SADTEMBER

Bab 1 dari 36

Bab 2
100%
Memeriksa iklan...

Bab 1: September Ceria

September Ceria namaku. Diberikan karena kelahiranku membawa keceriaan bagi kedua orang tua, juga karena keduanya menyukai lagu yang pernah dibawakan oleh Vina Panduwinata itu.

Keceriaan yang berlangsung terus-menerus sampai akhirnya terjeda ketika orang tuaku memutuskan berpisah. Ketika itu, saat usiaku tujuh tahun. 

Papah memilih menetap di kota, sementara Mamah kembali ke rumah orang tuanya di Ngadas, Malang, Jawa Timur. Keceriaanku tertimbun dengan rasa rindu yang terlalu berat dan berjejak. Meski Opah dan Omah menggantinya dengan begitu banyak hal yang membuat ceriaku tetap utuh. Kakek-nenek dari Ayah yang sering mengunjungi juga mengajakku menginap di tempat mereka. Tetap saja, perceraian telah membuat hati berlubang.

Aku kehilangan Papah, juga teman temanku di kota. Kak Randy salah satunya. Pemuda yang selalu membuatku tertawa dan menjadi sahabat karibku di sekolah. Kakak kelas yang selalu melindungi dan menemani. Berangkat dan pulang sekolah, selalu bersamanya. Setiap akhir pekan, tak sungkan dia main ke rumahku, begitu pula aku. Ibunya baik, penyayang. Kami sempat dikira adik-kakak, tapi aku menolak. 

"Lalu, kamu maunya jadi apa, Cer?"

"Istri!"

Semua orang terbahak, sebagian mengamini jawabanku yang terlalu polos itu. Dan sekarang dirinya hanya bayang-bayang yang paling sering kutangisi setiap melangkah ke sekolah baru di Malang.

Kehilangan Papah dan Randy telah meruntuhkan sebagian kekuatanku. Ceria hanya tinggal nama, setelah Mamah membawaku ke Desa Ngadas. Aku nyaris tak mampu memaknai arti Ceria. 

Belum lagi kebencian Mamah pada Papah yang membuatnya enggan menceritakan kabar lelaki berbahu bidang itu lagi padaku.

"Papah lagi apa ya, Mah?"

"Sudah malam, tidur, ya." Dia mengusap kepalaku.

"Ceri, rindu Papah," kataku. Mamah hanya menunduk, tersenyum kemudian mengecup keningku. 

"Papah rindu Ceri enggak, Mah?"

Dia diam. 

"Rindu Ceri akan terganti dengan kasih sayang Omah, Opah, dan Mamah," katanya. Matanya berkaca. Setelahnya dia memelukku erat-erat dan aku terlelap kemudian.

Aku tak paham, mengapa orang tua begitu egois berpisah tanpa memikirkan perasaan anaknya. Namun, aku juga tak ingin memaksa Mamah kembali pada Papah. Kenyataannya, air mata Mamah terlihat lebih banyak dariku. Dia sering tersedu menjelang tidur, senja, sehabis salat dan banyak lagi. Luka Mamah sepertinya sangat dalam, dan aku tak pernah tahu, dan tak mau tahu agar aku tak terluka sepertinya. 

"Papahmu sudah bahagia dengan keluarga barunya," kata Omah. "Jangan tanya mamahmu terus-menerus soal papah, ya," tambahnya lagi, aku ikut bersedih. 

Mendengar itu, aku menangis seharian, tak henti dan tak kunjung kering air mata karena membayangkan Papah bersama keluarga barunya. Karena lamunanku itu pula, aku jadi sering diam.

Kesedihan berlangsung pulih seiring berjalannya waktu. Rinduku pada Papah akhirnya terobati dengan segenap aktivitasku. Opah adalah pengendara Jeep andal yang kebetulan memiliki dua buah Jeep untuk dia sewakan. Sementara Mamah dan Omah, memiliiki usaha di bidang pertanian, khususnya kentang. Mamah dan Omah membeli hasil tani, kemudian menjualnya kembali.

Sesekali aku ikut Opah ke Gunung Bromo, mengikuti tapak tilas para pendaki dan menikmati keindahan Sang Adi Karya. Hal yang paling kusyukuri dari tempat ini adalah, setidaknya aku bisa melihat keindahan sang surya terbit dari ufuk timur di Gunung Bromo secara perlahan. Paduan warna kuning, oranye, hitam, dan biru yang dihasilkan fenomena alam, sungguh menjadi pemandangan menarik yang membuat siapa pun cemburu.

"Ceri, ada surat!" teriak Mamah, beberapa saat setelah aku turun dari mobil Jeep. Usiaku sepuluh tahun saat itu. 

"Surat!" seruku, seraya terburu-buru masuk ke rumah yang dinding-dindingnya terbuat dari batu pualam merah, bangunan yang berdiri di tanah seluas lima ratus meter, ada lima kamar di dalamnya, kebun bunga matahari di pekarangan belakang dengan pemandangan Bromo.

Aku berlari ke kamarku, duduk di ranjang besi kuno yang terdapat kelambu di sisi kanan-kirinya. Kemudian membuka surat pemberian Mamah yang semula kukira dari Papah.

"KAK RANDYYY!" Aku berteriak, Mamah tersenyum di bibir pintu. 

"Seneng?" Aku langsung mengangguk. Mamah kemudian mendekat dan mencium keningku. 

"Kamu balas suratnya Randy, nanti Mamah yang kirimkan." Aku mengangguk setelahnya. 

Keceriaanku berlangsung pulih karena surat itu. Perlahaan aku mulai memahami, jika hidup tidak hanya bicara tentang keceriaan, tetapi juga kesedihan. Sedihku datang lebih awal, itu kata Opah. Kelak, kebahagiaan hakiki akan datang padaku. Membawa keceriaanku kembali utuh seperti dulu. 

Aku mulai menerima perceraian orang tuaku kala usiaku menginjak 15 tahun. Papah pun rutin datang menemui, meski hanya satu tahun sekali, membawaku ke rumah Kakek dan Nenek, tapi itu sudah cukup. Di tempat Kakek dan Nenek, dia memberikan segalanya. Seperti membayar hutang dari ratusan hari yang telah pupus. Kakek, Nenek, Paman, dan Bibiku, semuanya sama.

Dan suatu hari, dia membawa anak lelaki berusia lima tahun di hadapanku. Adrian namanya.

“Ini adikmu, Ceri,” katanya. Aku tersenyum meski hati meringis. Kudekati Papah, kemudian bersalaman dengan adikku yang beruntung bisa selalu dekat dengannya.

Papah tinggal di Jakarta, bersama Mamah Ratu dan putrinya yang katanya seusia denganku. Setiap kali melihatku, mata Papah selalu berkaca-kaca, sambil merengkuhku, dia berkata, “Papah ingin sekali kamu tinggal sama papah,” katanya. Aku tersenyum, mengingat kembali senyuman Mamah yang nyaris hilang karenanya.

“Ceri sama Mamah saja, Pah. Papah ‘kan sudah ada Adrian dan Tante Ratu.”

Dia tersenyum, lalu mengangguk.

“Jika kamu butuh apa pun, hubungi papah, ya. Kamu mau apa? Apa pun papah berikan.”

“Pelukan!” kataku dalam hati. Aku ingin Papah memelukku setiap hari, seperti dulu saat dia baru pulang kerja, aroma keringat bercampur dengan wangi parfumnya.

Saat seperti ini menjadi mahal harganya dan takkan pernah kudapatkan. Dulu, aku berani mendesaknya rujuk dengan Mamah. Tapi sekarang, aku enggan mengatakan itu. Karena kata Opah, cinta itu membutuhkan dua orang.

Keadaan orang tuaku memang telah putus. Namun, kebahagiaan tidak akan pernah pupus untukku. Itu kata Papah terakhir kali kami bertemu. 

Sayangnya, Papah berdusta. Tak ada satu kebahagiaan yang abadi. Ceriaku kembali tenggelam, ketika Mamah divonis kanker dan akhirnya harus berpulang meninggalkanku dalam kesendirian yang teramat sunyi.

Mamah dimakamkan di pemakaman umum yang lokasinya berada dekat dengan perkebunan bunga matahari. Di atas makam Mamah aku tersedu, sesenggukan. Berjam-jam, sampai akhirnya Papah yang menarik tubuhku dari makam. 

“Papah jahaaat!” teriakku. Menangis. Dia juga ikut menangis. 

“Papah jahaat! Papah selalu membuat Mamah sediih!” teriakku. Berhamburan air mata ini, dia mendekapku erat dan memberikan pelukannya untuk tempat bersandarku.

Kepergian Mamah telah menjadikan ceriaku kembali membeku. Tak ada lagi kisah tentang Ceria yang akan membuat Ibunya bangga akan dirinya. Kisah tentang seorang ibu yang menunggu putrinya di bibir pintu, dan kisah tentang seorang ibu yang tertawa riang di atas ranjang bersama putrinya. 

Sesenggukan aku mendekap erat foto Mamah. Satu hari, dua hari, dan seterusnya sampai senyumku akhirnya menjadi datar.

“Ceri …, papah mau mengajakmu ke Jakarta,” kata Papah di kamarku setelah ia beberapa hari menginap di tempat Opah.

“Sayang …,” tambahnya.

“Sebentar lagi juga kamu akan kuliah, kamu harus ke kota juga.” Aku masih diam, tak tertarik.

“Naaak!” serunya seraya meraih bahuku dan kembali aku sesenggukan di pelukannya.

“Ceri ingin sama Mamah.”

“Mamah sudah enggak ada.”

“Selama ini, jika Ceri kangen Papah, Mamah yang selalu peluk Ceri.”

Papah merengkuh wajahku.

“Papah akan membayarnya. Selama ini Mamah selalu melarang papah membawamu ke kota. Karenanya, papah hanya bisa setahun sekali ke sini. Itu juga, papah tidak bisa di Malang, papah harus menginap di tempat kakek dan nenekmu di Surabaya. Papah juga kangen sama kamu, Nak. Papah juga berhak atas kamu.” Ada air mata yang menyembul di sudut mata Papah.

“Ceri sekarang ikut papah, ya. Tinggal sama papah.”

Aku memang tak ada pilihan selain ikut Papah ke Jakarta. Dialah satu-satunya orang tuaku yang paling berhak atasku selain Opah, Omah, kakek, juga nenek. Tapi setidaknya ada alasan yang membuatku semangat kembali ke Jakarta. Kak Randy. 

Setumpuk surat darinya yang kusimpan rapi di lemari telah membuatku terdiam dan tersenyum sendiri. Dia tetap saja mengirimkan surat dengan cara tradisional seperti ini, padahal dunia sudah maju. Surat tak butuh lagi perangko. Tapi katanya, surat akan menjadi bernilai jika dituliskan dengan pena, bukan dengan ketikan.

Semua surat itu kumasukkan ke koper. Menjadi penyemangat yang luar biasa. Yang membuat setidaknya senyumku kembali pulih. September Ceria kembali di akhir bulan September. Tiga bulan setelah Mamah berpulang. Dari Malang aku menuju Surabaya, setelahnya melanjutkan perjalanan ke kota menggunakan pesawat. 

Tiba di Bandara Soekarno Hatta, aku langsung disambut mobil Alphard terbaru milik Papah. Papah yang membukakan pintu, setelahnya kami berangkat menuju kediaman Papah yang dulunya juga rumahku dan Mamah.

Perjalanan kami tempuh dari bandara hanya satu jam. Akhirnya kami tiba di rumah Papah. Seperti ada yang menarik jiwaku kembali ke masa lalu, kenangan-kenangan itu masih menempel di rongga kepala, saat Mamah berkebun, saat aku berlarian di taman, terjatuh dan diobati Papah sampai teriakanku kala menangis histeris di ganggu anak-anak nakal, rumahnya masih terlihat megah, rumah bergaya minimalis memiliki tiga lantai, lantai dasar garasi parkir, lantai dua barulah rumahnya. Saat aku turun dari mobil terlihat di lantai dua persis di depan pintu, Mamah Ratu, Adrian dan seorang gadis yang usianya sama persis denganku. Gadis itu tubuhnya lebih tinggi dan semampai dariku, seperti model. Maudy namanya. 

“Kak Cerii!” teriak Adrian, kemudian berlari menghambur ke pelukanku. 

“Selamat datang, Ceri,” sambut Mamah Ratu, aku meraih tangannya, kemudian mengecupnya.

“Mamah turut berduka, ya. Maaf, tidak bisa datang, karena mamah sedang sakit saat mendengar kabar itu,” katanya.

“Tidak apa-apa, Mah.”

“Oh, ya, kamu belum pernah bertemu dengan Maudy, ya.” Mataku kemudian menatap gadis seusiaku itu. Maudy tersenyum, menyodorkan jemari lentiknya. 

“Selamat datang,” katanya. 

“Semoga ke depannya kalian bisa jadi saudara yang akur dan cocok, kamu punya teman dekat sekarang, Nak,” kata Papah. Aku tersenyum menyodorkan tangan.

“Ceri!”

“Maudy!” tandasnya dengan senyum separuh.

Setelahnya, aku dibawa bernostalgia oleh Papah berkeliling di rumahnya. Dia menunjukkan banyak hal, mulai mengingatkanku akan kolam renang, piano klasik di ruang tengah yang berhadapan dengan ruang makan dan dapur bersih nan mewah nuansa hitam, juga foto-fotoku yang dia pajang di ruang kerjanya.

“Sekarang, papah antar kamu ke kamarmu,” katanya antusias. Aku diajaknya ke lantai dua, melintasi tangga meliuk yang dialasi karpet berwarna merah. Setiba di atas, sebuah kamar bernuansa merah muda langsung memanjakan mataku.

“Papah sudah siapkan kamar ini sejak lama. Ini kamar terbesar kedua di rumah ini setelah kamar papah. Ada kamar mandi di dalam, juga pakaian-pakaianmu, papah sudah siapkan semuanya.”

“Terima kasih, Pah,” lirihku.

“Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat dulu, ya,” tambahnya sambil merengkuh wajahku, kemudian mengecup kening. Dia berlalu, sementara dari balik pintu kamarku yang terbuka sedikit, kulihat Maudy berdiri tak jauh menatapku. Sorot matanya tajam, tapi senyumnya cukup manis. Aku tersenyum membalasnya, dia langsung masuk ke ruangan yang sepertinya kamarnya.

Semoga Maudy, Mama Ratu dan Adrian, menjadi keceriaan baruku. Seperti namaku, Ceria selamanya.

 

 

-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab