Bab 1 dari 10
Malam itu, Da-eun tidak menangis.
Ia hanya berlari.
Kakinya terus bergerak meski lututnya gemetar dan telapak tangannya terasa perih. Ia tidak tahu hendak pergi ke mana. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak boleh pulang.
Di belakangnya, suara ayahnya masih terngiang-ngiang.
Suara ibunya yang memohon.
Suara benda pecah di lantai.
Dan suara tamparan yang terdengar lebih keras daripada hujan di luar rumah.
Da-eun terus berlari sampai napasnya putus-putus. Seragam sekolahnya sudah basah di bagian lengan karena hujan. Rambutnya menempel di pipi. Ia bahkan tidak sempat memakai jaket dengan benar sebelum meninggalkan rumah.
Ia berbelok ke gang sempit di belakang sekolah.
Tempat itu sebenarnya tidak istimewa. Hanya sebuah tangga darurat yang jarang digunakan, terjepit di antara gedung sekolah dan toko alat tulis. Cat dindingnya mengelupas. Lampu di atas pintu sering berkedip. Kalau siang, tempat itu dipenuhi debu dan bau kertas tua.
Namun bagi Da-eun, tempat itu adalah satu-satunya tempat yang terasa aman.
Bum-soo yang memberitahunya tentang tempat itu.
“Kalau sedang ingin menghilang, sembunyilah di sini,” katanya waktu itu. “Tidak ada yang akan mencari kita.”
Da-eun duduk di anak tangga paling atas, memeluk lutut, lalu menundukkan wajahnya.
Ia seharusnya sudah tahu bahwa Bum-soo tidak akan datang malam ini.
Rumah mereka berada cukup jauh. Hujan turun deras. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas. Tidak mungkin seorang anak laki-laki kelas dua SMP pergi keluar hanya karena menerima pesan singkat darinya.
Tapi Da-eun tetap mengirimkan pesan.
Bum-soo.
Aku takut.
Pesan itu sudah terkirim lima belas menit lalu.
Tidak ada balasan.
Da-eun menatap layar ponselnya. Cahaya putih dari layar membuat wajahnya terlihat semakin pucat.
Ia menggigit bibir bawah.
Mungkin Bum-soo sedang tidur.
Mungkin ponselnya sedang mati.
Mungkin—
Suara langkah kaki terdengar dari bawah tangga.
Da-eun langsung menahan napas.
Langkah itu semakin dekat. Satu anak tangga. Dua. Tiga.
Tubuh Da-eun menegang. Tangannya meremas ujung seragam.
“Da-eun?”
Suara itu membuat dadanya terasa sesak.
Bukan karena takut.
Bum-soo muncul di balik pintu tangga dengan rambut basah dan seragam olahraga yang menempel di tubuhnya. Satu tangannya memegang payung transparan yang sudah miring. Tangan lainnya membawa kantong plastik putih.
Ia berhenti beberapa anak tangga di bawah Da-eun, lalu menatapnya dengan napas terengah-engah.
“Aku datang.”
Dua kata sederhana itu membuat tenggorokan Da-eun terasa tercekat. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.
Bum-soo menutup pintu di belakangnya dan naik perlahan.
“Kamu terluka?”
Da-eun menggeleng.
“Bohong.”
“Aku tidak terluka.”
“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?”
Da-eun tidak menjawab.
Bum-soo duduk dua anak tangga di bawahnya. Ia meletakkan kantong plastik di samping tubuh.
“Aku membawa sesuatu.”
“Aku tidak lapar.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Pasti tteokbokki.”
“Kalau sudah tahu, kenapa masih bilang tidak lapar?”
Da-eun tidak menjawab.
Bum-soo mengeluarkan satu wadah makanan dari kantong plastik. Aroma saus pedas dan manis segera memenuhi ruang sempit itu. Ia juga membawa dua tusuk odeng dan sebotol susu pisang.
Da-eun menatap makanan itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
Bum-soo membuka tutup wadahnya.
“Pemilik toko bilang ini yang terakhir. Aku hampir berkelahi dengan anak SMA di sana.”
“Kamu tidak mungkin berkelahi.”
“Aku menang dengan cara yang elegan.”
“Kamu pasti memohon.”
“Aku menyebutnya negosiasi.”
Da-eun hampir tersenyum.
Hampir.
Bum-soo menyodorkan satu tusuk odeng ke arahnya.
“Makan.”
“Aku tidak mau.”
“Kalau kamu tidak makan, aku akan makan semuanya.”
“Silakan.”
“Kalau begitu aku akan makan semuanya sambil menangis.”
Da-eun menoleh.
Bum-soo sudah memasang wajah sedih yang berlebihan. Bibirnya dimajukan, alisnya diturunkan, lalu ia mengangkat satu tangan ke dada seperti tokoh utama drama yang baru saja dikhianati.
“Aku sudah berjalan jauh di tengah hujan demi membawakan tteokbokki untukmu,” katanya. “Tapi kamu tega membiarkanku kelaparan sendirian.”
“Kamu naik bus.”
“Busnya mogok.”
“Tidak mungkin.”
“Kalau begitu aku berjalan dengan tangan.”
Da-eun menatapnya beberapa detik.
Lalu, tanpa sadar, ia mengambil tusuk odeng dari tangannya.
Bum-soo tersenyum kecil.
Ia tidak mengatakan, Aku tahu kamu akan mengambilnya.
Ia juga tidak mengatakan, Nah, kamu akhirnya tersenyum.
Ia hanya membuka botol susu pisang dan meletakkannya di samping Da-eun.
Itulah yang paling Da-eun sukai dari Bum-soo.
Bum-soo tidak pernah memaksanya untuk bercerita.
Ia tidak bertanya kenapa Da-eun sering datang ke sekolah dengan lengan tertutup meski cuaca panas. Ia tidak bertanya kenapa Da-eun selalu terkejut ketika mendengar suara benda jatuh. Ia tidak bertanya kenapa Da-eun akan diam terlalu lama setiap kali seseorang menyebut kata “rumah”.
Bum-soo hanya duduk di dekatnya.
Dan tetap tinggal.
Da-eun menggigit odeng perlahan. Rasa hangatnya menyebar di mulut, tetapi tidak berhasil mengusir dingin yang menempel di tubuhnya.
“Bum-soo.”
“Hm?”
“Kalau seseorang memukul orang lain, dia akan dihukum, kan?”
Bum-soo menurunkan pandangannya ke wadah tteokbokki.
“Siapa yang memukul?”
“Jawab saja.”
“Kalau orang itu sengaja memukul, tentu saja dia salah.”
“Kalau orang itu ayah sendiri?”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya