Bab 2 dari 6
Lagi-lagi Ainun tertidur di dalam kelas. Bukan karena dosennya membosankan, meskipun mungkin memang demikian, tapi karena udara yang masuk melalui sela-sela jendela lantai dua Gedung Daksinapati sore itu begitu sejuk, mengusap wajahnya seperti tangan seorang ibu yang meminta anaknya berhenti bermain dan segera tidur. Bagi mahasiswa lain, angin itu mungkin sekadar angin biasa, tetapi bagi Ainun yang setiap hari bangun pukul tiga dini hari untuk membuat keripik, udara semacam itu adalah undangan yang sulit ditolak.
Ia terlalu lelah. Sejak dini hari tangannya sudah sibuk mengiris singkong, menggoreng, membumbui, mengemas, kemudian membawa hasilnya ke kampus untuk dijual. Maka ketika tubuhnya menemukan kursi dan udara menemukan wajahnya, matanya tidak lagi mau berkompromi dengan pikirannya.
Tak lama, ponselnya bergetar. Ainun terbangun dengan kepala sedikit pusing, kemudian buru-buru melihat layar.
Mayra.
Ia mengangkat telepon.
“Nun,” suara Mayra terdengar dari seberang.
“Mayra, maaf. Aku ketiduran.”
“Enggak apa-apa, Nun. Malam ini kita jadi, ‘kan?”
Ainun mengusap matanya.
“InsyaAllah jadi, May. Tadi Kak Firman sudah memberi kabar.”
“Ok. Aku tunggu di Masjid Alumni, ya, Nun. Kita berangkat habis magrib.”
“InsyaAllah.”
Telepon berakhir. Ainun memandang jam, kemudian menarik napas panjang. Ia tahu malam itu akan jadi malam yang cukup panjang, tetapi demi sahabatnya, ia tidak keberatan. Beberapa waktu kemudian, azan magrib terdengar dari arah Masjid Alumni. Suara itu mengalun jelas di antara gedung-gedung kampus yang mulai kehilangan kesibukan. Masjid Alumni berdiri hampir tepat di tengah kawasan kampus, sebuah bangunan besar berarsitektur modern dan dua lantai, tempat mahasiswa laki-laki dan perempuan beribadah di ruang yang berbeda. Ketika azan berkumandang, sebagian mahasiswa bergegas menuju masjid, sementara sebagian lainnya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, seolah-olah kehidupan kampus memang tidak pernah benar-benar selesai hanya karena matahari tenggelam.
Ainun mempercepat langkah. Ia harus menemui Mayra. Hingga sepuluh menit kemudian, ia sampai di masjid. Di salah satu sudut, Mayra sedang duduk bersila sambil memainkan gawai di tangannya. Gadis itu terlihat manis malam itu. Pakaian merah yang dikenakannya tampak mencolok di antara warna-warna pakaian jamaah lain, sementara hijabnya disempilkan di leher, belum benar-benar sempurna sebagaimana yang selama ini Ainun harapkan dari perempuan yang hendak menjalani proses menuju pernikahan. Namun Mayra punya sesuatu yang tidak selalu terlihat dari pakaian.
Sifat keibuan. Ada ketenangan tertentu dalam caranya berbicara dan memperlakukan orang lain, sesuatu yang mungkin membuat Firman tertarik kepadanya sejak awal. Ainun sering berpikir bahwa lelaki seperti Firman tidak akan mencari perempuan yang sekadar cantik, sebab lelaki itu terlihat seperti orang yang ingin membangun rumah, bukan sekadar mencari tempat singgah.
“May?”
Mayra menoleh.
“Nun, ayo.”
“Kita salat dulu, ya? Nanti kita pergi bareng ke kafenya sama Kak Firman.”
Mayra segera merendahkan suaranya.
“Dia ada, Nun?”
Ainun mengangguk. “InsyaAllah ada. Di lantai dua.”
Mayra menatap Ainun beberapa saat, lalu menundukkan wajah. Pipinya perlahan memerah. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ainun tersenyum melihatnya. Barangkali begitulah wajah seseorang ketika nama lelaki yang ingin menikahinya disebutkan. Wajah yang biasanya tenang mendadak kehilangan keberanian untuk menatap, sementara jantung bekerja lebih keras daripada biasanya hanya karena dua atau tiga kata.
Malam itu hanya sedikit mahasiswa yang masih berkegiatan di kampus. Sebagian sudah pulang, sebagian lain masih berada di ruang organisasi, dan sebagian lagi mungkin sedang melakukan hal-hal yang tidak perlu diketahui siapa pun.
Setelah salat, Ainun, Mayra, dan Firman berjalan menuju kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Kafe itu buka sampai pukul sepuluh malam dan bernama Take a Rest, sebuah tempat yang menyediakan berbagai makanan modern dengan ruangan yang cukup nyaman untuk mahasiswa yang ingin mengobrol lebih lama daripada yang seharusnya.
Sepanjang perjalanan, kepala Ainun kembali terkantuk-kantuk. Kelopak matanya berat. Ia bahkan beberapa kali menguap sambil berjalan. Namun ia tidak mengeluh.
Tak apalah demi sahabat.
Mayra memang salah satu sahabat terdekatnya, dan sudah cukup lama gadis itu menjalin kasih dengan lelaki yang, menurut pengakuannya sendiri, adalah seorang berandal. Ainun sudah berkali-kali menasihati Mayra agar meninggalkan hubungan itu, tetapi nasihat tidak selalu bekerja seperti obat yang diminum lalu langsung menyembuhkan penyakit. Kadang-kadang seseorang harus benar-benar lelah terlebih dulu sebelum sadar sedang berjalan ke arah yang salah. Entah karena nasihat Ainun, entah karena memang hatinya sendiri sudah berubah, Mayra akhirnya mulai membuka pikiran. Ia ingin meninggalkan masa pacaran itu dan segera mengakhiri masa lajangnya dengan cara yang benar.
Malam semakin gelap. Tidak banyak penerangan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Rumah-rumah berdiri dalam jarak yang berjauhan, lampu beberapa di antaranya tampak dari kejauhan seperti titik-titik kecil yang hampir tidak bisa menerangi jalan. Selebihnya hanya sinar bulan yang sesekali tertutup awan.
Kendaraan yang lalu-lalang pun hampir tidak ada. Kampus dan jalan di sekitarnya seperti diserahkan kepada malam. Mereka berjalan bertiga ketika tiba-tiba suara beberapa sepeda motor terdengar dari belakang. Awalnya hanya satu, kemudian dua, lalu semakin banyak.
Ainun menoleh.
Beberapa sepeda motor mendekat dengan kecepatan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Sebelum mereka sempat berpikir untuk menghindar, kendaraan-kendaraan itu sudah berhenti dan mengelilingi mereka.
Ainun terdiam. Mereka dikepung. Motor-motor besar berputar mengelilingi mereka seperti kawanan binatang yang sedang mengepung mangsa. Suara knalpot meraung kasar, asapnya mengepul dan memenuhi udara, membuat mata Ainun perih dan pandangannya semakin kabur. Ia buru-buru menaikkan kacamatanya yang mulai melorot.
Malam yang sebelumnya hanya gelap kini terasa jauh lebih gelap. Beberapa lelaki turun dari motor. Sebagian mengenakan celana jeans belel dengan robekan di bagian lutut. Penampilan mereka membuat Ainun segera mengambil kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.
Preman.
“Mau apa kalian?!” tanya Firman.
Ia mencoba terdengar berani, meskipun Ainun dapat melihat ketegangan di wajahnya.
Salah seorang lelaki maju. “Heh! Yang di sebelah lu itu cewek gua!”
Mayra langsung mendengus. “Psiko mengejar-ngejar aku terus.”
Ainun ikut maju setengah langkah. “Heh, psiko! Mayra enggak suka!”
“Hih, ini perempuan!”
Ainun menatap lelaki itu.
“Apa?”
Ia membusungkan dada. Tubuhnya memang mungil, tapi keberaniannya sering kali lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Dalam urusan tertentu, Ainun punya satu kebiasaan yang membuat teman-temannya sering mengelus dada: ia sulit diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya salah.
Salah seorang lelaki yang sejak tadi masih berada di atas motor akhirnya membuka helmnya. Suasana yang semula riuh mendadak berubah. Seorang lelaki dengan rambut bergaya pompadour muncul di tengah kelompok itu. Ia turun dari motor dengan santai, berdiri seolah-olah semua orang memang sedang menunggu kedatangannya. Tangannya bergerak merapikan rambut, meninggikan bagian depannya dengan penuh percaya diri, memastikan gaya rambutnya tetap sempurna meskipun baru saja berkendara di jalanan.
Ainun memperhatikannya. Mulut dan hidungnya sedikit terangkat. Ia tidak tahu apakah harus tertawa atau merasa jengkel.
“Mayra,” lelaki itu berkata, “teman saya bilang dia cinta sama kamu.”
Mayra menggeleng.
“Mayra sudah tobat. Dia enggak mau pacaran!”
“Diam!” bentak lelaki itu.
Ainun langsung menoleh. “Kamu siapa, menyuruh saya diam?”
Lelaki itu menatapnya. “Jadi lu comblangnya?” Ia menunjuk Firman. “Yang mau jadikan Mayra sama cowok cupu ini?”
“Jangan kurang ajar kalian!” teriak Firman.
Ainun diam. Bukan karena takut. Ia hanya tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Asap motor yang mengepul membuat kacamatanya semakin buram, sementara malam yang gelap membuat semua wajah di hadapannya tampak seperti bayangan.
“May, aku janji akan menikahimu, May!” Mayra menatapnya. “Enggak, Kak. Kakak jahat sama May!”
Ainun segera menyela.
“Enggak usah, May. Lelaki seperti mereka enggak ada masa depannya.”
Firman terdiam. Ia hanya berdiri dengan wajah panik, seolah-olah baru menyadari bahwa proses taaruf yang ia bayangkan akan berlangsung sederhana ternyata berubah menjadi pertemuan dengan sekelompok lelaki bermotor di tengah malam.
Lelaki berambut pompadour itu mulai kehilangan kesabaran. “Heh, kamu bisa diam enggak?!”
Tangannya tiba-tiba meraih lengan Ainun yang kemudian membuat perempuan itu terkejut.
“Kurang ajar! Lepas!”
Ia menarik tangannya sekuat tenaga. Tarikannya keras sampai kancing pada bagian lengan pakaiannya terlepas. Ainun menatap lelaki itu dengan mata yang mulai dipenuhi kebencian.
“Dengar, Kepala Badak! Orang seperti kalian enggak pantas sama teman saya!”
Lelaki itu terdiam. Ainun terus bicara. “Enggak punya masa depan, enggak tahu agama, bisanya cuma merugikan bangsa, membuat malu orang tua! Mau jadi apa teman saya sama teman kamu itu?”
“Nun.” Mayra mencoba menenangkan. Tetapi Ainun sudah terlanjur panas.
Lelaki itu menunjuk rambutnya sendiri. “Kepala Badak? Heh! Ini namanya pompadour!”
“Pompadour?” Ainun mendengus. “Cuih!”
Ia bahkan meludah ke tanah. Wajah lelaki itu seketika berubah.
“Berani kamu, ya?”
Ia melangkah maju. Ainun mundur setengah langkah.
“Jangan mendekat!”
“Kenapa?”
Ainun melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada kendaraan. Tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Dan karena itu, otak Ainun akhirnya memilih satu-satunya cara yang terpikir olehnya. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian berteriak sekuat tenaga.
“HAAAAAA! MALINGGGG!”
Lelaki-lelaki itu langsung panik, saling memandang. Beberapa menoleh ke jalan, seolah-olah dalam waktu beberapa detik saja seluruh warga sekitar akan keluar membawa sapu, sandal, batu, atau apa pun yang bisa digunakan mengejar maling.
“Cabut!”
Motor-motor segera dinyalakan. Suara knalpot kembali memenuhi malam, tetapi kali ini bukan untuk mengepung mereka. Satu demi satu kendaraan itu melaju meninggalkan tempat tersebut, membawa serta suara gaduh yang perlahan menghilang di kejauhan.
Ainun masih berdiri dengan napas tersengal. Mayra segera mendekatinya.
“Nun, kamu enggak apa-apa?”
Ainun menggeleng. Ia masih menatap jalan yang baru saja dilalui kelompok lelaki itu. Firman berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya sulit dibaca. Kemudian ia berkata, “Nun, maaf. Sepertinya pertemuan ini kita tunda saja dulu.”
Setelah mengatakan itu, Firman pergi begitu saja, meninggalkan dua perempuan itu di tengah kegelapan malam.
Ainun menatap punggungnya yang semakin jauh. Mayra juga diam. Ada kekecewaan di wajahnya. Mungkin karena sejak awal ia berharap malam itu akan jadi sesuatu yang lebih baik. Pertemuan sederhana, pembicaraan tentang masa depan, kemudian pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang karena tahu bahwa lelaki yang ingin menikahinya memang serius. Namun semua itu berakhir dengan sekelompok berandal, ancaman, dan lelaki yang memilih pergi ketika keadaan menjadi buruk. Firman mungkin kecewa karena Ainun tidak pernah menceritakan kepadanya bahwa Mayra masih punya masalah dengan lelaki berandal yang tadi menghadang mereka. Namun bagi Ainun, ada hal lain yang jauh lebih mengganggu. Ia memang percaya bahwa lelaki seharusnya dinilai dari iman dan agamanya. Tetapi perempuan juga butuh rasa aman. Iman memang penting, bahkan paling penting, tetapi melindungi orang yang kelak menjadi tanggung jawabnya juga bukan perkara kecil. Setidaknya, begitulah yang Ainun pikirkan malam itu.
Lelaki tidak hanya dilihat dari seberapa banyak ia berbicara tentang agama, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap ketika perempuan di sampingnya berada dalam keadaan takut.
Mayra menarik napas. “Kita pulang, Nun.”
Ainun baru tersadar dari lamunannya. “Eh, iya.”
Ia berjalan mengikuti Mayra, meninggalkan jalan gelap yang beberapa menit sebelumnya sudah jadi saksi pertemuan yang gagal, pertengkaran yang tidak seharusnya terjadi, dan tanpa mereka sadari, menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih panjang daripada yang mampu mereka bayangkan malam itu.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya