Timestorm : The Rise of Apocalypse

Bab 1 dari 14

Bab 2
100%

Bab 1: Titik Nol yang Salah

Udara di kepala Devan terasa seperti pecahan kaca yang diguncang kasar.


Setiap kali ia mencoba menarik napas, rasa sakit yang dingin dan tajam menusuk dinding paru-parunya, menyisakan sesak yang membakar tenggorokan. 


Kesadarannya datang dengan sangat lambat, serupa tinta hitam yang menetes ke dalam air keruh—berputar-putar, kabur, memilin rasa pening, lalu perlahan menggelapkan logika.


Hal pertama yang ia rasakan adalah gravitasi yang tidak ramah. Tubuhnya terhempas di atas permukaan yang keras, kasar, dan dingin. Aspal.

Devan terbatuk parau, memuntahkan cairan bening yang terasa getir di pangkal lidahnya. Pandangannya bergoyang, menangkap siluet dunia yang seolah digambar oleh sapuan kuas yang basah dan kotor. Asap tebal berwarna kelabu keperakan membubung dari pergelangan tangan kirinya. 


Gelang krono—perangkat perak ramping yang seharusnya menjadi mahakarya fisika kuantum abad ke-22—kini retak membelah layarnya. Cahaya holografisnya berkedip sekarat, memuntahkan deretan angka biner yang kacau sebelum akhirnya padam sepenuhnya dengan suara mendesis yang memilukan. Daya mati total.


"Sial..." bisik Devan, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh kesunyian yang terlalu ganjil di sekelilingnya.


Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan pening yang mendera bait-bait saraf di belakang kepalanya. Ia seharusnya berada di Neo-Berlin tahun 2150. Sebuah megacity steril dengan menara-menara kaca yang menembus awan dan pembersih udara otomatis di setiap sudut distrik. Namun, tempat ini... tempat ini baunya salah.


Itu adalah bau yang belum pernah Devan hirup seumur hidupnya. Bau besi berkarat yang lembap, sampah yang membusuk lambat, dan aroma samar kematian yang menusuk indra penciumannya. Udara begitu pekat oleh kabut tebal berwarna kekuningan yang menggantung rendah, menyelimuti gedung-gedung tua dan menyulap siang hari menjadi temaram yang sekarat.


Devan bangkit dengan lutut gemetar, mengibaskan debu dari setelan biosuit-nya yang putih bersih—yang kini tampak sangat mencolok, asing, dan naif di antara reruntuhan. Ia berada di sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding bata merah yang telah runtuh sebagian. Lumut liar menjalar subur pada retakan semen, sementara coretan-coretan cat semprot yang memudar menghiasi sisa-sisa tembok. Di ujung gang, sebuah papan reklame besi tua tergantung miring pada satu engsel, berderit pelan dan ritmis setiap kali angin dingin berembus.


“Selamat Datang di Centerville. Kota Masa Depan Anda.”


Devan mendekati papan itu, jantungnya mulai bertalu tidak keruan di balik rusuknya. Ia meraba saku dadanya yang kedap udara, mengeluarkan sebuah pemindai optik kecil yang beruntung masih berfungsi. Dengan tangan gemetar, ia mengarahkannya pada lembaran koran usang yang terjebak di dalam kubangan air berlumpur di bawah kakinya.


Pemindai itu berbunyi bip pelan, memantulkan cahaya biru redup ke wajah Devan yang pucat. Layar kecilnya memunculkan tanggal yang tertera di sudut koran yang robek: 14 Oktober 2028.


Darah Devan mendadak terasa surut dari wajahnya. Dingin menjalar hingga ke ujung-ujung jarinya. 2028? Itu mustahil. Lompatannya melesat mundur hampir seratus dua puluh tahun. Ia tidak terlempar ke masa depan yang makmur; ia terdampar di masa lalu. Di titik nadir peradaban manusia sebelum sejarah mencatat hilangnya kota ini secara misterius dari muka bumi.


Sebelum Devan sempat mencerna horor dari paradoks tersebut, kesunyian yang mencekam itu koyak oleh sebuah suara.


Sreeek... Sreeek...


Suara seretan langkah kaki yang malas. Lambat, berat, dan tak berirama.


Devan menegang, menghentikan napasnya sendiri. Dari balik pekatnya kabut kuning di mulut gang, sebuah siluet muncul. Sosok itu berjalan terhuyung-huyung, kepalanya miring ke satu sisi dengan sudut yang tidak wajar seolah-olah lehernya telah patah. Insting higienis Devan langsung berteriak waspada saat melihat pakaian sosok itu yang koyak, basah, dan dipenuhi noda hitam pekat yang telah mengering.


"Halo?" panggil Devan, suaranya bergetar di udara dingin. "Maaf, saya... saya tersesat. Anda butuh bantuan medis?"


Sosok itu tidak menjawab. Ia terus melangkah maju dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Ketika jarak mereka terkikis hingga beberapa meter, kabut perlahan menyingkap wajahnya yang tersorot cahaya temaram. Devan merasakan paru-parunya mendadak kaku bak batu.

Itu bukan lagi manusia.


Separuh rahang bawah makhluk itu telah hilang, menyisakan jaringan daging busuk berwarna abu-abu dan deretan gigi yang menghitam tanpa pelindung gusi. Matanya tidak memiliki selaput pelangi—hanya lingkaran putih keruh yang dilapisi urat-urat darah mati yang membeku.


Makhluk itu mengendus udara, menggerakkan lubang hidungnya yang hancur, lalu dengan sentakan yang tiba-tiba gila, ia membuka mulutnya dan mengeluarkan suara lengkingan yang memekakkan telinga.


ARRRGGGHHH!


Suara itu melengking tinggi, memantul di antara dinding-dinding gang yang sempit. Dan seolah menjawab panggilan tersebut, dari balik kabut tebal di ujung jalan, dua, tiga, lalu belasan siluet serupa mulai bermunculan. Mereka menembus kegelapan dengan mata kosong, bergerak serempak ke arah Devan seolah mencium bau daging segar yang belum terkontaminasi di dalam gang mati itu.


"Demi Tuhan..." Devan mundur selangkah, berniat untuk lari, namun ketika ia menoleh ke belakang, ia menyadari gang itu adalah jalan buntu yang dikunci oleh tumpukan kontainer besi berkarat dan jalinan kawat berduri yang tinggi.


Makhluk pertama menerkam dengan kecepatan yang tak terduga, melompat maju dengan tangan-tangan kurus berpaku kuku hitam yang siap merobek.


Devan menghindar secara refleks, berguling di atas aspal yang kotor, membuat makhluk itu menghantam dinding bata dengan keras hingga menimbulkan suara tulang berderak. Namun, kawanan yang lain telah memadati mulut gang, menutup satu-satunya jalan keluar.


Aroma busuk yang menguar dari mulut-mulut menganga di depannya menyesakkan dada Devan. Satu monster berpakaian jas hujan robek menjangkau kerah setelan putihnya, kuku-kukunya yang tajam nyaris menggores kulit leher Devan yang bersih.


Devan memejamkan mata erat-erat, menahan lengan makhluk itu dengan sisa tenaganya, merasakan tetesan air liur berbau bangkai menetes di atas helm pelindungnya yang retak. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia mengira dadanya akan meledak saat itu juga.


DOR!


Satu dentuman keras memecahkan udara lembap di dalam gang.

Kepala makhluk di atas Devan hancur seketika, menyemburkan cairan kental berwarna hitam kehijauan yang mengotori setelan putih bersih milik Devan. Tubuh tak bernyawa itu ambruk, menimpa tubuh Devan yang gemetar dengan berat yang dingin.

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan beruntun menyusul dengan presisi yang dingin dan mematikan. Tiga monster lagi tumbang sebelum mereka sempat menyadari arah datangnya peluru.


Dari arah mulut gang, seorang pria melangkah menembus kabut dengan santai, seolah kematian di sekelilingnya hanyalah kabut pagi yang biasa ia lewati. Ia mengenakan jaket kulit cokelat yang penuh goresan dalam, celana taktis kotor, dan sebuah senapan laras panjang yang masih mengepulkan asap tipis di tangannya. Wajahnya keras, dihiasi janggut tipis yang tak terawat, dengan mata yang menyimpan kekosongan yang dingin—mata seorang pria yang telah lama mati di dalam diri sendiri. 


"Hei, orang aneh," suara pria itu berat dan rendah, mengalun pelan namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Ia mengarahkan moncong senapannya tepat ke arah dada Devan yang masih terkapar. "Tiarap jika kamu masih ingin memakai kepalamu."


Devan tidak berpikir dua kali. Ia membenamkan wajahnya ke aspal yang dingin dan basah, tepat saat pria itu melepaskan tembakan terakhir ke arah monster yang mencoba merangkak di belakang kakinya.

Sunyi kembali turun secara perlahan, menyisakan denging panjang di telinga Devan dan aroma mesiu hangus yang bercampur dengan bau pembusukan.

Pria dengan jaket kulit itu melangkah mendekat. Sepatu bot militer miliknya menginjak genangan darah hitam tanpa ragu sedikit pun. Ia berdiri di atas Devan, menunduk, lalu menatap setelan putih futuristik yang dikenakan Devan dengan tatapan menyelidik yang penuh rasa curiga.


"Pakaian putih bersih di tempat sekotor ini?" Pria itu mendengus sinis, menurunkan senapannya sedikit demi sedikit, namun jarinya tetap melekat erat pada pelatuk. "Kamu ini badut dari sirkus mana, huh?"


BERSAMBUNG .... 


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab