Bab 2 dari 10
Bum-soo terdiam.
Hujan terdengar semakin deras di luar. Air mengalir di sepanjang talang gedung, jatuh seperti tirai tipis di depan pintu tangga.
Da-eun menunduk. Ia tidak sanggup melihat wajah Bum-soo.
“Tadi…” Suaranya nyaris hilang. “Ayah memukul Ibu lagi.”
Bum-soo tidak bergerak.
“Bukan cuma sekali. Ibu jatuh. Kepalanya terbentur meja. Ada darah.” Da-eun menarik napas, tetapi udara terasa terlalu berat untuk masuk ke paru-parunya. “Aku berusaha menolongnya, tapi Ibu menyuruhku lari.”
Bum-soo menatapnya.
“Aku takut dia akan membunuh Ibu.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Setelah mengucapkannya, Da-eun merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Ia menatap tteokbokki yang mulai kehilangan uap. Saus merahnya mengilap di bawah cahaya lampu yang berkedip-kedip.
“Aku takut, Bum-soo.”
Bum-soo menggeser tubuhnya lebih dekat.
Da-eun tidak menjauh.
“Aku takut pulang.”
“Aku tahu.”
“Aku takut kalau besok pulang, Ibu sudah tidak ada.”
“Da-eun…”
“Tapi aku juga takut kalau aku tidak pulang, Ayah akan memukulnya lagi.”
Suaranya pecah.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Satu tetes mengenai punggung tangannya. Lalu satu lagi. Setelah itu, Da-eun tidak bisa menghentikannya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Bum-soo diam sejenak.
Kemudian ia menarik bahu Da-eun ke arahnya.
Pelukannya tidak terlalu kuat. Tidak seperti orang dewasa yang berusaha menahan seseorang agar tidak pergi. Hanya cukup untuk memberi tahu bahwa Da-eun tidak sendirian di tangga sempit itu.
Da-eun membiarkan dirinya bersandar di dada Bum-soo.
Seragam olahraga Bum-soo basah dan berbau hujan. Rambutnya meneteskan air ke kening Da-eun. Detak jantungnya terdengar cepat, mungkin karena berlari, mungkin juga karena cemas.
“Maaf,” bisik Bum-soo.
Da-eun menggeleng di dadanya.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Kamu datang.”
“Itu belum cukup.”
“Cukup.”
Bum-soo menunduk. Dagunya menyentuh puncak kepala Da-eun.
“Aku tidak bisa membuat Ayahmu berhenti,” katanya. “Aku juga tidak bisa langsung memperbaiki semuanya.”
Da-eun menggenggam bagian depan seragamnya.
“Tapi aku bisa datang kalau kamu memanggilku.”
Da-eun menahan napas.
“Jadi, kalau kamu takut, telepon aku.”
“Kalau kamu sedang tidur?”
“Bangunkan.”
“Kalau kamu sedang belajar?”
“Aku akan berhenti belajar.”
“Kalau kamu sedang sakit?”
“Aku akan tetap mengangkat telepon.”
“Kalau kamu sedang bersama orang lain?”
Bum-soo terdiam sesaat.
"Aku akan meninggalkan orang itu dan segera mencarimu."
Da-eun mengangkat wajah. Matanya merah dan basah.
“Kalau kamu sudah bosan mendengarkan ceritaku?”
Bum-soo menatapnya lama.
Lalu ia mengangkat tangan dan mengusap air mata di pipi Da-eun dengan ibu jarinya.
“Aku tidak akan bosan.”
“Kamu tidak tahu.”
“Aku tahu.”
“Kamu masih kecil.”
“Kamu juga.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Bum-soo menyandarkan punggungnya ke dinding. Wajahnya terlihat canggung, seperti sedang berusaha menemukan kata-kata yang terlalu besar untuk usianya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalahmu,” katanya. “Tapi aku tahu aku tidak ingin kamu menghadapinya sendirian.”
Da-eun menatapnya.
“Jangan menghilang.”
“Aku tidak akan menghilang.”
“Jangan berhenti menghubungiku.”
“Aku tidak akan berhenti.”
“Jangan tiba-tiba berubah.”
Bum-soo tersenyum, meski matanya terlihat sedih.
“Aku mungkin akan tumbuh lebih tinggi.”
“Itu bukan maksudku.”
“Aku mungkin akan jadi lebih tampan.”
“Kamu sudah jelek dari dulu.”
“Jahat sekali.”
Da-eun tertawa kecil di antara tangisnya.
Bum-soo memandangnya seperti baru saja memenangkan sesuatu yang sangat besar.
“Nah,” katanya. “Begitu lebih baik.”
Pagi setelah malam hujan itu, Da-eun datang ke sekolah dengan mata sembap dan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Ia berharap tidak ada yang memperhatikannya.
Namun begitu ia meletakkan tas di samping meja, sebuah botol susu pisang sudah menunggunya di atas buku pelajaran.
Da-eun menatap botol itu.
Di bawahnya terdapat secarik kertas kecil.
Pasien yang menangis semalaman wajib minum sesuatu yang manis.
Da-eun menoleh ke belakang.
Bum-soo sedang duduk di bangkunya sendiri, pura-pura membaca buku matematika. Bukunya terbuka, tetapi sejak tadi halaman yang sama tidak kunjung dibalik.
“Siapa dokternya?” tanya Da-eun.
Bum-soo mengangkat pandangan.
“Aku.”
“Kamu bahkan bukan dokter.”
“Belum.”
Da-eun menahan senyum. Ia mengambil botol susu pisang itu dan membuka tutupnya.
Bum-soo baru kembali melihat bukunya setelah memastikan Da-eun meminumnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya