Malam Takziah

Bab 1 dari 6

Bab 2
100%

Bab 1: Kabar Duka

Hujan turun sejak subuh.

Butiran air memukul kaca jendela apartemen dengan ritme yang tenang, nyaris meninabobokan. Dari lantai dua belas, Jakarta tampak seperti kota yang kehilangan warna. Gedung-gedung menjulang diselimuti kabut tipis, sementara jalanan di bawah berubah menjadi garis-garis lampu kendaraan yang memantul di atas aspal basah.

Nadia Prameswari menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca apa yang tertulis di sana. Kursor berkedip di ujung kalimat terakhir artikel yang seharusnya sudah selesai sejak semalam.

"Penyelidikan kasus korupsi..."

Ia menghela napas panjang, lalu menghapus satu paragraf penuh. Tidak ada satu pun kalimat yang terasa benar pagi itu.

Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Nomor tak dikenal. Nadia membiarkannya berdering hingga berhenti sendiri. Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali menyala. Kali ini pesan singkat masuk.

Nduk, ini Raka. Tolong angkat teleponnya. Penting.

Nadia mengernyit. Nama itu terasa asing, tetapi juga tidak sepenuhnya asing. Raka...

Ia mencoba mengingat.

Seseorang dari desa? Teman sekolah?

Sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia memikirkan kampung halamannya. Belum sempat ia menyusun ingatan, panggilan itu datang lagi. Dengan sedikit ragu, Nadia mengangkatnya.

"Halo?"

Suara di seberang terdengar pelan, tertahan.

"Nduk... akhirnya diangkat juga."

Nadia tidak langsung menjawab. Ia mengenali logat Jawa yang pekat itu. Logat yang dulu setiap hari memenuhi rumahnya.

"Saya Raka... anaknya Pak Lurah dulu."

Baru saat itu Nadia mengingat.

Raka.

Anak laki-laki yang dulu sering bermain layang-layang bersamanya di pematang sawah. Mereka pernah begitu akrab. Lalu, waktu membuat segalanya menjadi asing.

"Ada apa, Mas?"

Di seberang sana, hening beberapa detik, lalu suara itu datang lagi. Lebih pelan.

"Bapakmu meninggal tadi malam."

Dunia seolah berhenti bergerak. Nadia tidak menjawab. Ia hanya mendengar bunyi hujan yang semakin deras di luar.

"Nduk...? Masih di sana?"

"Iya…"

"Jenazah masih di rumah."

Nadia menelan ludah.

"Bapak sakit?"

"Katanya serangan jantung."

Katanya. Satu kata itu terasa mengganjal.

"Katanya?"

"Dokter puskesmas yang bilang begitu."

Hening kembali mengisi percakapan. Nadia menutup mata.

Lima belas tahun.

Sudah lima belas tahun sejak terakhir kali ia pulang ke Desa Karangwening. Lima belas tahun pula sejak percakapan terakhirnya dengan sang ayah berakhir dengan pintu dibanting keras.

"Kalau memang Jakarta lebih penting daripada rumah ini... pergilah."

Ia pergi. Dan tidak pernah benar-benar kembali. Sesekali ayahnya mengirim pesan. Mengabarkan sawah mulai panen. Mengirim foto pohon mangga yang mulai berbuah. Menanyakan apakah Nadia sudah makan. Tidak pernah ada balasan yang panjang.

Hubungan mereka perlahan menyusut menjadi ucapan selamat ulang tahun dan transfer uang menjelang Lebaran. Bahkan ketika tetangga memberi kabar bahwa ayahnya mulai sering sakit-sakitan, Nadia hanya mengirimkan biaya berobat.

Ia selalu punya alasan. Liputan. Deadline. Rapat redaksi.

Jakarta terlalu sibuk untuk memberinya waktu pulang. Atau mungkin ia memang belum siap kembali.

"Nduk..."

Suara Raka membuyarkan lamunannya.

"Kalau bisa... pulanglah hari ini."

Nadia memandang hujan di balik kaca. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kata pulang terdengar begitu asing.

"Aku berangkat sekarang."

Telepon ditutup. Ruangan kembali sunyi. Ia berdiri cukup lama di depan jendela. Pantulan dirinya terlihat samar di kaca. Wajah yang lebih dewasa. Lebih keras. Lebih lelah. Tanpa sadar, matanya jatuh pada sebuah kotak kecil di sudut rak buku.

Kotak kayu itu sudah berpindah-pindah apartemen bersamanya selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah dibuka lagi.

Perlahan Nadia mengambilnya. Engselnya berderit pelan ketika tutupnya diangkat. Di dalamnya hanya ada beberapa benda.

Sebuah ketapel. Kelereng berwarna biru. Dan sebuah foto lama yang mulai menguning.

Foto itu memperlihatkan seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun sedang berdiri di depan rumah joglo bersama seorang laki-laki paruh baya.

Ayahnya.

Di belakang mereka berdiri sebuah pohon beringin yang sangat besar. Anehnya, setiap kali melihat foto itu, Nadia selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Seolah dahulu ada seseorang yang berdiri di sisi kirinya. Seseorang yang kini tidak lagi terekam.

Ia menggeleng pelan. Mungkin hanya perasaannya. Foto lama memang sering rusak dimakan usia.

Nadia memasukkan kembali foto itu ke dalam kotak, lalu mulai mengemasi pakaian ke dalam koper.

Ia tidak tahu berapa lama akan tinggal di desa. Mungkin hanya sampai pemakaman selesai. Mungkin tiga hari. Mungkin seminggu. Yang pasti, ia ingin semuanya cepat berakhir.

Ia belum tahu bahwa kepulangannya kali ini bukan untuk mengantar kepergian ayahnya, tetapi untuk menemukan sesuatu yang selama lima belas tahun telah menunggunya pulang.

 

Perjalanan menuju Desa Karangwening memakan waktu hampir delapan jam. Dua jam pertama dilalui Nadia dengan kereta menuju kota ke kabupaten, lalu disambung dengan sebuah mobil travel tua yang melayani rute hingga kecamatan terakhir. Dari sana, ia harus melanjutkan perjalanan menggunakan ojek karena tidak ada lagi kendaraan umum yang masuk ke desanya.

Sudah lama ia melupakan bagaimana rasanya pulang.

Jalan raya perlahan berganti menjadi jalan sempit yang membelah hamparan sawah. Bangunan-bangunan beton mulai menghilang, digantikan rumah-rumah kayu dengan halaman luas. Udara berubah lebih dingin. Bau aspal tergantikan aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan.

Sopir travel mematikan radio ketika kendaraan mulai memasuki kawasan perbukitan.

"Mbak mau turun di Karangwening?" tanyanya sambil melirik lewat kaca spion.

"Iya."

"Jarang ada orang kota ke sana."

Nadia hanya mengangguk.

"Masih ada keluarga di sana?"

"Bapak saya."

Jawaban itu terlontar begitu saja. Baru beberapa detik kemudian Nadia menyadari bahwa kalimat itu tidak lagi benar.

Ia menatap ke luar jendela. Kabut tipis mulai turun di antara pepohonan pinus. Jalan berkelok mengikuti kontur bukit. Di beberapa titik, jurang menganga hanya beberapa meter dari roda kendaraan.

"Turut berduka ya, Mbak."

Nadia menoleh.

"Maaf?"

"Saya dengar Pak Hadi meninggal."

Nadia mengernyit. "Bapak kenal bapak saya?"

Sopir itu mengangguk pelan. "Siapa yang tidak kenal Pak Hadi."

Nada suaranya berubah. Bukan sekadar mengenal. Lebih seperti menghormati.

"Beliau orang baik."

Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah pertigaan kecil.

"Karangwening lewat jalan itu." Sopir menunjuk sebuah jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. "Nanti ada ojek mangkal."

Nadia mengucapkan terima kasih, lalu menurunkan kopernya.

Udara langsung menyergap begitu kedua kakinya menginjak tanah. Dingin. Jauh lebih dingin daripada yang ia ingat.

Langit sudah berubah kelabu ketika seorang pengemudi ojek menghampirinya.

"Mau ke mana, Mbak?"

"Karangwening."

Pengemudi itu memandang Nadia beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Rumah siapa?"

"Pak Hadi."

Lelaki itu spontan meluruskan duduknya. "Oh..."

Hanya satu suku kata. Namun cukup membuat Nadia menangkap sesuatu yang aneh.

"Kenapa?"

"Enggak..."

Ia buru-buru memasang senyum. "Naik saja, Mbak."

Motor tua itu mulai menembus jalan desa yang berkelok. Pepohonan semakin rapat. Sesekali mereka melewati rumah-rumah yang berjauhan satu sama lain. Beberapa warga yang sedang menyapu halaman menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melihat ke arah Nadia. Tatapan mereka membuatnya tidak nyaman. Seolah mereka sedang memastikan sesuatu.

"Mas..."

"Hm?"

"Orang-orang kenapa melihat saya begitu?"

Pengemudi itu tertawa kecil. "Mungkin mereka kenal."

"Padahal saya sudah lima belas tahun enggak pulang."

"Lupa wajah memang bisa." Ia berhenti sejenak. "Tapi lupa orangnya... susah."

Kalimat itu terdengar aneh. Nadia ingin bertanya lebih jauh, tetapi motor sudah memasuki sebuah tikungan tajam.

Tak lama kemudian, pohon beringin raksasa muncul di kejauhan. Pohon itu berdiri sendirian di sebuah tanah lapang, tepat di perbatasan desa.

Akar-akarnya menjulur hingga menutupi sebagian tanah, sementara ranting-rantingnya menjuntai seperti tirai yang menghalangi pandangan. Nadia langsung mengenalinya. Semasa kecil, ayahnya selalu melarangnya bermain di sekitar pohon itu.

"Kalau hari mulai gelap, jangan pernah lewat bawah beringin sendirian."

Saat itu Nadia menganggap larangan tersebut hanyalah cara orang tua menakut-nakuti anak.

Motor melambat. Entah mengapa, pengemudi itu menundukkan kepala ketika melewati pohon tersebut.

Refleks. Seolah sudah menjadi kebiasaan.

Nadia memperhatikan batang pohon yang besar itu. Di pangkalnya terlihat beberapa bunga melati yang mulai layu. Beberapa batang dupa telah menjadi abu. Sebuah mangkuk tanah liat berisi air hujan diletakkan begitu saja di antara akar-akar yang mencuat ke permukaan.

"Mas..."

"Iya?"

"Itu... masih sering dipakai orang?"

Pengemudi itu tidak langsung menjawab. "Kadang."

"Untuk apa?"

"Ya..." Ia tersenyum tipis. "Namanya juga orang desa. Masih percaya begituan."

Nadia mengangguk pelan. Namun ada sesuatu yang mengusiknya. Bunga-bunga itu masih segar. Artinya belum lama ada yang datang.

Motor kembali melaju. Tidak sampai lima menit kemudian, rumah-rumah mulai terlihat lebih rapat.

Karangwening.

Tidak banyak yang berubah. Masjid tua masih berdiri di tempat yang sama. Balai desa masih dicat hijau pucat. Warung kecil di dekat pertigaan masih buka, meski papan namanya telah memudar dimakan usia. Yang berubah hanyalah waktu, dan dirinya.

Motor akhirnya berhenti di depan sebuah rumah joglo bercat putih kusam. Halamannya dipenuhi sepeda motor. Beberapa mobil terparkir hingga ke pinggir jalan.

Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar lirih dari dalam rumah, bercampur dengan bisik-bisik para pelayat.

Nadia belum sempat turun ketika seorang perempuan paruh baya keluar dari halaman. Begitu melihat Nadia, perempuan itu langsung menutup mulutnya.

"Ya Allah..." Air matanya tiba-tiba jatuh. "Nadia..."

Perempuan itu memeluknya erat tanpa berkata apa-apa lagi.

Nadia membalas pelukan itu dengan kikuk. Ia mengenali wajah perempuan tersebut. Bu Marni. Tetangga yang dulu sering memberinya singkong rebus sepulang sekolah.

"Wes gede, Nduk..." Suara Bu Marni bergetar. "Akhirnya pulang juga."

Nadia hanya mengangguk pelan. Pandangannya beralih ke pintu rumah yang terbuka lebar.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat peti jenazah sederhana dikelilingi para pelayat yang sedang membaca doa. Di dinding ruang tamu tergantung foto ayahnya yang dibingkai pita hitam.

Napas Nadia terasa berat. Inilah pertama kalinya ia benar-benar percaya bahwa ayahnya telah tiada. Perlahan ia melangkah melewati halaman. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu.

Di seberang jalan... di bawah pohon beringin yang berdiri di ujung persimpangan desa, seorang lelaki tua sedang berdiri diam. Tubuhnya kurus, mengenakan lurik lusuh dan ikat kepala hitam. Ia tidak bergerak sedikit pun. Hanya menatap lurus ke arah Nadia.

Tatapan mereka bertemu. Lelaki itu mengangkat tangan kanannya perlahan. Seolah hendak menyapa. Atau memanggil.

Nadia berkedip. Seorang pelayat melintas di depannya, menutupi pandangan hanya sesaat. Ketika ia kembali melihat ke arah pohon beringin, lelaki tua itu telah menghilang. Yang tersisa hanya batang beringin tua yang bergoyang pelan diterpa angin senja.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 2)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab