Malam Takziah

Bab 2 dari 6

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Malam Pertama

Rumah duka semakin ramai ketika matahari benar-benar tenggelam. Lampu-lampu pijar berwarna kekuningan dinyalakan di teras dan halaman depan. Beberapa lelaki sibuk menggelar tikar tambahan, sementara ibu-ibu membawa nampan berisi teh panas, kopi, dan penganan sederhana dari dapur menuju ruang tamu. Bau kayu basah bercampur aroma melati dari rangkaian bunga di dekat jenazah memenuhi udara.

Nadia duduk di sudut ruang tamu.

Sejak tiba sore tadi, entah sudah berapa pasang tangan yang menjabatnya, mengucapkan belasungkawa, lalu bertanya hal yang sama.

"Masih tinggal di Jakarta, Nduk?"

"Sudah lama ya tidak pulang?"

"Kerja jadi wartawan, ya?"

Ia menjawab semuanya dengan senyum tipis yang terasa semakin berat setiap kali diulang.

Wajah-wajah itu sebagian masih dikenalnya. Sebagian lagi hanya menyisakan kesan samar, seperti potongan mimpi yang pernah lewat bertahun-tahun lalu.

Ada Pak Darto, yang dulu sering mengajari anak-anak bermain catur di gardu ronda. Ada Bu Lastri, penjual pecel yang rambutnya kini sepenuhnya memutih. Ada pula beberapa anak kecil yang terus mengintip ke arahnya dari balik pintu, mungkin karena mereka hanya mengenal nama Nadia dari cerita orang tua mereka.

Semuanya tampak begitu akrab satu sama lain, kecuali dirinya.

Sesekali Nadia melirik ke arah ruang tengah. Jenazah ayahnya masih terbaring tenang, diselimuti kain batik hingga sebatas dada. Wajah Hadi terlihat jauh lebih damai dibanding terakhir kali Nadia melihatnya lima tahun lalu melalui panggilan video singkat. Keriput di dahinya seolah menghilang.

Ia mencoba mengingat suara ayahnya. Aneh, yang muncul justru potongan-potongan percakapan yang tidak utuh.

"Kalau pulang..."

"Jangan terlalu malam..."

"Ada yang harus bapak..."

Kalimat-kalimat itu terputus begitu saja. Nadia memejamkan mata sesaat. Barangkali memang beginilah rasanya kehilangan seseorang yang telah lama dijauhkan oleh ego. Bukan kesedihan yang datang lebih dulu, tetapi penyesalan.

Suara azan Isya berkumandang dari masjid di ujung jalan.

Percakapan para pelayat perlahan mereda. Beberapa lelaki berdiri, mengambil sarung yang telah disiapkan tuan rumah, lalu berjalan menuju masjid. Sebagian lagi tetap tinggal untuk melanjutkan pembacaan doa di rumah.

Raka muncul dari arah dapur sambil membawa teko besar berisi kopi.

"Capek?"

Nadia mengangkat wajah.

Raka tidak banyak berubah. Tubuhnya masih tinggi, hanya kini sedikit lebih berisi. Garis-garis halus mulai tampak di sudut matanya, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang Nadia ingat semasa kecil.

"Sedikit."

Raka menuangkan kopi ke dalam gelas kosong di hadapan Nadia. "Minum dulu. Dari tadi kamu belum makan."

Nadia menerima gelas itu. "Terima kasih."

Beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam. Suara orang-orang mengaji terdengar lirih dari ruang tengah.

Raka memandang ke arah halaman. "Kamu terakhir pulang waktu pemakaman ibumu."

"Iya."

"Hampir lima belas tahun."

Nadia mengangguk pelan. "Aku enggak pernah menyangka bakal pulang karena Bapak."

Raka tidak menjawab. Ia seolah sedang memilih kata-kata.

"Sebenarnya...," ucapnya pelan, "Pak Hadi sering cerita tentang kamu."

Nadia menoleh. "Sering?"

"Iya."

"Beliau enggak pernah cerita ke aku."

"Soalnya kamu enggak pernah kasih kesempatan."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menyalahkan. Justru terdengar datar. Apa adanya.

Nadia hanya menunduk memandangi permukaan kopi yang mengepulkan uap tipis. Dari ruang tengah terdengar seseorang memanggil nama Raka.

"Aku ke depan dulu." Raka berdiri. "Kalau butuh apa-apa, bilang."

Nadia mengangguk.

Baru saja Raka melangkah pergi, seseorang perlahan duduk di kursi kosong di sampingnya. Nadia tidak langsung menoleh. Ia mengira salah satu pelayat lain.

"Ayahmu orang yang keras kepala." Suara itu berat. Serak. Seperti seseorang yang terlalu lama menghabiskan hidupnya dengan asap rokok.

Nadia menoleh perlahan. Seorang lelaki tua duduk dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat kayu. Usianya mungkin mendekati tujuh puluh tahun. Kulitnya legam terbakar matahari. Ia mengenakan baju lurik cokelat yang telah pudar dan ikat kepala hitam yang diikat sederhana. Tatapannya tajam, tetapi tidak mengintimidasi. Justru seperti seseorang yang telah lama menunggu kesempatan untuk berbicara.

"Maaf...," kata Nadia pelan. "Kita pernah bertemu?"

Lelaki itu tersenyum tipis. "Dulu." Jawabannya singkat. "Sangat lama."

Nadia berusaha mengingat-ingat wajah itu. Tidak ada yang muncul.

"Saya sahabat bapakmu."

Nadia mengangguk sopan. "Maaf, saya... tidak ingat."

Lelaki tua itu menyelesaikan kalimatnya. "Itu memang bukan salahmu." Ia menatap lurus ke arah ruang tengah, tempat jenazah Hadi terbujur. "Sejak muda, bapakmu memang suka menyimpan sesuatu sendirian."

"Yang Bapak maksud?"

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia justru menghela napas panjang.

"Orang-orang mengira Hadi meninggal karena jantung." Tatapannya perlahan beralih kepada Nadia. "Padahal bukan."

Jantung Nadia berdetak sedikit lebih cepat.

"Maksud Bapak?"

Lelaki tua itu mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya kini nyaris berbisik.

"Ayahmu terlalu lama...," ia berhenti sejenak, "menyimpan daftar nama."

Nadia mengernyit. "Daftar nama siapa?"

Lelaki itu tidak menjawab. Tatapannya bergeser ke arah lampu gantung di ruang tamu. Untuk sesaat, wajahnya berubah muram. Seolah baru menyadari sesuatu yang tidak disadari Nadia. Lalu, dengan suara yang lebih pelan daripada sebelumnya, ia berkata, "Mereka sudah mulai datang."

Nadia mengikuti arah pandangnya. Lampu itu berkedip sekali. Lalu sekali lagi.

Di luar, angin malam tiba-tiba bertiup lebih kencang, membuat daun-daun mangga di halaman bergesekan pelan. Entah mengapa, bulu kuduk Nadia meremang.

Lampu kembali berkedip. Kali ini lebih lama. Cahaya kuning yang sejak tadi menerangi ruang tamu mendadak meredup hingga wajah-wajah para pelayat berubah menjadi siluet yang samar. Bacaan tahlil tetap terdengar lirih dari ruang tengah, tetapi nadanya seperti menjauh, seolah ruangan itu perlahan memanjang.

Nadia mengalihkan pandangannya kepada lelaki tua di sampingnya.

"Apa maksud Bapak dengan ‘mereka sudah datang’?"

Lelaki itu tidak menjawab. Tatapannya tetap terpaku ke arah lampu gantung. Bibirnya bergerak pelan, seolah sedang menghitung sesuatu.

Satu...

Dua...

Tiga...

Brak!

Seluruh rumah mendadak gelap. Suara perempuan yang sedang menuang teh di dapur memekik pelan karena terkejut. Anak-anak kecil langsung mendekat kepada orang tua mereka. Di luar rumah terdengar suara genset dari rumah tetangga yang sempat menyala, lalu mati lagi.

"PLN lagi...," gerutu seseorang. "Tadi sore juga sempat turun."

"Tolong ambil lilin!"

Suara-suara saling bersahutan memenuhi rumah. Nadia diam di tempatnya. Matanya membutuhkan beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Dari luar, hanya cahaya bulan yang tertutup awan tipis masuk melalui jendela-jendela kayu. Ia masih bisa melihat siluet lelaki tua itu. Masih duduk di sampingnya. Tanpa bergerak. Tanpa bersuara.

Entah mengapa, Nadia merasa udara di sekitarnya mendadak jauh lebih dingin. Ia membuka mulut hendak bertanya lagi. Namun dari ruang tengah terdengar suara Pak Karsa, ketua adat desa, mencoba menenangkan semua orang.

"Tidak apa-apa. Tetap lanjutkan doanya."

Beberapa warga mulai melanjutkan bacaan tahlil dengan suara pelan. Irama doa memenuhi rumah yang gelap. Lilin-lilin kecil mulai dinyalakan. Satu. Dua. Dan semakin banyak.

Cahaya temaram menari di dinding rumah joglo, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti embusan angin.

Nadia kembali menoleh ke samping. "Kita belum selesai bicara, Pak."

Tidak ada jawaban. Ia mengerutkan kening. Tangannya meraba kursi di sebelahnya.

Kosong.

Nadia spontan berdiri. "Pak?"

Tidak ada siapa-siapa. Ia menoleh ke depan. Ke belakang. Ke arah pintu. Lelaki tua itu lenyap begitu saja. Seolah tidak pernah duduk di sampingnya.

Jantung Nadia berdetak lebih cepat. Barangkali lelaki itu berpindah tempat saat lampu padam. Masuk akal.

Ia melangkah menyusuri ruang tamu, matanya menyapu wajah-wajah para pelayat yang kini diterangi cahaya lilin.

Tidak ada.

Ia cukup yakin akan mengenali baju lurik cokelat itu bila masih berada di dalam rumah. Namun yang ia temukan hanya wajah-wajah asing yang sedang khusyuk membaca doa.

Raka muncul membawa lampu darurat dari arah dapur. Begitu melihat Nadia berdiri kebingungan, ia menghampiri. "Kenapa?"

"Mas..."

Nadia menoleh ke arah kursi yang tadi mereka duduki.

"Lelaki tua yang tadi ngobrol sama aku ke mana?"

Raka mengernyit. "Lelaki tua?"

"Iya. Yang duduk di sini." Ia menunjuk kursi kosong di sampingnya. "Tadi dia bilang kenal Bapak."

Raka mengikuti arah telunjuk Nadia, lalu menggeleng pelan.

"Sejak tadi kamu duduk sendirian."

Nadia menghela napas pendek. "Tidak. Tadi ada. Baju lurik. Pakai tongkat. Usianya sekitar tujuh puluh."

Raka tetap menggeleng. "Aku beberapa kali lewat sini. Enggak ada siapa-siapa."

Nadia menatap wajah sahabatnya beberapa saat. Raka tampak sungguh-sungguh. Tidak sedang bercanda. Mungkin ia memang tidak melihat.

"Ya sudah."

Raka tersenyum kecil. "Mungkin kamu capek."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi Nadia tidak menyukainya. Karena itu terdengar seperti kalimat yang selalu diucapkan orang ketika tidak mampu menjelaskan sesuatu.

Mungkin kamu capek.

Mungkin kamu salah lihat.

Mungkin cuma kebetulan.

Ia tidak melanjutkan perdebatan. Sebaliknya, ia berjalan menuju meja tempat para tamu mengisi buku pelayat. Sebuah buku tulis besar bersampul hitam terbuka di atas meja. Di halaman terakhir telah terisi belasan nama.

Nadia mengambil pulpen yang tergeletak di sampingnya. Matanya menyapu satu per satu tulisan tangan para pelayat.

Pak Darto.

Bu Lastri.

Sutrisno.

Karno.

Bu Murni.

Ia mencari nama lelaki tua itu. Tidak ada. Mungkin belum sempat menulis. Atau belum diminta mengisi.

Tanpa sadar Nadia membalik beberapa halaman sebelumnya. Tetap tidak ada.

"Habis lampu mati malah baca buku tamu?" Suara Bu Marni membuat Nadia sedikit terkejut.

Perempuan tua itu berdiri sambil membawa nampan berisi teh hangat.

"Ada yang saya cari, Bu."

"Siapa?"

"Lelaki tua. Yang pakai lurik. Katanya sahabat Bapak."

Bu Marni berpikir beberapa saat. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Lurik?"

"Iya. Pakai tongkat."

Perempuan tua itu menggeleng perlahan. "Enggak ada."

"Tapi tadi beliau duduk di sebelah saya."

Bu Marni kembali terdiam. Tatapannya berubah aneh. Seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang sangat jauh. Kemudian ia berkata pelan, "Dulu…, dulu memang ada yang sering pakai lurik."

Nadia menatapnya penuh harap. "Siapa, Bu?"

Belum sempat Bu Marni menjawab, suara genset dari balai desa akhirnya menyala.

Sesaat kemudian seluruh lampu rumah kembali hidup. Cahaya terang memenuhi ruangan. Semua orang menghela napas lega. Namun Bu Marni justru berkedip beberapa kali. Ekspresi bingung di wajahnya perlahan menghilang.

"Siapa tadi yang kamu cari?"

Nadia tercengang. "Yang pakai lurik. Barusan Ibu bilang..."

Bu Marni tersenyum canggung. "Enggak ada, Nduk. Mungkin kamu salah orang."

Kemudian, perempuan itu berlalu begitu saja menuju dapur, meninggalkan Nadia yang masih berdiri di depan meja tamu.

Perlahan rasa dingin merayap dari tengkuk hingga punggungnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Bukan pada rumah ini. Bukan pada listrik yang padam. Bukan pula pada lelaki tua itu. Namun, pada cara orang-orang di sekelilingnya seolah kehilangan sesuatu di tengah percakapan.

Seperti ada bagian dari ingatan mereka yang mendadak terputus. Nadia menatap kembali buku tamu yang masih terbuka, lalu tanpa sadar pandangannya berhenti pada satu halaman kosong di bagian belakang.

Di sudut kanan bawah halaman itu terdapat bekas tekanan tinta, seolah seseorang pernah menulis nama di sana, lalu menghapusnya dengan sangat hati-hati.

Ia menyentuhkan ujung jarinya pada guratan tipis itu.

Hampir tak terlihat. Namun cukup jelas untuk membuatnya berpikir bahwa seseorang memang pernah meninggalkan jejak di halaman tersebut. Dan entah mengapa, kalimat lelaki tua itu kembali terngiang di kepalanya.

"Ayahmu terlalu lama menyimpan daftar nama."

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab