Bab 2 dari 3
Empat puluh menit ternyata cukup untuk membuat tiga anak makan, dua botol minum hampir tertukar, satu buku gambar kembali ditemukan, dan Nada menangis karena pita rambutnya terasa “terlalu kencang” meskipun Nadira yakin ia bahkan belum menariknya.
Ketika akhirnya pintu rumah terkunci dari luar, Nadira berdiri sebentar di teras sambil memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Bekal?”
“Ada,” jawab Ananda.
“Botol?”
“Ada.”
“Buku?”
“Ada.”
“Nada?”
Ananda menoleh ke samping. Nada sedang memegang tangan Adinda.
“Ada.”
“Bagus. Berangkat.”
Perjalanan pagi itu tidak terlalu panjang, tetapi tetap cukup untuk menghabiskan sisa tenaga Nadira. Setelah mengantar Ananda dan Adinda ke sekolah dasar, ia membawa Nada ke TK yang lokasinya beberapa menit dari sana. Nada sempat menolak masuk kelas karena ingin melihat dulu kakak-kakaknya sekolah di mana, seolah-olah dua tahun terakhir ia belum pernah tahu.
“Pulang nanti Mama jemput.”
“Nada sama Kak Ananda?”
“Kak Ananda sekolahnya beda.”
“Terus Nada jemput Kak Ananda?”
“Enggak. Mama yang jemput.”
Nada memikirkan itu dengan serius sebelum akhirnya masuk setelah gurunya mengalihkan perhatian dengan permainan baru.
Ketika Nadira kembali ke rumah, jam hampir menunjukkan pukul delapan.
Ia membuka pintu dan langsung disambut pemandangan yang tadi tidak sempat benar-benar dilihat karena terburu-buru: dua gelas di meja, remah roti di bawah kursi, bantal sofa pindah tempat, tas belanja kain tergeletak dekat pintu, dan satu mobil-mobilan kecil yang entah milik siapa berada di tengah ruang keluarga.
Nadira meletakkan kunci di meja.
Rumah mendadak sunyi.
Tidak ada suara anak memanggil. Tidak ada Adhi mencari dompet. Tidak ada yang bertanya kaus kaki, rambut, atau bekal.
Ia berdiri di ruang keluarga selama beberapa detik, lalu menarik napas.
“Oke.”
Tangannya otomatis mulai bergerak.
Gelas dibawa ke dapur. Bungkus roti dibuang. Bantal dikembalikan ke sofa. Mobil-mobilan dilempar ke keranjang mainan. Nadira baru saja hendak mengambil sapu ketika sesuatu muncul di depan wajahnya.
Ia berhenti.
Sebuah kotak transparan mengambang sekitar setengah meter di depannya.
Nadira berkedip.
Kotak itu masih ada.
Ia menggeser kepala ke kiri.
Kotak itu ikut berada di bidang pandangnya.
“Apaan?”
Tulisan putih muncul di dalamnya.
«YOU GOT QUEST!
Rapikan ruang keluarga sebelum pukul 09.00.
Reward: Rp50.000»
Nadira menatapnya lama.
Kemudian ia melihat sekeliling.
Rumah tetap sama. Televisi mati. Tidak ada suara apa pun. Ia melangkah mundur, lalu maju lagi.
Kotak itu tetap ada.
Nadira mengangkat satu tangan dan mencoba menyentuhnya. Jarinya melewati udara kosong.
“Kurang tidur.”
Ia menurunkan tangan.
“Fix kurang tidur.”
Kotak transparan itu tidak berubah.
Nadira berjalan ke dapur, mengambil gelas, mengisinya dengan air, lalu minum setengah sekaligus. Setelah itu ia kembali ke ruang keluarga.
Masih ada.
«YOU GOT QUEST!
Rapikan ruang keluarga sebelum pukul 09.00.
Reward: Rp50.000»
“Lima puluh ribu?”
Untuk pertama kalinya, Nadira membaca bagian paling bawah dengan perhatian penuh.
Jam di dinding menunjukkan 08.07.
Ia menatap ruang keluarga. Pekerjaannya juga tidak banyak. Bantal tinggal dua. Meja perlu dilap. Karpet harus dirapikan. Mainan yang tersisa dimasukkan ke kotaknya. Memang semuanya tetap harus ia kerjakan.
“Kalau aku nggak mau?”
Tidak ada jawaban.
“Oke, nggak bisa ngomong.”
Nadira menunjuk kotak itu dengan lap meja yang baru ia ambil.
“Tapi kalau aku kerjain, beneran dikasih lima puluh ribu?”
Tetap diam.
Ia mendecakkan lidah.
“Ya udah. Orang juga mau diberesin.”
Nadira mulai bekerja.
Ia menyeka meja, merapikan sofa, mengumpulkan pensil warna yang terselip di bawah televisi, lalu menyapu remah-remah yang tertinggal sejak sarapan. Ketika menemukan kaus kaki kecil di belakang gorden, ia bahkan tidak lagi bertanya milik siapa.
Pukul 08.32, ruang keluarga sudah kembali terlihat layak dihuni.
Nadira berdiri dengan sapu di tangan dan melihat sekeliling.
“Udah.”
Kotak transparan di depannya berkedip.
«QUEST COMPLETE
Reward received: Rp50.000»
Nadira membeku.
Hampir bersamaan, ponsel yang ia taruh di meja berbunyi.
TING.
Ia menoleh pelan.
Lalu cepat-cepat mengambil ponselnya.
Notifikasi e-wallet muncul di layar.
Saldo masuk: Rp50.000
Nadira menatap layar itu cukup lama sampai ponselnya meredup sendiri.
Ia menyalakannya lagi.
Masih ada.
“Lho.”
Ia membuka aplikasi e-wallet.
Saldo sebelumnya masih ia ingat.
Sekarang bertambah tepat lima puluh ribu rupiah.
Nadira menutup aplikasi, membukanya lagi, lalu menekan riwayat transaksi.
Tetap sama.
Lima puluh ribu.
Masuk.
Baru saja.
Nadira duduk perlahan di sofa yang baru dirapikannya.
Sapu masih ada di tangannya.
“Beneran?”
Tidak ada jendela transparan lain yang muncul untuk menjelaskan.
Namun uang itu tetap ada di layar.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Nadira sama sekali tidak memikirkan cucian, ayam di freezer, telur yang harus dibeli, atau laundry yang perlu diingatkan lagi kepada Adhi.
Ia hanya menatap saldo e-wallet-nya.
Lalu tersenyum kecil.
“Kalau begini... boleh juga.”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya