Bab 1 dari 6
Hari itu Senin, empat belas Februari 2009, hari ketika kalender seolah-olah sengaja dibuat untuk mengingatkan manusia bahwa cinta harus dirayakan, setidaknya oleh mereka yang punya seseorang untuk dicintai, sementara bagi sebagian lainnya hari itu hanyalah Senin biasa yang kebetulan jatuh di tengah bulan Februari dan dipenuhi pasangan muda-mudi yang sibuk mengikrarkan perasaan dengan cara masing-masing.
Di salah satu sudut Universitas Negeri Jakarta, Ainun Safa duduk sendirian di kursi taman. Kampus itu memiliki banyak ruang kosong yang entah mengapa selalu terasa lebih luas pada siang hari, ketika mahasiswa berlalu-lalang dari satu gedung ke gedung lain, sementara pepohonan tumbuh rapi di sepanjang jalan, beberapa pohon beringin berdiri dengan akar-akar yang menjalar seperti urat tua lelaki yang sudah terlalu lama hidup, menjadi tempat berteduh mahasiswa yang kelelahan, berdiskusi, makan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang yang mereka sukai.
Puluhan burung gereja bersiul dari dahan-dahan, sesekali beterbangan lalu menyembul kembali dari sela ranting, seolah-olah mereka pun punya urusan sendiri yang tidak kalah penting dibandingkan urusan manusia. Cahaya matahari jatuh menembus celah dedaunan, pecah menjadi bayang-bayang yang bergerak pelan di atas tanah yang belum beraspal.
Ainun menyukai tempat itu. Entah karena kesejukannya, ketenangannya, atau karena setiap kali berada di sana ia selalu merasa seperti sedang dikembalikan kepada sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada kehidupan kota yang berisik dan tergesa-gesa. Ada saat-saat tertentu ketika ia duduk di bawah pepohonan itu, memandangi cahaya yang bergerak di tanah, lalu tiba-tiba teringat kampung halaman, rumah, jalan-jalan kecil yang tidak pernah ramai, dan kehidupan yang menurutnya jauh lebih mudah dipahami daripada kehidupan di kota. Namun siang itu, ketenangan yang ia rasakan harus berbenturan dengan pemandangan yang sejak tadi membuatnya berkali-kali mengucapkan istigfar di dalam hati.
Di bawah pohon-pohon beringin, puluhan pasangan muda sedang memadu kasih. Ada yang berjalan sambil berpegangan tangan, ada yang duduk berdempetan, ada pula yang berbicara terlalu dekat di atas motor seolah-olah jarak beberapa sentimeter di antara mereka merupakan bagian dari janji suci yang belum sempat mereka ucapkan. Beberapa bahkan tidak lagi peduli dengan keberadaan orang-orang di sekitar mereka.
Ainun hanya menghela napas. Ia tidak pernah benar-benar memahami bagaimana seseorang bisa begitu mudah menganggap kedekatan antara lelaki dan perempuan sebagai sesuatu yang biasa hanya karena mereka merasa saling mencintai.
“Selama tidak berzina, ya jalani saja.”
Itulah jawaban yang sering didengarnya ketika ia mencoba mengingatkan. Bagi mereka, selama tidak sampai melakukan hubungan badan, semuanya masih bisa dianggap wajar. Berpegangan tangan bukan zina. Berpelukan bukan zina. Duduk berduaan bukan zina. Saling merayu bukan zina. Padahal, menurut Ainun, dosa sering kali tidak datang dengan suara keras dan pintu yang digedor. Ia datang perlahan-lahan, dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil, sesuatu yang mula-mula terasa tidak berbahaya, kemudian membawa seseorang semakin jauh sampai ia tidak lagi tahu kapan tepatnya batas itu telah dilewati. Dan bukankah zina besar sering kali memiliki jalan yang panjang sebelum seseorang benar-benar sampai kepadanya?
Ainun kembali mengucapkan istigfar dalam hati. Ia bersyukur dilahirkan dari keluarga sederhana, keluarga yang bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membuatnya berpakaian modis sebagaimana gadis-gadis lain di kampus. Ia tidak memiliki pakaian mahal, tidak memiliki koleksi kosmetik, dan tidak pernah merasa perlu menghabiskan banyak uang hanya untuk membuat seorang lelaki menoleh kepadanya.
Ia bersyukur karena Allah tidak memberinya wajah yang, menurut ukuran kebanyakan orang, terlalu cantik. Wajahnya mungil, kulitnya putih, hidungnya mancung, tetapi hampir seluruh wajah itu selalu tertutup kacamata besar yang membuatnya tampak seperti anak sekolah yang tersesat di lingkungan mahasiswa. Ia tidak keberatan. Justru ia menganggap semua itu sebagai perlindungan. Tidak ada lelaki yang tertarik kepadanya. Tidak ada yang datang membawa rayuan. Tidak ada yang mengajaknya berpacaran. Tidak ada yang membuat hatinya berdebar hanya karena pesan singkat di ponsel. Dan bagi Ainun, itu adalah nikmat.
Ia tidak ingin mengenal cinta sebelum cinta itu datang dalam bentuk yang halal. Langit biru di atas kepalanya menjadi saksi keyakinan sederhana yang selama ini ia pegang: bahwa aturan Tuhan bukanlah sesuatu yang dibuat untuk dilanggar hanya karena manusia merasa dirinya sedang jatuh cinta, dan bahwa manusia boleh saja berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi tidak semua keinginan harus dituruti.
Ainun tersenyum sendiri. Ia belum pernah merasakan apa yang disebut orang-orang sebagai cinta. Karena itu, menurutnya, hidup jauh lebih mudah.
“Ah, kamu, Nun, belum pernah jatuh cinta, sih!”
Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.
“Makanya sekarang bisa nasihati kita kayak orang benar. Nanti setelah kamu jatuh cinta, kamu akan makan omonganmu sendiri.”
Ainun biasanya hanya tersenyum. Mungkin saja mereka benar. Mungkin suatu hari nanti ia akan jatuh cinta dan mendapati dirinya melakukan hal-hal yang selama ini ia nasihati agar tidak dilakukan orang lain. Mungkin cinta memang membuat manusia menjadi bodoh. Mungkin juga cinta membuat seseorang bisa mencari seribu alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebelumnya ia anggap salah. Tetapi Ainun ingin percaya bahwa dirinya tidak akan seperti itu. Ia ingin melewati masa mudanya tanpa harus sibuk menyimpan seseorang di dalam hati sebelum orang itu benar-benar menjadi miliknya.
Biarlah cinta datang setelah akad. Biarlah cinta tumbuh setelah seorang lelaki mengucapkan kalimat yang mengubah hubungan mereka dari dua orang asing menjadi suami dan istri. Biarlah ia mengatakan naam kepada lelaki yang datang untuk menikahinya, dan setelah itu barulah ia belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang. Namun rupanya memikirkan cinta terlalu lama membuat Ainun lupa pada sesuatu yang jauh lebih penting.
Tiga puluh bungkus keripik. Keripik yang sejak pagi dibawanya untuk dijual belum juga habis. Ainun yang semula duduk santai mulai terkantuk-kantuk. Ia mengusap wajah, menarik napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. Tubuh mungilnya direnggangkan sebentar sebelum ia kembali membawa dagangannya berkeliling.
“Nun!”
Sebuah suara memanggilnya dari kejauhan. Ainun menoleh. Seorang lelaki berjalan mendekat. Ia adalah satu dari sekian sahabatnya dalam kelompok tarbiah, lelaki bertubuh kurus dengan kulit hitam manis, wajah yang sebenarnya cukup tampan, alis tebal, dan hidung mancung.
“Kak Firman,” jawab Ainun sambil tersenyum.
Firman berhenti di hadapannya. “Nun, bagaimana? Sudah kamu sampaikan ke Mayra?”
“Alhamdulillah, sudah, Kak.” Jawaban itu keluar dengan semangat yang bahkan membuat Firman ikut tersenyum.
“Alhamdulillah. Semoga prosesnya lancar. Saya ingin segera meminang Mayra.”
“Aamiin.”
Ainun mengucapkannya dengan tulus, meskipun di sudut hatinya ada sedikit rasa iri yang buru-buru ia sembunyikan. Sudah lama ia menjadi comblang di kampus. Sudah berapa pasangan yang pernah ia bantu pertemukan, ia sendiri tidak ingat lagi. Ada yang berhasil menikah, ada yang kandas sebelum sampai ke pelaminan, dan ada pula yang setelah beberapa kali pertemuan justru menyadari bahwa mereka lebih cocok menjadi orang asing. Namun anehnya, dari sekian banyak lelaki yang pernah dikenalnya, tidak satu pun datang kepadanya untuk mengatakan ingin meminangnya. Sementara Firman datang bukan untuk meminta Ainun menjadi kekasihnya, tapi meminta bantuannya agar bisa menikahi sahabatnya sendiri.
Ada sesuatu yang lucu dari keadaan itu. Ainun tersenyum, kemudian melambaikan tangan ketika Firman berjalan meninggalkannya. Malam nanti ia sudah berjanji mempertemukan Firman dengan Mayra. Setelah lelaki itu pergi, Ainun kembali memperhatikan dagangannya. Ia merapikan keripik yang dibawanya, memastikan bungkus-bungkusnya masih tersusun rapi, kemudian membenahi hijab yang sedikit bergeser. Jari-jarinya masuk ke sela kain di sekitar wajah, menariknya pelan agar kembali menutup dengan sempurna.
Ia lalu menepis debu yang menempel di bagian belakang roknya. Setelah semuanya terasa rapi, Ainun kembali berjalan. Keripik singkong buatannya ia jajakan dari satu tempat ke tempat lain, keripik yang ia beri nama Keripik Singkong Cap Semut Kacamata, sebuah nama yang menurutnya sangat cocok karena penjualnya memang mungil dan berkacamata besar.
Hampir pukul satu siang ketika Ainun mulai merasa lelah. Namun lelah tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti.
“Keripik!” Ia meneriakkannya tanpa malu. “Keripik!”
Tidak peduli ada mahasiswa yang menertawakan, tidak peduli ada yang menatap iba, sebab baginya yang penting adalah apa yang dilakukannya halal.
Beberapa mahasiswa mulai datang. Satu membeli dua bungkus. Yang lain membeli tiga. Ada yang mengatakan keripiknya enak. Ada pula yang membeli mungkin karena memang menyukainya, mungkin karena kasihan melihat gadis kecil berkacamata berkeliling kampus membawa dagangan, atau mungkin karena kedua alasan itu bercampur menjadi satu.
Ainun tidak peduli. Ia hanya ingin semua keripiknya habis hari itu.
“Mbak!”
Suara seorang lelaki terdengar. Ainun menoleh.
“Keripiknya saya beli semua.”
Lelaki itu berambut kepang. Penampilannya berantakan, bajunya kusam, dan wajahnya tampak seperti sudah lama tidak terlalu peduli dengan penampilan. Dari wajah dan warna kulitnya, Ainun menduga lelaki itu berasal dari luar Pulau Jawa, mungkin Maluku, mungkin Papua, tetapi ia sendiri tidak benar-benar tahu.
“Terima kasih, Kak.”
Wajah Ainun seketika berubah cerah. Saking senangnya, tanpa ia sadari, matanya berkaca-kaca. Namun lelaki itu segera berkata, “Sama-sama. Tapi ini bukan saya yang beli.”
Ainun mengerutkan kening.
“Bukan?”
“Lelaki di sana yang meminta saya membelinya.”
Ainun mengikuti arah telunjuk lelaki itu. Di balik dinding pendopo, hanya sebagian tubuh seseorang yang tampak. Celana biru muda yang sudah terlihat belel. Sebelah tangannya tampak putih. Wajahnya tidak terlihat jelas. Ainun berjinjit, berusaha melihat orang yang sejak tadi membantunya tanpa datang memperkenalkan diri.
“Sampaikan salam saya, Kak,” katanya.
Lelaki itu mengangguk. Bagi Ainun, orang yang membeli seluruh keripiknya siang itu datang seperti malaikat yang dikirim tepat ketika ia membutuhkan pertolongan, menghapus peluh yang menempel di dahinya sekaligus air mata yang nyaris jatuh dari matanya. Ia menggenggam uang hasil penjualannya erat-erat.
Siapa pun dia, semoga Allah menggantinya dua kali lipat. Semoga Allah mengabulkan semua doa-doanya. Semoga Allah memberikan kepadanya jodoh yang baik dan salihah.
Ainun tersenyum lebar. Bahkan sebelum memasukkan uang itu ke dalam tasnya, ia sempat mencium lembaran-lembaran uang tersebut seperti baru saja menerima kabar baik dari Tuhan. Kemudian ia meninggalkan fakultas yang lorong-lorongnya dipenuhi mural, berjalan dengan langkah ringan seolah-olah tiga puluh bungkus keripik yang sejak pagi menjadi beban pikirannya telah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ada. Dan doa yang diucapkan Ainun itu, entah bagaimana, seolah-olah memang sengaja dilemparkan ke udara agar sampai kepada lelaki yang selama ini diam-diam membeli dagangannya.
Lelaki itu bangkit dari pendopo setelah Ainun pergi. Ia meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu memandang gadis mungil itu dari belakang, melihat Ainun berjalan semakin jauh dengan langkah yang ringan dan sesekali tampak hampir berlari karena terlalu gembira.
Lelaki itu bergaya rambut pompadour. Ia ketua geng motor, anak yang paling mampu secara ekonomi di antara teman-temannya, seseorang yang sejak kecil lebih percaya bahwa surga dapat diraih dengan berbuat baik daripada dengan terlalu banyak berdoa, dan bahwa hampir segala sesuatu di dunia ini dapat diperoleh selama seseorang cukup keras berusaha. Baginya, doa adalah milik orang-orang yang tidak mampu berbuat apa-apa. Usaha adalah milik orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu. Ia belum tahu bahwa kelak pandangan sesederhana itu akan membuat hidupnya berbelok ke arah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Namanya Bimo Dharaya. Seorang temannya yang sejak tadi duduk di sampingnya ikut memperhatikan Ainun.
“Cewek itu lucu, ya?”
Bimo tersenyum kecil.
“Haha. Iya. Kasihan. Tiap hari kerjanya jualan keripik.”
Temannya menoleh kepada Bimo, kemudian tertawa.
“Nikahin, Bim.”
Bimo langsung tertawa lebih keras. “Hahaha! Ngaco. Cewek mungil kayak begitu mana ada di kamus gua.”
Ia kembali melihat Ainun yang semakin jauh. Untuk sesaat, senyumnya menghilang.
“Semoga kesulitannya segera dicabut,” katanya, seolah-olah hanya sedang mengucapkan sesuatu yang sederhana. “Semoga dia dapat jodoh yang kaya raya, biar enggak perlu dagang lagi. Aamiin!”
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya