Bab 2 dari 36
Mendadak aku rindu melihat senja memerah di Bukit Bromo, keindahannya menunjukkan ketulusan yang tak ditutupi.
Tak seperti kehidupan di kota, yang semuanya serba tertutup. Seperti keadaanku setelah seminggu berada di kediaman Papah.
Mamah Ratu, Adrian, dan Maudy nyaris hanya menghabiskan waktu mereka di kamar. Gadget menjadi teman dekat mereka. Sementara aku mendadak kehilangan sesuatu yang sangat berarti dari Bromo. Kehangatan.
Semuanya hanya berkumpul, ketika Papah kembali dari bekerja. Lelaki yang kata orang matanya mirip denganku itu, akan duduk di kursi meja makan paling tengah dan terdepan, aku di samping kanannya bersama Adrian, di seberangku Mamah Ratu dan Maudy.
“Bagaimana harimu, Nak?” tanya Papah padaku. Aku tersenyum.
“Menyenangkan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.
“Yang lain juga ditanya dong Mas, yang lain ‘kan juga anak-anak kamu,” sahut Mamah Ratu sambil menyendokkan nasi ke piring Papah.
“Yang lain ‘kan sudah sering papah tanya,” jawab Papah seraya mengusap punggung tanganku.
“Oh ya, kamu rencana mau ambil kuliah jurusan apa?”
“Maudy ingin ambil jurusan Hukum,” sahut Mamah Ratu kembali.
“Kamu apa, Sayang?” tanya Papah.
Benar-benar kebetulan, aku sama sekali tak menyangka jika Maudy memiliki keinginan yang sama denganku. Hukum. Sejak lama, aku memang ingin mengambil jurusan itu. Meski alasan sebenarnya bukan karena aku merasa mampu dan menyukainya. Ada alasan lain yang membuatku ingin mengambil Hukum. Kak Randy.
“Kedokteran? Atau apa?”
“Hu-hukum,” jawabku gugup.
“Kebetulan kalo begitu, kalian satu kampus saja!” usul Mamah Ratu.
“Tapi Maudy diterima di Universitas Indonesia,” sambung wanita itu lagi. “Kamu memangnya bisa kuliah di UI?”
Aku menggeleng.
“Oooh sayang, enggak bisa bareng, dong.”
“Enggak apa-apa. Trisakti, Binus juga bagus, atau kamu mau kuliah di luar negeri?” bujuk Papah. Aku diam pucat.
Wajahku sedikit menoleh ke Maudy, dia langsung membuang wajahnya.
“Aku tak sepintar itu Pah untuk kuliah di luar. Nilaiku agak kurang.”
“Hukum itu harus berpikir kritis, kamu yakin bisa?” Mamah Ratu meragukan.
“Sebenarnya ….”
“Ceri sekolah di pedalaman, jarak sekolah dari rumahnya itu cukup jauh. Fasilitas sekolahnya juga kurang memadai, beda dengan sekolah di kota. Jadi bukan tentang bisa atau tidak Ceri berpikir kritis, hanya kesempatan yang belum bisa dia dapatkan!” tegas Papah.
“Ceri kuliah di swasta saja," kataku.
“Di mana? Trisakti?”
“Terserah Papah.”
“Kalo begitu Maudy juga di Trisakti juga, Pah,” susul Maudy. Semua orang langsung menatapnya.
“Hmmm … temenin Ceri,” katanya. Aku tersenyum lega, merasa yakin Maudy tidak seburuk yang kubayangkan.
“Kamu yakin? UI itu bergengsi loh, Nak!” Mamah Ratu menyeru.
“Yakin, Mah. Ceri ‘kan baru di Jakarta, anak-anak di Jakarta ‘kan Mamah tahu sendiri.”
“Terima kasih ya, Maudy,” jawab Papah.
Aku tersenyum memandang Maudy.
“Terima kasih, Maudy,” sambungku.
“Sama-sama.”
Setelah makan malam itu, aku merasa mulai akrab dengan saudara sambungku. Maudy singgah ke kamarku. Matanya berkeliling melihat setiap sudut kamarku, dia buka lemari pakaian dan melihat-lihat dengan antusias.
“Bagus-bagus banget dress kamu, Ceri,” katanya.
“Iyaa!” Aku girang.
“Eh, ya! Kamu masih mau pake hijab pas kuliah?” tanyanya, aku mendelik dan tersenyum lebar, lalu mengangguk.
“Enggak risih?”
“Enggak. Memangnya enggak boleh pake jilbab?” tanyaku.
“Ya boleh, tapi biasanya anak-anak berjilbab pertemanannya membosankan,” katanya. Aku tersenyum. Dia ambil salah satu baju atasan yang sudah dibelikan Papah untukku, kemudian menempelkan di tubuhnya, lalu berkaca.
“Bagus, Maudy!”
“Oh, ya?”
“Iya, kamu cantik sekali!” kataku jujur. Kenyataannya Maudy memang sangat cantik, bersih putih kulitnya, mancung hidungnya, tak seperti hidungku yang bulat.
“Eh, apa itu?!” serunya. Aku mendelik saat dia melompat ke ranjang, kemudian meraih setumpuk surat di atas nakas.
“Jangan!” Aku berteriak, sambil merebut surat-surat kiriman Kak Randy.
“Pacar kamu, ya?” Kedua pipiku hangat sudah. Malu.
“Hari gini masih pake surat?”
Aku menunduk malu. Surat terakhir kukirimkan sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta, surat yang menerangkan kepindahanku dan pengharapan untuk bertemu lelaki yang dulunya berambut lurus, usianya selisih tiga tahun, lebih tua dariku. Saat aku kelas tiga SD, Kak Randy kelas enam.
“Ganteng?” tanya Maudy lagi.
Aku tersenyum, lalu menunduk.
“Lihat fotonya, dong.”
“Aku enggak punya.”
“Terus! Media sosial ada pasti, dong!” tandasnya.
Aku mengangguk.
“Siapa namanya?”
“Randy Pangestu.”
Tanpa kupinta, Maudy langsung meraih ponsel di saku bajunya, dia ketik nama itu di halaman Instagram, setelahnya menunjukkan padaku.
“Yang ini?”
Aku mengangguk.
“Ya Allah ganteng banget! Kamu beruntung, Ceri!”
“Dia bukan pacar aku, kok.”
“Oh, ya.”
“Tapi, kamu suka?” tanyanya, aku diam.
“Ganteng, senyumnya manis, tinggi,” kata Maudy lagi. “Seleranya pasti tinggi!”
Aku langsung merendah. Kupandangi Maudy jeli, dia melihat akun Randy dari bawah sampai atas, dia scroll bahkan tak sungkan mem-follow dan memberikan like di setiap foto yang dia sukai.
“Aku ke kamar dulu, ya!” serunya lagi, aku mengangguk.
Melihat sikap Maudy, ada perasaan hambar nan takut yang mendadak kurasakan dengan terang. Belum pernah aku setakut ini. Saking takutnya, tubuhku langsung berkeringat, setiap surat Kak Randy kugenggam dan membayangkan kalimat Maudy yang sepertinya dia tujukan padaku. Selera Kak Randy sangat tinggi.
“Aku siapa?” lirihku menunduk.
“Kamu cantik, Nak.” Suara almarhum ibuku tiba-tiba terngiang, saat dia membelai wajahku dulu di bawah kaki Gunung Bromo saat kami mengantar Opah bekerja.
“Kak Randy keren banget, Mah,” kataku lagi seraya menunjukkan foto lelaki itu yang kudapatkan dari halaman Instagram-nya. Lelaki yang sepertinya suka berswafoto itu tampak seperti model, senang mengenakan pakaian kasual modern, memiliki motor balap dan kuliah di Universitas Negeri ternama. Aku mengambil jurusan Hukum, karena lelaki itu. Bukan karena aku mampu atau pintar seperti yang dikatakan Mamah Ratu. Tapi karena Kak Randy kuliah jurusan Hukum.
“Kamu harus percaya diri, Ceri. Buktinya, Randy masih mengirimkan surat ke kamu.”
“Tapi … Ceri ‘kan enggak punya Instagram. Bagaimana jika Kak Randy kecewa setelah melihat Ceri?”
“Kamu berharap Randy jadi kekasih kamu, ya?” Mamah meledek, aku ingin menangis. Dia langsung meraih bahuku dan mendekapnya.
“Mamah doakan kamu mendapat jodoh yang tulus, setia, mencintai kamu apa adanya, mengorbankan apa saja demi kamu,” katanya.
“Kenapa bukan Randy?” tanyaku.
“Sayang ….” Dia membelai wajahku, kemudian meletakkan kedua tangannya di kedua bahuku. “Sikap lelaki itu misteri, kamu tidak akan benar-benar paham sampai kamu benar-benar dewasa dan melihat sendiri apa itu cinta dan perjuangan.”
Aku diam.
“Mamah ingin kamu mendapat lelaki yang memiliki sifat seperti itu, jika bukan Randy, siapa pun itu. Mamah takut jika menyebut nama Randy, lelaki itu justru tidak baik padamu.”
“Tapi Ceri suka Kak Randy,” lirihku.
Mamah tersenyum.
“Doakan terus, ya,” katanya. Aku mengangguk.
Karenanya hampir setiap malam, aku berdoa untuknya. Dipertemukan dalam keadaan baik, dalam keadaan yang disukai, dan dalam waktu yang baik. Aku ingin pertemuanku pertama kali dengan Kak Randy berkesan. Aku ingin dia melihatku jadi wanita sempurna yang sudah tumbuh dewasa. Kudekap erat surat-surat pemberiannya dan tersenyum bahagia.
Beberapa minggu berlalu, Kak Randy belum membalas suratku. Aku sendiri tak tahu alasan dia belum menghubungiku. Dia tahu alamat Papah, dia bisa datang jika dia mau. Namun, kesibukannya pasti menjegalnya. Aku mengerti dan masih menyimpan harap.
Masa-masa ospek aku ditemani Maudy, dalam sehari perkenalan, Maudy sudah dikerubungi gadis-gadis yang tinggi tubuhnya nyaris sama sepertinya, cantik, dan wajahnya kurang lebih setara. Perlahan Maudy mulai menunjukkan arah di mana dia seharusnya berdiri, dia tak lagi menemaniku karena merasa tak sejajar, tinggi tubuhku yang paling jelas terasa, Maudy 165cm sementara aku hanya 158cm. Dirinya hanya sekali saja menyapa, setelahnya kembali berkumpul dengan teman satu gengnya.
“Kenapa kok diam aja?” tanya Papah saat pertama kali dia menjemputku di kampus setelah sebelumnya pak supir yang menjemput.
“Gak apa-apa.”
“Seneng kuliahnya?”
“Seneng. Tapi susah,” kataku.
Papah tertawa.
“Kamu pasti bisa!” serunya, aku tersenyum lebar.
“InsyaAllah!”
“Nah, gitu dong.”
Aku sedih, karena Maudy yang seharusnya menjadi teman paling dekat denganku di kampus, nyatanya menjadi orang yang paling tak acuh padaku. Tapi, aku bersyukur juga karena di sana aku bertemu teman-teman baru. Teman-teman yang lucu dan menyenangkan.
“Udah punya temen baru belum?” tanya Papah, selaras dengan isi kepalaku.
“Udah! Ada Siwi sama Tanty.”
“Oh, ya! Mereka baik?”
“Baik sama lucu!”
Kami saling bercerita banyak sambil menyantap makan siang di sebuah restoran Jepang. Sudah lama aku tak makan Sushi, dan Papah paling tahu jika Sushi adalah makanan favoritku. Siang itu, Papah hanya ingin makan berdua denganku. Dia khusus menjemputku, sementara Maudy saat Papah tiba, dia sudah berlalu dengan teman-temannya.
Aku begitu antusias menceritakan dua temanku yang baru itu. Tubuh Siwi yang lebih mungil dari aku dan hidung pesek, tapi memiliki kepercayaan diri tingkat dewa, juga Tanty si jangkung berkulit hitam asal Ambon.
“Mereka beruntung bisa kenal kamu,” kata Papah.
Aku menikmati hari-hariku, sampai suatu hari. Saat aku keluar dari kampus berjalan dengan kedua sahabatku itu. Suara lelaki tebal nyaring terdengar memanggil namaku di kampus biru Trisakti di Jakarta Barat itu.
“CERI! CERIAA!”
Saat aku berbalik, seorang lelaki dengan senyum terbaiknya melambaikan tangan ke arahku. Lelaki yang hari itu mengenakan jeket denim, kaus putih dan celana hitam itu berdiri bersandar di sebuah motor yang tak asing juga bagiku. Mataku kemudian berembun, merabunkan pandangan, aku usap dengan kasar dan senyum lelaki itu kian lebar.
“Kaak—Kaak Randy!” seruku gugup.
“Haaai, Princesss!” teriaknya.
“PRINCESSS!” teriak Siwi dan Tanty meledek.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya