologi mikrolaser abad ke-22.
Tato itu membentuk sebuah logo lingkaran yang terbelah oleh tiga garis vertikal sempurna.
Logo Aethelgard Corp.
Perusahaan megakorporasi teknologi kuantum dan temporal tempat Devan bekerja sebagai fisikawan utama di masa depan. Tempat di mana ia merancang mesin waktu yang membawanya terdampar di sini.
Tato itu tidak mungkin ada di abad ke-21. Itu adalah tanda pengenal khusus bagi para karyawan tingkat tinggi Aethelgard yang memegang proyek rahasia.
Devan mundur selangkah dengan mata terbelalak, memegangi kepalanya yang mendadak terasa kosong. Bagaimana mungkin seorang penjarah kasar di era kiamat masa lalu ini memiliki tanda pengenal dari tempat kerjanya di masa depan? Apakah kiamat ini... memang sengaja dirancang oleh orang-orang dari masanya sendiri?
"Ada apa?" tanya Aaron, menyadari perubahan drastis pada wajah Devan. Ia mengarahkan senternya tepat ke arah tato itu, lalu ke wajah Devan yang memucat pasi. "Kamu mengenali tanda ini?"
BERSAMBUNG ....
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya