Mama Got A System

Bab 1 dari 3

Bab 2
100%

Bab 1: Pagi Tahun Ajaran Baru

Pukul enam lewat dua belas menit, Nadira menemukan satu kaus kaki putih di dalam tas sekolah anaknya dan satu lagi di bawah meja makan.


Ia tidak bertanya bagaimana sepasang kaus kaki bisa berpisah sejauh itu. Ada pertanyaan-pertanyaan yang setelah sepuluh tahun menjadi ibu lebih baik dibiarkan tanpa jawaban.


“Ananda! Kaus kakimu ketemu!”


“Yang mana, Ma?”


Nadira menatap dua benda putih di tangannya. “Yang buat dipakai di kaki, Kak!”


Dari lantai atas terdengar langkah berlari, disusul suara Adhi yang langsung menegur, “Jangan lari di tangga.”


“Aku nggak lari!”


“Kedengeran sampai bawah.”


“Itu jalannya cepet.”


Nadira meletakkan kaus kaki di ujung meja lalu kembali menghadapi tiga kotak bekal yang berjajar di depannya. Nasi dan ayam kecap untuk Ananda. Porsi yang sama untuk Adinda, tetapi tanpa potongan daun bawang karena anak itu bisa mendeteksi benda hijau sekecil apa pun dengan kemampuan yang seharusnya dimanfaatkan badan intelijen. Untuk Nada, nasinya harus dibentuk agak bulat karena entah sejak kapan nasi biasa dianggap tidak enak kalau bentuknya tidak lucu.


“Ma.”


Belum selesai.


“Ma!”


“Apa, Dinda?”


Adinda muncul di dapur dengan seragam merah putih yang sudah rapi, tetapi rambutnya masih terurai. Ia membawa dua ikat rambut berbeda warna.


“Yang biru atau kuning?”


“Biru.”


“Tapi tas Dinda ungu.”


“Terus kenapa nanya Mama?”


Adinda berpikir sebentar, lalu memilih yang kuning.


Tentu saja.


“Nada mana?”


“Di kamar.”


“Udah pakai seragam?”


Adinda mengangkat bahu. “Kayaknya.”


Jawaban kayaknya dari anak kelas dua SD tidak pernah membawa kabar baik.


Nadira mematikan kompor, mencuci tangan, lalu berjalan menuju kamar anak-anak. Ia baru sampai ruang keluarga ketika Nada muncul dengan seragam TK, satu sepatu terpasang, satu kaki masih telanjang, dan wajah yang sudah siap menangis.


“Mama, sepatu Nada nggak ada.”


“Itu apa di kakimu?”


“Yang satunya.”


“Coba cari di rak sepatu.”


“Udah.”


“Kapan?”


“Tadi.”


Nadira menatap anak bungsunya beberapa detik. “Sama siapa?”


Nada ikut diam.


“Belum cari, ya?”


Bibir kecil itu langsung maju.


Sebelum negosiasi berkembang menjadi perkara nasional, Ananda turun dengan rambut masih basah dan kaus kaki yang tadi dicari sudah terpasang. Tasnya menggantung di satu bahu.


“Ma, nanti pulang sekolah boleh sepedaan?”


“Hari pertama sekolah udah mikirin sepedaan?”


“Kan sekolahnya cuma sampai siang.”


“PR?”


“Belum ada.”


“Kamu tahu dari mana?”


“Kan belum masuk.”


Secara teknis benar. Nadira membenci ketika anak sembilan tahun menggunakan logika dengan tepat pada waktu yang tidak membantu.


“Lihat nanti. Tolong cariin sepatu adikmu dulu.”


Ananda menghela napas seperti laki-laki yang baru diberi beban keluarga terlalu besar. “Nada taruh di mana?”


“Nada nggak tahu.”


“Ya gimana carinya?”


“Makanya Kakak cari.”


Adhi keluar dari kamar dengan kemeja kerja yang sudah rapi sambil memasang jam tangan. Ia berhenti melihat tiga anaknya memenuhi ruang keluarga, kemudian melirik Nadira.


“Pagi pertama?”


“Belum jam setengah tujuh, aku udah pengin tahun ajaran ini selesai.”


Adhi tertawa kecil. “Masih sebelas bulan.”


“Terima kasih atas dukungannya.”


Sepatu Nada akhirnya ditemukan di bawah sofa. Nadira tidak ingin tahu kenapa bisa sampai di sana. Ia kembali ke dapur, memasukkan kotak bekal dan botol minum ke masing-masing tas, lalu teringat uang kegiatan kelas Ananda yang belum dimasukkan ke amplop.


Sementara tangannya mencari amplop di laci, otaknya sudah berpindah ke daftar berikutnya. Sepulang mengantar anak-anak ia harus membeli telur, mengeluarkan ayam dari freezer, mencuci seragam olahraga, dan mengecek apakah sabun cuci masih cukup. Laundry setrika juga harus diambil hari ini.


“Mas!” Nadira memanggil.


Adhi yang sudah memakai sepatu menjawab dari depan, “Hm?”


“Laundry.”


“Iya.”


“Jangan lupa.”


“Iya.”


“Yang kemarin juga bilang iya.”


Adhi muncul lagi di ambang dapur. “Kemarin belum jadi lewat sana.”


“Hari ini?”


“Diambil.”


Nadira mengangguk puas. “Oke.”


Adhi mencium keningnya sekilas sebelum mengambil tas kerja. “Aku jalan.”


“Hati-hati.”


“Papa!” Nada berlari dengan dua sepatu yang akhirnya lengkap.


Adhi jongkok sebentar untuk menerima pelukan anak bungsunya, lalu menepuk kepala Ananda dan Adinda bergantian. Tidak sampai semenit kemudian pintu depan tertutup. Pukul enam lewat tiga puluh tiga.


Nadira melihat jam.


“OKE. SEMUA MAKAN. KITA BERANGKAT EMPAT PULUH MENIT LAGI!”


Protes langsung datang dari tiga arah.


Pagi itu masih panjang.


Dan tahun ajaran baru bahkan belum benar-benar dimulai.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 3)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab