Customer Service

Kasus Hutan Sangkar

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: TANDA

BAB II

 

TANDA

 

“Kita sudah sampai di penginapan Pak” Jack meregangkan badannya.

“Kerja bagus, Jack” Kin ikut meregangkan badanya.

“Sore nanti kita ke TKP ya, Jack”

“Baik Pak” Jack menoleh. “Saya pesan kamarnya ya Pak?”

Kin menoleh. “Ya, Ide bagus. Terimakasih, Jack”

Jack berjalan memasuki penginapan. Kedua tangannya penuh oleh barang bawaan mereka. Sedangkan Kin kembali menatap layar ponselnya.

‘Louise, kamu masih tinggal di Lhokvara?’ Kin mengirim pesan kepada sahabat lamanya.

Menunggu. Kin mengambil roti vanila di sampingnya, melahapnya perlahan. Satu menit. Dua menit. Ponselnya tetap bergeming.

“Pak. Saya sudah memesan kamar. Kita dapat kamar di lantai 2, no. 202” Jack mengetuk kaca mobil Kin.

“Ah, ya.” Kin berjalan di samping Jack.

TRING!

Notifikasi pesan masuk dari ponsel Kin. Kin melihat sekilas nama pengirim pesan itu. tersenyum singkat, lalu memasuki penginapan.

“Ah… akhirnya bisa berbaring” Jack merebahkan tubuhnya di Kasur sesampainya mereka di kamar.

“Istirahatlah, Jack.” Kin duduk di tepi ranjang lalu ia merogoh kantong celananya.

‘Iya, aku masih di sini kok. Ada apa Kin?’ Kin melihat pesan yang belum sempat ia baca.

‘Aku sedang ada di Lhokvara, Louise’ Jari-jemari Kin lincah mengetik balasan.

Jack pun terlelap setelah dua menit berlalu. Hanya ada suara notifikasi dari ponsel Kin saat ini, tapi Jack tidak masalah soal itu.

TRING!

‘Ada keperluan apa memangnya, Kin?’ Kin menatap pesan itu cukup lama.

‘Apa… ini ada sangkut-pautnya dengan Hutan Sangkar?’ Jari-jari Kin terpaku. Tebakan sahabatnya benar.

‘Kok kamu bisa tahu kemana arah pembicaraan ini, Louise?’ Sedikit terkejut.

‘Aku sangat tahu dirimu, Kin. Jangan ragukan sahabatmu ini’ Kin bisa membayangkan bagaimana senyuman angkuh Louise saat ini.

‘Louise kamu ada waktu luang?’

Louise berpikir sejenak di tepi kasur.

‘Aku akan menghubungimu saat itu’

‘Baiklah, aku tunggu secepatnya’ Kin menutup layar ponselnya. Melemparnya ke nakas tepi kasur. Bersiap tidur.

***

Louise memasuki kawasan garis kuning polisi. Memulai evakuasi ulang setelah menyelamatkan beberapa warga sipil. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada tanda yang tak asing dari setiap batangan pohon itu, sangat kecil. Louise berjalan mendekati tanda-tanda itu. Ia mengeluarkan buku kecilnya mulai menggambar pola-pola tersebut secara detail. Louise terdiam cukup lama setelah menyalin pola dari tanda itu. Ia mengingat sesuatu. Ya, lambang ini tak asing. Ia sering melihatnya di suatu tempat. Louise meraih ponsel secepatnya.

‘Kin, ayo kita bertemu sore ini di hulu sungai. Kamu bisa kan?’ Jari-jarinya lincah mengetuk tombol huruf.

‘Ini penti-‘ Louise menghapus kembali pesan itu, memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.

“Semoga bukan seperti apa yang aku pikirkan. Ini pasti hanya kebetulan” Louise menggelengkan kepalanya. Lanjut menyusuri daerah itu dengan niat awal.

“…Louise, apa daerah di sana sudah clear?”

Louise meraih walkie-talkienya. “…Ya, aman sejauh ini. Pak.”

“…Bagus. Laporkan terus perkembangannya.”

“…Siap dimengerti”

TRING!

Louise meraih ponsel di saku celananya. Itu notifikasi pesan dari Kin.

‘Ada apa Louise? Apa kamu menemukan sesuatu yang menarik?’

‘Aku beritahu kamu nanti. Bisa bertemu sore ini kan?’

Louise mamasukan kembali ponselnya. Berjalan keluar dari area terlarang itu.

***

“Pak kita berangkat sekarang?” Tanya Jack dengan kunci mobil yang sudah digenggam.

“Ya. Ayo berangkat.” Kin menyambar selempang tas kecil yang ia siapkan semalam.

Mereka memasuki mobil silver metalik itu. Jack yang mengemudikannya. Jalan itu di penuhi lumpur, lubang, dan berbagai macam barang serta sampah yang menyatu karena kejadian. Butuh waktu lama untuk sampai ke hulu sungai itu. Selang beberapa menit, tumpukkan kayu-kayu yang menggunung itu mulai terlihat semakin sedikit.

“Kita hentikan mobilnya di sini saja, Jack”

Kin melangkah keluar dari mobil mengenakan Sepatu bot. Mulai mencatat sekitar.

Hasil potongan kayu-kayu ini sudah sangat gelap. Kemungkinan besar kayu-kayu ini ditebang sebelum bencana ini datang, kemudianterbawa  arus membawa menuju pemukiman warga.

“Cepat juga kamu datang, Kin” Louise datang dari arah yang berlawanan, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Tersenyum kecil. Kin tersenyum, ia sangat mengenal suara ini, menoleh.

Kin tersenyum. “Sesuai janji kan?”

Louise terkekeh. Menepuk bahu kanan Kin pelan. Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi cara Louise menyapanya masih sama.

“Kamu tahu aku orang yang seperti apa. Mana mungkin aku berubah hanya karena berada di kota.”

Jack keluar setelah memarkirkan mobil.

“Jack, kenalkan. Ini temanku Louise. Louise ini Jack partnerku”

 Jack mengambil jabat tangan Louise. “Senang bertemu denganmu.”

“Bagaimana rasanya separtner dengan orang si paling sempurna ini, Jack?” Louise tersenyum.

Jack terkekeh. “Sejauh ini aman saja, Pak”

“Apa sekarang kamu bisa memberitahuku soal yang penting ini sekarang?”

Louise menoleh sesaat ke arah Kin. “Oke. Ikut aku.”

Mereka berjalan menuju beberapa tumpukkan kayu-kayu. Louise berjongkok menunjuk tanda ukiran berbentuk bunga kecil di sana. “Kamu lihat ini?”

Kin menatap ukiran itu satu tangannya menopang dagu. Mengingat.

“Aku menemukan tanda ini di setiap batang pohon. Apa kamu sempat melihatnya, Kin?”

Kin mengangguk kecil. “Hm, kalau tidak salah aku sempat melihatnya sekilas dalam perjalanan kemari. Apa ada yang kamu tahu dari tanda ini, Louise?”

Louise terdiam sejenak, tatapannya lurus ke arah aliran sungai. Jack mengambil catatannya, Menggambar ukiran tanda itu. Lalu Louise menggeleng.

“Baru ini yang bisa aku dapatkan” Louise beranjak.

Kin menulis info tambahan itu ke dalam catatannya. “Oke, kalau begitu. Beritahu aku kalau kamu mendapat info lain”

Louise mengangguk. “Akan ku usahakan”

Kin menepuk bahu Jack pelan. “Waktunya keliling, Jack. Dapatkan info lain dari warga sekitar.”

Jack berjalan menyusul Kin memasuki pemukiman. Louise menatap lama hulu sungai itu sebelum ponselnya berdering, lalu berjalan menjauh.

“Dari sini kita berpencar. Tanyakan apa pernah ada proyek yang dibangun di sini. Lalu… tanyakan soal tanda yang kamu gambar. Juga perusahaannya”

“Apa ada lagi, Pak?”

“Sejauh ini, itu saja sudah cukup”

Jack mengangguk cepat.

Kin mengambil sisi kiri dan Jack menghampiri warga yang sedang berkumpul.

***

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Previous Chapter

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List