Perawat Vila dan Tuan Pewaris

Bab 1 dari 21

Bab 2
100%

Bab 1: Perawat Vila dan Tuan Pewaris

Kamis, 6 November 2026.

Pukul 17.42.

Institut Patologi, Rumah Sakit Munchen.

Christian Boehringer atau biasa dipanggil Tian sebagai nama kecilnya, melepas sarung tangan nitrile dengan satu tarikan. Bunyi karet yang mengelupas dari kulit terdengar di ruangan bersuhu delapan belas derajat itu. Ia menjatuhkan kedua sarung tangan ke wadah limbah biologis tanpa melihat.

Di bawah mikroskop, preparat jaringan paru masih terbuka. Sel-sel adenokarsinoma stadium tiga. Ia sudah menandainya. Sudah mengarsipkan hasilnya. Lalu semuanya selesai.

Ponselnya bergetar di saku jas lab.

Tian melirik layar, melihat kata Oma, tidak butuh waktu banyak bagi Tian untuk segera mengangkat.

Ia menjawab pada dering kedua. "Ya."

"Christian. Makan malam, karena ini hari Kamis," kalimat Annabella Boehringer terdengar jelas di ujung sana, meski ada jeda kecil sebelum setiap kata. Tremor di tangannya mungkin sedang kambuh. Namun ucapannya tetap stabil. "Kau sudah berjanji minggu lalu."

Tian menutup folder preparat. Menyusunnya sejajar dengan tepi meja, selalu berada di sisi kanan, menjadi kebiasaannya.

"Aku ingat."

"Bagus. Tuan Kruger sudah menyiapkan daging roulades. Datang sebelum pukul delapan."

"Baik."

Sambungan terputus. Annabella tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Sering kali tidak pernah bertanya kabar. Neneknya selalu menyampaikan instruksi, lalu menutup. Tian mewarisi kebiasaan itu.

Ia melepas jas lab. Menggantungkan di punggung kursi. Di baliknya, kemeja hitam digulung sampai siku. Lengan bawahnya pucat. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulit.

Tian mengambil kunci Porsche dari laci, kemudian berdiri segera berjalan ke pintu.

Di koridor basemen, langkahnya bergema di lantai linoleum. Seorang residen muda menyapanya. Tian mengangguk sekali. Tidak berhenti, apalagi sampai bertanya nama.

Empat jam tidur tadi malam sudah cukup, meski begitu dia sama sekali tidak merasa lelah. Tiga jurnal sudah ia baca sebelum pukul lima pagi. Dua konsultasi slide selesai sebelum makan siang. Otopsi pukul empat belas berjalan lancar. Laki-laki, lima puluh dua tahun, infark miokard. Tian menandatangani laporan dalam sebelas menit.

Semau rutinitas tersebut terkontrol.

Lalu ada hari Kamis, ia harus pergi ke Garmisch. Kamis berarti ke vila untuk bertemu neneknya.

Tian menekan tombol kunci mobil di parkiran basemen. Lampu Porsche Cayenne berkedip dua kali. Ia masuk. Segera menyalakan mesin. Mengatur suhu kabin di dua puluh satu derajat.

Navigasi sudah menyimpan rute. München ke Garmisch-Partenkirchen. Sembilan puluh tiga kilometer. Satu jam dua belas menit tanpa lalu lintas yang macet.

?

Pukul 18.07. A95 ke arah selatan.

Hujan gerimis membasahi kaca depan. Wiper bergerak dalam interval tetap. Tian menyetir dengan satu tangan. Tangan kiri di setir. Tangan kanan di tuas perseneling, meski mobil ini otomatis. Tian selalu punya kebiasaan lama.

Dalam kesunyian itu Tian tidak pernah mendengarkan radio. Ia lebih suka mendengar jalanan, ban berdecit, dan sesekali klakson yang nyaring dari mobilnya. Ia suka pikirannya kosong tanpa memikirkan apa pun, meskipun ada satu data yang tersangkut di dalam kepalanya, yang coba dia abaikan dalam tiga minggu terakhir.

Kamis lalu, gadis itu tidak ada di dapur.

Tian mengingatnya dengan teliti yang mengganggu. Ia masuk lewat pintu samping, kemudian melewati koridor. Mengucapkan selamat malam pada Tuan Kruger. Masuk ke ruang makan, di sana Annabella sudah duduk. Lantas yang membuatnya bingung sesaat, kursi di seberangnya kosong.

Biasanya, ada gerakan di dapur dengan langkah ringan. Bau kamomil samar dari teko yang baru diseduh. Suara piring porselen diletakkan di nampan dengan hati-hati.

Masalahnya, kamis lalu benar-benar tidak ada.

Tian tidak bertanya apalagi sampai menggebu untuk mencari tahu, ia memutuskan untuk duduk dan makan dengan tenang. Mendengarkan Anna bercerita tentang rapat komite pemegang saham. Tentang tremor di tangan kanannya yang sedikit memburuk. Tentang obat baru yang diresepkan dr. Steiner.

Tian mengangguk dan menjawab di waktu yang tepat.

Sepanjang makan malam, ia menghitung. Tiga kali ia melirik ke arah pintu dapur. Ia menyadari angka itu setelahnya, di mobil, dalam perjalanan pulang, dan ia tidak menyukai fakta bahwa dirinya menghitung.

Perawat itu.

Ia tahu jadwalnya, meskipun tidak pernah bertanya. Apa yang dilakukannya tanpa sadar mengobservasi. Senin sampai Jumat, sif penuh. Sabtu, setengah hari. Minggu, libur. Pada pukul sepuluh malam, menikmati teh kamomil. Jam sebelas, lampu kamar di paviliun timur padam.

Tian tahu segalanya, karena dirinya tak pernah berhenti memperhatikan, sebaliknya dia tidak tahu mengapa dia melakukannya.

Tian menaikkan kecepatan. Seratus empat puluh di jalan basah. Angka di speedometer naik.

Ada sesuatu di dadanya tiap kali pikiran itu muncul. Ia mengkatagorikan sebagai ketegangan otot interkostal. Postur duduk yang buruk. Tidak ada hubungannya dengan hal lain.

?

Pukul 19.14. Jalan privat, lereng selatan Garmisch.

Hutan cemara mengapit kiri-kanan. Cabang-cabang gelap menunduk di bawah beban gerimis. Lampu depan Porsche membelah kabut tipis.

Vila muncul di ujung jalan.

Landhaus am Waldesrand. Batu alam abu-abu. Kayu ek tua. Atap genteng merah tua yang mengilap basah. Cahaya hangat dari jendela-jendela lantai dasar. Dua ribu tujuh ratus Kelvin. Anna menolak lampu di atas tiga ribu. Terlalu putih, katanya.

Tian memarkir di garasi. Mematikan mesin. Duduk selama empat detik, dan setelahnya dia baru turun.

Udara November menyergap. Empat derajat. Bau tanah basah, resin cemara, dan samar-samar, kayu bakar dari cerobong. Tian mengancingkan mantelnya sampai leher. Berjalan ke pintu samping.

Tuan Kruger sudah menunggu. Pria berusia lima puluh delapan tahun, punggung tegak, tangan terlipat di depan perut.

"Selamat malam, Tuan Boehringer."

"Kruger." Tian melepas mantel. Menyerahkannya. "Oma?"

"Di ruang makan. Sudah menunggu sejak pukul tujuh." Ada jeda sekejap. "Beliau meminta saya menyiapkan teh tambahan malam ini."

Tian mengangguk. Tidak bertanya untuk siapa.

Ia melangkah masuk. Parket kayu oak gelap berderit pelan di bawah sepatunya. Aroma minyak kayu ek, lilin, dan sesuatu yang lain, tercium sebagai kamomil, meskipun samar.

Tian berhenti.

Di ujung koridor, pintu dapur setengah terbuka. Cahaya kekuningan tumpah ke lantai. Dan di sana, di balik celah pintu itu, ada bayangan kecil. Bahu sedikit membungkuk. Rambut hitam diikat asal, beberapa helai lepas di sekitar leher. Tangan bergerak di atas meja konter, menata sesuatu ke nampan.

Gerakannya sangat hati-hati. Jari-jari kecil memegang tepi piring dengan baik yang tidak diperlukan untuk pekerjaan serumah tangga. Seolah setiap benda yang disentuh bisa pecah. Seolah setiap kelalaian kecil akan dihukum.

Tian berdiri di koridor.

Tiga detik, empat, lima, seterusnya.

Bayangan itu menoleh.

Mata cokelat gelap bertemu matanya. Lingkaran hitam di bawahnya terlihat bahkan dari jarak ini. Wajah kurus. Tulang pipi yang terlalu menonjol untuk seseorang seusianya. Bibir bawah sedikit kering.

Wanita itu menunduk dengan cepat. Jari-jarinya kembali ke nampan. Bahu membungkuk lebih dalam.

"Selamat malam, Tuan Boehringer," ucapnya pelan. Aksen Indonesia masih terdengar di konsonan-konsonannya.

Tian tidak menjawab, dengan sengaja menunjukkan ketidakpedulian, tapi siapa yang tahu dia merasa lega.

Ia berjalan melewati pintu dapur. Masuk ke ruang makan. Menarik kursi di hadapan Annabella.

"Kau terlambat empat menit," kata Anna. Matanya yang biru pucat menatap cucunya dari balik kacamata baca. Rambut perak disanggul rapi. Blus linen krem. Selendang sutra di bahu.

"Macet di A95."

"Tidak macet. Kau menyetir terlalu lambat." Anna tersenyum menggoda. "Duduk, kita bisa segera makan."

Tian segera duduk. Tuan Kruger menyajikan daging roulades. Kentang rebus. Kol merah. Saus cokelat kental. Tian memotong daging dengan tepat. Ukuran setiap potongan seragam.

Anna bicara tentang rapat kemudian. Tentang Dr. Hartmann yang terlalu konservatif dalam strategi ekspansi. Tentang tremornya yang membaik setelah penyesuaian dosis Levodopa. Ini percakapan bisnis dan percakapan seorang nenek bersama cucunya.

Tian mengunyah. Mengangguk. Menjawab dengan kalimat pendek.

Di tengah suapan ketiga, pintu dapur terbuka.

Langkah itu ringan. Nyaris tidak terdengar di atas parket. Nampan porselen diletakkan di meja samping Anna. Berisi teko kecil cangkir, dan sendok perak.

Tian tidak mendongak. Ia tahu siapa itu dari cara langkahnya berhenti tepat satu meter dari meja. Dari cara dia bernapas itu tertahan setengah detik sebelum bicara.

"Teh Anda, Nyonya Boehringer. Kamomil dan sedikit madu. Sesuai kebiasaan."

"Danke, Nak." Anna tersenyum. Matanya berkerut di sudut. "Kau sudah makan?"

"Sudah, Nyonya Boehringer. Terima kasih."

"Bagus. Istirahatlah. Kau terlihat lelah."

"Baik. Selamat malam, Nyonya Boehringer."

Langkah itu menjauh dengan ringan dan cepat.

Tian memotong suapan keempat. Pisau beradu dengan piring, berbunyi pelan

Di bawah meja, jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha. Satu. Dua. Tiga. Empat kali.

Ia berhenti. Meletakkan pisau dan garpu sejajar di atas piring.

"Oma," ucapnya.

"Hm?"

"Perawat itu. Sudah berapa lama ia bekerja di sini?"

Anna mengangkat cangkir teh untuk menyesap. Matanya tidak lepas dari wajah Tian.

"Enam tahun, Christian. Namanya Violetta, aku memanggilnya Letta,” kata Anna. Lalu melanjutkan, "Kau tidak pernah bertanya sebelumnya."

Tian mengambil serbet. Menyeka sudut bibirnya.

"Hanya memastikan rotasi staf."

Anna meletakkan cangkir. Senyumnya tidak berubah. Tapi ada sesuatu di matanya.

"Tentu," katanya.

Hening, hanya terdengar detak jam dinding, gemeretak api di perapian, bahkan angin bulan November menekan kaca jendela.

Tian menghabiskan makan malamnya dalam diam. Dan di bagian timur vila, di balik pintu kamar dua belas meter persegi, Violetta Maheswari menyeduh teh kamomil, tepat pukul sepuluh malam seperti biasanya.

Ia tidak tahu bahwa di ruang makan, tiga puluh meter dari kamarnya, seorang pria menghitung berapa lama ia berdiri di dapur.

Tian mengingatnya, kemudian menyimpannya, bahkan mengarsipkannya di tempat yang sama dengan semua data lain tentang wanita itu.

Begitu rapi dan lengkap. Tidak akan pernah dibuang olehnya, bahkan di dalam memorinya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 2)
RaynRyan · 28 Aug 2026 14:32

Sukka

RaynRyan · 28 Aug 2026 14:32

Wah keren bgt

Daftar Bab