Perawat Vila dan Tuan Pewaris

Bab 2 dari 21

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Perawat Vila dan Tuan Pewaris

Pada hari Jumat, ruang otopsi Institut Patologi penuh sejak pukul tujuh pagi.

Tiga mayat kiriman badan forensik. Satu perempuan, empat puluh tahun, dugaan overdosis. Dua laki-laki, terpisah kasus, sama-sama memar di tulang rusuk. Tian membedah ketiganya dalam empat jam. Pisau bedah, gergaji sternum, formalin, semuanya bergerak di tangannya.

Pukul sebelas, ia berdiri di depan tiga residen dengan suara datar, kalimat pendek, sedang menjelaskan temuan.

"Stadium tiga sudah dikonfirmasi. Tulis laporan sebelum pukul lima."

Para residen mengangguk. Tian sudah berbalik.

Selanjutnya, ruang rapat lantai sebelas. Lukas Brandt berdiri di depan layar proyeksi, mempresentasikan data uji onkologi minggu ini. Grafik sel T. Kurva respons imun. Angka-angka yang seharusnya mengunci perhatian Tian sepenuhnya. Seharusnya begitu. Namun, yang muncul di kepalanya justru kamomil yang dicampur madu.

Otak Tian mengarsipkan jutaan data per minggu. Sel, jaringan, jurnal, hasil kultur. Semuanya punya label, punya laci, punya alasan untuk disimpan. Masalahnya, madu di teh kamomil tidak punya alasan itu.

Tian mengetuk jari telunjuknya ke meja rapat sesekali. Ia menghentikan gerakan itu sebelum Lukas menyadari.

"Ulangi slide sembilan," katanya.

Lukas mengulang. Tian menatap grafik. Otaknya masih di Garmisch.

Sial, itu semua tidak bisa hilang, gerutunya.

Pukul enam sore, setelah semua selesai. Tian melepas jas lab. Menggantungnya di punggung kursi.

Rutenya hari ini seharusnya pulang, ke penthouse di Schwabing. Empat jam tidur. Besok pagi, dua konsultasi slide dan satu otopsi terjadwal. Tangannya sudah meraih kunci Porsche. Lalu ia membuka navigasi hanya untuk menikmati kebimbangannya.

Munchen ke Garmisch-Partenkirchen berjarak sembilan puluh tiga kilometer.

Tidak ada jadwal kunjungan seharusnya, bahkan tidak ada telepon dari Anna. Tian mengetuk setir tiga kali, menyalakan mesin, dan keluar dari parkiran basemen.

Urusan pribadi. Ia bahkan tidak tahu urusan apa, ia harus memikirkan untuk menjelaskan keanehan itu kepada neneknya nanti.

Begitu sampai, Tian masuk lewat pintu samping. Melepas mantel, kemudian menyerahkannya pada Tuan Kruger yang sudah menunggu dengan punggung tegak dan tangan terlipat.

Kruger sempat berhenti beberapa detik sebelum bicara. "Nyonya Boehringer ada di ruang duduk, Tuan."

"Oma tahu aku datang?"

"Saya baru saja memberitahu beliau."

Tian mengangguk. Melangkah masuk.

Di ruang duduk, Annabella mendongak dari buku di pangkuannya. Kacamata baca turun sedikit di hidungnya. Mata biru pucatnya menyipit.

"Demi Tuhan." Anna melepas kacamatanya. "Apa yang sedang aku lihat sekarang?"

Tian berhenti di ambang pintu. "Apakah aku mengganggu?"

"Tentu saja tidak." Anna meletakkan bukunya. Menatap cucunya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Tapi ini Jumat. Kau tidak pernah datang hari Jumat. Duduk. Mukamu lelah sekali."

"Aku baik-baik saja."

"Kantung matamu bilang sebaliknya." Anna menekan tombol bel di samping kursinya. "Letta. Satu cangkir kamomil lagi untuk cucuku."

Tian membuka mulut. Menutupnya lagi.

Ia duduk di sofa Chesterfield seberang Anna. Jari-jarinya mengetuk sandaran tangan sofa.

"Oma," katanya. "Dia perawat. Bukan pelayan."

Anna mengangkat alis. "Teh ini khusus. Pelayan tidak bisa meraciknya dengan benar,” Anna jelas memanfaatkan keahlian itu dengan baik. Ia pun tersenyum kecil di sudut bibirnya. "Eyang Letta dulu punya rumah teh di Yogyakarta. Meracik rempah sejak kecil. Gadis itu tahu suhu air yang tepat, berapa menit daunnya harus direndam, kapan madu masuk."

Tian diam.

"Di Indonesia mereka menyebutnya jamu," lanjut Anna. "Kau tahu istilah itu?"

Tian mengangguk pelan. "Ibu dulu membuatnya."

Kata itu keluar begitu saja. Tentang Rina Lestari seorang arsitek. Perempuan yang bicara dengan campuran bahasa Indonesia dan Jawa, yang mengirim rempah-rempah dari Yogyakarta ke dapur Munchen, yang mengaduk kunyit dan jahe di panci kecil sambil bersenandung lagu yang Tian tidak pernah ingat judulnya.

Dua puluh tiga tahun lalu. Kemudian insiden laboratorium meledak, dan panci itu tidak pernah dipakai oleh siapa-siapa lagi, teronggok seperti barang prasejarah.

Tian mengedipkan mata. Kilas balik itu surut.

"Rempah kiriman dari Indonesia," lanjutnya. "Ibu selalu menyeduhnya sendiri."

Anna mengamatinya lama. Setelah itu tersenyum. "Kau mirip ibumu, Christian. Lebih dari yang kau kira."

Pintu ruang keluarga terbuka.

Tian akhirnya melihat Letta lagi.

Rambut hitam diikat asal. Tiga helai lepas di sekitar telinga kanan. Wajah datar. Mata cokelat gelap yang tidak menatap siapa pun secara langsung. Ia meletakkan cangkir di meja samping Tian dengan jari-jari yang memegang tepi porselen dengan hati-hati.

Aroma kamomil naik tercium Hangat dan sangat lembut.

Lalu ada yang lain secara samar. Sesuatu yang ringan dan sedikit manis. Hidungnya menangkapnya sebelum otaknya sempat menolak.

"Terima kasih," kata Anna.

Letta mengangguk kecil. "Sama-sama, Nyonya Boehringer."

Ia berbalik dengan cepat, langkahnya segera menjauh. Seperti biasa, seolah kehadirannya harus sekecil mungkin di ruangan ini. Berharap tidak menimbulkan perhatian berlebih.

Tian menatap punggung itu selama dua detik.

Lalu ia meraih cangkirnya. Menyesap kamomil dengan campuran madu.

Ia menelan ludah.

"Oma."

"Hm?"

"Aku menginap malam ini."

Anna tidak terlihat terkejut. Ia hanya menyesap tehnya, lalu berkata, "Perapian di luar?"

"Ya."

"Empat derajat, Christian."

"Aku tahu."

"Kau akan membakar marshmallow?”

"Kemungkinan besar."

Anna mendengkus pelan. "Kau sudah tiga puluh lima tahun dan masih duduk di depan api seperti anak kecil. Oma tidak akan melarang. Kau cukup paham mengatur kesehatanmu sendiri."

Tian menghabiskan tehnya dalam tiga teguk.

Setelah cangkir kosong. Aroma sampo itu masih tertinggal di hidungnya. Ini adalah aroma Violetta Maheswari.

Ia mengklasifikasikannya sebagai kontaminasi olfaktori sementara. Akan hilang dalam sepuluh menit.

Di bagian timur vila, dua belas meter dari ruang duduk ini, Letta menutup pintu kamarnya. Ia tidak tahu bahwa cangkir yang baru saja ia bawa telah membuat seorang dokter patologi duduk di sofa selama empat detik lebih lama dari yang diperlukan, hanya untuk memastikan langkahnya sudah benar-benar menghilang di balik koridor.

Tian meletakkan cangkir di meja. Sejajar dengan tepi.

Lalu ia berdiri. Berjalan ke arah perapian luar.

Malam ini ia akan menyalakan api. Duduk di kursinya. Menatap nyala oranye di kegelapan November. Sedangkan di kepalanya, satu data baru masuk ke arsip tanpa izin. Sampo, bunga, dan sesuatu yang tidak mampu untuk diidentifikasi.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 1)
RaynRyan · 28 Aug 2026 15:30

Keren bener

Daftar Bab